Wakatobi Itu Empat Pulau: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko

Endo Sadewa 8 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.29244/jp2wd.2022.6.1.30-46
Wakatobi Itu Empat Pulau: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko

Wakatobi terdiri atas empat pulau dengan karakter berbeda. Panduan per pulau: ikon, 750 spesies karang, Tari Lariangi, festival, akses, dan fasilitasnya.

Namanya Singkatan, dan Itu Petunjuk Pertama

Gugusan pulau di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

 

Wa dari Wangi-Wangi, Ka dari Kaledupa, To dari Tomia, Bi dari Binongko. Empat pulau, satu nama.

Sebelum memakai nama itu, kepulauan ini dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi atau Pande Wesi. Sebutan tersebut berasal dari Binongko, pulau paling selatan, yang dulu memasok persenjataan untuk Kerajaan dan Kesultanan Buton. Wakatobi baru menjadi kabupaten sendiri, terpisah dari Kabupaten Buton, lewat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003.

Asal nama tiap pulau juga berbeda-beda, mengikuti sejarah dan bahasa masing-masing. Wangi-Wangi, menurut tradisi lisan setempat, berarti beraroma harum, karena dulu penduduk menjemur rempah yang aromanya terbawa angin. Kaledupa bermakna daratan beraroma dupa. Tomia berasal dari dua kata, to yang berarti itu dan mia yang berarti orang, dari cerita orang yang melihat sosok berdiri di pulau itu dari kejauhan lalu berseru "itu orang". Binongko bermakna kepala kapal, sesuai dengan reputasi penduduknya sebagai pembuat kapal dan pelaut.

Empat nama, empat cerita, dan tidak ada satu pun yang sama. Pola itu berlanjut sampai ke isi pulaunya.

Yang Ada di Bawah Laut, dalam Angka

Wakatobi lebih dulu terkenal karena lautnya, dan angkanya memang besar. Perairan di sini tercatat memiliki 750 spesies karang dan 942 spesies ikan, serta menjadi rumah bagi beberapa spesies penyu.

Angka 750 itu baru terasa ketika dibandingkan. Dari sekitar 850 spesies terumbu karang yang ada di seluruh dunia, Wakatobi punya 750 di antaranya. Pusat penyelaman kelas dunia seperti Karibia tercatat 50 spesies, dan Laut Merah 300 spesies. Dengan kata lain, Wakatobi menyimpan sekitar dua setengah kali lipat kekayaan jenis karang Laut Merah dalam satu kabupaten.

Sembilan puluh tujuh persen wilayah Wakatobi berupa perairan. Taman Nasional Wakatobi ditetapkan lewat Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 393/Kpts-II/1996, dan pada 2012 UNESCO menetapkannya sebagai salah satu dari 19 cagar biosfer di Indonesia.

Data Balai Taman Nasional Wakatobi tahun 2020 mencatat 86 titik selam, dengan 12 titik lain yang sudah diidentifikasi sebagai potensi baru. Beberapa yang punya nama:

Situs Pinnacle di Pulau Hoga. Namanya berarti puncak, karena struktur terumbunya menyerupai gugusan gunung. Yang membuatnya diingat penyelam adalah gerombolan ikan barakuda di sana, sehingga menyelam di titik ini berarti masuk ke dalam pusaran ikan. Di perairan Hoga juga hidup kuda laut pygmy yang menempel di koral kipas, disebut sebagai spesies kuda laut terkecil di dunia dan hanya ditemukan di bagian barat dan tengah Samudera Pasifik.

Marimabok di Tomia, salah satu titik selam paling dikenal di Wakatobi.

The Zoo, juga di Tomia, yang menawarkan penyelaman malam untuk melihat hewan-hewan nokturnal.

Selain terumbu dan ikan, sebagian titik selam di Tomia menyimpan bangkai kapal peninggalan Jepang yang kini berstatus arkeologi bawah laut.

Satu lagi yang sering disebut: Kaledupa Reef sepanjang 48 kilometer, yang dalam kajian ini disebut sebagai atol tunggal terpanjang di dunia.

Iklan

Kenapa Wakatobi Kalah Pamor Padahal Lautnya Lebih Kaya

Ini pertanyaan yang wajar muncul setelah membaca angka-angka tadi, dan kajian tersebut menjawabnya dengan cukup blak-blakan.

Bank Dunia dalam kajiannya pada 2017 menilai Wakatobi "too far and too small", terlalu jauh dan terlalu kecil, dan menyebut Raja Ampat sebagai opsi terbaik. Penilaian itu berat, apalagi Wakatobi termasuk salah satu dari sepuluh Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dan beberapa kawasan lain di daftar itu punya karakter bahari yang sama.

Persoalan berikutnya soal wajah. Hanya tiga persen wilayah Wakatobi berupa daratan, sehingga sulit mencari lanskap ikonik yang bisa dijadikan wajah utama. Terumbu karang memang daya tarik terkuatnya, tetapi keindahan terumbu hanya bisa dijelaskan oleh orang yang mengerti. Bandingkan dengan Raja Ampat dan Komodo yang atraksi alamnya mirip, tetapi punya Puncak Pianemo dan Puncak Padar sebagai lanskap yang langsung dipahami begitu dilihat. Kalau Anda sedang membandingkan destinasi bahari Indonesia, perjalanan ke Labuan Bajo punya karakter yang berbeda dari Wakatobi dalam hal ini.

Sisanya soal cara bercerita. Situs resmi pariwisata Wakatobi sudah berusaha memperkenalkan keempat pulau, tetapi penjelasan bahwa Wakatobi itu empat masih kurang tajam. Akibatnya wisatawan menumpuk di pulau yang aksesnya paling mudah, dan tiga pulau lain nyaris tidak kebagian.

Itu sebabnya artikel ini disusun per pulau.

Wangi-Wangi: Lumba-lumba yang Jadwalnya Bisa Diperkirakan

[ GAMBAR 2 ] Wangi-Wangi. Lumba-lumba di perairan menuju Kapota, atau Benteng Keraton Liya Togo.

Usulan caption: Tulis sesudah foto dipilih, sesuai yang benar-benar terlihat di gambar.

 

Wangi-Wangi adalah ibu kota kabupaten dan pintu masuk utama. Ikon yang paling masuk akal untuk pulau ini adalah lumba-lumba, bukan terumbunya.

Atraksi migrasi lumba-lumba berlangsung di perairan antara Wangi-Wangi dan Pulau Kapota, pada pukul empat sampai lima pagi. Tiga hal membuatnya kuat sebagai ikon: hanya bisa dinikmati di perairan itu, mudah dijangkau, dan waktunya sudah diketahui. Pengunjung cukup naik kapal dan diantar ke jalur migrasinya.

Di daratan, Wangi-Wangi punya Benteng Keraton Liya Togo, benteng berlapis-lapis yang di dalamnya masih ada perkampungan adat, masjid, balai, dan makam bersejarah. Adat dan tradisinya masih dijalankan, dan arsitektur vernakular khas Wangi-Wangi masih banyak ditemukan di permukimannya.

Benteng lain di pulau ini cukup banyak, antara lain Benteng Tindoi, Maleko, Mandati Tonga, Wabue-bue, Koba, dan Wantiti, ditambah Benteng Katiama dan Togo Molengo di Pulau Kapota yang berjarak sekitar 15 menit dari Wangi-Wangi. Sebagian besar belum dikelola, kondisinya kurang terawat, dan aksesnya belum memadai. Ini perlu disebut terus terang supaya harapan Anda pas.

Pantai di sini juga punya keunikan. Moli'i Sahatu berarti seribu mata air, karena di pantai itu memang keluar banyak mata air tawar. Pantai Cemara dikenal karena vegetasi cemara yang tumbuh rapat di sepanjang garis pantainya.

Iklan

Kaledupa: Tari Lariangi, Benteng, dan Tiga Kampung Bajo

[ GAMBAR 3 ] Kaledupa. Penari Lariangi berkostum lengkap, atau permukiman Bajo di atas laut.

Usulan caption: Tulis sesudah foto dipilih, sesuai yang benar-benar terlihat di gambar.

 

Kalau Anda datang untuk sejarah dan budaya, Kaledupa adalah pulaunya.

Tari Lariangi adalah ikonnya. Namanya berasal dari dua kata, lari yang berarti berhias dan angi yang berarti berpesan, sehingga dapat dimaknai sebagai orang yang berhias dan menyampaikan pesan. Tarian ini memakai bahasa Kaledupa kuno yang maknanya sudah tidak lagi dipahami penuturnya sekarang, tetapi tetap dilestarikan. Pakaian dan riasannya berbeda dari budaya lain di Kepulauan Wakatobi bahkan Kepulauan Buton, sampai busana Lariangi lazim dipakai sebagai grafis promosi wisata Wakatobi.

Iringannya memakai seperangkat gamelan, pembukaannya bercorak Hinduisme, dan gerakannya lambat dengan ekspresi datar, mirip Tari Serimpi di Jawa. Pemerintah Daerah Wakatobi sedang mengupayakan pendaftaran Lariangi sebagai warisan dunia takbenda ke UNESCO.

Kaledupa juga menyimpan lapisan sejarah yang runut. Peradaban di pulau ini bermula di Pajam, turun ke Buranga tempat Benteng Ollo berada, lalu berkembang ke Ambeua. Benteng Ollo dulu berfungsi rangkap sebagai pusat pertahanan, pemerintahan, sekaligus permukiman, dan sampai sekarang masih terawat baik. Permukiman adat Desa Pajam yang dikelilingi Benteng Palea menjadi pusat kebudayaan Kaledupa, sekaligus desa tenun boke, tenun ikat khas Kaledupa yang rumit karena memakai teknik khusus dan bahan alami.

Tiga dari empat kampung adat Bajo di Wakatobi ada di perairan sekitar Kaledupa: Sampela, Mantigola, dan Lohoa. Ketiganya masih berada di atas laut dan lebih tradisional dibandingkan Bajo Mola di Wangi-Wangi, tempat pemimpin etnis Bajo sedunia tinggal.

Titik tertinggi seluruh Kepulauan Wakatobi juga ada di Kaledupa, tepatnya di Desa Pajam. Dari sana seluruh gugusan pulau Wakatobi terlihat. Aktivitas wisata ke titik ini sudah mulai ada menurut laporan masyarakat, tetapi belum terorganisasi.

Daratan Kaledupa adalah yang paling subur di antara seluruh pulau di Wakatobi, dan kesuburan itu berujung ke pesisir dalam bentuk ekosistem mangrove yang luas, didominasi Rhizopora, Avicennia, dan Soneratia, meskipun di pulau ini tidak ada daerah aliran sungai. Mangrove di bagian utara bisa dijelajahi dengan berjalan kaki, sementara bagian selatan hanya bisa ditempuh dengan perahu.

Di Tanjung Sombano, di utara Kaledupa, ada danau air asin yang disakralkan masyarakat dan menjadi habitat sejumlah satwa, sebagian di antaranya endemik.

Tomia: Titik Selam Terbanyak

[ GAMBAR 4 ] Tomia. Pemandangan bawah laut, terumbu karang, atau penyelam di salah satu titik selam.

Usulan caption: Tulis sesudah foto dipilih, sesuai yang benar-benar terlihat di gambar.

 

Tomia adalah pulau yang lebih dulu mendunia lewat lautnya, dan alasannya sederhana: jumlah titik selamnya paling banyak. Setidaknya 40 titik selam sudah diperkenalkan kepada wisatawan di pulau ini beserta pulau satelitnya.

Di daratan, Puncak Kahiyanga menyajikan hamparan padang rumput di atas bukit, struktur ekologi yang tidak dimiliki pulau lain di Wakatobi. Sisi timur Tomia yang meliputi Huntete dan Kulati punya hamparan pasir putih yang cukup luas, meskipun belum dikembangkan secara optimal.

Tomia punya tiga benteng, yaitu Benteng Patua, Suo-Suo, dan Rambi Randa, ditambah Benteng Kanamua di Pulau Lentea. Benteng Patua masih sangat terawat walau tidak ada lagi permukiman di dalamnya. Dulu ada tradisi menaiki benteng dengan egrang. Tradisi itu sudah tidak dijalankan sehari-hari, tetapi masih dipertunjukkan saat festival atau penyambutan tamu.

Kebudayaan fisik di Tomia lebih sulit ditemukan dibanding pulau lain karena perubahan sosial, tetapi tradisi takbendanya masih dipegang. Salah satunya Tari Sajo Moane, yang juga disebut Tari Eja-Eja, dimainkan sekelompok anak laki-laki dan menceritakan semangat perlawanan. Kostumnya khas dan hanya ditemukan di Tomia.

Binongko: Pulau Batu dan Kampung Pandai Besi

[ GAMBAR 5 ] Binongko. Lanskap Taman Batu Waloindi, kebun pisang di atas batu, atau pandai besi sedang bekerja.

Usulan caption: Tulis sesudah foto dipilih, sesuai yang benar-benar terlihat di gambar.

 

Binongko adalah pulau paling luar, dan struktur geologinya berbeda sendiri. Kondisinya didominasi batu gamping, tanah batu karang, sedimen, dan metamorf. Tanah dalam pengertian biasa sangat sukar ditemukan di sini.

Penduduk menyiasatinya dengan cara yang sudah berjalan turun-temurun: setiap hari mereka membawa limbah dapur dan memasukkannya ke lubang-lubang batu di lahan kebun, lalu menanam di situ. Hasilnya bisa dilihat langsung sebelum mencapai Taman Batu Waloindi di selatan pulau, berupa hamparan kebun pisang yang tumbuh di atas batu.

Taman Batu Waloindi sendiri adalah lanskap bebatuan luas yang menjadi atraksi khas Binongko, dan inilah yang oleh kajian tadi diusulkan sebagai ikon pulau ini.

Gua-gua di Binongko punya ciri yang tidak dimiliki pulau lain di Wakatobi. Gua di dekat Desa Soa, Popalia, dan Haka memiliki badan air di dalamnya, sehingga stalaktit dan stalagmitnya hanya bisa dinikmati dengan menyelam. Penyelaman di daratan Wakatobi hanya bisa dilakukan di Binongko.

Ada temuan yang belum tuntas di sini. Perangkat Kecamatan Binongko melaporkan sebuah gua di dataran tinggi dekat Benteng Koncu Patua yang berisi kerangka-kerangka manusia dari masa lampau. Temuan itu belum dilaporkan ke pemerintah daerah dan belum diteliti. Inventarisasi gua Wakatobi yang pernah dilakukan sebelumnya bahkan tidak mencatat satu pun gua di Binongko, bertolak belakang dengan keadaan di lapangan.

Sisi budayanya berpusat pada besi dan kapal. Desa Haka masih menjadi kampung pembuat kapal tradisional ketika daerah lain di Kepulauan Sulawesi Tenggara sudah meninggalkan tradisi itu. Desa Soa dan Popalia adalah kampung pandai besi, dan dari sinilah nama Kepulauan Tukang Besi berasal. Kedua desa itu juga dikenal sebagai kampung tenun ikat, dengan teknik dan corak yang mirip Kaledupa tetapi berbeda pada detailnya.

Menurut tutur masyarakat setempat, parang milik Kapitan Pattimura berasal dari Binongko. Ketika ditanya, warga menunjuk gambar pada uang seribu rupiah yang mata parangnya menyerupai bentuk parang khas Binongko. Ini tradisi lisan, bukan catatan sejarah, dan sebaiknya didengar sebagai cerita rakyat.

Benteng di Binongko jumlahnya paling banyak, antara lain Taduno, Oihu, Koto-Koto, Watuua, Wacu Awa, Tohalo, Wali, Koncu Patua, dan Palahidu. Benteng Palahidu cukup luas, mudah dijangkau, dan memiliki beberapa makam tua dengan struktur berbeda dari makam lain di Kepulauan Sulawesi Tenggara. Sebagian besar benteng lain kondisinya tidak terawat, sebagian rusak, karena belum ada perlindungan hukum sebagai cagar budaya di Wakatobi.

Tarian khas Binongko adalah Tari Balumpa. Balumpa berarti berjingkrak. Dulu tarian ini menggambarkan kebahagiaan masyarakat saat mengarungi ombak mencari nafkah, lalu berkembang menjadi tarian penyambutan tamu dan sempat menjadi ikon Sulawesi Tenggara. Iringannya gambus dan gendang, dengan corak gerak yang mirip Tari Zapin di tanah Melayu. Penarinya tidak bernyanyi, hanya menjalankan empat ragam gerak: pothabea, poliughi, poli-poli, dan kaukuruno siku.

Ada juga permainan tradisional yang hanya ada di Binongko, namanya kabangka-bangka, berupa kapal mini yang dimainkan di laut seperti orang bermain layangan.

Yang Sering Terlewat: Burung, Mangrove, dan Daratan

Wakatobi punya julukan yang tidak enak didengar di kalangan penduduknya sendiri, yaitu surga di bawah laut tetapi neraka di daratan. Kajian tadi memakai lelucon itu sebagai titik masuk, lalu menunjukkan bahwa persoalannya ada pada pemahaman, bukan pada isinya. Wisatawan menghabiskan lebih banyak waktu di darat daripada di air, dan daratannya sebenarnya punya bahan.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara mencatat 156 jenis burung di Wakatobi. Sebelas di antaranya endemik Indonesia, dan empat endemik Wakatobi: Otus kalidupae, Zosterops chloris flavissimus, Dicaeum celebicum kuehni, serta satu jenis Zosterops yang saat itu masih berstatus spesies baru. Di Desa Tampara, kawasan wisata mangrove di Kaledupa, tercatat 25 spesies burung, baik yang menetap maupun yang bermigrasi.

Perbandingan berikut menempatkan mangrove Wakatobi pada konteksnya. Sebuah penelitian membandingkan indeks keragaman mangrove Taman Nasional Wakatobi dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Nilai keduanya tergolong rendah, tetapi Wakatobi tetap lebih tinggi, yaitu 1,06 sampai 1,20 berbanding 0,76 sampai 1,02.

Sebelas subetnik mendiami Wakatobi, dan masing-masing membawa kebudayaan yang berbeda. Angka itu saja sudah menjelaskan kenapa empat pulau tadi terasa seperti empat daerah.

Empat Pulau, Empat Festival

Wakatobi adalah satu-satunya daerah di Sulawesi Tenggara yang punya kalender acara, dan tiap pulau memegang festivalnya sendiri. Ini cara paling efisien merencanakan kunjungan, karena atraksi budaya yang biasanya tersebar akan ditampilkan sekaligus.

Festival Wakatobi WAVE di Wangi-Wangi, tempat tradisi seperti Kabuenga, Karia, Tari Kenta-Kenta, dan Tari Honari Mosega ditampilkan. Tari Kenta-Kenta dimainkan anak-anak dan berisi pelajaran cara melaut tradisional yang ramah lingkungan.

Festival Barata Kahedupa di Desa Pajam, Kaledupa, digelar setiap bulan September. Di sinilah seluruh atraksi budaya Kaledupa, termasuk Tari Lariangi, ditampilkan.

Festival Pulau Tomia, yang berkembang dari Festival Benteng Patua, dilaksanakan seusai Idulfitri.

Festival Tukang Besi di Binongko, berlangsung sekitar Maret atau April, dan di sinilah permainan kabangka-bangka dilombakan.

Cara ke Sana, dan Apa yang Perlu Disiapkan

Bagian ini yang biasanya hilang dari artikel wisata, padahal paling menentukan pengalaman Anda.

Akses ke Wakatobi ada lewat udara dan laut. Jalur udara masuk melalui Bandar Udara Matahora di Wangi-Wangi, ditambah Maranggo Air Strip di Tomia yang dibangun oleh Wakatobi Dive Resort dan melayani penerbangan privat dari Bali. Jalur laut bertumpu pada Pelabuhan Pangulubelo di Wangi-Wangi sebagai pelabuhan terbesar, dengan pelabuhan pengumpan di tiap pulau besar lainnya: Buranga di Kaledupa, Waha di Tomia, dan Rukuwa di Binongko.

Catatan penting untuk Binongko: Pelabuhan Rukuwa hanya aman dilabuhi pada musim angin barat, karena kondisi geografisnya berhadapan langsung dengan gelombang. Rencanakan pulau ini dengan waktu cadangan.

Sebaran fasilitas sangat timpang, dan angkanya menjelaskan kenapa. Dari 63 akomodasi di seluruh Wakatobi, 36 ada di Wangi-Wangi, 14 di Tomia, 10 di Kaledupa, dan hanya 3 di Binongko. Dari 88 rumah makan, 69 ada di Wangi-Wangi, sisanya tersebar tipis: 8 di Binongko, 7 di Tomia, dan 4 di Kaledupa.

Ketimpangan itu paling terasa di Tomia. Pulau ini nomor dua dalam jumlah kunjungan, tetapi rumah makannya cuma tujuh. Kelangkaan itu sudah memunculkan keluhan wisatawan asing soal urusan makan di Tomia. Kalau Anda menginap di sana, pastikan penginapan Anda menyediakan makan.

Biro dan agen perjalanan hanya ada di dua pulau, yaitu 11 di Wangi-Wangi dan satu di Tomia. Sebagian besar paket yang dijual adalah paket menyelam dan olahraga air, sebagian juga menyewakan mobil, motor, serta kapal kecil.

Listrik dan jalan masih menjadi kendala. Kapasitas listrik seluruh Kabupaten Wakatobi tercatat 8.616 kVA, dan hanya Wangi-Wangi serta Tomia yang menikmati listrik 24 jam, itu pun masih sering padam. Untuk jalan, data BAPPEDA Kabupaten Wakatobi hingga akhir 2020 mencatat kondisi baik 28,58 persen, sedang 17,47 persen, rusak ringan 31,77 persen, dan rusak berat 22,18 persen. Panjang jalan pun terpusat, sekitar 199 kilometer di Wangi-Wangi, 127 kilometer di Tomia, 90 kilometer di Kaledupa, dan 74 kilometer di Binongko. Jalan di Binongko hanya mengitari sisi terluar pulau dan banyak yang rusak.

Bawa uang tunai, powerbank, dan obat pribadi. Jangan menjadwalkan penerbangan lanjutan terlalu mepet setelah perjalanan antarpulau.

Cara Memilih Pulau Sesuai Tujuan Anda

Kalau waktu Anda terbatas, pilih berdasarkan yang ingin Anda bawa pulang.

Datang untuk menyelam. Tomia. Titik selamnya paling banyak dan paling matang, dan Maranggo Air Strip memudahkan kalau Anda datang dari Bali.

Datang untuk melihat lumba-lumba tanpa repot. Wangi-Wangi. Jadwalnya bisa diperkirakan, jam empat sampai lima pagi di perairan menuju Kapota, dan pulau ini juga paling siap fasilitasnya.

Datang untuk budaya dan sejarah. Kaledupa. Tari Lariangi, Benteng Ollo, permukiman adat Pajam, tenun boke, dan tiga kampung Bajo ada di satu pulau. Usahakan bertepatan dengan Festival Barata Kahedupa pada September.

Datang untuk lanskap yang tidak ada di tempat lain. Binongko. Taman Batu Waloindi, kebun pisang di atas batu, gua yang harus diselami, dan kampung pandai besi. Siapkan mental untuk fasilitas paling terbatas di antara keempatnya.

Kalau punya waktu lebih dari seminggu, urutan yang masuk akal adalah masuk lewat Wangi-Wangi, turun ke Kaledupa, lanjut ke Tomia, dan menutup di Binongko, mengikuti arah pelabuhan pengumpan.

Wakatobi bertetangga dengan destinasi yang sudah lebih dikenal, dan perbandingannya menarik. Kajian yang dirujuk artikel ini mencatat bahwa Wakatobi punya hubungan saling melengkapi dengan Morotai karena kedekatan jarak dan sama-sama menarik peminat menyelam, serta dengan Borobudur karena faktor acara. Kalau Anda sedang menyusun perjalanan menyelam Indonesia timur, Wakatobi dan Bunaken di Sulawesi Utara masuk akal digabung dalam satu rencana.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Wakatobi itu di mana?

Di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Wakatobi terdiri atas empat pulau utama, yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, yang huruf awalnya membentuk nama Wakatobi.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keliling Wakatobi?

Untuk satu pulau saja, tiga sampai empat hari cukup. Untuk keempat pulau, siapkan minimal sepuluh hari, karena perpindahan antarpulau bergantung pada kapal dan cuaca, dan Pelabuhan Rukuwa di Binongko hanya aman pada musim angin barat.

Pulau mana yang terbaik untuk menyelam?

Tomia, dengan setidaknya 40 titik selam yang sudah diperkenalkan kepada wisatawan. Titik Marimabok dan The Zoo termasuk yang paling dikenal, dan sebagian titik menyimpan bangkai kapal peninggalan Jepang.

Kapan bisa melihat lumba-lumba di Wakatobi?

Pukul empat sampai lima pagi, di perairan antara Wangi-Wangi dan Pulau Kapota. Pengunjung naik kapal dan diantar ke jalur migrasinya.

Apa yang membuat Tari Lariangi istimewa?

Tarian ini memakai bahasa Kaledupa kuno yang maknanya sudah tidak dipahami lagi, memakai iringan gamelan, dan pembukaannya bercorak Hinduisme. Busana dan riasannya berbeda dari seluruh budaya lain di Kepulauan Wakatobi maupun Buton. Pemerintah Daerah Wakatobi sedang mengupayakan pendaftarannya ke UNESCO sebagai warisan dunia takbenda.

Kapan festival di Wakatobi berlangsung?

Festival Barata Kahedupa di Kaledupa setiap September, Festival Tukang Besi di Binongko sekitar Maret atau April, Festival Pulau Tomia seusai Idulfitri, dan Festival Wakatobi WAVE di Wangi-Wangi.

Apakah Wakatobi cocok untuk yang tidak bisa menyelam?

Cocok, asalkan pulaunya dipilih dengan tepat. Kaledupa menawarkan benteng, permukiman adat, tenun, mangrove yang bisa dijelajahi berjalan kaki, dan titik tertinggi Wakatobi di Desa Pajam. Binongko menawarkan lanskap batu dan kampung pandai besi. Keduanya tidak menuntut kemampuan menyelam sama sekali.

Bagaimana kondisi listrik dan jalan di Wakatobi?

Kapasitas listrik seluruh kabupaten 8.616 kVA, dan hanya Wangi-Wangi serta Tomia yang mendapat listrik 24 jam, itu pun masih sering padam. Untuk jalan, per akhir 2020 hanya 28,58 persen yang berkondisi baik, sementara 31,77 persen rusak ringan dan 22,18 persen rusak berat.

Berapa jumlah wisatawan Wakatobi?

Pada 2019, sebelum pandemi, tercatat 28.857 kunjungan: 23.093 wisatawan nusantara dan 5.764 wisatawan mancanegara. Wangi-Wangi menerima 11.060 kunjungan, Tomia 10.525, Kaledupa 4.100, dan Binongko 3.172.

Sumber

Syahadat, R. M. (2022). Inventarisasi dan Identifikasi Objek Daya Tarik Wisata dalam Perencanaan Pariwisata Wakatobi. Journal of Regional and Rural Development Planning, 6(1), 30-46. DOI: 10.29244/jp2wd.2022.6.1.30-46

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan