Sulawesi Utara Punya Bunaken, Kenapa Wisatawan Asingnya Hanya 152.340

Endo Sadewa 10 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.64753/jcasc.v10i2.2272
Sulawesi Utara Punya Bunaken, Kenapa Wisatawan Asingnya Hanya 152.340

Pada 2023, Sulawesi Utara menerima 152.340 wisatawan mancanegara. Bali menerima 4,2 juta. Peneliti Universitas Negeri Manado menelusuri sebabnya dan menemukan persoalannya bukan pada terumbu karang, melainkan pada enam penerbangan seminggu dan situs web yang berhenti diperbarui.

Bunaken adalah salah satu nama menyelam yang paling dikenal di dunia. Sulawesi Utara berada di jantung Segitiga Terumbu Karang, kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di planet ini. Namun pada 2023, provinsi ini hanya menerima 152.340 wisatawan mancanegara. Pada periode yang sama, Bali menerima 4,2 juta.

Selisih itu terlalu besar untuk dijelaskan dengan selera. Tiga peneliti dari Program Studi Administrasi Publik Universitas Negeri Manado menelusurinya lewat jalur yang jarang ditempuh penulis perjalanan, yaitu memeriksa kebijakannya. Hasilnya terbit di Journal of Cultural Analysis and Social Change pada 2025. Temuan mereka menunjuk pada hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan keindahan bawah lautnya.

Dinding terumbu karang Taman Nasional Laut Bunaken dengan ikan-ikan kecil dan air biru pekat di sisi kiri
Dinding terumbu karang di Taman Nasional Laut Bunaken, Manado, Sulawesi Utara. Foto: Sakurai Midori, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Enam Penerbangan Internasional per Minggu

Angka pertama yang disorot peneliti adalah konektivitas udara. Bandara Sam Ratulangi di Manado adalah satu-satunya pintu masuk internasional di provinsi ini. Peneliti mencatat bandara tersebut hanya melayani enam penerbangan internasional per minggu, yaitu ke Singapura dan Manila.

Kondisi jalan menjadi hambatan kedua. Peneliti menggambarkan jalan menuju sejumlah destinasi sebagai sempit dan sebagian belum beraspal. Dari wawancara, muncul keterangan bahwa sekitar 30 persen klien internasional membatalkan pemesanan setelah mengetahui berapa lama perjalanan darat yang harus ditempuh. Perlu dicatat, angka ini berasal dari keterangan informan dalam penelitian, bukan dari statistik resmi.

Konsekuensinya masuk akal. Sebuah destinasi kelas dunia yang hanya bisa dicapai lewat enam penerbangan internasional seminggu, lalu disambung perjalanan darat yang panjang, secara praktis menyaring sendiri siapa yang bisa datang.

Iklan

Situs Web yang Berhenti Diperbarui pada 2021

Bagian ini yang paling tajam. Peneliti menemukan situs web promosi pariwisata daerah belum diperbarui sejak 2021. Media sosialnya juga kurang interaksi, dengan rata-rata sekitar 50 suka per unggahan. Sebagai pembanding, peneliti menyebut angka lebih dari 50.000 per unggahan untuk Bali.

Kesenjangan digitalnya tidak berhenti di situ. Hanya 42 persen desa di Sulawesi Utara yang memiliki cakupan jaringan 4G. Dan hanya 12 persen operator pariwisata berbasis komunitas di provinsi ini yang memakai platform pemesanan daring.

Tiga angka itu bekerja bersama-sama. Wisatawan internasional hari ini menemukan, membandingkan, dan memesan lewat layar. Kalau operator lokal tidak ada di sana, mereka bukan sekadar kalah bersaing. Mereka tidak muncul sebagai pilihan sama sekali.

Tarsius bermata besar bertengger di batang pohon pada malam hari di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara
Tarsius (Tarsius spectrumgurskyae) di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara, difoto pada malam hari. Foto: Riefza Vebriansyah, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Peraturan yang Ada, Tetapi Tanpa Gigi

Kebijakan utama yang dianalisis adalah Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2019 tentang Pengembangan Pariwisata. Penilaian peneliti terhadapnya lugas: peraturan itu kurang memiliki mekanisme penegakan, target yang terukur, dan keterpaduan dengan agenda lintas sektor seperti perlindungan lingkungan, transportasi, serta strategi ekonomi digital.

Pelaksanaannya digambarkan sebagai terfragmentasi, reaktif, dan kerap digerakkan donor alih-alih strategi. Lembaga-lembaga terkait disebut bekerja dalam kotak masing-masing, dengan anggaran dan jalur pelaporan yang terpisah.

Penelitian ini memakai metode kualitatif berupa analisis dokumen kebijakan dan wawancara semi-terstruktur dengan 15 informan kunci dari Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, lembaga swadaya masyarakat lokal, serta kelompok pariwisata masyarakat, dilakukan pada Januari sampai Maret 2024. Kerangka analisisnya menilai empat hal, yaitu koherensi kebijakan, keterlibatan pemangku kepentingan, alokasi sumber daya, dan mekanisme pemantauan.

Iklan

Kolintang dan Pemandu yang Belum Dilatih

Dua temuan lain menyangkut hal yang lebih dekat dengan pengalaman pengunjung. Pertama, warisan budaya takbenda seperti musik kolintang disebut masih berada di pinggiran dokumen kebijakan, belum digarap sebagai daya tarik utama.

Kedua, peneliti mencatat operator pariwisata berbasis komunitas masih kekurangan pelatihan dalam etika satwa liar, pertolongan pertama, dan komunikasi bahasa Inggris. Temuan ini penting bagi provinsi yang daya tarik andalannya mencakup pengamatan tarsius di Cagar Alam Tangkoko, kegiatan yang menuntut pemahaman jarak aman dan aturan penggunaan cahaya terhadap satwa nokturnal.

Satu catatan yang layak disorot: peneliti menemukan 68 persen usaha mikro pariwisata di provinsi ini dijalankan perempuan. Angka itu muncul kembali dalam rekomendasi mereka berupa mandat perekrutan yang inklusif gender.

Hamparan akar napas mangrove di pesisir Pulau Bunaken saat air surut dengan laut dan langit cerah di kejauhan
Pesisir mangrove di Pulau Bunaken, Sulawesi Utara, saat air surut. Foto: Jpatokal, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Yang Direkomendasikan Peneliti

Rekomendasinya berlapis dan cukup konkret. Membentuk organisasi pengelola destinasi berbadan hukum agar koordinasi tidak lagi bergantung pada niat baik antarinstansi. Memprioritaskan infrastruktur, khususnya penambahan rute penerbangan dan perbaikan jalan pedesaan. Mengembangkan pariwisata berbasis komunitas lewat hibah mikro, pelatihan digital, dan sertifikasi.

Untuk promosi, peneliti mengusulkan penjenamaan ulang dengan posisi sebagai kawasan lindung budaya dan bahari. Dan yang paling menentukan arah, mereka menegaskan seluruh langkah harus memuat ukuran keberlanjutan, meliputi batas daya dukung, protokol pengelolaan sampah, serta perekrutan yang inklusif. Prinsip yang mereka pakai adalah mengutamakan ketahanan di atas volume kunjungan.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Pesan penerbangan jauh hari. Dengan hanya enam penerbangan internasional per minggu dari Manado, pilihan jadwal sangat terbatas. Untuk penerbangan domestik, Manado tetap terhubung baik ke kota besar lain, dan itu jalur yang lebih lentur.
  • Hitung waktu tempuh darat, bukan jaraknya. Kondisi jalan menuju sebagian destinasi disebut sempit dan sebagian belum beraspal. Jarak 60 kilometer di peta bisa berarti waktu tempuh yang jauh lebih lama dari perkiraan.
  • Jangan mengandalkan sinyal. Hanya 42 persen desa di provinsi ini memiliki cakupan 4G. Unduh peta luring dan simpan nomor kontak pemandu sebelum berangkat dari kota.
  • Pesan langsung ke operator lokal. Karena hanya 12 persen operator berbasis komunitas yang hadir di platform pemesanan daring, banyak penyedia jasa terbaik justru tidak muncul di hasil pencarian. Mencari lewat rekomendasi penginapan atau komunitas selam sering memberi hasil lebih baik.
  • Tanyakan protokol satwa sebelum jelajah malam di Tangkoko. Penelitian ini mencatat pelatihan etika satwa liar masih menjadi kesenjangan. Pemandu yang membatasi penggunaan lampu dan menjaga jarak adalah pemandu yang tepat, dan itu layak ditanyakan lebih dahulu.
  • Belanja pada usaha kecil setempat. Sebanyak 68 persen usaha mikro pariwisata di provinsi ini dijalankan perempuan. Memilih warung, penginapan, dan jasa lokal menyalurkan pengeluaran Anda langsung ke sana.

Kesimpulan

Angka 152.340 berbanding 4,2 juta terlihat seperti vonis, padahal isinya justru sebaliknya. Tidak satu pun sebab yang ditemukan peneliti berkaitan dengan kualitas destinasinya. Terumbu karang Bunaken tetap termasuk yang terbaik di dunia. Tarsius Tangkoko tetap hanya ada di sana. Yang kurang adalah penerbangan, jalan, sinyal, halaman web yang diperbarui, dan koordinasi antarinstansi.

Bagi pengunjung, itu berarti sesuatu yang menarik. Sulawesi Utara hari ini menawarkan pengalaman kelas dunia dengan tingkat keramaian yang jauh di bawah tempat sekelasnya. Kondisi seperti itu tidak berlangsung selamanya. Dan bagi provinsi ini, daftar pekerjaan rumahnya panjang tetapi jelas, yang jauh lebih baik daripada masalah yang tidak diketahui letaknya.

Sumber: Kairupan, S.B., Ratung, M.I., & Sendouw, R.H.E. (2025). Tourism Policy to Enhance Tourist Arrivals in North Sulawesi. Journal of Cultural Analysis and Social Change, 10(2). DOI: 10.64753/jcasc.v10i2.2272

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya