Pulau Derawan Ada di Uang Rp20.000, dan Terkikis Sejak PON 2008

Endo Sadewa 9 September 2026 Diperbarui 10 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.36859/jdg.v3i02.76
Pulau Derawan Ada di Uang Rp20.000, dan Terkikis Sejak PON 2008

Pulau seluas 44,60 hektare ini dipilih menjadi gambar pada uang kertas Rp20.000. Sebuah penelitian menelusuri dua persoalan yang jarang masuk brosur, yaitu abrasi yang bermula dari pembangunan menjelang PON 2008, dan sampah yang akhirnya dibakar memakai insinerator limbah medis.

Ambil selembar uang Rp20.000 dan balik ke sisi belakangnya. Pulau yang tergambar di sana adalah Pulau Derawan, sebuah pulau seluas 44,60 hektare di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang pada 2016 dihuni 1.446 jiwa. Sedikit tempat di Indonesia yang mendapat pengakuan sebesar itu.

Seorang peneliti mendatangi pulau itu dan mewawancarai pejabat dari tingkat kabupaten sampai tingkat kampung. Hasilnya, yang terbit di Jurnal Dinamika Global pada 2018, memuat dua persoalan yang tidak pernah muncul di materi promosi. Yang menarik, kedua persoalan itu justru diakui sendiri oleh para pejabat yang diwawancarai.

Suasana fajar di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
Fajar di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: A.m.iqro, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Keragaman Karang Tertinggi Kedua Setelah Raja Ampat

Pertama, modal alamnya. Pulau Derawan berada di kawasan segitiga terumbu karang, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Peneliti mengutip kajian yang menyebut terumbu karang di Kabupaten Berau memiliki keragaman tertinggi kedua di Indonesia setelah Raja Ampat.

Pulau Derawan juga bukan berdiri sendiri. Ia bagian dari gugusan yang mencakup Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Perairannya menjadi habitat asli penyu, di antaranya penyu hijau dan penyu sisik.

Namun angka tutupan karangnya perlu dibaca dengan tenang. Penelitian ini mencatat tutupan karang keras rata-rata di Pulau Derawan sebesar 17,41 persen, dengan tutupan persebaran karang hidup sekitar 27,78 persen. Data ini terbit pada 2018 dan bisa saja sudah berubah, tetapi angkanya mengingatkan bahwa reputasi sebuah kawasan tidak otomatis menggambarkan kondisi tiap titik di dalamnya.

Iklan

Abrasi yang Bisa Dilacak ke Sebuah Perhelatan Olahraga

Inilah temuan yang paling jarang dibicarakan. Peneliti mewawancarai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Camat Tanjung Batu, hingga Kepala Kampung di Kecamatan Pulau Derawan. Mereka sepakat bahwa abrasi adalah ancaman bagi keberadaan keindahan Pulau Derawan.

Yang membuat catatan ini berharga adalah peneliti menelusuri asal usulnya. Menurut penelusuran itu, persoalan bermula ketika Pulau Derawan menjadi tempat penyelenggaraan dua cabang olahraga pada Pekan Olahraga Nasional 2008. Pada masa itu pembangunan pemukiman dilakukan secara masif, banyak warga baru berdatangan, dan bangunan didirikan di sepanjang bibir pantai.

Dampaknya berjalan dua arah, dan peneliti menuliskan keduanya. Sisi baiknya, Pulau Derawan menjadi jauh lebih dikenal di dalam maupun luar negeri, dan rumah-rumah penduduk itu kemudian berfungsi sebagai penginapan bagi pengunjung. Sisi lainnya, kepadatan pemukiman di garis pantai itu disebut telah menyebabkan abrasi di ujung timur pulau.

Peneliti mencatat banyak warga dan bahkan sebagian pemerintah setempat tidak mengetahui dampak dari pembangunan di pinggiran pantai tersebut. Ini bukan soal niat buruk, melainkan soal konsekuensi yang tidak terlihat sampai bertahun-tahun kemudian.

Seekor penyu hijau berenang di perairan jernih Pulau Derawan
Penyu hijau di perairan Pulau Derawan. Perairan gugusan Derawan menjadi habitat asli penyu hijau dan penyu sisik. Foto: Fikry Agara, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 4.0.

Dilema Sampah dan Jalan Keluar yang Tidak Ideal

Persoalan kedua adalah sampah, yang menurut peneliti terus bertambah sebagai konsekuensi meningkatnya jumlah pengunjung. Bagian ini menarik karena memperlihatkan dilema yang sangat manusiawi.

Pernah muncul usulan dari pejabat kampung agar wisatawan membawa kembali sampah plastik yang mereka bawa dari luar pulau, lalu membuangnya di tempat sampah yang ditentukan di Tanjung Batu. Usulan itu tidak jadi diterapkan. Alasannya, banyak warga dan perangkat kampung merasa tidak elok meminta hal semacam itu kepada tamu yang berkunjung.

Jalan keluar yang kemudian ditempuh pejabat Pulau Derawan adalah membakar sampah memakai alat pembakar sampah medis atau insinerator, yang dibangun Dinas Kesehatan. Perlu dicatat, alat itu semula berfungsi membakar sampah medis milik puskesmas Pulau Derawan.

Membakar sampah rumah tangga dan plastik dengan alat yang dirancang untuk limbah medis jelas bukan penyelesaian yang ideal. Namun keberadaannya menjelaskan sesuatu yang penting: sebuah pulau kecil tanpa sistem pengelolaan sampah akan memakai apa pun yang tersedia. Dan satu-satunya cara mengurangi beban itu ada di tangan orang yang datang membawa kemasannya.

Iklan

Rute Menuju Sana, dalam Struktur bukan Harga

Peneliti mencatat rutenya cukup rinci. Dari luar Pulau Kalimantan, jalur termudah adalah lewat udara menuju Kabupaten Berau, yang ibu kotanya bernama Tanjung Redeb. Pada catatan 2018, terdapat sekitar enam sampai tujuh penerbangan per hari dari Balikpapan yang merupakan pintu gerbang Provinsi Kalimantan Timur.

Dari Tanjung Redeb, perjalanan berlanjut melalui jalan darat selama sekitar dua jam tiga puluh menit sampai tiga jam menuju Kecamatan Tanjung Batu. Di Pelabuhan Tanjung Batu, pengunjung membayar kontribusi, lalu menyeberang ke Pulau Derawan dengan speedboat selama hampir tiga puluh menit. Peneliti mencatat speedboat sudah dilengkapi pelampung untuk masing-masing penumpang.

Angka biaya yang dicantumkan penelitian ini berasal dari 2018 dan hampir pasti sudah berubah, sehingga tidak dikutip di sini. Yang tidak banyak berubah adalah strukturnya, yaitu satu penerbangan, satu perjalanan darat sekitar tiga jam, dan satu penyeberangan setengah jam. Total perjalanan dari kota besar terdekat menghabiskan hampir sepanjang hari.

Penanda atau landmark bertuliskan Pulau Derawan di tepi pantai
Penanda kawasan di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: Edelweiss blogger, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Bawa pulang sampah kemasan Anda sendiri. Usulan ini pernah diajukan pejabat kampung dan tidak jadi diterapkan karena dianggap kurang sopan diminta kepada tamu. Melakukannya atas kesadaran sendiri menyelesaikan persoalan itu tanpa ada yang perlu meminta.
  • Kurangi kemasan sekali pakai sebelum berangkat. Botol minum isi ulang dan wadah pribadi mengurangi jumlah sampah yang harus dibakar di pulau seluas 44,60 hektare.
  • Jangan berharap semua titik karangnya sempurna. Kawasan Berau memang bereputasi tinggi, tetapi angka tutupan karang keras di Pulau Derawan sendiri tercatat 17,41 persen dalam penelitian ini. Pulau lain di gugusan yang sama, seperti Maratua, Sangalaki, dan Kakaban, punya karakter berbeda dan layak dimasukkan dalam rencana.
  • Sediakan satu hari penuh untuk perjalanan. Satu penerbangan, sekitar tiga jam darat, lalu setengah jam menyeberang. Menjadwalkan kegiatan pada hari kedatangan biasanya berakhir dengan penyesuaian.
  • Perlakukan penyu dengan jarak. Perairan ini adalah habitat asli penyu hijau dan penyu sisik. Mengejar, menyentuh, atau menghalangi jalur renangnya adalah hal yang sebaiknya tidak dilakukan siapa pun.
  • Pertimbangkan menginap di rumah warga. Peneliti mencatat rumah-rumah penduduk berfungsi sebagai penginapan. Uang yang dibelanjakan di sana berhenti di pulau itu sendiri.
  • Perhatikan garis pantai sisi timur. Bagian inilah yang menurut penelitian mengalami abrasi. Menghindari mendirikan apa pun atau merusak vegetasi di garis pantai adalah bentuk dukungan paling sederhana.

Kesimpulan

Ada ironi yang tenang di Pulau Derawan. Sebuah pulau yang dianggap cukup penting untuk dicetak pada mata uang nasional ternyata membakar sampahnya dengan alat yang dirancang untuk limbah puskesmas, dan bibir pantainya terkikis akibat pembangunan yang dulu dilakukan justru untuk memperkenalkannya.

Namun penelitian ini tidak berhenti pada ironi. Yang dicatatnya adalah bahwa persoalan itu sudah dikenali oleh orang-orang yang mengelolanya sendiri, mulai dari camat sampai kepala kampung. Persoalan yang sudah dikenali jauh lebih mudah diselesaikan daripada persoalan yang disangkal. Dan bagian yang bisa dikerjakan pengunjung dalam persoalan ini kebetulan adalah bagian yang paling ringan, yaitu tidak menambah apa pun yang harus dibakar setelah mereka pulang.

Sumber: Mujiono, D.I.K. (2018). Potensi Bahari Pulau Derawan Menuju Destinasi Wisata Kompetitif. Jurnal Dinamika Global, 3(2), 55-87. DOI: 10.36859/jdg.v3i02.76

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya