Aceh Tengah Targetkan 2.000 Wisatawan Olahraga, yang Datang 10 Orang

Endo Sadewa 8 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.3389/fspor.2024.1421363
Aceh Tengah Targetkan 2.000 Wisatawan Olahraga, yang Datang 10 Orang

Sebuah ajang olahraga di tepi Danau Laut Tawar menargetkan 2.000 wisatawan dan 100 pembalap. Yang benar-benar datang 10 wisatawan dan 11 pembalap. Alih-alih menutupi angka itu, peneliti memakainya sebagai titik awal merancang ulang, dan hasil ujinya mencapai 86,6 persen.

Pada 2022, Kabupaten Aceh Tengah menggelar ajang bersepeda bertajuk Tour Delut Tawar di tepi danau kebanggaan mereka. Panitia menargetkan 2.000 wisatawan hadir, 100 pembalap ikut serta, dan peserta datang dari 10 negara. Yang benar-benar terjadi: 10 wisatawan, 11 pembalap, dan 3 negara.

Angka itu tidak muncul dari investigasi pihak luar. Angka itu ditulis sendiri oleh sekelompok peneliti dalam artikel yang terbit di jurnal Frontiers in Sports and Active Living pada 2024, lalu dipakai sebagai titik berangkat. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana dan jarang diajukan: kalau daerah ini punya danau di dataran tinggi, kopi yang dikenal dunia, dan tradisi pacuan kuda berusia lebih dari seabad, kenapa ajang olahraganya sepi?

Danau Laut Tawar di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dengan perbukitan mengelilingi permukaan air
Danau Laut Tawar di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, jantung dataran tinggi Gayo. Foto: Asep Mulyadi, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 2.0.

Negeri di Atas Awan yang Sepi Peserta

Lokasi penelitian ini adalah Kabupaten Aceh Tengah di Provinsi Aceh, wilayah dataran tinggi Gayo yang dihuni suku Gayo. Peneliti mencatat Danau Laut Tawar, yang dalam bahasa Gayo disebut Lut Tawar, berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut dan menyandang sebutan negeri di atas awan. Bentang alamnya mencakup gunung, danau, sungai, hutan, dan pantai danau. Pantai Pante Menye ditetapkan sebagai lokasi wisata olahraga dalam kajian ini.

Modal alamnya jelas ada. Yang menjadi persoalan, menurut analisis peneliti, adalah rancangan ajangnya. Sebuah lomba balap sepeda dengan format kompetitif menyaring pesertanya sendiri menjadi kelompok kecil yang memang atlet. Sisanya, termasuk keluarga dan pengunjung biasa, tidak punya alasan untuk ikut, hanya menonton, atau bahkan tidak datang sama sekali.

Iklan

Pacu Kude, Warisan yang Belum Masuk Hitungan

Di sisi lain, Aceh Tengah punya satu hal yang tidak dimiliki daerah lain: Pacu Kude, yaitu pacuan kuda tradisional suku Gayo. Peneliti mencatat tradisi ini sudah dilombakan sejak masa kolonial Belanda dan diakui sebagai warisan budaya takbenda.

Inilah yang menurut peneliti belum dimanfaatkan. Ajang olahraga yang digelar meniru format yang bisa ditemukan di mana saja, sementara satu-satunya hal yang benar-benar khas justru tidak dilibatkan. Sebuah lomba sepeda bisa diadakan di ribuan tempat lain. Pacuan kuda Gayo tidak.

Pemandangan dataran tinggi Gayo di kawasan Danau Laut Tawar, Aceh Tengah
Dataran tinggi Gayo di kawasan Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, kawasan yang dijuluki negeri di atas awan. Foto: Muklana mustaqim pulungan, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Run H2O Ride: Triatlon yang Dikawinkan dengan Tradisi

Model yang dirancang peneliti diberi nama Run H2O Ride. Isinya tiga tahap yang dijalankan berurutan:

  • Lari sejauh 2 kilometer
  • Renang sejauh 500 meter
  • Berkuda sejauh 3 kilometer

Tahap ketiga itulah kuncinya. Alih-alih bersepeda seperti triatlon pada umumnya, model ini memasukkan berkuda, yang langsung menyambungkannya dengan warisan Pacu Kude. Aturan lombanya juga disesuaikan agar terbuka bagi peserta keluarga, bukan hanya atlet elite, dan disediakan kategori tim maupun perorangan.

Peneliti menambahkan komponen yang sering luput dari ajang daerah, yaitu kendaraan ambulans, pos pertolongan pertama, tribun penonton, serta area istirahat peserta. Detail semacam ini terdengar administratif, tetapi justru menentukan apakah sebuah keluarga bersedia mendaftarkan anggotanya atau tidak.

Iklan

Angka yang Membalik dari 26,7 Persen ke 86,6 Persen

Model ini tidak langsung diterima. Peneliti mengujinya bertahap, dan tahapan itu memperlihatkan perbaikan yang terukur.

Pengumpulan masukan dimulai dari diskusi kelompok terarah dengan 20 orang, lalu validasi oleh 4 ahli. Skor validasi ahli pada skala empat poin berturut-turut 45 dari 48 setara 93,75 persen, 44 dari 48 setara 91,66 persen, 43 dari 48 setara 89,58 persen, dan 45 dari 48 setara 93,75 persen. Uji reliabilitas menghasilkan nilai Cronbach alpha 0,723, di atas ambang 0,70.

Uji lapangan dilakukan tiga kali dengan jumlah peserta yang meningkat, dan hasilnya bergerak jelas:

  • Uji terbatas, 15 responden: baik 33,3 persen, cukup 40 persen, kurang 26,7 persen.
  • Uji utama, 30 responden: sangat baik 73,3 persen, baik 20 persen, cukup 6,7 persen.
  • Uji operasional, 60 responden: sangat baik 86,6 persen, baik 11,7 persen, cukup 1,7 persen.

Total responden keseluruhan 105 orang. Pada uji pertama, lebih dari seperempat peserta menilai model itu kurang. Pada uji ketiga, angka penilaian kurang hilang sama sekali dan 86,6 persen menilainya sangat baik. Peneliti menyimpulkan produk ini siap dipakai untuk pelaksanaan.

Jalan menurun menuju tepi Danau Lut Tawar di Aceh Tengah dengan perbukitan hijau di sekitarnya
Jalan menuju tepi Danau Lut Tawar, Aceh Tengah. Foto: Bisajunisa, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Kenapa Ini Penting di Luar Aceh Tengah

Pola yang ditemukan penelitian ini berulang di banyak daerah. Sebuah pemerintah daerah menggelar ajang olahraga bergaya internasional, menargetkan ribuan pengunjung, lalu mendapati tribunnya kosong. Diagnosis yang biasa diambil adalah kurangnya promosi. Diagnosis yang diambil penelitian ini berbeda, yaitu produknya sendiri yang salah rancang.

Ajang yang hanya bisa diikuti atlet menciptakan penonton, bukan peserta. Sementara wisatawan datang untuk mengalami sesuatu, bukan untuk menyaksikan orang lain mengalaminya. Menurunkan tingkat kesulitan dan menyisipkan unsur lokal mengubah ajang itu dari tontonan menjadi kegiatan yang bisa diikuti keluarga.

Peneliti merekomendasikan pemerintah daerah mengadopsi ajang wisata olahraga yang selaras dengan rencana pembangunan jangka panjang daerah, dan menegaskan agar keunikan warisan olahraga masyarakat setempat diutamakan. Rekomendasi ini disandingkan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Pemerintah Aceh periode 2023 sampai 2027.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Periksa jadwal ajang sebelum menyusun rencana. Model Run H2O Ride masih berupa hasil penelitian, bukan agenda tetap. Ajang di daerah bisa berubah jadwal atau format, jadi konfirmasi ke dinas pariwisata setempat adalah langkah pertama yang masuk akal.
  • Siapkan diri untuk udara dingin. Peneliti mencatat kawasan ini berada di dataran tinggi dan dijuluki negeri di atas awan. Pakaian berlapis jauh lebih berguna daripada satu jaket tebal.
  • Pantai Pante Menye adalah titik yang dikaji. Kalau ingin melihat lokasi yang dinilai peneliti sebagai lokasi wisata olahraga, ini namanya. Danau Laut Tawar sendiri punya banyak titik tepi yang bisa didatangi.
  • Pacu Kude adalah alasan tersendiri untuk datang. Tradisi pacuan kuda Gayo diakui sebagai warisan budaya takbenda dan digelar secara berkala. Menyesuaikan tanggal kunjungan dengan gelarannya memberi pengalaman yang tidak ada duanya.
  • Datang berkelompok kecil atau bersama keluarga. Seluruh rancangan yang diusulkan peneliti menyasar segmen keluarga, dan fasilitas di sekitar danau lebih cocok untuk ritme santai daripada jadwal padat.

Kesimpulan

Yang membuat penelitian ini layak dibaca bukan model olahraganya, melainkan kejujurannya. Sangat sedikit kajian pariwisata daerah yang mau menuliskan bahwa target 2.000 orang berakhir pada 10 orang. Menutupinya jauh lebih mudah, dan sangat lazim.

Namun tanpa angka itu, tidak ada yang bisa dipelajari. Angka 10 adalah alasan model baru itu dirancang, dan alasan uji operasionalnya bergerak ke 86,6 persen. Aceh Tengah tetap punya danau di dataran tinggi, kopi yang dikenal dunia, dan kuda yang sudah dipacu di sana lebih dari seratus tahun. Yang selama ini kurang bukan bahan bakunya, melainkan cara menyusunnya.

Sumber: Nasution, N.S., Sinulingga, A., Bermanhot Simbolon, I., Gemaini, A., & Prabowo, T.A. (2024). New model of sports tourism with sustainable tourism development to increase tourist arrivals in Central Aceh Regency, Indonesia. Frontiers in Sports and Active Living, 6, 1421363. DOI: 10.3389/fspor.2024.1421363

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya