Terumbu Karang Kepulauan Seribu: Spot Snorkeling Jauh Lebih Rusak
Peneliti IPB menyelami 12 stasiun di tiga pulau wisata Kepulauan Seribu, masing-masing pada dua kedalaman. Di kedalaman snorkeling, hanya 1 dari 12 stasiun berkondisi baik. Di kedalaman menyelam, 6 dari 12. Perbedaan itu punya penyebab yang sangat spesifik.
Empat peneliti dari IPB University menyelami perairan tiga pulau di zona pemanfaatan wisata Taman Nasional Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Putri, Pulau Macan Kecil, dan Pulau Kayu Angin Genteng. Di tiap pulau mereka membuat empat stasiun mengikuti arah mata angin, lalu mengukur tutupan karang pada dua kedalaman: sekitar 3 meter yang menjadi wilayah snorkeling, dan sekitar 10 meter yang menjadi wilayah menyelam.
Hasilnya, yang terbit di Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan pada 2019, memperlihatkan pola yang tidak bisa diabaikan. Pada titik-titik snorkeling, lima stasiun berkondisi buruk, enam sedang, dan hanya satu berkondisi baik. Pada titik-titik menyelam di pulau yang sama, enam stasiun berkondisi baik, empat sedang, dan dua buruk. Karang yang sama, laut yang sama, hanya berbeda tujuh meter kedalaman.
Kenapa yang Dangkal Lebih Rusak
Peneliti tidak berhenti pada angka. Mereka mencatat apa yang mereka lihat sendiri di lapangan, dan penjelasannya sangat spesifik.
Snorkeling adalah kegiatan yang mudah, tidak menuntut keahlian khusus, dan peralatannya sederhana, sehingga hampir semua orang bisa melakukannya. Menyelam menuntut sertifikasi, pelatihan, dan biaya. Akibatnya jumlah orang yang berada di zona 1,5 sampai 5 meter jauh lebih besar daripada yang turun ke zona 6 meter ke bawah. Tekanan pemanfaatan berbanding lurus dengan tingkat kerusakan.
Perilaku yang teramati di lapangan lebih menjelaskan lagi. Peneliti mencatat sebagian wisatawan sengaja berfoto sambil memegang karang, mematahkannya, bahkan mengambil jenis karang tertentu dari habitat aslinya. Selain itu, gerakan dan posisi snorkeling yang keliru serta berenang terlalu dekat di atas hamparan karang membuat ayunan sirip kaki membentur karang bercabang sampai patah.
Jenis yang paling menderita juga tercatat, yaitu karang bercabang, Acropora bercabang, karang berdaun, dan sebagian karang meja. Bentuk kerusakannya berupa patah, terlepas dari substrat, dan tergores.
Iklan
Angka-angkanya
Pengukuran memakai metode Line Intercept Transect dengan garis transek sepanjang 75 meter, terdiri atas tiga ulangan 20 meter dengan jeda 5 meter. Klasifikasinya mengikuti Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2001, yaitu 76 sampai 100 persen baik sekali, 51 sampai 75 persen baik, 25 sampai 50 persen sedang, dan 0 sampai 25 persen buruk.
Beberapa angka yang paling menjelaskan:
- Pulau Putri sisi utara: 18,13 persen di kedalaman dangkal, 24,81 persen di kedalaman dalam. Ini stasiun terlemah dalam penelitian.
- Pulau Putri sisi barat: 22,37 persen dangkal, 27,55 persen dalam.
- Pulau Macan Kecil sisi timur: 19,72 persen dangkal, tetapi 50,18 persen di kedalaman dalam. Selisihnya lebih dari dua kali lipat pada titik yang sama.
- Pulau Kayu Angin Genteng: di kedalaman dalam tercatat 55,05 persen, 52,12 persen, 50,47 persen, dan 51,62 persen, angka tertinggi dalam penelitian ini.
Jenis karang matinya juga bercerita. Di Pulau Putri, karang mati yang sudah ditumbuhi alga berkisar 26,15 sampai 33,62 persen, tanda kerusakan yang sudah berlangsung lama. Di Pulau Macan Kecil dan Kayu Angin Genteng, yang mendominasi justru pecahan karang atau rubble, masing-masing 34,12 sampai 58,07 persen dan 19,36 sampai 41,66 persen, yang menurut peneliti menandakan kerusakan belum lama terjadi.
Suhu Air yang Melewati Baku Mutu
Ada satu temuan di tabel kualitas perairan yang layak diperhatikan. Suhu air di ketiga pulau tercatat 29,9 derajat Celsius di Pulau Macan Kecil, 31,0 derajat di Kayu Angin Genteng, dan 31,3 derajat di Pulau Putri. Baku mutu air laut untuk biota laut menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 adalah 28 sampai 30 derajat Celsius. Dua dari tiga pulau berada di atasnya.
Salinitas juga di bawah baku mutu, tercatat 31,3 sampai 32,1 bagian per seribu terhadap baku mutu 33 sampai 34. Sementara pH, oksigen terlarut, dan kecerahan air masih memenuhi ketentuan.
Artinya, tekanan terhadap karang di sana bukan hanya dari sirip kaki wisatawan. Ada persoalan yang lebih besar dan lebih lambat bekerja, dan itu tidak bisa diselesaikan dengan mengubah cara orang berenang.
Iklan
Konteks yang Lebih Luas
Peneliti mengutip data Terangi tahun 2016 yang memperlihatkan tren menurun pada persentase tutupan karang hidup di kawasan ini, yaitu 39,35 persen pada 2011, 35,51 persen pada 2013, dan 32,23 persen pada 2015. Data yang dikutip dari Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tahun 2016 mencatat jumlah wisatawan mencapai 1.500.504 orang pada 2013, naik menjadi 2.120.058 orang pada 2014, lalu turun menjadi 1.251.886 orang pada 2015.
Data lain yang dikutip menyebutkan sedikitnya separuh dari 4.750 hektare terumbu karang di gugusan Kepulauan Seribu berada dalam kondisi memprihatinkan, sehingga yang tersisa dan masih bisa dimanfaatkan untuk wisata serta penelitian sekitar 2.375 hektare.
Perlu ditegaskan, angka-angka pada bagian ini berasal dari sumber sekunder yang dikutip peneliti, bukan dari pengukuran mereka sendiri. Data lapangan penelitian ini diambil pada Maret 2016 sampai Februari 2017, sehingga kondisi terkini bisa berbeda.
Ikan yang Masih Ada di Sana
Peneliti mencatat delapan famili ikan karang. Dari kelompok ikan mayor terdapat Pomacentridae, Labridae, dan Blenniidae. Dari kelompok ikan target terdapat Serranidae yang mencakup kerapu, Nemipteridae atau kurisi, Siganidae atau baronang, dan Scaridae atau ikan kakatua. Dari kelompok ikan indikator terdapat Chaetodontidae atau ikan kepe-kepe, jenis yang kehadirannya dipakai sebagai penanda kesuburan ekosistem karang.
Jumlah jenisnya umumnya kurang dari 50 jenis di zona dangkal dan kurang dari 100 jenis di zona yang lebih dalam. Sekali lagi, yang dalam lebih kaya daripada yang dangkal.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Jangan pernah memegang karang, apalagi untuk berfoto. Peneliti mencatat perilaku ini secara langsung sebagai salah satu penyebab kerusakan. Karang adalah hewan, dan sentuhan tangan merusak lapisan pelindungnya.
- Perhatikan sirip kaki Anda. Ayunan sirip yang membentur karang bercabang adalah penyebab patah yang tercatat dalam penelitian ini. Berenanglah mendatar, jangan menendang ke bawah, dan jaga jarak dari hamparan karang.
- Pakai pelampung kalau belum mahir mengapung. Sebagian besar kerusakan berasal dari orang yang berusaha berdiri atau berpegangan karena panik. Pelampung menghilangkan kebutuhan itu.
- Jangan mengambil apa pun. Peneliti mencatat ada wisatawan yang mengambil jenis karang tertentu dari habitat aslinya. Selain merusak, ini melanggar aturan kawasan taman nasional.
- Pertimbangkan Pulau Kayu Angin Genteng bila mencari karang yang lebih utuh. Pulau ini belum memiliki resor sehingga tekanan kunjungannya lebih rendah, dan angka tutupan karang di perairan dalamnya tertinggi dalam penelitian ini. Wisatawan umumnya menginap di pulau lain dan menghabiskan tiga sampai empat jam di sana.
- Bawa kembali seluruh sampah Anda ke daratan. Pulau kecil dengan luas daratan di bawah satu kilometer persegi tidak punya kapasitas mengolah sampah pengunjung.
- Pilih operator yang memberi pengarahan sebelum masuk air. Sebagian besar kerusakan bersumber dari ketidaktahuan, bukan kesengajaan, dan pengarahan lima menit menutup sebagian besar celah itu.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan kondisi terumbu karang di ketiga pulau secara umum masih cukup baik, tetapi beberapa titik snorkeling terlihat buruk. Kalimat itu ditulis dengan hati-hati, dan justru di situ letak persoalannya. Yang paling rusak adalah bagian yang paling banyak dilihat orang.
Ada catatan lain yang layak direnungkan. Peneliti menyebut Pulau Macan Kecil sudah menerapkan konsep resor ramah lingkungan, tetapi belum memberi kontribusi yang signifikan terhadap keberlanjutan terumbu karang di sekitarnya. Label ramah lingkungan pada sebuah penginapan tidak otomatis berpindah menjadi karang yang utuh di depannya. Yang menentukan justru hal yang jauh lebih kecil, yaitu bagaimana seorang pengunjung menggerakkan kakinya selama tiga puluh menit di atas hamparan karang berumur puluhan tahun.
Sumber: Noviana, L., Arifin, H.S., Adrianto, L., & Kholil (2019). Studi ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, 9(2), 352-365. DOI: 10.29244/jpsl.9.2.352-365
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya
Aceh Tengah Targetkan 2.000 Wisatawan Olahraga, yang Datang 10 Orang
Sebuah ajang olahraga di tepi Danau Laut Tawar menargetkan 2.000 wisatawan dan 100 pembalap. Yang benar-benar datang 10 wisatawan dan 11 pembalap. Alih-alih menutupi angka itu, peneliti memakainya sebagai titik awal merancang ulang, dan hasil ujinya mencapai 86,6 persen.
Asal Usul Nama Gunung Krakatau: Dari Rakata hingga Krakatoa
Mengapa namanya Krakatau? Telusuri asal-usul nama Krakatau, hubungan dengan Rakata, perubahan ejaan Krakatoa, dan teori yang paling masuk akal.

Naik Kapal PELNI Pertama Kali: Kelas, Bagasi, dan Aturan yang Bikin Orang Gagal Naik
Yang bikin orang gagal naik kapal PELNI biasanya bukan kehabisan tiket, tapi aturan kecil yang tidak dibaca: e-tiket harus ditukar 24 jam sebelum berangkat, pemesanan tutup satu hari sebelum keberangkatan, dan pembatalan hanya bisa di loket cabang. Semua ketentuan di halaman ini dari sumber resmi PELNI.
