Kapal Wisata Labuan Bajo: Riset Menemukan Nyaman Belum Berarti Aman

Peneliti ikut berlayar dua hari satu malam dari Labuan Bajo, lalu mencocokkan apa yang ada di kapal dengan apa yang diwajibkan aturan. Kasurnya nyaman, makanannya baik, pemandangannya luar biasa. Alat pemadam apinya tidak ada. Ini daftar yang layak Anda periksa sebelum naik.
Dua peneliti pariwisata ikut berlayar dua hari satu malam dari Labuan Bajo dengan kapal wisata berdek terbuka. Mereka tidur di kasur yang disediakan, makan masakan awak kapal, dan menyusuri hutan mangrove Teluk Terang, perairan Pulau Longos, terumbu karang Karang Gusung, sampai Pulau Papangga. Lalu mereka mencocokkan isi kapal itu dengan daftar perlengkapan yang diwajibkan peraturan.
Hasilnya terbit di Jurnal Kepariwisataan Indonesia terbitan Kementerian Pariwisata pada 2026. Temuan intinya mereka sebut sebagai paradoks kenyamanan dan keselamatan, yaitu operator memenuhi harapan kenyamanan penumpang, tetapi tidak memenuhi standar keselamatan pelayaran. Artikel ini merangkum temuan itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan supaya calon penumpang tahu persis apa yang layak ditanyakan sebelum naik.

738 Kapal, dan Separuh Lebih Tanpa Izin
Skala industrinya besar. Peneliti mencatat 738 kapal wisata tercatat beroperasi di perairan Labuan Bajo pada 2023. Sekitar 90 persen wisatawan yang menuju Taman Nasional Komodo memilih Labuan Bajo sebagai gerbangnya. Dari sisi motivasi, 32 persen pengunjung datang khusus untuk pengalaman menginap di kapal, dan 25 persen tertarik pada snorkeling serta menjelajah pulau.
Di sisi lain, seorang informan dari dinas pariwisata setempat menyatakan lebih dari separuh kapal yang beroperasi belum mengantongi izin resmi. Peneliti juga mencatat angka yang lebih berat, yaitu 15 kecelakaan kapal wisata di perairan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo sepanjang 2024 sampai 2025, dengan 4 korban jiwa. Penyebab utamanya cuaca ekstrem dan kerusakan teknis.
Perlu dicatat bahwa pengamatan lapangan penelitian ini dilakukan pada Mei 2022, sementara data kecelakaan yang dikutip mencakup periode yang lebih baru. Kondisi tiap kapal juga berbeda-beda, dan satu kapal yang diamati tidak mewakili 738 kapal lainnya.
Iklan
Apa yang Diwajibkan, dan Apa yang Ada
Peneliti menilai kapal itu terhadap dua aturan, yaitu Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 4 Tahun 2021 serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019. Aturan perhubungan mewajibkan empat hal di atas kapal: jaket pelampung, alat pemadam api, papan informasi keselamatan, dan kotak pertolongan pertama.
Yang ditemukan di kapal yang diamati:
- Alat pemadam api: tidak ada. Nakhoda menjelaskan bahwa alat pemadam yang dulu disediakan sudah kedaluwarsa dan pihaknya tidak ingin terus menerus membeli yang baru.
- Papan informasi keselamatan: tidak ada.
- Pengarahan keselamatan sebelum berangkat: tidak konsisten. Peneliti sendiri tidak menerimanya, dan wisatawan lain melaporkan pengalaman yang berbeda-beda.
- Jaket pelampung: ada, tetapi disimpan di kompartemen terkunci sehingga tidak bisa dijangkau cepat. Otoritas pelabuhan menyebut jaket tersebut sudah usang dan perlu diganti.
- Kotak pertolongan pertama: ada, tetapi isinya dinilai belum memadai.
Salah satu wisatawan asal Jakarta menuturkan pengalamannya kepada peneliti: mereka hanya diberi tahu letak jaket pelampung, tidak ada pengarahan keselamatan, lalu mereka berdoa agar perjalanan berjalan lancar.
Yang Justru Dinilai Baik oleh Penumpang
Bagian ini penting untuk keseimbangan, dan justru menjelaskan kenapa masalahnya bertahan. Ketiga wisatawan yang diwawancarai menilai perjalanan mereka memuaskan.
Seorang wisatawan asal Inggris menyebut kapalnya cukup nyaman, dengan makanan tersedia, kasur untuk tidur, dan pemandangan alam yang indah. Wisatawan lain menyebut toiletnya sangat sempit, tetapi menambahkan bahwa ia jarang memakainya dan yang terpenting destinasi yang dikunjungi sepadan dengan biaya yang dibayarkan.
Peneliti mencatat kabin di dek atas dengan kasur dan bantal memang memenuhi standar minimum peraturan kepariwisataan untuk perjalanan singkat dua hari satu malam. Tempat sampah, penerangan, dan sirkulasi udara juga tersedia sesuai ketentuan. Kebersihan area bersama dan penyajian makanan diperhatikan.
Inilah inti paradoksnya. Penumpang menilai perjalanan dari apa yang mereka rasakan, yaitu kasur, makanan, dan pemandangan. Perlengkapan keselamatan tidak terasa manfaatnya sampai keadaan darurat terjadi. Akibatnya, kapal yang nyaman tetapi tidak lengkap perlengkapan keselamatannya tetap mendapat ulasan baik, dan tidak ada tekanan pasar yang memaksa perbaikan.
Iklan
Harga dan Kelas Kapal
Peneliti mencatat rentang harga yang berbeda jauh antarkelas. Kapal berdek terbuka, kelas yang diteliti, dipatok pada kisaran 125,55 sampai 313,87 dolar Amerika Serikat. Kapal phinisi berada pada kisaran 2.510,98 sampai 5.649,71 dolar Amerika Serikat.
Kapal yang diteliti berkapasitas 6 penumpang dengan awak terdiri atas seorang nakhoda dan seorang anak buah kapal. Penelitian ini secara tegas membatasi diri pada segmen kelas menengah berdek terbuka, dan peneliti sendiri menyarankan penelitian lanjutan untuk kapal phinisi dan kapal pesiar mewah.
Satu Catatan tentang Sampah di Kampung yang Disinggahi
Di luar soal kapal, peneliti mencatat kondisi kebersihan lingkungan di salah satu kampung yang disinggahi tergolong buruk karena masyarakat belum mengelola sampah secara efektif. Mereka menyebut sampah padat sebagai tantangan utama bagi keberlanjutan ekologi pulau-pulau kecil, khususnya di Labuan Bajo.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Tanyakan izin operasional sebelum memesan. Informan pemerintah daerah dalam penelitian ini menyebut lebih dari separuh kapal beroperasi tanpa izin resmi. Operator yang berizin biasanya tidak keberatan menunjukkannya.
- Minta pengarahan keselamatan, jangan menunggu ditawari. Penelitian menemukan pengarahan diberikan tidak konsisten. Meminta secara langsung adalah cara paling sederhana untuk memastikannya terjadi.
- Periksa empat benda ini dengan mata sendiri: jaket pelampung dan apakah bisa dijangkau tanpa membuka kunci, alat pemadam api beserta tanggal kedaluwarsanya, papan informasi keselamatan, dan isi kotak pertolongan pertama. Keempatnya diwajibkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 62 Tahun 2019.
- Perhatikan cuaca, bukan hanya jadwal. Cuaca ekstrem disebut sebagai salah satu penyebab utama kecelakaan. Pelayaran yang ditunda karena cuaca adalah tanda operator yang benar, bukan operator yang mengecewakan.
- Bandingkan harga dengan kelas kapalnya, bukan dengan foto. Rentang harga antara kapal berdek terbuka dan phinisi berbeda sangat jauh. Foto phinisi mewah pada materi promosi belum tentu menggambarkan kapal yang akan Anda naiki.
- Bawa turun sampah Anda sendiri. Peneliti menyoroti sampah padat sebagai tantangan utama keberlanjutan pulau-pulau kecil di kawasan ini.
- Cek sumber resmi terbaru. Aturan, izin, dan pengawasan bisa berubah. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan setempat serta dinas pariwisata adalah rujukan yang tepat sebelum berangkat.
Kesimpulan
Rekomendasi peneliti kepada operator terdengar tidak biasa untuk urusan keselamatan, yaitu menjadikan protokol keselamatan bagian dari narasi perjalanan, bukan ceramah administratif sebelum berangkat. Peragaan jaket pelampung yang dikemas sebagai pembuka petualangan jauh lebih mungkin diperhatikan penumpang daripada lembar aturan yang ditempel di dinding.
Kepada otoritas maritim, mereka menyarankan inspeksi acak di atas kapal, penegakan izin yang tegas, dan penambahan kapasitas pengawasan. Tetapi selama pengawasan masih terbatas, satu lapis pertahanan yang paling cepat bekerja justru ada pada penumpang sendiri. Tujuh pertanyaan sederhana sebelum naik tidak akan merusak liburan siapa pun. Yang merusak liburan adalah ketika keempat benda wajib itu ternyata tidak ada, dan baru diketahui setelah dibutuhkan.
Sumber: Masjhoer, J.M., & Prakoso, A.A. (2026). Cruising Comfortably? A Qualitative Insight Into Liveaboard Tourism In Labuan Bajo, Indonesia. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, 20(1), 159-178. DOI: 10.47608/jki.v20i12026.159-178
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya

Naik Kapal PELNI Pertama Kali: Kelas, Bagasi, dan Aturan yang Bikin Orang Gagal Naik
Yang bikin orang gagal naik kapal PELNI biasanya bukan kehabisan tiket, tapi aturan kecil yang tidak dibaca: e-tiket harus ditukar 24 jam sebelum berangkat, pemesanan tutup satu hari sebelum keberangkatan, dan pembatalan hanya bisa di loket cabang. Semua ketentuan di halaman ini dari sumber resmi PELNI.
Terumbu Karang Kepulauan Seribu: Spot Snorkeling Jauh Lebih Rusak
Peneliti IPB menyelami 12 stasiun di tiga pulau wisata Kepulauan Seribu, masing-masing pada dua kedalaman. Di kedalaman snorkeling, hanya 1 dari 12 stasiun berkondisi baik. Di kedalaman menyelam, 6 dari 12. Perbedaan itu punya penyebab yang sangat spesifik.
Jika Anak Krakatau Meletus, Apa yang Harus Dilakukan?
Pada September 2026, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Pemerintah merekomendasikan masyarakat, wisatawan, dan pengunjung untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas/kawah aktif.
