Borobudur: Candi Buddha yang Dijadikan Milik Seluruh Bangsa Indonesia

Endo Sadewa 18 September 2026 Diperbarui 9 Oktober 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.22459/anuhjii.2020.06
Borobudur: Candi Buddha yang Dijadikan Milik Seluruh Bangsa Indonesia

Hanya sebagian kecil orang Indonesia punya ikatan keagamaan dengan Borobudur, dan lebih sedikit lagi keturunan Sailendra yang membangunnya. Tetapi candi itu menjadi monumen nasional. Sebuah kajian dari ANU menelusuri bagaimana hal itu terjadi, dan apa yang dikorbankan.

Borobudur mungkin bangunan paling banyak difoto di Indonesia. Justru karena itu ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: kenapa sebuah candi Buddha dari abad ke-9 bisa menjadi lambang kebangsaan sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan yang hampir tak seorang pun warganya merupakan keturunan pembangunnya?

Pertanyaan itu yang dikerjakan Chelsie Baldwin dari The Australian National University dalam kajian yang terbit di ANU Historical Journal II pada 2020. Kalimat pembukanya lugas: hanya sebagian kecil orang Indonesia memiliki ikatan keagamaan dengan situs ini, dan lebih sedikit lagi yang merupakan keturunan dinasti Sailendra. Namun candi itu tetap dianggap monumen nasional warisan budaya Indonesia.

Deretan stupa berlubang di teras melingkar Borobudur dengan stupa induk di tengah
Teras melingkar Borobudur dengan stupa induk di puncaknya. Naskah menyebut strukturnya sebagai kosmogram, yaitu susunan teras batu persegi dan lingkaran yang bentuk piramidalnya menirukan lanskap pegunungan di sekitarnya. Foto: Gunawan Kartapranata, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Bangunan yang Menirukan Gunung di Sekelilingnya

Kompleks Candi Borobudur dibangun dinasti Sailendra sekitar tahun 800 Masehi. Sailendra menganut tradisi Buddha Mahayana dan mendirikan sejumlah monumen keagamaan di seluruh wilayahnya, dan Borobudur salah satunya.

Yang menarik adalah cara naskah ini menjelaskan bentuknya. Borobudur disebut sebagai kosmogram, susunan teras batu persegi dan lingkaran yang memusat, dengan struktur piramidal yang menirukan lanskap pegunungan Jawa Tengah di sekelilingnya. Denahnya konsisten dengan mandala dalam arsitektur simbolik Buddha, dan rancangannya mendorong orang berjalan mengelilinginya.

Pembacaan itu bukan penemuan baru. Naskah mencatat H. N. Seiburgh sebagai orang pertama yang memandang situs ini dari sisi arsitektur kosmogramnya, lewat serangkaian gambar denah candi yang dibuatnya pada 1837 sampai 1838. Artinya cara kita memahami bentuk Borobudur hari ini berutang pada pekerjaan yang dilakukan hampir dua abad lalu.

Iklan

Dari Candi Menjadi Lambang Negara

Bagian inti kajian ini adalah bagaimana pemerintah Indonesia yang berganti-ganti memobilisasi Borobudur untuk tujuan sosial dan politik, ke dalam maupun ke luar.

Salah satu kutipan paling terang datang dari pidato Tien Suharto kepada Konferensi Kerja Gubernur se-Indonesia pada 1 Desember 1975. Isinya: kalau dahulu nenek moyang kita bergotong royong menciptakan Borobudur, yang kini menjadi perhatian seluruh dunia, hari ini kita pun bisa bergotong royong membangun Taman Mini Indonesia Indah.

Perhatikan cara kerjanya. Sebuah monumen Buddha abad ke-9 dipakai sebagai pembanding untuk membenarkan sebuah proyek nasional pada 1975. Naskah menyebut proses semacam itu sebagai nasionalisme kebudayaan, yaitu penyusunan masa lalu bersama yang melampaui pendudukan kolonial.

Arca Buddha yang belum selesai dipahat, duduk di alas batu bundar di halaman museum, dengan puncak chatra stupa induk terpasang di atasnya
Arca Buddha yang tidak selesai dipahat, dikenal sebagai The Unfinished Buddha, di halaman Museum Karmawibhangga dalam kompleks Borobudur. Puncak chatra stupa induk terpasang di atasnya. Foto: Gunawan Kartapranata, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

1983: Taman Wisatanya Dibuka, Upacaranya Dihentikan

Ini bagian yang paling jarang diceritakan, dan yang paling menjelaskan.

Menurut naskah, mengutip Shelly Errington, perubahan Borobudur dari stupa keagamaan menjadi monumen nasional rampung ketika Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan dibuka pada 1983. Dan bersamaan dengan pembukaan taman itu, Presiden Soeharto mengumumkan bahwa upacara keagamaan Buddha tidak lagi boleh digelar di Borobudur.

Naskah mencatat bahwa meski demikian Borobudur tetap dipasarkan sebagai tempat ziarah, dan sejumlah umat Buddha dari dalam maupun luar negeri tetap memperingati Waisak di sana. Kesimpulan penulisnya tegas: perayaan Waisak tahunan di Borobudur justru bertentangan dengan sekularisasi situs tersebut.

Tradisi Waisak di sana pun punya riwayat. Sebuah artikel Star Weekly terbitan 1959 menyebut tradisi Waisak "modern" bermula pada dekade 1930-an.

Dua tahun setelah taman wisata itu dibuka, pada 1985, Borobudur menjadi sasaran pengeboman oleh kelompok ekstremis. Naskah menyebutnya satu kali, dalam konteks bahwa kedudukan Borobudur dalam nasionalisme kebudayaan Indonesia pernah menjadi hal yang diperdebatkan.

Iklan

1991, UNESCO, dan Harga yang Dibayar di Tingkat Lokal

Pengakuan internasional datang pada 1991, ketika Borobudur Temple Compound ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Penilaian naskah atas hal ini tidak sepenuhnya cerah. Menurut penulisnya, penetapan itu menegaskan tempat negara-bangsa Indonesia di dalam komunitas global, tetapi dengan mengorbankan dukungan lokal. Kebijakan pengelolaan UNESCO disebut menumbuhkan sentimen antara badan otoritatif pusat yang mengelola situs dan masyarakat sekitarnya.

Angka kunjungannya memperjelas ketimpangan itu. Pada pertengahan 1990-an, Borobudur menerima sekitar 2,5 juta pengunjung per tahun. Delapan puluh persen di antaranya wisatawan domestik. Namun pengelolaan pariwisata dan warisan Borobudur, menurut naskah, terutama diarahkan pada pengunjung mancanegara.

Empat dari lima orang yang datang adalah orang Indonesia sendiri, sementara pengelolaannya menatap ke luar. Angka itu berasal dari pertengahan 1990-an dan bukan gambaran hari ini, tetapi polanya layak diingat.

Foto arsip hitam kecokelatan yang memperlihatkan dua jalur relief batu Borobudur berisi adegan istana dengan banyak tokoh, sebuah bangunan bertingkat, dan seekor gajah
Dua jalur relief Borobudur pada sebuah foto arsip KITLV. Foto-foto seperti inilah, bersama gambar denah yang dibuat sejak 1837, yang menjadikan Borobudur objek penelitian jauh sebelum ia menjadi lambang kebangsaan. Berkas aslinya di Wikimedia Commons diberi keterangan sebagai adegan penari dengan iringan pemusik. Foto: Original sculpture unknown from 9th century C.E. Photo by Isidore van, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 1.0.

Kenapa Ini Penting bagi Orang yang Berkunjung

Bukan untuk membuat kunjungan Anda terasa berat. Justru sebaliknya.

Kalau Anda berdiri di teras melingkar itu dan hanya melihat "candi tua yang bagus", Anda melewatkan sesuatu. Menurut kajian ini, bangunan yang Anda pijak sudah berganti peran berkali-kali:

  • Sekitar 800 Masehi: stupa keagamaan yang dibangun dinasti Sailendra
  • 1837 sampai 1838: objek penelitian, ketika denahnya dipetakan H. N. Seiburgh
  • 1 Desember 1975: pembanding gotong royong dalam pidato kenegaraan
  • 1983: taman wisata, dan upacara keagamaan Buddha dihentikan di sana
  • 1991: Situs Warisan Dunia UNESCO

Lapisan-lapisan itu tidak saling menghapus. Semuanya masih ada di sana bersamaan, dan itulah yang membuat Borobudur lebih menarik daripada sekadar bangunan besar berumur tua.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Naiklah dengan berjalan memutar, bukan lurus ke puncak. Denahnya memang dirancang untuk dikelilingi. Rancangan itu bagian dari maknanya, bukan sekadar jalur antre.

Perhatikan garis punggung gunung di kejauhan. Bentuk piramidal candi menirukan lanskap pegunungan di sekitarnya. Dari teras atas, kemiripan itu terlihat.

Datang saat Waisak kalau ingin melihat sisi keagamaannya. Peringatan itu tetap berlangsung meski situsnya sudah lama dikelola sebagai taman wisata.

Sempatkan ke Museum Karmawibhangga. Di sana ada arca Buddha yang tidak selesai dipahat, dan benda seperti itu menceritakan proses pembuatannya dengan cara yang tidak bisa dilakukan bangunan jadinya.

Ingat bahwa mayoritas pengunjungnya orang Indonesia. Angka pertengahan 1990-an menyebut delapan dari sepuluh pengunjung adalah wisatawan domestik. Borobudur bukan tempat yang hanya ramai oleh orang asing.

Kesimpulan

Ada dua cara membaca Borobudur. Cara pertama: mahakarya arsitektur Buddha abad ke-9 yang bertahan seribu dua ratus tahun. Cara kedua: benda yang terus-menerus dipakai ulang oleh setiap zaman yang melewatinya, untuk keperluan zaman itu sendiri.

Kajian ini memilih cara kedua, dan hasilnya bukan pengurangan, melainkan penambahan. Sebuah bangunan yang cukup lentur untuk menjadi stupa, objek penelitian, lambang gotong royong, taman wisata, dan situs warisan dunia sekaligus adalah bangunan yang sangat kuat.

Yang tersisa adalah satu pertanyaan yang ditinggalkan naskah ini tanpa jawaban, dan memang tidak perlu dijawab hari ini: kalau delapan dari sepuluh yang datang adalah orang Indonesia, kepada siapa sebenarnya Borobudur diceritakan selama ini?

Sumber: Baldwin, C. (2020). The Internal and External Manifestations of Cultural Nationalism: A Borobudur Case Study. ANU Historical Journal II, Number 2. DOI: 10.22459/anuhjii.2020.06

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya