Borobudur: Candi Buddha yang Dijadikan Milik Seluruh Bangsa Indonesia
Hanya sebagian kecil orang Indonesia punya ikatan keagamaan dengan Borobudur, dan lebih sedikit lagi keturunan Sailendra yang membangunnya. Tetapi candi itu menjadi monumen nasional. Sebuah kajian dari ANU menelusuri bagaimana hal itu terjadi, dan apa yang dikorbankan.
Borobudur mungkin bangunan paling banyak difoto di Indonesia. Justru karena itu ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: kenapa sebuah candi Buddha dari abad ke-9 bisa menjadi lambang kebangsaan sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan yang hampir tak seorang pun warganya merupakan keturunan pembangunnya?
Pertanyaan itu yang dikerjakan Chelsie Baldwin dari The Australian National University dalam kajian yang terbit di ANU Historical Journal II pada 2020. Kalimat pembukanya lugas: hanya sebagian kecil orang Indonesia memiliki ikatan keagamaan dengan situs ini, dan lebih sedikit lagi yang merupakan keturunan dinasti Sailendra. Namun candi itu tetap dianggap monumen nasional warisan budaya Indonesia.
Bangunan yang Menirukan Gunung di Sekelilingnya
Kompleks Candi Borobudur dibangun dinasti Sailendra sekitar tahun 800 Masehi. Sailendra menganut tradisi Buddha Mahayana dan mendirikan sejumlah monumen keagamaan di seluruh wilayahnya, dan Borobudur salah satunya.
Yang menarik adalah cara naskah ini menjelaskan bentuknya. Borobudur disebut sebagai kosmogram, susunan teras batu persegi dan lingkaran yang memusat, dengan struktur piramidal yang menirukan lanskap pegunungan Jawa Tengah di sekelilingnya. Denahnya konsisten dengan mandala dalam arsitektur simbolik Buddha, dan rancangannya mendorong orang berjalan mengelilinginya.
Pembacaan itu bukan penemuan baru. Naskah mencatat H. N. Seiburgh sebagai orang pertama yang memandang situs ini dari sisi arsitektur kosmogramnya, lewat serangkaian gambar denah candi yang dibuatnya pada 1837 sampai 1838. Artinya cara kita memahami bentuk Borobudur hari ini berutang pada pekerjaan yang dilakukan hampir dua abad lalu.
Iklan
Dari Candi Menjadi Lambang Negara
Bagian inti kajian ini adalah bagaimana pemerintah Indonesia yang berganti-ganti memobilisasi Borobudur untuk tujuan sosial dan politik, ke dalam maupun ke luar.
Salah satu kutipan paling terang datang dari pidato Tien Suharto kepada Konferensi Kerja Gubernur se-Indonesia pada 1 Desember 1975. Isinya: kalau dahulu nenek moyang kita bergotong royong menciptakan Borobudur, yang kini menjadi perhatian seluruh dunia, hari ini kita pun bisa bergotong royong membangun Taman Mini Indonesia Indah.
Perhatikan cara kerjanya. Sebuah monumen Buddha abad ke-9 dipakai sebagai pembanding untuk membenarkan sebuah proyek nasional pada 1975. Naskah menyebut proses semacam itu sebagai nasionalisme kebudayaan, yaitu penyusunan masa lalu bersama yang melampaui pendudukan kolonial.
1983: Taman Wisatanya Dibuka, Upacaranya Dihentikan
Ini bagian yang paling jarang diceritakan, dan yang paling menjelaskan.
Menurut naskah, mengutip Shelly Errington, perubahan Borobudur dari stupa keagamaan menjadi monumen nasional rampung ketika Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan dibuka pada 1983. Dan bersamaan dengan pembukaan taman itu, Presiden Soeharto mengumumkan bahwa upacara keagamaan Buddha tidak lagi boleh digelar di Borobudur.
Naskah mencatat bahwa meski demikian Borobudur tetap dipasarkan sebagai tempat ziarah, dan sejumlah umat Buddha dari dalam maupun luar negeri tetap memperingati Waisak di sana. Kesimpulan penulisnya tegas: perayaan Waisak tahunan di Borobudur justru bertentangan dengan sekularisasi situs tersebut.
Tradisi Waisak di sana pun punya riwayat. Sebuah artikel Star Weekly terbitan 1959 menyebut tradisi Waisak "modern" bermula pada dekade 1930-an.
Dua tahun setelah taman wisata itu dibuka, pada 1985, Borobudur menjadi sasaran pengeboman oleh kelompok ekstremis. Naskah menyebutnya satu kali, dalam konteks bahwa kedudukan Borobudur dalam nasionalisme kebudayaan Indonesia pernah menjadi hal yang diperdebatkan.
Iklan
1991, UNESCO, dan Harga yang Dibayar di Tingkat Lokal
Pengakuan internasional datang pada 1991, ketika Borobudur Temple Compound ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Penilaian naskah atas hal ini tidak sepenuhnya cerah. Menurut penulisnya, penetapan itu menegaskan tempat negara-bangsa Indonesia di dalam komunitas global, tetapi dengan mengorbankan dukungan lokal. Kebijakan pengelolaan UNESCO disebut menumbuhkan sentimen antara badan otoritatif pusat yang mengelola situs dan masyarakat sekitarnya.
Angka kunjungannya memperjelas ketimpangan itu. Pada pertengahan 1990-an, Borobudur menerima sekitar 2,5 juta pengunjung per tahun. Delapan puluh persen di antaranya wisatawan domestik. Namun pengelolaan pariwisata dan warisan Borobudur, menurut naskah, terutama diarahkan pada pengunjung mancanegara.
Empat dari lima orang yang datang adalah orang Indonesia sendiri, sementara pengelolaannya menatap ke luar. Angka itu berasal dari pertengahan 1990-an dan bukan gambaran hari ini, tetapi polanya layak diingat.

Kenapa Ini Penting bagi Orang yang Berkunjung
Bukan untuk membuat kunjungan Anda terasa berat. Justru sebaliknya.
Kalau Anda berdiri di teras melingkar itu dan hanya melihat "candi tua yang bagus", Anda melewatkan sesuatu. Menurut kajian ini, bangunan yang Anda pijak sudah berganti peran berkali-kali:
- Sekitar 800 Masehi: stupa keagamaan yang dibangun dinasti Sailendra
- 1837 sampai 1838: objek penelitian, ketika denahnya dipetakan H. N. Seiburgh
- 1 Desember 1975: pembanding gotong royong dalam pidato kenegaraan
- 1983: taman wisata, dan upacara keagamaan Buddha dihentikan di sana
- 1991: Situs Warisan Dunia UNESCO
Lapisan-lapisan itu tidak saling menghapus. Semuanya masih ada di sana bersamaan, dan itulah yang membuat Borobudur lebih menarik daripada sekadar bangunan besar berumur tua.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Naiklah dengan berjalan memutar, bukan lurus ke puncak. Denahnya memang dirancang untuk dikelilingi. Rancangan itu bagian dari maknanya, bukan sekadar jalur antre.
Perhatikan garis punggung gunung di kejauhan. Bentuk piramidal candi menirukan lanskap pegunungan di sekitarnya. Dari teras atas, kemiripan itu terlihat.
Datang saat Waisak kalau ingin melihat sisi keagamaannya. Peringatan itu tetap berlangsung meski situsnya sudah lama dikelola sebagai taman wisata.
Sempatkan ke Museum Karmawibhangga. Di sana ada arca Buddha yang tidak selesai dipahat, dan benda seperti itu menceritakan proses pembuatannya dengan cara yang tidak bisa dilakukan bangunan jadinya.
Ingat bahwa mayoritas pengunjungnya orang Indonesia. Angka pertengahan 1990-an menyebut delapan dari sepuluh pengunjung adalah wisatawan domestik. Borobudur bukan tempat yang hanya ramai oleh orang asing.
Kesimpulan
Ada dua cara membaca Borobudur. Cara pertama: mahakarya arsitektur Buddha abad ke-9 yang bertahan seribu dua ratus tahun. Cara kedua: benda yang terus-menerus dipakai ulang oleh setiap zaman yang melewatinya, untuk keperluan zaman itu sendiri.
Kajian ini memilih cara kedua, dan hasilnya bukan pengurangan, melainkan penambahan. Sebuah bangunan yang cukup lentur untuk menjadi stupa, objek penelitian, lambang gotong royong, taman wisata, dan situs warisan dunia sekaligus adalah bangunan yang sangat kuat.
Yang tersisa adalah satu pertanyaan yang ditinggalkan naskah ini tanpa jawaban, dan memang tidak perlu dijawab hari ini: kalau delapan dari sepuluh yang datang adalah orang Indonesia, kepada siapa sebenarnya Borobudur diceritakan selama ini?
Sumber: Baldwin, C. (2020). The Internal and External Manifestations of Cultural Nationalism: A Borobudur Case Study. ANU Historical Journal II, Number 2. DOI: 10.22459/anuhjii.2020.06
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya

Rendang Minangkabau: Mengapa Masakan Ini Lebih dari Sekadar Daging Berbumbu
Rendang adalah salah satu identitas kuliner Minangkabau yang dikenal luas di Indonesia dan dunia. Artikel ini membedah rendang dari teknik memasak, santan dan rempah, perbedaan kalio-rendang, variasi bahan, konteks budaya, hingga cara menikmati rendang secara lebih bermakna di Sumatera Barat.

Papeda Papua: Rasa, Tekstur, dan Cerita dari Tanah Sagu
Papeda bukan sekadar bubur sagu. Di Papua, hidangan ini mempertemukan pangan lokal, ikan kuah kuning, kebiasaan makan bersama, dan pengetahuan tentang sagu. Panduan panjang ini membahas rasa, cara makan, bahan, konteks budaya, pilihan lauk, hingga tips wisata kuliner di Jayapura.
Tiang Rumah Gadang Berdiri Miring 1 sampai 4 Derajat di Atas Batu
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam ke tanah. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu dengan kemiringan satu sampai empat derajat, dan seluruh sambungannya memakai pasak tanpa satu pun paku.
