Tedong Bonga: Kerbau Belang Sakral Toraja dan Kekayaan Budaya Kerbau di Indonesia

Di Toraja, seekor Tedong Bonga bisa lebih mahal dari mobil. Riset genetik terbaru membongkar mutasi di balik corak belangnya yang legendaris, sekaligus memotret kekayaan -- dan ancaman kepunahan -- budaya kerbau di seluruh Indonesia.
Di kebanyakan tempat, kerbau cuma dianggap hewan pembajak sawah. Tapi di Tana Toraja, seekor kerbau dengan corak belang putih-hitam yang tepat bisa dihargai lebih mahal dari mobil, diperebutkan sebagai simbol status sosial, dan jadi pusat perhatian dalam upacara adat yang dipersiapkan bertahun-tahun. Kerbau ini punya nama sendiri: Tedong Bonga.
Review ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Veterinary World pada 2023 oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah universitas mencoba memotret kekayaan genetik kerbau asli Indonesia secara menyeluruh -- dan hasilnya menunjukkan bahwa Tedong Bonga hanyalah satu dari empat belas jenis kerbau asli Indonesia yang masing-masing punya cerita, adaptasi, dan nasib berbeda-beda.

Bukan Sekadar Ternak: Kerbau dalam Denyut Sosial-Budaya Indonesia
Hampir seluruh populasi kerbau Indonesia (sekitar 90 persen) adalah kerbau rawa (Bubalus bubalis), berbeda dari kerbau sungai/Murrah yang lebih umum di Asia Selatan. Kerbau sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara, dengan jejaknya ditemukan di situs-situs kuno. Fungsinya jauh melampaui sumber pangan atau tenaga bajak: kerbau juga dipakai untuk keperluan sosial, keagamaan, dan budaya di berbagai daerah.
Riset ini mencatat setidaknya lima wilayah budaya di Indonesia di mana kerbau memegang peran simbolis penting dan telah berkembang menjadi daya tarik wisata: Toraja di Sulawesi Selatan, Sumba di Nusa Tenggara Timur, Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, Minangkabau di Sumatra Barat, dan Pampangan di Sumatra Selatan. Secara keseluruhan, Indonesia mengenali 14 jenis atau breed kerbau asli yang tersebar dari Aceh sampai Maluku, masing-masing berevolusi mengikuti kondisi agroekologi tempatnya berkembang -- mulai dari rawa, savana, pesisir, sampai dataran tinggi pertanian.
Tedong Bonga: Kerbau yang Harganya Bisa Melebihi Mobil

Masyarakat Toraja menyebutnya Tedong Bonga atau Kerbau Belang -- satu-satunya breed kerbau di Indonesia yang dipelihara secara intensif di kandang, diberi pakan rumput budidaya seperti rumput gajah dan Setaria, ditambah hasil sampingan pertanian dari ladang milik peternaknya sendiri. Berbeda dari kerbau biasa yang dipakai membajak sawah atau diperah susunya, Tedong Bonga punya fungsi lain: dipakai dalam upacara adat seperti pemakaman, dan jadi penanda kemakmuran serta status sosial pemiliknya. Karena nilai budayanya itu, harga Tedong Bonga bisa sangat tinggi secara ekonomi.
Yang membuat riset ini menarik, para ilmuwan berhasil menelusuri akar genetik dari corak belang yang membuat Tedong Bonga begitu dihargai. Mereka menemukan dua mutasi genetik independen pada gen yang mengatur sel pigmen (MITF): satu mutasi berupa kodon stop prematur, satu lagi mutasi pada sisi splicing donor -- keduanya sama-sama menghasilkan corak bulu putih berbintik pada kerbau rawa. Dengan kata lain, keindahan yang selama ini jadi kebanggaan budaya Toraja punya penjelasan genetik yang jelas dan bisa dilacak, bukan sekadar kebetulan alam. Menariknya, sifat warna belang serupa juga ditemukan pada breed Carabao di Filipina dan breed Fuling di Tiongkok -- tapi di Torajalah corak ini paling dihormati secara budaya.
Dari Sabana Sumbawa sampai Kandang Terapung di Sungai Kalimantan

Toraja hanya satu potret dari keragaman yang jauh lebih luas. Di Sumbawa, kerbau beradaptasi dengan savana yang mengalami musim kering lebih dari delapan bulan setahun. Di Simeulue, Aceh, kerbau beradaptasi dengan wilayah pesisir dan perbukitan. Di dataran tinggi Gayo, Aceh, kerbau yang disebut "Koro" dimanfaatkan untuk daging, kebutuhan sosial-budaya, tenaga kerja, sekaligus ekonomi warga.
Yang paling khas mungkin ada di Kalimantan Selatan dan Timur: kerbau Kalang, yang hidup menyusuri sungai dan sangat mahir bertahan di lahan rawa. Peternak di sana memelihara kerbau mereka dengan sistem unik bernama "Kalang" -- kandang berupa struktur kayu yang dibangun langsung di atas sungai. Setiap sore, peternak menggiring kerbau-kerbau ini pulang lewat perahu, memberi pakan rumput rawa seperti rumput Kumpai, sebelum melepasnya kembali berenang dan mencari makan di pagi hari. Sementara itu, kerbau Pampangan di Sumatra Selatan -- yang juga hidup di lahan rawa dan berperan besar secara budaya serta ekonomi -- justru masuk kategori "berisiko" dalam basis data keragaman ternak dunia, tanda bahwa kekayaan budaya ini tidak otomatis berarti aman dari kepunahan.
Kenapa Populasi Kerbau Indonesia Terus Menyusut
Di balik nilai budaya yang tinggi ini, riset menemukan tren yang mengkhawatirkan: populasi kerbau nasional turun dari 2,4 juta ekor pada 2002 menjadi hanya 1,17 juta ekor pada 2022 -- hampir separuhnya hilang. Penurunan sebesar 39,35 persen dari 2002 ke 2017 ini menjadikan Indonesia negara dengan penurunan populasi kerbau terbesar ketiga di dunia, setelah Sri Lanka dan Thailand.
Penyebabnya berlapis: mekanisasi pertanian yang mengurangi kebutuhan kerbau sebagai tenaga bajak, alih fungsi lahan penggembalaan, keterbatasan pakan di musim kemarau, periode pemeliharaan yang panjang karena kerbau termasuk hewan yang lambat berkembang biak, serta tingkat perkawinan sedarah (inbreeding) yang tinggi -- naik 10 sampai 30 persen setiap generasi -- akibat kurangnya pejantan unggul dan minimnya program perkawinan terarah. Indonesia pun belum punya lembaga khusus yang fokus mengembangkan sektor perkerbauan secara nasional.
Sebagai respons, pemerintah menjalankan program nasional bernama SIKOMANDAN untuk mendongkrak produktivitas sapi dan kerbau, serta mengandalkan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Siborongborong sebagai pemasok bibit kerbau unggul ke berbagai daerah. Riset ini juga menyoroti potensi seleksi genomik -- teknologi yang sudah terbukti manjur meningkatkan kualitas genetik sapi, tapi belum banyak diterapkan pada kerbau di Indonesia.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Upacara pemakaman Toraja bukan pertunjukan. Penyembelihan kerbau dalam upacara adat punya makna spiritual mendalam bagi keluarga yang berduka. Kalau berkesempatan hadir, datanglah lewat undangan atau pemandu lokal yang memahami tata krama, bukan sebagai penonton yang datang begitu saja.
- Pasar ternak di sekitar Rantepao adalah cara yang lebih santai untuk melihat langsung Tedong Bonga dan memahami bagaimana corak belangnya dinilai serta memengaruhi harga -- sekaligus melihat betapa seriusnya kerbau diperlakukan sebagai investasi budaya di Toraja.
- Sistem kandang terapung di lahan rawa Kalimantan Selatan jarang masuk radar wisatawan, tapi menawarkan gambaran berbeda soal bagaimana masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan kerbau -- baik dicari lewat operator wisata berbasis komunitas setempat.
- Ingat bahwa di balik setiap kerbau ada mata pencaharian nyata, bukan sekadar objek foto -- selalu minta izin sebelum memotret dari dekat, apalagi saat berkaitan dengan upacara adat.
Kesimpulan
Yang sekilas tampak seperti "cuma hewan ternak" ternyata menyimpan salah satu arsip budaya sekaligus genetik paling kaya di Indonesia -- dari corak belang Tedong Bonga yang bisa dilacak sampai ke tingkat mutasi gen, hingga kandang kerbau yang mengapung di atas sungai Kalimantan. Tapi kekayaan ini sedang menyusut pelan-pelan, dan riset ini menjadi pengingat bahwa menjaga populasi kerbau itu sendiri sama pentingnya dengan menjaga tradisi yang dibangun di sekitarnya -- dua hal yang, tanpa disadari banyak orang, ikut membentuk daya tarik banyak sudut Indonesia yang layak dikunjungi.
Sumber: riset dipublikasikan di jurnal Veterinary World (PMID: 38152276), oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Tanjungpura, Universitas Khairun, dan Universitas Gadjah Mada.
Iklan
Siap merencanakan liburanmu?
Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.
Diskusi (0)
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Artikel Lainnya

Desa Wisata Merapi: Kesiapsiagaan Bencana di Balik Pesona Gunung Berapi Teraktif di Dunia
Merapi adalah gunung berapi paling aktif di dunia, tapi 32 desa wisata tumbuh subur di lerengnya. Riset terbaru membongkar bagaimana pengelolanya membangun kesiapsiagaan bencana -- dan kenapa jarak ke puncak bisa mengubah cara orang menilai risiko.
Gili Matra: Kawasan Konservasi Laut di Balik Kemakmuran Tiga Gili di Lombok
Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air terkenal karena air lautnya yang jernih -- tapi riset stakeholder terbaru menunjukkan kemakmuran tiga gili ini ditopang sesuatu yang jarang dibahas wisatawan: kawasan konservasi laut, dan tarik-ulur antara pemerintah dan warga dalam menjaganya.
Riset: Ekspektasi Tinggi Sebelum Liburan Ternyata Tidak Menjamin Kamu Puas
Kamu membayangkan liburan sempurna berminggu-minggu, lalu sampai di lokasi rasanya biasa saja. Ada penjelasan ilmiahnya -- dan itu mengubah cara sebaiknya kamu bersiap.