Lima Tumbuhan Pewarna Tenun Sumba, dan Tiga yang Bukan Pewarna
Penelitian atas enam puluh perajin tenun ikat di Sumba Timur mencatat dua puluh jenis tumbuhan pewarna, dengan lima yang paling sering dipakai. Dari lima itu, hanya dua yang benar-benar menghasilkan warna. Tiga sisanya mengerjakan hal lain.
Merah pada kain hinggi Sumba datang dari akar mengkudu. Biru dan hitamnya datang dari daun nila. Dua tumbuhan itu yang bekerja sebagai pewarna, dan setelah itu daftarnya habis.
Tetapi perajin di Sumba Timur memakai lima tumbuhan, bukan dua. Tiga sisanya tidak menyumbang satu pun warna ke dalam kain.
Sebuah penelitian yang dimuat di Jurnal Penelitian Hutan Tanaman pada 2015 mendata enam puluh perajin tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur dan mencatat tumbuhan apa saja yang mereka pakai, bagian mana yang diambil, dan untuk apa. Hasilnya menjelaskan kenapa warna alam Sumba tidak luntur setelah puluhan tahun.
Enam Puluh Perajin, Empat Kampung
Datanya dikumpulkan dari enam puluh responden yang tersebar di empat lokasi: dua puluh tujuh orang di Kecamatan Kambera, terbagi lima belas di Kelurahan Lambanapu dan dua belas di Kelurahan Mauliru, lalu dua belas orang di Desa Watu Hadang, dan dua puluh satu orang di Desa Kaliuda.
Dari seluruh perajin itu tercatat dua puluh jenis tumbuhan yang dipakai sebagai sumber pewarna. Yang benar-benar sering dipakai hanya lima, dan warna yang keluar dari kelimanya cuma tiga: merah, hitam, dan biru.
Iklan
Dua yang Memberi Warna
Nila, atau Indigofera tinctoria, menghasilkan biru sampai hitam. Bagian yang dipakai adalah daun, batang, dan bijinya. Tumbuhan ini masuk famili Leguminoseae, kerabat kacang-kacangan.
Mengkudu, atau Morinda citrifolia, menghasilkan merah. Perajin mengambil akarnya, bukan buah berbau tajam yang biasa dijadikan jamu itu. Mengkudu masuk famili Rubiaceae.
Dua tumbuhan ini yang mengisi seluruh palet tenun Sumba. Warna lain yang muncul di kain adalah hasil pencampuran dan penumpukan celupan, bukan tambahan tumbuhan baru.
Tiga yang Mengerjakan Hal Lain
Loba, Symplocos sp., dipakai kulit batang dan cabangnya yang disebut pepagan, ditambah daun keringnya. Fungsinya sebagai mordan, yaitu pengikat warna. Tanpa mordan, zat warna hanya menempel di permukaan serat dan hilang pada cucian pertama.
Kemiri, Aleurites moluccana, dipakai daging buahnya sebagai penguat sekaligus pengawet warna. Ini yang membuat warna bertahan lama setelah kain selesai.
Dadap, Erythrina sp., dipakai kulit batang bagian dalamnya sebagai pelembut kain. Fungsinya menyentuh kenyamanan pemakai, bukan tampilannya.
Loba masuk famili Symplocaceae, kemiri masuk Euphorbiaceae, dan dadap sekeluarga dengan nila di Leguminoseae. Lima tumbuhan itu berasal dari empat famili yang berbeda.
Iklan
Yang Sebenarnya Ditemukan Perajin Sumba
Kalau dilihat dari sudut pandang kimia tekstil, susunan lima tumbuhan itu adalah satu sistem pewarnaan yang lengkap. Ada sumber warna, ada pengikat, ada pengawet, dan ada pelembut akhir. Pabrik tekstil modern menyusun urutan yang persis sama, hanya dengan bahan sintetis.
Perajin Sumba sampai ke urutan itu lewat percobaan yang diwariskan turun-temurun, tanpa laboratorium dan tanpa satu pun nama senyawa. Yang mereka tahu adalah kalau loba dilewatkan, warnanya tidak menempel, dan kalau kemiri dilewatkan, warnanya cepat pudar.
Perbedaan antara pengetahuan itu dan pengetahuan laboratorium terletak pada bahasanya saja. Isinya sama.
Berapa Banyak yang Diambil dari Alam
Penelitian ini juga menghitung berapa banyak biomassa tumbuhan yang terpakai setiap tahun. Nila terpakai 49,3 ton per tahun dan mengkudu 246,7 ton per tahun sebagai sumber warna utama. Untuk peran pendukung, loba terpakai 246,7 ton per tahun dan kemiri 49,3 ton per tahun.
Angka-angka itu memperlihatkan sesuatu yang mudah terlewat: bahan yang paling banyak dikonsumsi bukan hanya pewarnanya, tetapi juga pengikatnya. Loba terpakai dalam jumlah yang sama besar dengan mengkudu, padahal loba tidak memberi warna apa pun.
Delapan Koma Sembilan Puluh Empat Unit Benang Setahun
Rata-rata produktivitas perajin di empat lokasi penelitian adalah 8,94 unit benang per tahun.
Angka itu terasa aneh sampai Anda menyadari apa saja yang harus terjadi di antaranya. Bahan pewarna dicari dan dikumpulkan. Benang diikat sesuai motif sebelum dicelup, dan ikatan itulah yang menahan warna agar tidak masuk. Celupan dilakukan berulang untuk mendapatkan warna yang cukup pekat. Ikatan dibuka, disusun ulang untuk warna berikutnya, lalu dicelup lagi. Baru setelah semua itu selesai, kainnya ditenun.
Sembilan unit benang setahun berarti kurang dari satu per bulan. Ini alasan paling jujur kenapa kain tenun Sumba yang asli tidak pernah bisa murah.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Tanyakan warnanya, bukan motifnya. Motif bisa dijelaskan siapa saja. Pertanyaan tentang bahan pewarna akan langsung memisahkan kain yang dicelup dengan akar mengkudu dari kain yang dicelup dengan pewarna sintetis.
Merah dan biru tua adalah tanda yang paling terbaca. Keduanya adalah warna yang memang dihasilkan nila dan mengkudu. Warna yang terlalu cerah dan terlalu merata biasanya punya cerita yang berbeda.
Harga yang tinggi ada sebabnya. Kurang dari satu unit benang per bulan per perajin adalah angka yang layak diingat ketika menawar.
Kaliuda layak masuk rencana perjalanan. Desa di Kecamatan Pahunga Lodu ini menyumbang responden terbanyak dalam penelitian tersebut, dan sampai sekarang dikenal sebagai salah satu pusat tenun ikat di Sumba Timur. Rencana perjalanannya bisa disusun bersama daftar tempat wisata di sekitarnya.
Perhatikan tumbuhannya, bukan cuma kainnya. Nila, mengkudu, loba, kemiri, dan dadap tumbuh di sekitar kampung perajin. Melihat bahannya berdiri hidup di pekarangan membuat harga kain di ujung proses jadi lebih masuk akal.
Kesimpulan
Enam puluh perajin, dua puluh jenis tumbuhan, lima yang paling sering dipakai, dan tiga warna yang keluar dari semuanya.
Yang menarik dari daftar itu adalah pembagian tugasnya. Dua tumbuhan memberi warna, satu mengikatnya, satu mengawetkannya, dan satu lagi membuat kainnya nyaman dipakai. Tidak ada yang tumpang tindih, dan tidak ada yang bisa dihilangkan tanpa merusak hasil.
Kain hinggi yang tergantung di toko oleh-oleh biasanya dijelaskan lewat motifnya. Penjelasan yang lebih tepat sebenarnya ada di lima tumbuhan yang tidak kelihatan sama sekali di kain jadi.
Ringkasan penelitian lain tentang Indonesia kami kumpulkan di rubrik Riset & Data.
Sumber: Murniati & Takandjandji, M. (2015). Tingkat pemanfaatan tumbuhan penghasil warna pada usaha tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 12(3), 223-237. DOI: 10.20886/jpht.2015.12.3.223-237
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya

Rendang Minangkabau: Mengapa Masakan Ini Lebih dari Sekadar Daging Berbumbu
Rendang adalah salah satu identitas kuliner Minangkabau yang dikenal luas di Indonesia dan dunia. Artikel ini membedah rendang dari teknik memasak, santan dan rempah, perbedaan kalio-rendang, variasi bahan, konteks budaya, hingga cara menikmati rendang secara lebih bermakna di Sumatera Barat.

Papeda Papua: Rasa, Tekstur, dan Cerita dari Tanah Sagu
Papeda bukan sekadar bubur sagu. Di Papua, hidangan ini mempertemukan pangan lokal, ikan kuah kuning, kebiasaan makan bersama, dan pengetahuan tentang sagu. Panduan panjang ini membahas rasa, cara makan, bahan, konteks budaya, pilihan lauk, hingga tips wisata kuliner di Jayapura.
Tiang Rumah Gadang Berdiri Miring 1 sampai 4 Derajat di Atas Batu
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam ke tanah. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu dengan kemiringan satu sampai empat derajat, dan seluruh sambungannya memakai pasak tanpa satu pun paku.
