Lima Tumbuhan Pewarna Tenun Sumba, dan Tiga yang Bukan Pewarna

Endo Sadewa 26 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.20886/jpht.2015.12.3.223-237
Lima Tumbuhan Pewarna Tenun Sumba, dan Tiga yang Bukan Pewarna

Penelitian atas enam puluh perajin tenun ikat di Sumba Timur mencatat dua puluh jenis tumbuhan pewarna, dengan lima yang paling sering dipakai. Dari lima itu, hanya dua yang benar-benar menghasilkan warna. Tiga sisanya mengerjakan hal lain.

Merah pada kain hinggi Sumba datang dari akar mengkudu. Biru dan hitamnya datang dari daun nila. Dua tumbuhan itu yang bekerja sebagai pewarna, dan setelah itu daftarnya habis.

Tetapi perajin di Sumba Timur memakai lima tumbuhan, bukan dua. Tiga sisanya tidak menyumbang satu pun warna ke dalam kain.

Sebuah penelitian yang dimuat di Jurnal Penelitian Hutan Tanaman pada 2015 mendata enam puluh perajin tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur dan mencatat tumbuhan apa saja yang mereka pakai, bagian mana yang diambil, dan untuk apa. Hasilnya menjelaskan kenapa warna alam Sumba tidak luntur setelah puluhan tahun.

Kain tenun ikat Sumba dengan motif berwarna merah bata dan biru tua di atas dasar gelap
Kain tenun ikat Sumba. Warna merah dan biru pada kain seperti ini berasal dari akar dan daun tumbuhan yang tumbuh di sekitar kampung perajin. Foto: 06Ivonne, Wikimedia Commons, lisensi ISI_LISENSI_DI_SINI.

Enam Puluh Perajin, Empat Kampung

Datanya dikumpulkan dari enam puluh responden yang tersebar di empat lokasi: dua puluh tujuh orang di Kecamatan Kambera, terbagi lima belas di Kelurahan Lambanapu dan dua belas di Kelurahan Mauliru, lalu dua belas orang di Desa Watu Hadang, dan dua puluh satu orang di Desa Kaliuda.

Dari seluruh perajin itu tercatat dua puluh jenis tumbuhan yang dipakai sebagai sumber pewarna. Yang benar-benar sering dipakai hanya lima, dan warna yang keluar dari kelimanya cuma tiga: merah, hitam, dan biru.

Iklan

Dua yang Memberi Warna

Nila, atau Indigofera tinctoria, menghasilkan biru sampai hitam. Bagian yang dipakai adalah daun, batang, dan bijinya. Tumbuhan ini masuk famili Leguminoseae, kerabat kacang-kacangan.

Mengkudu, atau Morinda citrifolia, menghasilkan merah. Perajin mengambil akarnya, bukan buah berbau tajam yang biasa dijadikan jamu itu. Mengkudu masuk famili Rubiaceae.

Dua tumbuhan ini yang mengisi seluruh palet tenun Sumba. Warna lain yang muncul di kain adalah hasil pencampuran dan penumpukan celupan, bukan tambahan tumbuhan baru.

Detail kain hinggi Sumba, memperlihatkan motif figuratif berwarna merah bata dan krem di atas dasar biru kehitaman
Detail kain hinggi Sumba. Merah pada motif berasal dari akar mengkudu, dan dasar gelapnya dari daun nila. Foto: Chris Hazzard, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Tiga yang Mengerjakan Hal Lain

Loba, Symplocos sp., dipakai kulit batang dan cabangnya yang disebut pepagan, ditambah daun keringnya. Fungsinya sebagai mordan, yaitu pengikat warna. Tanpa mordan, zat warna hanya menempel di permukaan serat dan hilang pada cucian pertama.

Kemiri, Aleurites moluccana, dipakai daging buahnya sebagai penguat sekaligus pengawet warna. Ini yang membuat warna bertahan lama setelah kain selesai.

Dadap, Erythrina sp., dipakai kulit batang bagian dalamnya sebagai pelembut kain. Fungsinya menyentuh kenyamanan pemakai, bukan tampilannya.

Loba masuk famili Symplocaceae, kemiri masuk Euphorbiaceae, dan dadap sekeluarga dengan nila di Leguminoseae. Lima tumbuhan itu berasal dari empat famili yang berbeda.

Iklan

Yang Sebenarnya Ditemukan Perajin Sumba

Kalau dilihat dari sudut pandang kimia tekstil, susunan lima tumbuhan itu adalah satu sistem pewarnaan yang lengkap. Ada sumber warna, ada pengikat, ada pengawet, dan ada pelembut akhir. Pabrik tekstil modern menyusun urutan yang persis sama, hanya dengan bahan sintetis.

Perajin Sumba sampai ke urutan itu lewat percobaan yang diwariskan turun-temurun, tanpa laboratorium dan tanpa satu pun nama senyawa. Yang mereka tahu adalah kalau loba dilewatkan, warnanya tidak menempel, dan kalau kemiri dilewatkan, warnanya cepat pudar.

Perbedaan antara pengetahuan itu dan pengetahuan laboratorium terletak pada bahasanya saja. Isinya sama.

Berapa Banyak yang Diambil dari Alam

Penelitian ini juga menghitung berapa banyak biomassa tumbuhan yang terpakai setiap tahun. Nila terpakai 49,3 ton per tahun dan mengkudu 246,7 ton per tahun sebagai sumber warna utama. Untuk peran pendukung, loba terpakai 246,7 ton per tahun dan kemiri 49,3 ton per tahun.

Angka-angka itu memperlihatkan sesuatu yang mudah terlewat: bahan yang paling banyak dikonsumsi bukan hanya pewarnanya, tetapi juga pengikatnya. Loba terpakai dalam jumlah yang sama besar dengan mengkudu, padahal loba tidak memberi warna apa pun.

Tanaman Indigofera tinctoria dengan daun majemuk kecil berwarna hijau dan tangkai bunga tegak
Indigofera tinctoria, tumbuhan yang di Sumba dikenal sebagai nila dan menjadi sumber warna biru sampai hitam. Foto spesimen ini diambil di luar Indonesia. Foto: Krzysztof Ziarnek, Wikimedia Commons, lisensi ISI_LISENSI_DI_SINI.

Delapan Koma Sembilan Puluh Empat Unit Benang Setahun

Rata-rata produktivitas perajin di empat lokasi penelitian adalah 8,94 unit benang per tahun.

Angka itu terasa aneh sampai Anda menyadari apa saja yang harus terjadi di antaranya. Bahan pewarna dicari dan dikumpulkan. Benang diikat sesuai motif sebelum dicelup, dan ikatan itulah yang menahan warna agar tidak masuk. Celupan dilakukan berulang untuk mendapatkan warna yang cukup pekat. Ikatan dibuka, disusun ulang untuk warna berikutnya, lalu dicelup lagi. Baru setelah semua itu selesai, kainnya ditenun.

Sembilan unit benang setahun berarti kurang dari satu per bulan. Ini alasan paling jujur kenapa kain tenun Sumba yang asli tidak pernah bisa murah.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Tanyakan warnanya, bukan motifnya. Motif bisa dijelaskan siapa saja. Pertanyaan tentang bahan pewarna akan langsung memisahkan kain yang dicelup dengan akar mengkudu dari kain yang dicelup dengan pewarna sintetis.

Merah dan biru tua adalah tanda yang paling terbaca. Keduanya adalah warna yang memang dihasilkan nila dan mengkudu. Warna yang terlalu cerah dan terlalu merata biasanya punya cerita yang berbeda.

Harga yang tinggi ada sebabnya. Kurang dari satu unit benang per bulan per perajin adalah angka yang layak diingat ketika menawar.

Kaliuda layak masuk rencana perjalanan. Desa di Kecamatan Pahunga Lodu ini menyumbang responden terbanyak dalam penelitian tersebut, dan sampai sekarang dikenal sebagai salah satu pusat tenun ikat di Sumba Timur. Rencana perjalanannya bisa disusun bersama daftar tempat wisata di sekitarnya.

Perhatikan tumbuhannya, bukan cuma kainnya. Nila, mengkudu, loba, kemiri, dan dadap tumbuh di sekitar kampung perajin. Melihat bahannya berdiri hidup di pekarangan membuat harga kain di ujung proses jadi lebih masuk akal.

Kesimpulan

Enam puluh perajin, dua puluh jenis tumbuhan, lima yang paling sering dipakai, dan tiga warna yang keluar dari semuanya.

Yang menarik dari daftar itu adalah pembagian tugasnya. Dua tumbuhan memberi warna, satu mengikatnya, satu mengawetkannya, dan satu lagi membuat kainnya nyaman dipakai. Tidak ada yang tumpang tindih, dan tidak ada yang bisa dihilangkan tanpa merusak hasil.

Kain hinggi yang tergantung di toko oleh-oleh biasanya dijelaskan lewat motifnya. Penjelasan yang lebih tepat sebenarnya ada di lima tumbuhan yang tidak kelihatan sama sekali di kain jadi.

Ringkasan penelitian lain tentang Indonesia kami kumpulkan di rubrik Riset & Data.

Sumber: Murniati & Takandjandji, M. (2015). Tingkat pemanfaatan tumbuhan penghasil warna pada usaha tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 12(3), 223-237. DOI: 10.20886/jpht.2015.12.3.223-237

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya