Tiang Rumah Gadang Berdiri Miring 1 sampai 4 Derajat di Atas Batu
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam ke tanah. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu dengan kemiringan satu sampai empat derajat, dan seluruh sambungannya memakai pasak tanpa satu pun paku.
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu, dan hanya itu yang menahannya di tempat.
Bagi orang yang terbiasa dengan bangunan beton, susunan seperti ini terdengar seperti kelalaian. Di Sumatera Barat, wilayah yang sering diguncang gempa, justru susunan itulah yang membuat rumah gadang bertahan ketika bangunan lain runtuh.
Sebuah analisis yang dimuat di G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan pada 2023 membedah elemen strukturnya satu per satu. Beberapa angkanya cukup mengejutkan.
Empat Baris, Lima Tiang
Susunan tiang rumah gadang mengikuti pola yang tetap. Setiap rumah terdiri dari empat baris panjang, dan setiap baris berisi lima kolom: tiang tapi, tiang temban, tiang tangah, tiang dalam, dan tiang saluki.
Urutan nama itu berjalan dari sisi depan ke sisi belakang. Setiap kolom punya posisi dan tugas yang sudah ditentukan, sehingga tidak ada tiang yang sekadar ditambahkan untuk memperkuat.
Di antara semuanya ada satu yang berbeda kedudukannya. Tiang tuo adalah tiang utama, dan tiang inilah yang pertama kali ditegakkan dalam upacara batagak rumah. Pendirian rumah gadang dimulai dari satu titik itu.
Iklan
Miring Satu sampai Empat Derajat
Setiap tiang diletakkan di atas batu dengan kemiringan antara satu sampai empat derajat.
Kemiringan itu disengaja. Tiang yang berdiri benar-benar tegak lurus akan meneruskan seluruh guncangan langsung ke sambungannya. Tiang yang sedikit miring dan hanya bertumpu di atas batu punya ruang untuk bergeser dan kembali.
Karena tiang tidak ditanam, guncangan tanah tidak merambat naik sepenuhnya ke badan bangunan. Batu bergerak bersama tanah, dan rumah di atasnya bergoyang dengan cara yang berbeda. Prinsip ini sekarang dikenal di dunia rekayasa sebagai pemisahan bangunan dari tanah, dan biasanya dikerjakan dengan bantalan karet berlapis baja yang harganya tidak murah.
Disambung dengan Pasak, Tanpa Paku
Sambungan antara kolom dan balok memakai pasak dan pin, dan tidak memakai paku. Hasilnya adalah sambungan yang stabil tetapi tetap lentur.
Perbedaannya terasa ketika gempa datang. Paku menahan dua batang kayu supaya tidak bergerak sama sekali, dan ketika gaya yang datang lebih besar daripada yang bisa ditahan, paku merobek kayunya. Pasak membiarkan sambungan bergerak sedikit, meredam energi, lalu kembali ke posisinya.
Bangunan yang kaku menolak gempa sampai patah. Bangunan yang lentur mengikuti gempa lalu berdiri lagi.
Iklan
Balok yang Mengikat dari Bawah
Di bawah lantai ada dua jenis balok yang bekerja bersama. Balok Papan dipasang memanjang mengikuti panjang rumah, dan Balok Rasuak dipasang melebar memotongnya.
Keduanya membentuk struktur pengikat yang menyatukan seluruh tiang menjadi satu kesatuan. Tanpa ikatan ini, dua puluh tiang yang berdiri di atas batu hanyalah dua puluh benda terpisah yang bisa bergerak sendiri-sendiri.
Dengan ikatan itu, seluruh rumah bergerak sebagai satu benda ketika tanah bergoyang. Inilah yang membuat tiang boleh tidak ditanam tanpa membuat bangunannya rubuh.
Atap yang Diikat Tali Rotan
Rangka atap disusun dari kuda-kuda kayu yang punya nama sendiri-sendiri: Turang, Alang Katabang, dan Labah Mangirok. Di atasnya, reng-reng bambu diikat dengan tali rotan dan ditempelkan pada balok Kasau yang melengkung.
Ikatan rotan mengerjakan hal yang sama dengan pasak di bagian bawah. Ia memegang cukup kuat, tetapi tidak sekaku sambungan yang dipaku mati, sehingga rangka atap ikut bergerak alih-alih patah.
Lengkungan atapnya juga meringankan beban di ujung. Bagian yang paling menjulang justru bagian yang paling ringan.
Empat Gonjong, Empat Pokok Kehidupan
Berapa pun besarnya sebuah rumah gadang, gonjong utamanya berjumlah empat. Keempatnya mewakili empat pokok kehidupan nagari: cupak, adat, undang, dan syara.
Di luar yang empat itu masih ada gonjong tambahan dengan fungsi yang lebih praktis, yaitu gonjong berando yang menaungi beranda dan gonjong jenjang di bagian tangga.
Bagian yang paling sering difoto dari rumah gadang ternyata bagian yang paling diatur. Jumlahnya tidak ditentukan oleh selera atau ukuran rumah, tetapi oleh hitungan yang sudah ditetapkan.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Lihat ke bawah lantai lebih dulu. Bagian paling penting dari rumah gadang justru bagian yang paling jarang difoto. Cari titik tempat tiang bertemu batu, dan perhatikan bahwa tidak ada yang menembus tanah.
Cari sambungan pasak di kayunya. Pada rumah yang masih asli, sambungan kolom dan balok tidak memperlihatkan kepala paku. Yang terlihat adalah kayu yang masuk ke kayu.
Hitung gonjongnya. Gonjong utama berjumlah empat. Kalau Anda melihat lebih dari itu, sisanya adalah gonjong beranda dan gonjong tangga.
Tanyakan mana tiang tuo. Pemilik atau pengurus rumah biasanya tahu persis tiang mana yang pertama ditegakkan, dan pertanyaan itu hampir selalu membuka cerita yang panjang.
Perhatikan rangkiang di halaman. Lumbung padi yang berdiri terpisah itu memakai logika struktur yang sama, dalam ukuran yang jauh lebih kecil dan lebih mudah diamati dari dekat. Rumah gadang tua di luar jalur utama banyak tersebar, dan sebagiannya masuk daftar hidden gem yang jarang dikunjungi.
Kesimpulan
Dua puluh tiang yang berdiri di atas batu tanpa ditanam. Kemiringan satu sampai empat derajat pada setiap tiang. Sambungan pasak yang lentur, balok pengikat di bawah lantai, dan rangka atap yang diikat rotan.
Tidak ada satu pun bagian dari daftar itu yang dihitung dengan rumus. Semuanya lahir dari pengamatan panjang di wilayah yang memang sering bergempa, lalu diwariskan sebagai aturan membangun.
Rumah gadang biasanya diperkenalkan lewat atapnya yang runcing. Yang membuatnya bertahan ratusan tahun justru bagian yang tidak terlihat dari foto mana pun.
Ringkasan penelitian lain tentang Indonesia kami kumpulkan di rubrik Riset & Data.
Sumber: Abidah, D. Y., Musthoffa, M. M., Ronalmanto, Hasanah, M., & Romadhani, O. (2023). Analisa elemen-elemen struktur tahan gempa rumah sederhana pada arsitektur nusantara rumah gadang. G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 7(2), 367-376. DOI: 10.33379/gtech.v7i2.2026
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya
Lima Tumbuhan Pewarna Tenun Sumba, dan Tiga yang Bukan Pewarna
Penelitian atas enam puluh perajin tenun ikat di Sumba Timur mencatat dua puluh jenis tumbuhan pewarna, dengan lima yang paling sering dipakai. Dari lima itu, hanya dua yang benar-benar menghasilkan warna. Tiga sisanya mengerjakan hal lain.
Empat Puluh Orang Menjaga Laut Haruku Tanpa Satu Kapal Patroli
Setiap sekitar April, Negeri Haruku di Maluku menutup perairannya untuk semua orang. Ikan yang dilindungi baru berumur satu sampai dua bulan saat larangan mulai berlaku, dan seluruh aturannya dijaga empat puluh orang tanpa satu pun kapal patroli.
Riset Makanan Tradisional Indonesia Ditulis Sendiri, Jarang Dibaca
Selama sepuluh tahun, ada 102 tulisan ilmiah tentang makanan tradisional Indonesia. Sembilan puluh dua di antaranya ditulis dari Indonesia, dan negara lain paling banyak menulis tiga. Tetapi ada satu angka lagi yang membuat gambarnya jadi tidak enak dibaca.
