Empat Puluh Orang Menjaga Laut Haruku Tanpa Satu Kapal Patroli

Endo Sadewa 25 September 2026 10 menit baca
Empat Puluh Orang Menjaga Laut Haruku Tanpa Satu Kapal Patroli

Setiap sekitar April, Negeri Haruku di Maluku menutup perairannya untuk semua orang. Ikan yang dilindungi baru berumur satu sampai dua bulan saat larangan mulai berlaku, dan seluruh aturannya dijaga empat puluh orang tanpa satu pun kapal patroli.

Setiap sekitar bulan April, orang-orang di Negeri Haruku berhenti mengambil ikan. Bukan karena cuaca buruk, dan bukan karena ikannya pergi. Sungai dan pesisirnya ditutup atas keputusan kampung sendiri, dan penutupan itu berlaku untuk semua orang.

Ikan yang dilindungi namanya lompa. Ikan kecil, hidup di perairan hangat dari pantai timur Afrika sampai Pasifik Barat, dipakai orang sebagai lauk sekaligus umpan. Saat larangan mulai berlaku, umur ikan itu baru satu sampai dua bulan.

Tiga sampai empat bulan berikutnya tidak ada yang menyentuhnya. Larangan baru dicabut ketika lompa mencapai umur tujuh bulan.

Baileo Negeri Haruku, rumah adat beratap tinggi dengan tiang kayu dan sisi yang terbuka
Baileo Negeri Haruku di Kecamatan Pulau Haruku, Maluku Tengah. Bangunan seperti ini adalah tempat keputusan kampung dibicarakan dan diumumkan. Foto: Zhilal Darma, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Aturan yang Lebih Tua daripada Kolonialisme

Sasi adalah larangan mengambil hasil sumber daya alam tertentu untuk menjaga kualitas dan populasinya. Di Maluku, praktik ini sudah berjalan bahkan sebelum abad ke-17. Artinya ia lebih tua daripada dinas perikanan, lebih tua daripada undang-undang konservasi, dan jauh lebih tua daripada istilah pengelolaan berkelanjutan yang sekarang dipakai di mana-mana.

Cara kerjanya sesederhana yang bisa dibayangkan. Ada waktu tutup, ada waktu buka, dan di antara keduanya semua orang menahan diri. Ikan yang tidak diambil sempat tumbuh, dan panen berikutnya jadi lebih banyak dibanding kalau perairan itu dikuras sepanjang tahun.

Logika ini persis yang dicari pengelola perikanan modern ketika mereka menetapkan musim tangkap atau ukuran minimum tangkapan. Bedanya, Haruku sampai ke sana tanpa data stok, tanpa model populasi, dan tanpa satu pun rapat koordinasi.

Iklan

Empat Puluh Orang yang Menjaganya

Yang menegakkan sasi adalah lembaga adat bernama kewang. Anggotanya empat puluh orang, dipimpin dua kepala. Tugas mereka memastikan aturan berjalan, dan mereka mengerjakannya untuk kampung sendiri.

Angka empat puluh itu terdengar kecil sampai Anda membandingkannya dengan cara negara mengawasi laut. Pengawasan perikanan modern menuntut kapal patroli, bahan bakar, radio, dan personel bergaji, dan tetap saja sulit menutup wilayah yang luas. Haruku menyelesaikannya dengan empat puluh orang yang tinggal di kampung itu dan mengenal setiap warganya sejak kecil.

Ada satu hal lagi yang membuat kepatuhannya tinggi. Melanggar sasi berarti berhadapan dengan dua konsekuensi sekaligus: sanksi adat, dan keyakinan bahwa pelanggaran itu menyentuh wilayah spiritual. Denda bisa dihitung dan kadang dianggap sepadan dengan hasil curian. Yang kedua tidak bisa dihitung, dan justru di situlah kekuatannya.

Perairan Maluku dengan air jernih kehijauan, garis pantai berpasir putih, dan perbukitan hijau di kejauhan
Perairan Maluku. Sasi menentukan kapan laut boleh dipanen dan kapan harus dibiarkan. Foto: Jordan siva, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Ikan Murah yang Nilainya Bukan di Harganya

Lompa dijual sekitar lima sampai tujuh ribu rupiah untuk sepuluh ekor atau lebih. Kalau angka itu dilihat sendirian, hampir tidak berarti apa-apa.

Nilainya baru muncul kalau dilihat sebagai satu peristiwa. Ketika sasi dibuka, ikan yang tersedia banyak, ukurannya seragam, dan semua rumah tangga di kampung mendapat bagian pada hari yang sama. Panen itu bisa diandalkan tahun demi tahun, karena tidak pernah dihabiskan di tengah jalan.

Persoalan yang diselesaikan di sini masih menyulitkan pengelolaan perikanan di banyak tempat sampai hari ini: bagaimana membuat orang menahan diri sekarang demi hasil yang baru datang beberapa bulan lagi. Di perairan terbuka, siapa pun yang menahan diri biasanya hanya menyerahkan ikannya kepada orang lain yang tidak menahan diri. Haruku memutus lingkaran itu dengan cara yang tidak melibatkan satu pun lembar aturan tertulis.

Iklan

Kenapa Tidak Bisa Sekadar Ditiru

Setiap kali sasi dibicarakan sebagai model, muncul pertanyaan yang sama: kenapa tidak diterapkan saja di tempat lain.

Bagian yang mudah disalin memang ada. Menutup wilayah tangkap selama beberapa bulan bisa ditulis dalam satu pasal peraturan daerah. Yang sulit disalin adalah empat puluh orang yang mau berjalan menyusuri pesisir tanpa gaji, dan seluruh kampung yang menganggap keputusan itu miliknya sendiri.

Aturan yang datang dari luar dijaga oleh orang luar. Aturan yang lahir dari dalam dijaga oleh tetangga, dan tetangga jauh lebih sulit dihindari daripada petugas.

Sasi di Luar Haruku

Haruku bukan satu-satunya. Sasi dipraktikkan di banyak negeri di Maluku dengan objek yang berbeda-beda. Ada sasi laut untuk wilayah tangkap tertentu, dan ada sasi darat untuk kelapa, cengkih, atau pala, masing-masing dengan aturan yang menyesuaikan apa yang dijaga.

Sasi lompa di Haruku lebih dikenal karena satu alasan yang sangat praktis: siklusnya kelihatan dari luar. Ada tanggal tutup, ada masa tunggu yang bisa dihitung siapa saja, dan ada hari buka yang berubah menjadi peristiwa satu kampung.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Waktu kunjungan menentukan apa yang Anda lihat. Sasi ditutup sekitar April dan dibuka setelah tiga sampai empat bulan. Datang saat tutup berarti melihat kampung yang sedang menahan diri, dan datang saat buka berarti melihat panen bersama. Keduanya menarik, tetapi sangat berbeda.

Tanyakan dulu sebelum memancing di mana pun di Maluku. Perairan yang terlihat sepi bisa saja sedang dalam masa sasi. Bertanya kepada warga jauh lebih aman daripada menyimpulkan sendiri dari tampak luar.

Baileo layak didatangi, bukan cuma difoto. Di bangunan inilah kesepakatan kampung dibicarakan, termasuk soal kapan laut dibuka. Datang dengan izin dan bertanya kepada yang berwenang di sana akan memberi Anda cerita yang tidak ada di papan informasi mana pun.

Beli ikannya saat sasi dibuka. Harganya murah, dan uangnya masuk langsung ke rumah tangga yang sudah menunggu berbulan-bulan.

Perhitungkan penyeberangannya. Pulau Haruku berada di gugusan Lease bersama Saparua dan Nusalaut, dan dicapai dengan menyeberang dari Pulau Ambon. Jadwal kapal antarpulau di Maluku tidak sepadat di Jawa, jadi periksa jadwal penyeberangan dan rencanakan hari kedatangan serta kepulangan sejak awal.

Kesimpulan

Aturan adat sering diperlakukan sebagai peninggalan yang manis tetapi ketinggalan zaman. Sasi lompa memperlihatkan yang sebaliknya.

Waktu panennya ditentukan berdasarkan umur ikan. Penegakannya dipegang lembaga dengan jumlah anggota yang jelas dan kepemimpinan yang jelas. Dan semuanya sudah berjalan sejak sebelum abad ketujuh belas, jauh sebelum ada kata konservasi dalam bahasa Indonesia.

Empat puluh orang menjaga sebuah perairan tanpa satu pun kapal patroli, dan ikan yang mereka lindungi harganya tidak sampai seribu rupiah per ekor. Yang membuat semua itu bekerja adalah kesepakatan yang dipegang seluruh kampung, dan kesepakatan seperti itu jauh lebih sulit dibangun daripada peraturan.

Ringkasan penelitian lain tentang Indonesia kami kumpulkan di rubrik Riset & Data.

Sumber: Rahakbauw, N., dkk. Kearifan lokal sasi ikan lompa masyarakat Desa Haruku dalam menjaga kelestarian ekosistem laut: Studi literatur. Social, Ecology, Economy for Sustainable Development Goals Journal. journal-iasssf.com

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya