Tahura Sultan Syarif Hasyim Riau: Jadwal Primata 25 Km dari Pekanbaru

Endo Sadewa 2 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.29244/medkon.30.3.406
Tahura Sultan Syarif Hasyim Riau: Jadwal Primata 25 Km dari Pekanbaru

Peneliti IPB mencatat jam mencari makan tiap jenis primata di Tahura Sultan Syarif Hasyim. Lutung pukul 09.30, monyet ekor panjang pukul 15.00, beruk pukul 16.00. Hutan ini berjarak 25 kilometer dari pusat Pekanbaru dan bisa ditempuh 37 menit.

Ada hutan dataran rendah Sumatera yang bisa dicapai dalam 37 menit dari pusat ibu kota provinsi. Namanya Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim, wilayahnya membentang di Kota Pekanbaru, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Siak. Jaraknya 25 kilometer dari pusat Kota Pekanbaru.

Tiga peneliti dari IPB University melakukan pengamatan lapangan di sana pada September sampai Oktober 2023, lalu menilai kawasan itu memakai sistem penilaian objek dan daya tarik wisata alam. Hasilnya terbit di jurnal Media Konservasi pada 2025. Di antara tabel-tabel skornya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berguna bagi pengunjung daripada nilai kelayakan, yaitu catatan jam kapan tiap jenis primata muncul.

Seekor primata di kawasan Taman Hutan Raya di Provinsi Riau
Primata di kawasan Taman Hutan Raya di Provinsi Riau. Foto: Wahyudhie13, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Jadwal yang Tercatat Pengamatan Lapangan

Peneliti menetapkan satu titik sebagai lokasi paling potensial untuk mengamati primata, dan mencatat empat jenis yang bisa dijumpai di sana: owa ungko, lutung, beruk, dan monyet ekor panjang. Yang membuat catatannya berharga adalah waktunya ikut dicatat.

  • Pagi hari, sekitar terbit matahari: owa ungko (Hylobates agilis) bersuara nyaring sebagai penanda keberadaan sekaligus peringatan kepada pasangan owa lain. Peneliti menggambarkan nada suaranya dimulai tinggi lalu menurun, dan biasanya disahut pasangan owa lain sehingga memecah kesunyian hutan pada pagi hari.
  • Pukul 09.30 sampai 10.00: lutung (Trachypithecus cristatus) mencari makan. Peneliti selalu menemukannya di tiga jenis pohon, yaitu Ixonanthes icosandra, belayang (Aglaia spectabilis), dan pulai (Alstonia scholaris). Satu kelompok terdiri atas 6 sampai 8 ekor.
  • Pukul 15.00: monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mulai mencari makan.
  • Pukul 16.00: beruk (Macaca nemestrina) menyusul.

Peneliti juga mencatat satu keluarga owa ungko yang menempati titik tersebut, terdiri atas sepasang induk, dua anak remaja, dan seekor bayi. Mereka menambahkan bahwa kelompok keluarga owa ungko umumnya tidak lebih dari empat individu.

Satu catatan penting dari peneliti: pergerakan satwa dipengaruhi ketersediaan pakan, dan pohon-pohon buah di kawasan ini tidak berbuah serentak melainkan bergantian. Jadwal di atas adalah pola yang teramati pada periode penelitian, bukan jaminan.

Iklan

Nilainya Tinggi di Dua Hal, Sedang di Dua Hal Lain

Penilaian kelayakan dilakukan pada empat kriteria, dan hasilnya terbelah rapi menjadi dua pasang:

  • Aksesibilitas: 96,00 persen, klasifikasi tinggi.
  • Daya tarik: 95,83 persen, klasifikasi tinggi.
  • Sarana dan prasarana penunjang: 64,81 persen, klasifikasi sedang.
  • Keamanan: 64,28 persen, klasifikasi sedang.

Nilai keseluruhan 80,23 persen, masuk klasifikasi kelayakan tinggi. Ambang yang dipakai peneliti: di atas 66,6 persen tergolong sangat layak, 33,3 sampai 66,6 persen kelayakan sedang, dan di bawah 33,3 persen kelayakan rendah.

Pola itu berarti sesuatu yang jelas. Hutannya bagus dan mudah dicapai. Yang belum siap adalah fasilitas dan pengelolaan keamanannya.

Kegiatan pelepasliaran owa di kawasan Taman Hutan Raya di Provinsi Riau
Kegiatan pelepasliaran owa di kawasan Taman Hutan Raya di Provinsi Riau. Foto: Wahyudhie13, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Yang Dinilai Kurang, Ditulis Terus Terang

Peneliti tidak menghaluskan bagian ini, dan justru itu yang membuat penilaiannya berguna. Pada kondisi fasilitas, tiga hal dinilai kurang baik, yaitu pusat informasi, papan penunjuk arah, dan toilet. Jaringan listrik dan jaringan telepon justru dinilai sangat baik, sementara papan penanda pohon dan tempat ibadah dinilai baik.

Pada kriteria keamanan, catatannya lebih serius. Perlindungan keselamatan pengunjung mendapat nilai rendah karena kawasan belum dilengkapi papan informasi dan peringatan bahaya. Keamanan wisatawan juga dicatat rendah karena adanya potensi gangguan dari monyet ekor panjang. Peneliti mencatat kawasan ini pernah mengalami kebakaran, bahwa aktivitas pembalakan liar masih ditemukan pada 2022, bahwa masih ada potensi perburuan satwa serta konflik antara masyarakat dan satwa, dan bahwa ditemukan tumpukan sampah di kawasan.

Iklan

Apa Lagi yang Ada di Dalamnya

Selain primata, kawasan ini memiliki danau dan Pusat Latihan Gajah Minas, kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar KSDA Riau. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tercatat sebagai satwa yang ada di kawasan ini, berstatus kritis menurut Daftar Merah IUCN, masuk Apendiks I CITES, dan dilindungi.

Burung pemangsa disebut banyak ditemukan di sekitar area perkemahan, di antaranya elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan elang ular bido (Spilornis cheela). Jenis burung lain yang dijumpai mencakup punai (Treron olax), cekakak belukar (Halcyon smyrnensis), cinenen (Orthotomus spp.), bentet kelabu (Lanius schach), bubut alang-alang (Centropus bengalensis), tekukur (Streptopelia chinensis), kutilang (Pycnonotus aurigaster), dan takur ampis sumatra (Calorhamphus hayii). Ada pula tupai kelapa (Callosciurus notatus) serta kupu-kupu seperti Papilio nephelus, Junonia iphita, dan Eurema hecabe.

Dari sisi tumbuhan, peneliti mendata sejumlah jenis yang terancam punah menurut Daftar Merah IUCN. Gaharu (Aquilaria malaccensis) dan meranti kunyit (Shorea conica) berstatus kritis. Berangan (Castanopsis argentea) berstatus genting. Balam (Madhuca sericea), singkawang (Shorea singkawang), dan keruing (Dipterocarpus crinitus) berstatus rentan. Tumbuhan non-kayu mencakup rotan dan palem, serta jenis seperti Labisia pumila, Tacca chantrieri, dan Licuala sp.

Cara Menuju ke Sana Menurut Catatan Penelitian

Kawasan ini berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Pekanbaru, Minas, Duri, dan Dumai. Dari pusat Kota Pekanbaru jaraknya 25 kilometer dengan waktu tempuh 37 menit. Dari Kota Duri atau pusat Kota Siak, waktu tempuhnya sekitar dua jam.

Kedekatan dengan ibu kota provinsi inilah yang membuat nilai aksesibilitasnya mencapai 96 persen, tertinggi di antara empat kriteria.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Susun waktu kunjungan mengikuti jadwal satwanya. Datang pagi untuk mendengar suara owa ungko, bertahan sampai sekitar pukul 09.30 untuk lutung, lalu kembali pada sore hari untuk monyet ekor panjang dan beruk. Kunjungan tengah hari kemungkinan besar sepi satwa.
  • Cari tiga jenis pohon ini kalau ingin melihat lutung. Peneliti selalu menemukannya di pohon Ixonanthes icosandra, belayang, dan pulai. Pemandu setempat biasanya mengenali ketiganya.
  • Jaga jarak dari monyet ekor panjang. Peneliti mencatat potensi gangguan dari jenis ini sebagai salah satu penyebab nilai keamanan rendah. Jangan memberi makan dan jangan membiarkan makanan terlihat atau tergantung di tas.
  • Jangan mengandalkan fasilitas di lokasi. Pusat informasi, papan penunjuk arah, dan toilet sama-sama dinilai kurang baik dalam penilaian ini. Bawa air, bekal, dan siapkan navigasi sendiri.
  • Tidak ada papan peringatan bahaya di kawasan. Ini dicatat langsung oleh peneliti. Beritahu orang lain ke mana Anda pergi, dan hindari menjauh dari jalur utama tanpa pemandu.
  • Bawa turun sampah Anda. Tumpukan sampah tercatat sebagai salah satu ancaman terhadap kawasan.
  • Konfirmasi lebih dahulu ke pengelola. Kawasan konservasi punya aturan kunjungan yang bisa berubah, termasuk soal jam, jalur, dan izin masuk.

Kesimpulan

Peneliti mengusulkan penjenamaan untuk kawasan ini dengan gagasan mengenal koleksi keanekaragaman hayati khas Riau di perwakilan hutan tropis dataran rendah Sumatera. Pengembangan yang mereka sarankan berupa wisata satwa liar, terutama primata dan burung pemangsa, serta taman koleksi tumbuhan tematik yang memuat tumbuhan khas Riau, keluarga Dipterocarpaceae, tumbuhan obat, dan tumbuhan penghasil buah.

Yang paling menarik dari kawasan ini bukan skornya, melainkan letaknya. Hutan tropis dataran rendah Sumatera sudah kehilangan sangat banyak luasannya, dan salah satu sisanya berdiri 25 kilometer dari sebuah ibu kota provinsi. Nilai daya tarik 95,83 persen berhadapan dengan nilai keamanan 64,28 persen bukan sekadar dua angka, melainkan pengingat bahwa hal yang paling berharga di sana justru yang paling belum terlindungi.

Sumber: Aziza, B., Muntasib, E.K.S.H., & Hermawan, R. (2025). Development of Nature Based Tourism in Sultan Syarif Hasyim Grand Forest Park, Riau Province. Media Konservasi, 30(3), 406-424. DOI: 10.29244/medkon.30.3.406

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya

Ekowisata Banyuwangi: 223 dari 344 Wisatawan Memilih Ijen, Meru Betiri 31
Riset & Jurnal Ilmiah

Ekowisata Banyuwangi: 223 dari 344 Wisatawan Memilih Ijen, Meru Betiri 31

Peneliti menyaring 383 wisatawan menjadi 344 responden, lalu bertanya kawasan ekowisata Banyuwangi mana yang mereka pilih. Kawah Ijen dipilih 223 orang, Alas Purwo 90 orang, Meru Betiri hanya 31 orang. Ketimpangan itu punya jalan keluar yang direkomendasikan peneliti sendiri.

9 menit· 1 September 2026
Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar
Riset & Jurnal Ilmiah

Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar

Karcis masuk Tangkahan hanya Rp3.000. Sepanjang setahun, karcis itu mengumpulkan Rp71,8 juta. Padahal peneliti menghitung nilai ekonomi yang sebenarnya mengalir dari kawasan ini mencapai Rp72,7 miliar per tahun. Selisih seribu kali lipat itu punya penjelasan yang masuk akal.

10 menit· 31 Agustus 2026
Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap
Riset & Jurnal Ilmiah

Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap

Peneliti menyisir Pegunungan Cycloops di Jayapura dan mendata 26 lokasi yang layak disebut geosite. Sembilan dinilai menarik, sembilan lolos ukuran daya tampung, tetapi hanya empat titik yang lolos kedua ujian sekaligus. Ini daftarnya, lengkap dengan alasan kenapa sisanya belum siap.

9 menit· 30 Agustus 2026