Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar
Karcis masuk Tangkahan hanya Rp3.000. Sepanjang setahun, karcis itu mengumpulkan Rp71,8 juta. Padahal peneliti menghitung nilai ekonomi yang sebenarnya mengalir dari kawasan ini mencapai Rp72,7 miliar per tahun. Selisih seribu kali lipat itu punya penjelasan yang masuk akal.
Di perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di pertemuan Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan, ada kawasan ekowisata bernama Tangkahan. Karcis masuknya Rp3.000 per kunjungan. Selama setahun penuh, karcis itu mengumpulkan Rp71.814.000 untuk pengelola. Angka yang terdengar sangat kecil untuk sebuah kawasan yang dikenal sampai luar negeri.
Sekelompok peneliti dari Universitas Sumatera Utara mengukur berapa sebenarnya nilai ekonomi yang mengalir lewat Tangkahan, memakai metode biaya perjalanan. Hasilnya terbit di jurnal Sustainability pada 2022. Angkanya Rp72.708.168.000 per tahun. Peneliti sendiri menyatakan nilai ini jauh lebih besar daripada pemasukan tiket. Kalau dibandingkan, pemasukan karcis hanya sekitar sepersepuluh persen dari nilai ekonomi yang berputar.

Dari Mana Selisih Sebesar Itu Datang
Kuncinya ada pada satu angka lain: biaya perjalanan rata-rata seorang pengunjung mencapai Rp4.181.786 per kunjungan. Bandingkan dengan tiket Rp3.000. Artinya, untuk setiap seribu rupiah lebih yang dikeluarkan pengunjung demi sampai ke Tangkahan, kurang dari satu rupiah masuk ke kas pengelola kawasan.
Sisanya mengalir ke tempat lain. Ke transportasi, ke penginapan, ke rumah makan, ke pemandu, ke ongkos yang dikeluarkan sepanjang jalan. Metode biaya perjalanan bekerja dengan cara ini: nilai sebuah tempat diukur dari seberapa besar pengorbanan yang bersedia dikeluarkan orang untuk mencapainya, bukan dari harga karcisnya.
Peneliti mencatat jumlah pengunjung sebanyak 31.200 orang per tahun menurut data Lembaga Pariwisata Tangkahan, diambil dari rata-rata tiga tahun terakhir pada periode 2016 sampai 2018. Sampel penelitiannya 100 responden, ditentukan dengan rumus Slovin.
Iklan
Kawasan yang Dulu Ditebang, Kini Dijaga
Yang membuat kisah Tangkahan lebih dari sekadar hitungan uang adalah asal usulnya. Peneliti menuliskannya secara terbuka: masyarakat di sana sebelumnya sangat bergantung pada ekonomi hutan dengan cara yang merusak, termasuk pembalakan liar dan perburuan.
Perubahannya dilembagakan. Lembaga Pariwisata Tangkahan berdiri dan mulai berjalan pada 2001, lalu diresmikan pada Februari 2004. Sejak itu kawasan ini dikelola di bawah naungan lembaga tersebut selama lebih dari dua puluh tahun, dan tumbuh menjadi salah satu destinasi unggulan di provinsinya, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat yang terlibat dalam pengembangan ekowisata Tangkahan memberi kontribusi besar bagi konservasi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Manfaatnya juga tidak berhenti pada uang. Tercatat perubahan pada aspek sosial budaya, yaitu meningkatnya penghargaan terhadap lingkungan, menguatnya kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem, berubahnya gaya hidup dan mata pencaharian, berkurangnya ancaman bencana, serta tumbuhnya rasa aman.

Bentang Alamnya Menurut Catatan Penelitian
Kawasan yang diteliti seluas kurang lebih 103 hektare, berada pada ketinggian 130 sampai 200 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan lereng 45 sampai 90 derajat. Wilayahnya berbukit dan berada di dua desa, yaitu Namo Sialang dan Sei Serdang, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat.
Peneliti mendaftar apa saja yang ada di sana: formasi alam yang khas, lanskap yang indah, sumber air panas, air terjun, gua, tebing, keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi, serta hutan hujan tropis. Daftar itu penting karena menjelaskan kenapa orang bersedia mengeluarkan jutaan rupiah untuk sampai ke sana.
Iklan
Siapa yang Datang, dan Kenapa Mereka Kembali
Profil pengunjung dalam penelitian ini cukup spesifik. Sebanyak 58 persen responden perempuan dan 42 persen laki-laki. Peneliti menduga perempuan lebih dominan karena lebih memilih menghabiskan waktu rekreasi bersama teman.
Dari sisi pendidikan, 57 persen berlatar sekolah menengah atas, 41 persen sarjana, dan 2 persen magister. Dari sisi pekerjaan, kelompok terbesar adalah pelajar dan mahasiswa sebanyak 33 persen, disusul wiraswasta 17 persen dan pegawai swasta 15 persen.
Rata-rata kunjungan berulang tercatat 1,6 kali. Minat untuk datang kembali mendapat skor rata-rata 4,21 dari 5, masuk kategori sangat tinggi. Analisis menunjukkan biaya perjalanan dipengaruhi pendidikan, pendapatan, jarak, dan waktu tempuh, dengan koefisien 57,1 persen. Menariknya, pendidikan yang lebih tinggi justru berhubungan dengan biaya perjalanan yang lebih rendah, yang menurut peneliti disebabkan kemampuan mengatur kunjungan yang lebih baik.
Untuk intensitas kunjungan, dua faktor paling berpengaruh bertanda negatif, yaitu jarak dan jumlah anggota rombongan. Semakin dekat dan semakin kecil rombongannya, semakin sering orang kembali.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Anggarkan biaya perjalanan, bukan biaya tiket. Karcis Rp3.000 bukan gambaran biaya sebenarnya. Rata-rata pengeluaran per kunjungan dalam penelitian ini mencapai jutaan rupiah, dan sebagian besarnya adalah ongkos menuju lokasi.
- Rombongan kecil lebih nyaman. Penelitian menemukan jumlah anggota rombongan berhubungan negatif dengan intensitas kunjungan, dan peneliti merekomendasikan pengelola meningkatkan kenyamanan bagi rombongan besar. Sampai itu terwujud, datang dalam kelompok kecil adalah pilihan yang lebih aman.
- Perhatikan medan. Kemiringan lereng di kawasan ini tercatat 45 sampai 90 derajat. Alas kaki yang layak bukan hal sepele di lokasi berbukit dengan sungai di dasarnya.
- Uang yang Anda belanjakan di sekitar kawasan lebih berdampak daripada karcis. Karena pemasukan tiket hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi kawasan, belanja di warung, penginapan, dan jasa pemandu warga setempat adalah cara paling langsung untuk ikut menopang pengelolaan.
- Konfirmasi layanan yang tersedia sebelum berangkat. Program dan layanan di kawasan konservasi bisa berubah sewaktu-waktu. Menghubungi pengelola lebih dahulu menghindarkan kekecewaan di lokasi.
Kesimpulan
Angka Rp72,7 miliar itu bukan uang yang masuk ke kas siapa pun. Itu ukuran seberapa besar sebuah hutan dihargai orang, dinyatakan dalam bentuk pengorbanan yang mereka keluarkan untuk mendatanginya. Dan itulah yang membuat temuan ini penting: hutan yang dibiarkan berdiri ternyata menghasilkan nilai yang jauh melampaui apa pun yang bisa didapat dari menebangnya.
Dua puluh tahun lalu, sebagian orang di Namo Sialang dan Sei Serdang hidup dari membalak hutan yang sekarang mereka jaga. Perhitungan dalam penelitian ini pada akhirnya adalah cara ilmiah untuk mengatakan bahwa keputusan itu tepat secara ekonomi, bukan hanya secara moral. Persoalan yang tersisa lebih teknis, yaitu bagaimana memastikan bagian yang lebih adil dari Rp72,7 miliar itu berhenti di tangan orang yang menjaganya.
Sumber: Rahmawaty, Purwoko, A., Rauf, A., Batubara, R., Rangkuti, A.B., Harahap, M.M., Ginting, I.M., & Trisilawati, D.S. (2022). Examining the Economic Value of Tourism and Visitor Preferences: A Portrait of Sustainability Ecotourism in the Tangkahan Protection Area, Gunung Leuser National Park, Indonesia. Sustainability, 14(14), 8272. DOI: 10.3390/su14148272
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya
Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap
Peneliti menyisir Pegunungan Cycloops di Jayapura dan mendata 26 lokasi yang layak disebut geosite. Sembilan dinilai menarik, sembilan lolos ukuran daya tampung, tetapi hanya empat titik yang lolos kedua ujian sekaligus. Ini daftarnya, lengkap dengan alasan kenapa sisanya belum siap.
Teluk Balikpapan: Bekantan, Pesut, dan Kunang-Kunang di Gerbang Air IKN Nusantara
Empat kali survei perahu, 19 titik pengamatan, dan satu malam bermalam di sungai. Riset ini memetakan tujuh daya tarik alam Teluk Balikpapan, dari bekantan sampai kunang-kunang, sekaligus menjawab pertanyaan praktis yang jarang dibahas: mana yang benar-benar mudah ditemui wisatawan.
Makanan Khas Semarang: 18 Tempat Legendaris Rekomendasi Warga Lokal dan Jam Bukanya
Kebanyakan daftar kuliner Semarang di internet saling menyalin. Panduan ini disusun dari rekomendasi warga Semarang sendiri, lalu setiap warungnya diverifikasi ulang alamat dan jam bukanya, dan diurutkan berdasarkan waktu makan supaya kamu tidak datang saat warungnya tutup.