Teluk Balikpapan: Bekantan, Pesut, dan Kunang-Kunang di Gerbang Air IKN Nusantara

Empat kali survei perahu, 19 titik pengamatan, dan satu malam bermalam di sungai. Riset ini memetakan tujuh daya tarik alam Teluk Balikpapan, dari bekantan sampai kunang-kunang, sekaligus menjawab pertanyaan praktis yang jarang dibahas: mana yang benar-benar mudah ditemui wisatawan.
Sebagian besar orang mengenal Balikpapan sebagai kota minyak dan pintu masuk menuju Ibu Kota Nusantara. Sedikit yang tahu bahwa di teluk yang membelah kota itu dengan Kabupaten Penajam Paser Utara, ada lumba-lumba yang berenang di muara sungai, bekantan yang menyeberangi anak sungai dengan berenang, dan tepian sungai yang pada malam gelap berubah seperti pohon natal raksasa karena dipenuhi kunang-kunang.
Sekelompok peneliti dari Universitas Mulawarman dan STT Migas Balikpapan menyusuri teluk ini dengan perahu kayu bermesin ganda sebanyak empat kali sepanjang 2021, mengunjungi 19 titik pengamatan, dan sekali bermalam di tengah sungai. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Biodiversitas pada 2022, dan isinya bukan cuma daftar satwa, melainkan juga penilaian jujur soal mana yang realistis ditemui pengunjung biasa dan mana yang butuh perjuangan.

Teluk yang Terjepit di Antara Dua Wilayah
Teluk Balikpapan terletak di antara Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Posisinya sangat strategis, sekaligus sangat tertekan. Balikpapan adalah pusat perdagangan dan industri untuk pertambangan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan di provinsi itu, dan pelabuhannya termasuk yang tersibuk di Indonesia.
Tekanan itu terlihat dari angka. Riset ini mencatat sekitar 47,6 persen ekosistem mangrove di teluk sudah hilang, dengan luas mangrove menyusut dari 19.428 hektare pada 2002 menjadi 17.000 hektare pada 2017. Kawasan pantai yang berfungsi sebagai tempat pembesaran ikan juga berkurang, dari 17.620 hektare pada 1995 menjadi 16.706 hektare pada 2006.
Menariknya, ada satu angka yang justru memberi harapan. Laju kehilangan mangrove di Teluk Balikpapan tercatat 0,40 persen per tahun, jauh lebih lambat dibanding rata-rata Indonesia yang 1,72 persen per tahun, apalagi Asia Tenggara yang 2,12 persen per tahun. Artinya masih ada ruang cukup lebar untuk mengembangkan ekonomi tanpa menghabisi ekosistemnya, asal dikelola dengan sadar.
Lalu datang faktor baru. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 menetapkan pemindahan ibu kota negara ke Penajam Paser Utara, yang otomatis menjadikan Teluk Balikpapan sebagai akses air menuju ibu kota baru. Ini membuka peluang wisata sekaligus menambah beban pada ekosistem yang sama.
Iklan
Tujuh Daya Tarik yang Berhasil Dipetakan
Dari empat survei sepanjang 2021, dengan durasi mulai dari sekitar sembilan jam sampai 25 jam untuk survei terakhir yang menginap, tim peneliti mendokumentasikan tujuh daya tarik alam. Lima di antaranya masuk daftar merah IUCN.
Bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung besar yang endemik Borneo, berstatus Terancam Punah. Pesut Irrawaddy (Orcaella brevirostris), juga Terancam Punah. Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), berstatus Rentan. Penyu hijau (Chelonia mydas), Terancam Punah, dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang berstatus Kritis, tingkat paling gawat sebelum punah di alam liar.
Dua sisanya bukan satwa langka, tapi justru sangat menarik secara visual, yaitu kunang-kunang yang menghuni tepian sungai di bagian hulu teluk, dan Bakau Lemit, varian unik mangrove Rhizophora apiculata yang daunnya berwarna kuning keemasan, bukan hijau seperti umumnya. Ditambah lagi gerombolan ikan kecil yang berkumpul di sekitar dermaga nelayan, yang menurut catatan peneliti justru mendekat ketika tangan atau kaki dicelupkan ke air.

Mana yang Realistis Ditemui, Mana yang Butuh Perjuangan
Ini bagian paling berguna dari riset ini, dan hampir tidak pernah ada di artikel wisata mana pun. Peneliti secara eksplisit memeringkat ketujuh daya tarik itu berdasarkan seberapa mudah wisatawan benar-benar bisa menemuinya.
Bekantan adalah yang paling mudah. Lokasinya relatif dekat dari kota, dan dalam keempat survei tim selalu berhasil menemukannya di lokasi yang kurang lebih sama, terutama di Sungai Somber dan Kampung Nelayan Berdasi di Kariangau. Ada catatan waktu yang berguna di sini, yaitu pada siang terang bekantan biasanya masih berada jauh di dalam Hutan Lindung Sungai Wain untuk mencari makan, dan baru kembali ke mangrove menjelang matahari terbenam.
Bangau Tongtong juga konsisten ditemukan di lokasi yang sama setiap survei, terutama di Pantai Mada, Pulau Jawang, yang oleh warga setempat disebut Pulau Belanda. Namun jaraknya jauh, butuh sekitar dua sampai tiga jam perjalanan dengan perahu kayu penumpang biasa.
Pesut lebih tidak menentu. Tim berhasil melihatnya di setiap survei, tapi lokasinya berpindah-pindah. Pada survei pertama saja, pesut terlihat di enam titik berbeda, termasuk satu kelompok berisi sekitar sepuluh ekor dalam tiga rombongan di muara sungai kecil dekat Pulau Benawa. Pada survei ketiga, pesut justru tidak terlihat di Muara Sungai Tempadung, kemungkinan karena ada sekitar enam perahu nelayan sedang menebar jaring di sana. Artinya, melihat pesut butuh kesabaran dan sedikit keberuntungan.
Kunang-kunang berada di lokasi tetap tapi jauh dari kota, dan hanya bisa dinikmati lewat perjalanan malam menyusuri tepian sungai melewati hutan mangrove, sekitar empat jam dari kota. Penyu adalah yang paling sulit. Lokasinya di bagian paling hulu teluk, dan untuk melihatnya wisatawan kemungkinan besar harus menginap di salah satu desa di kawasan teluk.
Iklan
Malam di Sungai Sambo
Survei keempat pada 3 dan 4 November 2021 sengaja dirancang berbeda. Tim berangkat sore hari, bermalam di Sungai Sambo, dan memilih waktu ketika bulan hanya terlihat satu persen, supaya langit cukup gelap untuk melihat kunang-kunang.
Hasilnya sepadan. Kunang-kunang mulai berdatangan sekitar pukul delapan malam waktu setempat, lalu makin ramai menjelang tengah malam. Peneliti menggambarkan pemandangan di sepanjang tepian sungai saat itu seperti pohon-pohon natal alami yang berjajar. Lokasinya di Sungai Pemaluan, tempat kunang-kunang hinggap di tumbuhan nipah, serta di Sungai Maloi Kecil dan Maloi Besar, tempat mereka bersimbiosis dengan mangrove Rhizophora apiculata.
Perjalanan yang sama juga akhirnya membuktikan keberadaan penyu di sekitar Tanjung Tipis, ujung teluk, sekitar empat sampai lima ekor. Sayangnya pengamatan tidak optimal karena penyu hanya sesekali muncul dan tidak naik ke darat, sehingga tim kesulitan memastikan jenisnya secara pasti.
Bakau Kuning yang Dijaga dengan Bendera
Salah satu temuan paling menarik justru bukan soal satwa. Di Muara Sungai Sabut, tim menemukan dua kelompok mangrove Rhizophora apiculata yang daunnya berwarna kuning keemasan, bukan hijau. Warga setempat menyebutnya Bakau Lemit, sebagian orang menjulukinya Golden Mangrove.
Bagi masyarakat adat Suku Paser, keunikan ini bukan sekadar anomali botani. Lokasi tersebut ditandai dengan bendera kuning dan dinyatakan sebagai kawasan yang disucikan menurut hukum adat setempat. Dalam kepercayaan warga, bendera kuning itu adalah tanda keberadaan kekuatan metafisik. Jadi pohon bakau berdaun kuning ini dijaga bukan lewat pagar atau papan larangan, melainkan lewat kesepakatan adat.

Desa Mentawir dan Kekayaan yang Belum Banyak Diketahui
Desa Mentawir, yang masuk kawasan teluk ini, punya hutan mangrove dengan 12 jenis mangrove yang menjadi rumah bagi 16 jenis mamalia, 40 jenis burung, satu jenis reptil, dan tiga jenis amfibi. Untuk kawasan teluk secara keseluruhan, catatan peneliti lain menyebut angka yang jauh lebih besar, yaitu hampir 300 jenis burung di hutan mangrovenya.
Sebagai pembanding, di Zona Industri Kariangau saja tercatat 34 jenis burung, dua di antaranya berstatus Rentan menurut IUCN. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kawasan yang selama ini dikenal sebagai zona industri ternyata masih menyimpan keanekaragaman hayati yang serius.
Ancaman yang Tidak Bisa Diabaikan
Riset ini tidak menutupi sisi gelapnya. Habitat bekantan di Teluk Balikpapan terus tergerus oleh berbagai industri, mulai dari pabrik serpih kayu, pabrik semen, pembangkit listrik, produksi cat, sampai galangan kapal. Penelitian lain yang dirujuk menyebut bahwa stasiun penampungan, kilang, dan pabrik biodiesel kelapa sawit adalah penyebab tunggal terbesar hilangnya habitat bekantan di teluk ini, mencapai 35,6 persen.
Pesut menghadapi ancaman berbeda, yaitu terjerat jaring insang, degradasi habitat, polusi, kebisingan, dan gangguan kapal. Ini masalah nyata mengingat Teluk Balikpapan menampung industri minyak terbesar di Indonesia, dengan lalu lintas kapal pengangkut bahan dan produk industri yang padat.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Atur waktu sesuai perilaku satwa. Bekantan paling mungkin terlihat menjelang senja, saat mereka kembali dari hutan ke mangrove, bukan pada siang terang.
- Untuk kunang-kunang, cek fase bulan. Tim peneliti sengaja memilih malam dengan bulan hanya satu persen, karena langit gelap membuat kunang-kunang jauh lebih terlihat.
- Sesuaikan harapan dengan waktu tempuh. Bekantan bisa dijangkau dalam perjalanan singkat dari kota, tapi kunang-kunang butuh sekitar empat jam perjalanan dan penyu kemungkinan besar butuh menginap.
- Perhatikan tanda adat. Kawasan Bakau Lemit di Muara Sungai Sabut ditandai bendera kuning dan diperlakukan sebagai area yang disucikan Suku Paser, jadi sikap hormat penting dijaga di sana.
- Jaga jarak dan minimalkan gangguan. Tim peneliti sendiri melakukan pengamatan dengan cara yang meminimalkan gangguan terhadap satwa, dan pesut sudah terbukti menghindar ketika ada aktivitas perahu yang ramai.
Kesimpulan
Teluk Balikpapan adalah contoh menarik dari sesuatu yang jarang kita bayangkan, yaitu kawasan industri padat yang ternyata masih menyimpan lumba-lumba, primata langka, penyu, dan hamparan kunang-kunang sekaligus. Pemindahan ibu kota ke seberang teluk akan membuat kawasan ini jauh lebih ramai dikunjungi, dan itu bisa berjalan dua arah, yaitu membuka penghidupan baru bagi warga sekitar, atau justru mempercepat hilangnya hal-hal yang membuat teluk ini layak dikunjungi sejak awal. Riset ini pada dasarnya adalah peta untuk memilih arah yang pertama, lengkap dengan koordinat tempat semua keajaiban itu masih bisa ditemukan.
Sumber: riset dipublikasikan di Biodiversitas Journal of Biological Diversity, volume 23 nomor 5, halaman 2342 sampai 2357 (DOI: 10.13057/biodiv/d230512) oleh Karnila Willard, Marlon Ivanhoe Aipassa, Mustofa Agung Sardjono, Rujehan, Yosep Ruslim, dan Rochadi Kristiningrum dari Universitas Mulawarman dan STT Migas Balikpapan. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Iklan
Siap merencanakan liburanmu?
Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya

Makanan Khas Semarang: 18 Tempat Legendaris Rekomendasi Warga Lokal dan Jam Bukanya
Kebanyakan daftar kuliner Semarang di internet saling menyalin. Panduan ini disusun dari rekomendasi warga Semarang sendiri, lalu setiap warungnya diverifikasi ulang alamat dan jam bukanya, dan diurutkan berdasarkan waktu makan supaya kamu tidak datang saat warungnya tutup.

Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya
Ada desa di Toraja yang justru menolak uang tiket masuk dari wisatawan. Ada juga kekhawatiran soal wisatawan berfoto dengan tengkorak di situs pemakaman. Riset ini membongkar sisi manajemen wisata Toraja yang jarang diketahui, langsung dari mulut warga dan pelaku industrinya sendiri.

Tri Hita Karana: Satu Filosofi, Dua Kubu yang Saling Berlawanan di Teluk Benoa
Di Teluk Benoa, Bali, dua kubu yang saling bertentangan soal proyek reklamasi sama-sama mengklaim berpegang pada filosofi yang sama, Tri Hita Karana. Riset ini membongkar bagaimana satu nilai budaya bisa ditafsirkan untuk mendukung sekaligus menolak hal yang sama.