Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya

Endo Sadewa 25 Agustus 2026 Diperbarui 23 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.1080/1743873X.2017.1411356
Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya

Ada desa di Toraja yang justru menolak uang tiket masuk dari wisatawan. Ada juga kekhawatiran soal wisatawan berfoto dengan tengkorak di situs pemakaman. Riset ini membongkar sisi manajemen wisata Toraja yang jarang diketahui, langsung dari mulut warga dan pelaku industrinya sendiri.

Kebanyakan artikel soal Toraja membahas keindahan rumah tongkonan atau kemegahan upacara pemakamannya. Riset yang dipublikasikan di Journal of Heritage Tourism, jurnal terindeks Scopus Q1, oleh Devi Roza K. Kausar dari Universitas Pancasila dan Myra P. Gunawan dari Institut Teknologi Bandung, justru mengambil sudut yang jarang disentuh: bagaimana sebenarnya desa-desa warisan budaya di Toraja dikelola sehari hari, lengkap dengan kekhawatiran, penolakan, dan dilema yang dihadapi warganya sendiri.

Riset ini disusun dari diskusi kelompok dan wawancara dengan pelaku industri, kelompok pemuda, tokoh adat, dan warga, sebagai bagian dari penyusunan rencana detail Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Toraja atau KSPN Toraja.

Mausoleum berbentuk perahu di Desa Ke'te Kesu, Tana Toraja, salah satu situs paling ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Mausoleum berbentuk perahu di Desa Ke'te Kesu, Tana Toraja, salah satu situs paling ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Desa yang Menolak Uang Tiket Masuk

Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset ini datang dari Buntu Pune di Toraja Utara. Ketika dinas pariwisata kabupaten berencana mulai memungut tiket masuk di desa ini, warganya justru menolak. Alasannya sederhana tapi masuk akal: mereka khawatir uang hasil tiket wisata akan menjadi sumber gesekan baru di antara warga desa. Padahal skemanya sudah disiapkan, 60 persen dari hasil penjualan tiket akan dialokasikan untuk perawatan kawasan. Warga Buntu Pune juga sepakat tidak membuka kios suvenir sama sekali, demi menghindari persaingan dan konflik antarwarga yang masih satu rumpun keluarga.

Ini kontras dengan Ke'te Ke'su, situs yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Di sepanjang jalan menuju kuburan tebing dan gua pemakamannya, berjejer toko suvenir yang menjual kerajinan tangan. Namun riset ini menemukan detail menarik: sebagian suvenir yang dijual di Toraja sebenarnya bukan produk asli daerah tersebut, ada batik Jawa, bahkan suvenir dari Bali yang dijual di desa adat Pallawa. Menurut para pedagang, wisatawan yang waktunya terbatas cenderung senang punya banyak pilihan suvenir sekaligus, meski bukan produk lokal.

Iklan

Etika yang Perlu Diperhatikan di Situs Pemakaman

Peti mati kayu tua di kuburan tebing Ke'te Kesu, Tana Toraja. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Peti mati kayu tua di kuburan tebing Ke'te Kesu, Tana Toraja. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Diskusi kelompok yang melibatkan komunitas adat Toraja mengungkap kekhawatiran yang mungkin tidak terpikirkan banyak wisatawan: sebagian besar warga tidak menyetujui wisatawan yang berfoto langsung dengan tengkorak di situs pemakaman, meski beberapa pemandu wisata mengakui hal ini pernah terjadi. Sebagian warga masih bisa menoleransi wisatawan berfoto di dekat kerangka selama tidak memindahkannya dari tempat peristirahatannya, apalagi sampai keluar dari gua atau tebing.

Riset ini juga mencatat, situs seperti Ke'te Ke'su sebenarnya masih kekurangan sistem interpretasi yang memadai, seperti pusat informasi pengunjung, pemandu lokal yang terlatih, atau papan penjelasan. Padahal jalur tangga menuju gua pemakaman tebingnya sempit dan sebagian anak tangganya mulai terkikis, sehingga pengelolaan arus pengunjung sebenarnya sangat dibutuhkan.

Cerita di Balik Atap Seng yang Menggantikan Bambu

Tana Toraja Traditional Settlements masih berstatus di Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO sejak dokumen pertama diajukan 2005 dan direvisi tahun 2013 menjadi 13 titik pemukiman di Toraja Utara dan Tana Toraja. Salah satu tantangan menuju status resmi itu adalah soal keaslian bahan bangunan. Banyak atap bambu tradisional rumah tongkonan kini diganti seng, bukan karena warga tidak peduli tradisi, tapi karena bambu semakin sulit didapat dan pengrajin ahli atap bambu semakin sedikit jumlahnya. Riset ini mencatat, menjaga ketersediaan bahan dan keahlian lokal jadi kunci mempertahankan keaslian arsitektur Toraja, bukan sekadar melarang penggunaan bahan modern.

Iklan

Miskonsepsi soal Makanan Halal

Berbeda dari kebanyakan daerah di Indonesia, Toraja bukan wilayah dengan mayoritas penduduk muslim. Riset ini menemukan, meski tempat makan bersertifikat halal sebenarnya tersedia dan tidak sulit ditemukan, banyak wisatawan domestik masih menganggap Toraja sulit diakses dari sisi kuliner halal. Kesalahpahaman ini disebut jadi salah satu alasan sejumlah wisatawan domestik urung berkunjung ke destinasi yang sebenarnya sangat diminati ini. Pelaku industri pariwisata setempat menilai perlu ada penyebaran informasi yang lebih baik soal ketersediaan kuliner halal di Toraja.

Lolai, Negeri di Atas Awan yang Baru Naik Daun

Riset ini turut mencatat munculnya daya tarik baru bernama Desa Lolai di Toraja Utara. Berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut, desa ini menawarkan pemandangan awan yang terhampar di bawah kaki pengunjung, sehingga dijuluki negeri di atas awan oleh warga sekitar. Sejak mulai dikenal, Lolai langsung menarik perhatian besar dari industri pariwisata Toraja sebagai atraksi baru di luar rute tradisional situs pemakaman dan tongkonan.

Akses ke Toraja sendiri sempat jadi kendala utama karena mengandalkan perjalanan darat sekitar delapan jam dari Makassar. Sejak Desember 2016, maskapai TransNusa membuka rute penerbangan langsung Makassar-Toraja, memberi alternatif bagi wisatawan yang ingin memangkas waktu perjalanan.

Kesimpulan

Toraja bukan cuma soal tongkonan yang indah dan upacara yang megah. Riset ini menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas: bagaimana warga sendiri menegosiasikan hubungan mereka dengan wisatawan, mulai dari desa yang memilih menolak keuntungan finansial demi menjaga kerukunan, sampai perdebatan soal etika di ruang paling sakral seperti situs pemakaman. Memahami sisi ini justru bisa membuat kunjungan ke Toraja terasa lebih bermakna, karena wisatawan tahu persis di mana batas hormat yang perlu dijaga.

Sumber: riset dipublikasikan di Journal of Heritage Tourism (DOI: 10.1080/1743873X.2017.1411356) oleh Devi Roza K. Kausar, Universitas Pancasila, dan Myra P. Gunawan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya