Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya

Ada desa di Toraja yang justru menolak uang tiket masuk dari wisatawan. Ada juga kekhawatiran soal wisatawan berfoto dengan tengkorak di situs pemakaman. Riset ini membongkar sisi manajemen wisata Toraja yang jarang diketahui, langsung dari mulut warga dan pelaku industrinya sendiri.
Kebanyakan artikel soal Toraja membahas keindahan rumah tongkonan atau kemegahan upacara pemakamannya. Riset yang dipublikasikan di Journal of Heritage Tourism, jurnal terindeks Scopus Q1, oleh Devi Roza K. Kausar dari Universitas Pancasila dan Myra P. Gunawan dari Institut Teknologi Bandung, justru mengambil sudut yang jarang disentuh: bagaimana sebenarnya desa-desa warisan budaya di Toraja dikelola sehari hari, lengkap dengan kekhawatiran, penolakan, dan dilema yang dihadapi warganya sendiri.
Riset ini disusun dari diskusi kelompok dan wawancara dengan pelaku industri, kelompok pemuda, tokoh adat, dan warga, sebagai bagian dari penyusunan rencana detail Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Toraja atau KSPN Toraja.

Desa yang Menolak Uang Tiket Masuk
Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset ini datang dari Buntu Pune di Toraja Utara. Ketika dinas pariwisata kabupaten berencana mulai memungut tiket masuk di desa ini, warganya justru menolak. Alasannya sederhana tapi masuk akal: mereka khawatir uang hasil tiket wisata akan menjadi sumber gesekan baru di antara warga desa. Padahal skemanya sudah disiapkan, 60 persen dari hasil penjualan tiket akan dialokasikan untuk perawatan kawasan. Warga Buntu Pune juga sepakat tidak membuka kios suvenir sama sekali, demi menghindari persaingan dan konflik antarwarga yang masih satu rumpun keluarga.
Ini kontras dengan Ke'te Ke'su, situs yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Di sepanjang jalan menuju kuburan tebing dan gua pemakamannya, berjejer toko suvenir yang menjual kerajinan tangan. Namun riset ini menemukan detail menarik: sebagian suvenir yang dijual di Toraja sebenarnya bukan produk asli daerah tersebut, ada batik Jawa, bahkan suvenir dari Bali yang dijual di desa adat Pallawa. Menurut para pedagang, wisatawan yang waktunya terbatas cenderung senang punya banyak pilihan suvenir sekaligus, meski bukan produk lokal.
Etika yang Perlu Diperhatikan di Situs Pemakaman

Diskusi kelompok yang melibatkan komunitas adat Toraja mengungkap kekhawatiran yang mungkin tidak terpikirkan banyak wisatawan: sebagian besar warga tidak menyetujui wisatawan yang berfoto langsung dengan tengkorak di situs pemakaman, meski beberapa pemandu wisata mengakui hal ini pernah terjadi. Sebagian warga masih bisa menoleransi wisatawan berfoto di dekat kerangka selama tidak memindahkannya dari tempat peristirahatannya, apalagi sampai keluar dari gua atau tebing.
Riset ini juga mencatat, situs seperti Ke'te Ke'su sebenarnya masih kekurangan sistem interpretasi yang memadai, seperti pusat informasi pengunjung, pemandu lokal yang terlatih, atau papan penjelasan. Padahal jalur tangga menuju gua pemakaman tebingnya sempit dan sebagian anak tangganya mulai terkikis, sehingga pengelolaan arus pengunjung sebenarnya sangat dibutuhkan.
Cerita di Balik Atap Seng yang Menggantikan Bambu
Tana Toraja Traditional Settlements masih berstatus di Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO sejak dokumen pertama diajukan 2005 dan direvisi tahun 2013 menjadi 13 titik pemukiman di Toraja Utara dan Tana Toraja. Salah satu tantangan menuju status resmi itu adalah soal keaslian bahan bangunan. Banyak atap bambu tradisional rumah tongkonan kini diganti seng, bukan karena warga tidak peduli tradisi, tapi karena bambu semakin sulit didapat dan pengrajin ahli atap bambu semakin sedikit jumlahnya. Riset ini mencatat, menjaga ketersediaan bahan dan keahlian lokal jadi kunci mempertahankan keaslian arsitektur Toraja, bukan sekadar melarang penggunaan bahan modern.
Miskonsepsi soal Makanan Halal
Berbeda dari kebanyakan daerah di Indonesia, Toraja bukan wilayah dengan mayoritas penduduk muslim. Riset ini menemukan, meski tempat makan bersertifikat halal sebenarnya tersedia dan tidak sulit ditemukan, banyak wisatawan domestik masih menganggap Toraja sulit diakses dari sisi kuliner halal. Kesalahpahaman ini disebut jadi salah satu alasan sejumlah wisatawan domestik urung berkunjung ke destinasi yang sebenarnya sangat diminati ini. Pelaku industri pariwisata setempat menilai perlu ada penyebaran informasi yang lebih baik soal ketersediaan kuliner halal di Toraja.
Lolai, Negeri di Atas Awan yang Baru Naik Daun
Riset ini turut mencatat munculnya daya tarik baru bernama Desa Lolai di Toraja Utara. Berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut, desa ini menawarkan pemandangan awan yang terhampar di bawah kaki pengunjung, sehingga dijuluki negeri di atas awan oleh warga sekitar. Sejak mulai dikenal, Lolai langsung menarik perhatian besar dari industri pariwisata Toraja sebagai atraksi baru di luar rute tradisional situs pemakaman dan tongkonan.
Akses ke Toraja sendiri sempat jadi kendala utama karena mengandalkan perjalanan darat sekitar delapan jam dari Makassar. Sejak Desember 2016, maskapai TransNusa membuka rute penerbangan langsung Makassar-Toraja, memberi alternatif bagi wisatawan yang ingin memangkas waktu perjalanan.
Kesimpulan
Toraja bukan cuma soal tongkonan yang indah dan upacara yang megah. Riset ini menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas: bagaimana warga sendiri menegosiasikan hubungan mereka dengan wisatawan, mulai dari desa yang memilih menolak keuntungan finansial demi menjaga kerukunan, sampai perdebatan soal etika di ruang paling sakral seperti situs pemakaman. Memahami sisi ini justru bisa membuat kunjungan ke Toraja terasa lebih bermakna, karena wisatawan tahu persis di mana batas hormat yang perlu dijaga.
Sumber: riset dipublikasikan di Journal of Heritage Tourism (DOI: 10.1080/1743873X.2017.1411356) oleh Devi Roza K. Kausar, Universitas Pancasila, dan Myra P. Gunawan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.
Iklan
Siap merencanakan liburanmu?
Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.
Diskusi (0)
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Artikel Lainnya

Tri Hita Karana: Satu Filosofi, Dua Kubu yang Saling Berlawanan di Teluk Benoa
Di Teluk Benoa, Bali, dua kubu yang saling bertentangan soal proyek reklamasi sama-sama mengklaim berpegang pada filosofi yang sama, Tri Hita Karana. Riset ini membongkar bagaimana satu nilai budaya bisa ditafsirkan untuk mendukung sekaligus menolak hal yang sama.

Tiwah: Ritual Suku Dayak Ngaju Mengantar Arwah Leluhur ke Lewu Tatau
Bagi warga Dayak Ngaju penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah, kematian bukan akhir perjalanan. Riset ini mengupas Tiwah, ritual sakral mengantar arwah leluhur menuju Lewu Tatau, lengkap dengan makna gotong royong dan toleransi lintas agama yang jarang diketahui orang luar.

Nyale dan Pasola: Ritual Cacing Laut dan Perang Berkuda di Sumba Barat
Setahun sekali warga Wanokaka, Sumba Barat, turun ke pantai mencari cacing laut Nyale, lalu melanjutkan dengan Pasola, perang lembing di atas kuda yang berlari kencang. Riset ini membongkar tujuh nilai budaya di balik tradisi yang sering disalahpahami sebagai tontonan berdarah.