Tempat WisataIndonesia

Nyale dan Pasola: Ritual Cacing Laut dan Perang Berkuda di Sumba Barat

Admin TWI 25 Agustus 2026 9 menit baca
Nyale dan Pasola: Ritual Cacing Laut dan Perang Berkuda di Sumba Barat

Setahun sekali warga Wanokaka, Sumba Barat, turun ke pantai mencari cacing laut Nyale, lalu melanjutkan dengan Pasola, perang lembing di atas kuda yang berlari kencang. Riset ini membongkar tujuh nilai budaya di balik tradisi yang sering disalahpahami sebagai tontonan berdarah.

Setiap tahun menjelang Februari, warga di pesisir Wanokaka, Sumba Barat, menunggu satu tanda dari laut. Begitu bulan purnama muncul dan cacing laut yang mereka sebut Nyale mulai terlihat di air dangkal, ratusan orang turun ke pantai membawa keranjang anyaman daun pandan. Tak lama setelah itu, ratusan penunggang kuda berpakaian adat akan saling melempar lembing kayu sambil memacu kuda mereka. Dari luar, ini terlihat seperti festival yang seru dan penuh adrenalin. Tapi riset yang dipublikasikan di jurnal HISTORIA pada 2018 oleh Wilhelmus Kuara Jangga Uma bersama Dwi Handayani dan Yoga Satriya Nurgiri menunjukkan ada lapisan makna yang jauh lebih dalam di balik dua tradisi ini.

Penunggang kuda melempar lembing kayu dalam ritual Pasola di Sumba Barat. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Penunggang kuda melempar lembing kayu dalam ritual Pasola di Sumba Barat. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Cacing Laut yang Meramal Hasil Panen

Kabupaten Sumba Barat punya semboyan Pada Eweta Manda Elu, yang berarti padang hijau dan tanah subur, meski wilayahnya sendiri sebagian besar kering dan berbukit. Sebagian besar masyarakatnya masih memegang kepercayaan asli Sumba yang disebut marapu, kepercayaan terhadap roh leluhur yang dianggap sakral. Dari kepercayaan inilah tradisi Nyale dan Pasola tumbuh, dan sampai sekarang keduanya masih dijalankan berdampingan dengan agama Kristen yang juga dianut sebagian warga.

Nyale adalah upacara mencari cacing laut yang dipimpin oleh rato, sebutan untuk tetua adat, dan dilaksanakan sore hingga menjelang subuh di pinggir pantai. Waktunya ditentukan lewat perhitungan bulan purnama dan musyawarah para rato, bukan kalender masehi. Sebelum pelaksanaan, ada masa pantang yang harus dijaga seluruh warga: dilarang membuat keributan seperti menabuh gong atau berteriak, dilarang menikah, dilarang menangisi orang yang meninggal, bahkan dilarang menagih utang tetangga. Menurut kepercayaan warga, banyaknya cacing Nyale yang ditemukan dan bersih dari kotoran menjadi pertanda hasil panen tahun itu akan melimpah. Sebaliknya, jika Nyale menggigit tangan rato atau ditemukan dalam keadaan busuk, itu dianggap tanda hama tikus atau ancaman gagal panen.

Perang yang Tidak Boleh Menyimpan Dendam

Begitu masa pencarian Nyale selesai, giliran Pasola dimulai. Dua kelompok pemuda dari suku atau kabisu berbeda saling berhadapan di atas kuda yang dipacu kencang, saling melempar lembing kayu yang di masa lalu terbuat dari kayu ringan dan mudah patah bernama wua hola. Riset ini mencatat aturan yang mungkin terdengar mengejutkan: tidak ada sanksi adat maupun hukum meski ada peserta yang terluka atau bahkan meninggal dalam pertandingan. Pihak lawan cukup membawa kain sebagai bentuk penghormatan, tanpa tuntutan apa pun dari keluarga yang berduka.

Namun bukan berarti Pasola tanpa aturan. Larangan justru ditegakkan ketat oleh para rato yang bertindak sebagai panitia: dilarang membawa niat jahat atau dendam pribadi, dilarang menggunakan senjata tajam seperti parang atau melempar batu, dan hanya kayu Pasola yang boleh dipakai. Siapa pun yang melanggar akan diserahkan ke pihak berwenang karena dianggap sudah menyimpang dari nilai budaya itu sendiri. Riset ini menemukan, sejarah Pasola di Wanokaka sendiri sempat diwarnai konflik antarsuku yang serius, sampai akhirnya pelaksanaannya dipercayakan kepada seorang raja yang dianggap mampu menjaga ketertiban, dan berlangsung damai sejak saat itu hingga sekarang.

Kampung adat Praijing di Sumba Barat pada pagi hari berkabut. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Kampung adat Praijing di Sumba Barat pada pagi hari berkabut. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Tujuh Nilai di Balik Tontonan yang Menegangkan

Riset ini merangkum tujuh nilai yang terkandung dalam Nyale dan Pasola, jauh melampaui kesan "tontonan berdarah" yang sering melekat di benak orang luar. Pertama, nilai historis, terkait kisah asal-usul yang diwariskan turun-temurun. Kedua, nilai simbolik, karena perilaku cacing Nyale dipercaya jadi pertanda hasil panen. Ketiga, nilai religius, sebagai wujud syukur kepada marapu. Keempat, nilai persaudaraan, karena meski dua kelompok saling berhadapan seperti musuh, tujuan akhirnya justru mempererat ikatan sosial, mirip pertandingan olahraga. Kelima, nilai kepahlawanan, tercermin dari sikap ksatria peserta yang tidak menyimpan dendam meski terluka. Keenam, nilai sosial budaya, terlihat dari gotong royong warga menyiapkan jamuan bagi tamu yang datang dari daerah lain di Sumba. Ketujuh, nilai ekonomi, karena tamu yang punya kerabat di lokasi pelaksanaan lazim membawa kain sarung atau ternak sebagai oleh-oleh, yang kemudian dibalas tuan rumah lewat pertukaran barang yang disebut kameti.

Satu Tradisi, Banyak Kampung di Sumba

Meski riset ini berfokus pada Kecamatan Wanokaka, para peneliti mencatat tradisi Nyale dan Pasola juga dirayakan di Lamboya dan Gaura, masih dalam wilayah Kabupaten Sumba Barat. Di Kabupaten Sumba Barat Daya, kawasan Kodi punya lima titik pelaksanaannya sendiri: Homba Kalayo, Bondo Kawango, Rara Winyo, Waiha, dan Wainyapu. Semuanya digelar di kisaran waktu yang sama, sekitar Februari hingga Maret, meski dengan versi cerita asal-usul dan detail pelaksanaan yang bisa berbeda di tiap tempat.

Selain Pasola, kawasan Sumba Barat juga punya kampung-kampung adat seperti Praijing yang berdiri di atas bukit dengan rumah-rumah beratap tinggi menjulang serta batu kubur besar di halamannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Pelaksanaan Pasola tidak mengikuti kalender masehi. Tanggal pastinya ditentukan rato lewat perhitungan bulan purnama, jadi sebaiknya cek jadwal resmi dari pemerintah daerah setempat mendekati musim Februari-Maret, bukan menetapkan tanggal sendiri jauh-jauh hari.
  • Ini bukan pertunjukan yang dipentaskan untuk turis. Pasola adalah ritual keagamaan warga penganut marapu, sehingga sikap hormat dan menjaga jarak dari area inti pertandingan penting diperhatikan, apalagi mengingat pesertanya benar-benar bertanding sungguhan dengan risiko cedera nyata.
  • Kearifan yang sama berlaku di banyak titik berbeda, dari Wanokaka, Lamboya, Gaura di Sumba Barat, sampai lima kampung di kawasan Kodi, Sumba Barat Daya, dengan jadwal yang biasanya berdekatan tapi tidak selalu sama persis.

Kesimpulan

Nyale dan Pasola gampang disalahpahami sebagai sekadar festival ekstrem dengan lemparan lembing dan debu berterbangan. Tapi di baliknya ada sistem kepercayaan yang mengatur waktu panen, mengikat hubungan antarkampung, dan menjaga cara warga Sumba Barat memaknai rasa syukur mereka kepada alam. Riset ini justru menutup dengan pesan sederhana dari masyarakat setempat sendiri: jangan sampai tradisi ini hanya diingat sebagai ajang pertumpahan darah, karena maknanya jauh lebih dari itu.

Sumber: riset dipublikasikan di jurnal HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (DOI: 10.24127/hj.v6i2.1430) oleh Wilhelmus Kuara Jangga Uma, Dwi Handayani, dan Yoga Satriya Nurgiri, Universitas PGRI Madiun. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.

Iklan

Siap merencanakan liburanmu?

Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Artikel Lainnya

Tiwah: Ritual Suku Dayak Ngaju Mengantar Arwah Leluhur ke Lewu Tatau
Riset & Jurnal Ilmiah

Tiwah: Ritual Suku Dayak Ngaju Mengantar Arwah Leluhur ke Lewu Tatau

Bagi warga Dayak Ngaju penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah, kematian bukan akhir perjalanan. Riset ini mengupas Tiwah, ritual sakral mengantar arwah leluhur menuju Lewu Tatau, lengkap dengan makna gotong royong dan toleransi lintas agama yang jarang diketahui orang luar.

9 menit· 25 Agustus 2026
Wae Rebo: Desa di Atas Awan yang Sepenuhnya Dikelola Warganya Sendiri
Riset & Jurnal Ilmiah

Wae Rebo: Desa di Atas Awan yang Sepenuhnya Dikelola Warganya Sendiri

Tujuh rumah kerucut Mbaru Niang berdiri melingkari altar suci di ketinggian 1.117 meter, Flores. Yang membuat Wae Rebo istimewa bukan cuma arsitekturnya, tapi cara sekitar 600 warganya sendiri merancang dan menjalankan wisatanya tanpa investor luar.

8 menit· 25 Agustus 2026