Tiwah: Ritual Suku Dayak Ngaju Mengantar Arwah Leluhur ke Lewu Tatau
Bagi warga Dayak Ngaju penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah, kematian bukan akhir perjalanan. Riset ini mengupas Tiwah, ritual sakral mengantar arwah leluhur menuju Lewu Tatau, lengkap dengan makna gotong royong dan toleransi lintas agama yang jarang diketahui orang luar.
Bagi warga Dayak Ngaju penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah, pemakaman pertama bukan akhir dari perjalanan seseorang. Ada satu ritual besar lagi yang harus dilakukan keluarga yang ditinggalkan, kadang bertahun-tahun kemudian, agar arwah leluhur mereka benar benar bisa sampai ke alam baka. Ritual itu disebut Tiwah.
Riset yang dipublikasikan di jurnal HISTORIA oleh Monawaroh, Mansyur, dan Rusdi Effendi dari Universitas Lambung Mangkurat menelusuri langsung praktik Tiwah di Desa Kota Baru, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, lewat wawancara dengan salah satu Basir, sebutan untuk pemimpin ritual adat setempat. Tulisan ini disusun dengan hormat terhadap kesakralan tradisi tersebut, sebagai pengenalan budaya, bukan sebagai tontonan.
Kenapa Ada Dua Kali Pemakaman
Dalam kepercayaan Kaharingan, kematian bukan berarti berhentinya kehidupan, melainkan perpindahan menuju dunia roh yang kekal. Warga Dayak Ngaju percaya, arwah atau liau orang yang meninggal belum bisa mencapai Lewu Tatau, alam baka yang mereka gambarkan sebagai negeri yang kaya dan indah, sebelum keluarganya menuntaskan ritual Tiwah. Selama Tiwah belum dilaksanakan, arwah dipercaya masih berada di sekitar dunia manusia, bahkan bisa mengganggu keluarga yang ditinggalkan lewat gagal panen, penyakit, atau kesialan lain.
Karena itu, jenazah yang telah dimakamkan akan digali kembali tulang belulangnya, dibersihkan, lalu dipindahkan ke tempat peristirahatan akhir yang disebut sandung, semacam rumah kecil yang dibangun khusus di atas tiang kayu. Setiap sandung hanya diperuntukkan bagi satu garis keturunan keluarga.
Iklan
Prosesi yang Bisa Berlangsung Berbulan-bulan
Riset ini mencatat rangkaian prosesi Tiwah yang panjang dan berlapis. Diawali dengan masa ngantung usik, semacam masa penantian yang biasanya berlangsung sepekan, di mana seluruh anggota keluarga wajib terlibat. Dilanjutkan dengan proses pengeluaran dan pembersihan tulang, lalu tampung tawar sebagai bagian penyucian. Menjelang puncak acara, dilakukan serangkaian tabuh atau penyembelihan hewan kurban seperti babi, ayam, dan kerbau, yang jadi bagian penting dari persembahan sekaligus jamuan bagi tamu yang hadir. Pada tahap akhir, tulang dimasukkan ke dalam sandung lewat prosesi yang disebut nyangkean.
Semua tahapan ini dipimpin oleh Basir atau Telon, pemimpin ritual yang punya peran sentral sepanjang upacara. Persiapannya sendiri bisa memakan waktu berbulan-bulan, sementara pelaksanaan intinya berlangsung antara tiga hari sampai sepekan, tergantung keputusan keluarga dan adat setempat.
Gotong Royong yang Melampaui Batas Agama
Salah satu temuan paling menarik dari riset ini soal siapa saja yang ikut terlibat. Karena biaya penyelenggaraan Tiwah sangat besar, kini warga Dayak Ngaju kerap menggelarnya secara bersama-sama, mengundang beberapa desa tetangga sekaligus untuk berbagi beban biaya. Tamu yang datang biasanya membawa beras atau hewan sebagai sumbangan, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak.
Yang lebih menarik lagi, riset ini mencatat bahwa warga yang sudah pindah ke agama lain di luar Kaharingan pun tetap ikut serta menyelenggarakan Tiwah untuk orang tua atau kerabat mereka yang meninggal saat masih menganut Kaharingan. Ini dipandang sebagai bentuk bakti terakhir kepada leluhur, sekaligus contoh toleransi antaragama yang berjalan alami di tingkat akar rumput, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Iklan
Bukan Sekadar Ritual Kematian
Tiwah menyimpan makna yang berlapis. Secara religius, ritual ini adalah bentuk penghormatan terakhir sekaligus penyucian arwah agar bisa menyatu dengan Ranying Hatalla, sang pencipta dalam kepercayaan Kaharingan. Secara sosial, Tiwah jadi ruang pertemuan yang mempererat hubungan antarkerabat dan antarkampung. Ritual ini juga dipercaya membebaskan status janda atau duda pasangan yang ditinggalkan, sehingga mereka diperbolehkan menikah lagi setelah prosesi selesai.
Riset ini menyimpulkan, semakin meriah dan semakin lama sebuah Tiwah digelar, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepada mendiang, dan semakin terangkat pula nama baik keluarga yang menyelenggarakannya di mata masyarakat.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Tiwah adalah ritual keluarga yang sangat sakral, bukan pertunjukan budaya yang digelar rutin untuk wisatawan. Jika berkesempatan menyaksikan langsung, datanglah melalui undangan resmi atau pendamping lokal yang memahami tata krama, bukan sebagai penonton yang datang begitu saja.
- Sandung sebagai warisan budaya bisa dikunjungi dengan lebih santai di beberapa lokasi seperti Palangka Raya, tempat sejumlah sandung bersejarah dijaga sebagai cagar budaya kota, termasuk milik tokoh pendiri kampung yang menjadi cikal bakal ibu kota Kalimantan Tengah itu sendiri.
- Hormati bahwa ini menyangkut tulang belulang leluhur yang masih dihormati sebagai bagian dari keluarga yang hidup, sehingga sikap sopan dan tidak memperlakukannya sebagai objek foto semata sangat penting dijaga.
Kesimpulan
Tiwah gampang disalahpahami dari luar sebagai ritual yang menyeramkan karena melibatkan penggalian dan pemindahan tulang. Tapi bagi masyarakat Dayak Ngaju sendiri, ini adalah wujud cinta dan tanggung jawab terakhir kepada orang yang telah mendahului, dijalankan dengan kerja sama seluruh kampung tanpa memandang latar belakang agama siapa pun yang terlibat. Riset ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap tradisi yang terlihat asing bagi orang luar, ada sistem makna yang sangat mendalam bagi mereka yang menjalankannya.
Sumber: riset dipublikasikan di jurnal HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (DOI: 10.24127/hj.v15i1.17449) oleh Monawaroh, Mansyur, dan Rusdi Effendi, Universitas Lambung Mangkurat. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya

Rendang Minangkabau: Mengapa Masakan Ini Lebih dari Sekadar Daging Berbumbu
Rendang adalah salah satu identitas kuliner Minangkabau yang dikenal luas di Indonesia dan dunia. Artikel ini membedah rendang dari teknik memasak, santan dan rempah, perbedaan kalio-rendang, variasi bahan, konteks budaya, hingga cara menikmati rendang secara lebih bermakna di Sumatera Barat.

Papeda Papua: Rasa, Tekstur, dan Cerita dari Tanah Sagu
Papeda bukan sekadar bubur sagu. Di Papua, hidangan ini mempertemukan pangan lokal, ikan kuah kuning, kebiasaan makan bersama, dan pengetahuan tentang sagu. Panduan panjang ini membahas rasa, cara makan, bahan, konteks budaya, pilihan lauk, hingga tips wisata kuliner di Jayapura.
Tiang Rumah Gadang Berdiri Miring 1 sampai 4 Derajat di Atas Batu
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam ke tanah. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu dengan kemiringan satu sampai empat derajat, dan seluruh sambungannya memakai pasak tanpa satu pun paku.
