Tempat WisataIndonesia

Wae Rebo: Desa di Atas Awan yang Sepenuhnya Dikelola Warganya Sendiri

Admin TWI 25 Agustus 2026 8 menit baca
Wae Rebo: Desa di Atas Awan yang Sepenuhnya Dikelola Warganya Sendiri

Tujuh rumah kerucut Mbaru Niang berdiri melingkari altar suci di ketinggian 1.117 meter, Flores. Yang membuat Wae Rebo istimewa bukan cuma arsitekturnya, tapi cara sekitar 600 warganya sendiri merancang dan menjalankan wisatanya tanpa investor luar.

Di ketinggian 1.117 meter di pegunungan Manggarai, Flores, ada desa yang sering disebut negeri di atas awan. Tujuh rumah berbentuk kerucut raksasa berdiri melingkari sebuah altar batu, dikelilingi kabut yang turun setiap pagi. Tapi yang membuat Wae Rebo benar benar istimewa bukan cuma pemandangannya yang sering muncul di brosur wisata Indonesia. Sejak awal, desa ini sengaja tidak diserahkan ke investor luar. Warganya sendiri yang merancang, menjalankan, dan mengawasi wisatanya, langkah demi langkah.

Riset yang dipublikasikan di Journal of Business on Hospitality and Tourism pada 2017 oleh Yefri Yunikson Beeh menelusuri bagaimana model pariwisata berbasis komunitas ini benar benar bekerja di lapangan, dan kenapa itu penting dipahami sebelum berkunjung ke sana.

Tujuh rumah Mbaru Niang mengelilingi altar Compang di Wae Rebo pada pagi hari. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Tujuh rumah Mbaru Niang mengelilingi altar Compang di Wae Rebo pada pagi hari. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Desa yang Dibangun Mengelilingi Tujuh Puncak Gunung

Secara administratif, Wae Rebo masuk wilayah Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Suhu malam hari di sana bisa turun sampai sekitar 21 derajat Celsius. Sekitar 600 jiwa dari 44 kepala keluarga tinggal di sini, generasi ke-19 dari Empo Maro, leluhur yang dipercaya mendirikan kampung ini. Sebagian anggota klan yang sama juga tinggal di Kampung Kombo, sekitar 8 kilometer dari Wae Rebo.

Ketujuh rumah Mbaru Niang berdiri sejak 1920, dan masing masing menghormati salah satu dari tujuh puncak gunung yang mengelilingi desa. Niang Gendang, rumah terbesar setinggi 14 meter yang menampung 8 keluarga, dikelilingi enam Niang Gena setinggi 11 meter yang masing masing dihuni 6 keluarga: Gena Mandok, Jekong, Ndorom, Pirung, Jintam, dan Maro. Ketujuhnya disusun melingkar mengelilingi Compang, altar yang dianggap paling sakral di desa ini. Setiap rumah punya lima tingkat dengan fungsi berbeda: tenda untuk tempat tinggal, lobo untuk menyimpan barang, lentar untuk menyimpan benih, lempa rae untuk menyimpan bahan pangan, dan hekang kode untuk sesaji kepada leluhur. Susunan ini bukan sekadar arsitektur, tapi juga cara warga Wae Rebo memetakan hubungan mereka dengan alam dan leluhur ke dalam bentuk fisik rumah.

Ketika Warga Sendiri yang Memutuskan Nasib Wisatanya

Pada 2012, Wae Rebo menerima penghargaan UNESCO Asia Pacific Cultural Heritage Conservation atas upaya pelestarian budayanya. Pengelolaan wisata di desa ini dipegang oleh Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo atau LPBW, dengan motto Mohe Wae Rebo yang berarti hidup terus Wae Rebo. Warga sendiri yang merencanakan, menjalankan, dan mengawasi kegiatan wisata, lengkap dengan evaluasi bulanan dan laporan keuangan tahunan yang dibuka untuk seluruh komunitas. Ibu ibu di desa bergantian memasak untuk para tamu yang menginap.

Fasilitas menginap berkembang bertahap dan hati hati. Pada 2009, salah satu Niang Gena mulai difungsikan sebagai rumah tamu. Baru pada 2013 dibangun rumah tamu baru yang khusus, dengan arsitektur yang tetap mengikuti gaya Mbaru Niang asli, bukan bangunan modern yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Saat riset ini dilakukan, biaya menginap tercatat Rp325.000 per orang, dengan Rp25.000 di antaranya disetorkan ke dinas pariwisata dan sisanya dibagikan untuk seluruh warga desa, bukan cuma pemilik penginapan. Pertumbuhan pengunjung pun signifikan: dari 393 orang pada 2011 menjadi 3.446 orang pada 2015, dengan wisatawan domestik yang akhirnya melampaui jumlah wisatawan mancanegara.

Detail arsitektur rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo, Flores. Foto: Wikimedia Commons, CC BY 4.0
Detail arsitektur rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo, Flores. Foto: Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Tamu yang Diperlakukan Seperti Keluarga yang Pulang

Salah satu temuan paling menarik dari riset ini soal bagaimana desa ini menyambut orang asing. Setiap kali ada tamu baru datang, para tetua wajib menjalankan ritual bernama Pa'u Wae Lu'u, meminta izin dan perlindungan leluhur bagi para tamu tersebut. Sebelum ritual ini selesai, tamu dilarang melakukan aktivitas apa pun, termasuk memotret. Begitu ritual rampung, tamu tidak lagi diperlakukan sebagai turis yang membayar, melainkan sebagai saudara yang pulang ke rumah.

Cara pandang ini mengubah keseluruhan relasi antara warga dan pengunjung. Wisatawan tidak sekadar membeli pengalaman menginap, tapi diterima masuk ke dalam struktur kekerabatan simbolis desa, lengkap dengan tata krama dan penghormatan yang menyertainya.

Alam dan Budaya yang Ikut Terjaga

Hutan di sekitar Wae Rebo menjadi rumah bagi 42 spesies pohon dan 38 spesies burung, termasuk dua burung endemik Flores yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, yaitu gagak Flores (Corvus florensis) dan celepuk Flores (Otus alfredi). Mata pencaharian utama warga adalah kopi arabica, robusta, dan kolombia yang ditanam tanpa pestisida, dan sejak 2013 wisatawan bisa ikut merasakan langsung kegiatan memetik kopi bersama warga. Selain kopi, warga juga menjual kayu manis, kemiri, jahe, dan kunyit di pasar Senin yang digelar di Dintor, desa terdekat dari Wae Rebo.

Kehidupan budaya di Wae Rebo juga tetap hidup lewat upacara Penti yang digelar setiap November, tarian adat Caci, serta legenda musang sakral yang dikaitkan dengan Empo Maro, leluhur pendiri desa.

Biji kopi dijemur di Wae Rebo, salah satu mata pencaharian utama warga desa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY 4.0
Biji kopi dijemur di Wae Rebo, salah satu mata pencaharian utama warga desa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Cara Menuju Wae Rebo

Wae Rebo tidak bisa dicapai langsung dengan kendaraan bermotor. Dari Labuan Bajo, perjalanan darat memakan waktu sekitar 4 jam melewati Todo dan sawah lingko Cancar sampai pos Waelomba, atau sekitar 5 jam bila berangkat dari Ruteng. Dari titik itu, perjalanan dilanjutkan dengan trekking sekitar 4 jam menembus hutan menuju desa. Jarak dan usaha fisik yang dibutuhkan ini turut membatasi jumlah kunjungan secara alami, dan bisa jadi itu salah satu alasan model pariwisata berbasis komunitas di sini tetap bertahan sampai sekarang.

Kesimpulan

Yang membedakan Wae Rebo bukan cuma tujuh atap kerucutnya yang ikonik, tapi keputusan panjang dan konsisten dari sekitar 600 warganya untuk menjaga wisatanya tetap di tangan mereka sendiri, lengkap dengan evaluasi rutin dan laporan keuangan terbuka. Setiap tamu yang datang pun tidak sekadar disambut, tapi diikat ke dalam tata krama leluhur yang memperlakukan mereka sebagai keluarga yang pulang, bukan sekadar pengunjung yang lewat.

Sumber: riset dipublikasikan di Journal of Business on Hospitality and Tourism (DOI: 10.22334/jbhost.v3i1.92) oleh Yefri Yunikson Beeh. Jurnal ini tidak terindeks PubMed sehingga tidak memiliki nomor PMID.

Iklan

Siap merencanakan liburanmu?

Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Artikel Lainnya