Desa Wisata Merapi: Kesiapsiagaan Bencana di Balik Pesona Gunung Berapi Teraktif di Dunia

Merapi adalah gunung berapi paling aktif di dunia, tapi 32 desa wisata tumbuh subur di lerengnya. Riset terbaru membongkar bagaimana pengelolanya membangun kesiapsiagaan bencana -- dan kenapa jarak ke puncak bisa mengubah cara orang menilai risiko.
Setiap tahun, jutaan wisatawan datang ke lereng selatan Gunung Merapi untuk naik jip tua menyusuri jejak letusan, berfoto dengan latar puncak yang mengepulkan asap, dan menginap di desa-desa yang dulunya kampung peternak sapi perah. Yang jarang mereka sadari: gunung yang mereka kunjungi ini adalah salah satu gunung berapi paling aktif dan paling berbahaya di dunia, sudah meletus 61 kali sejak abad ke-15, dan warga di sekitarnya tetap harus siap sewaktu-waktu mengungsi.
Riset yang dipublikasikan di Jàmbá: Journal of Disaster Risk Studies pada 2025 mencoba memahami sesuatu yang belum banyak dibahas: bagaimana sebenarnya para pengelola desa wisata di lereng Merapi membangun kesiapsiagaan menghadapi erupsi -- bukan cuma warga biasa, tapi orang-orang yang setiap hari juga bertanggung jawab atas keselamatan wisatawan yang datang.

Gunung yang Jadi Rumah Sekaligus Ancaman bagi 1,6 Juta Orang
Gunung Merapi terletak sekitar 25 kilometer di utara Kota Yogyakarta, tepat di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan dihuni sekitar 1,6 juta orang di sekitarnya. Sepanjang abad ke-20, erupsinya rata-rata berulang setiap 4-6 tahun. Letusan paling dahsyat di abad ini terjadi pada 2010: memaksa sepertiga juta orang mengungsi dan merenggut hampir 400 nyawa, sekaligus memukul telak sektor pertanian, peternakan sapi perah, dan pariwisata di sekitarnya.
Erupsi 2010 itu justru jadi titik balik. Wilayah selatan Merapi -- terutama Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Turi di Kabupaten Sleman yang paling parah terdampak -- mengalami perubahan pola mata pencaharian: dari peternakan sapi perah ke jasa pariwisata, karena risiko kesehatan yang meningkat dan perubahan ekosistem serta ekonomi pasca-erupsi. Saat ini, tercatat 32 desa wisata di kawasan lereng Merapi sisi Sleman dengan berbagai tahap perkembangan.
Pariwisata di kawasan rawan bencana Gunung Merapi tidak sepenuhnya dilarang, tapi dibatasi dan dipantau oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) bersama badan penanggulangan bencana daerah. Aturannya mencegah orang masuk ke zona yang benar-benar berbahaya, yakni radius 3 kilometer dari puncak.
Dari Kampung Peternak ke Desa Wisata: Berkah yang Berisiko
Kawasan Merapi punya modal alam yang membuat desa wisata tumbuh subur di sana: panorama alam yang indah, udara sejuk, keanekaragaman hayati tinggi, serta sumber daya air dan lahan yang mendukung. Pariwisata jadi sumber pendapatan utama warga sekitar Merapi, terutama setelah erupsi-erupsi besar seperti 2010.
Riset-riset sebelumnya yang dirujuk studi ini menunjukkan desa wisata berkontribusi pada pengentasan kemiskinan lewat pemanfaatan sumber daya lokal dan pelibatan warga, serta mendorong kenaikan lapangan kerja, pendapatan, dan kualitas fasilitas di masyarakat. Tapi ironinya, keberadaan desa wisata di sekitar Merapi juga otomatis menaikkan risiko bencana -- karena posisinya persis di kawasan rawan erupsi. Semakin desa wisata berkembang dan ramai dikunjungi, semakin banyak pula orang yang perlu dipikirkan keselamatannya kalau gunung itu benar-benar meletus.

Apa Kata Riset: Tiga Faktor yang Membentuk Kesiapsiagaan
Untuk memahami kesiapsiagaan para pengelola desa wisata, peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan, dan University of Gloucestershire menggelar diskusi kelompok terarah dengan 32 pengelola desa wisata di sekitar Merapi pada November 2023, lalu menganalisisnya lewat kerangka PRECEDE-PROCEED -- model yang membagi faktor pembentuk perilaku menjadi tiga kelompok: predisposing (faktor individu), enabling (faktor pendukung/sumber daya), dan reinforcing (faktor penguat dari luar).
Pada faktor predisposing, muncul empat tema. Pertama, keyakinan: pengelola desa wisata memandang Merapi punya dua sisi yang bertolak belakang -- ancaman bencana besar di satu sisi, berkah karena erupsi menyuburkan tanah di sisi lain. Mereka memilih hidup berdampingan dengan gunung ini: mengungsi saat kondisi berbahaya, kembali tinggal di dekatnya saat aman, karena sumber penghidupan mereka memang ada di sana. Kedua, pengetahuan: masyarakat sekitar Merapi mewarisi pengetahuan turun-temurun soal tanda-tanda gunung akan meletus -- salah satunya turunnya hewan seperti monyet, rusa, dan macan ke permukiman warga.

Ketiga, persepsi risiko -- dan ini yang paling menarik: pengelola desa wisata yang lokasinya dekat puncak, seperti Turgo yang menjadi desa wisata terdekat dengan puncak Merapi, sadar betul mereka tinggal di area berbahaya dan harus selalu waspada. Sebaliknya, pengelola desa wisata yang jaraknya lebih jauh dari puncak justru merasa lokasinya relatif aman dari ancaman erupsi -- sebuah persepsi yang menurut peneliti perlu diwaspadai, karena bisa membuat kewaspadaan kendur padahal risiko tetap ada. Keempat, pengalaman: pengelola yang pernah mengalami erupsi sebelumnya, misalnya erupsi 1994, memahami pola dan karakteristik letusan Merapi serta tahu membedakan area berbahaya dan aman.
Pada faktor enabling, ada dua tema: ketersediaan infrastruktur (jalur evakuasi, rambu evakuasi, alat transportasi, dan alat komunikasi) dan pelatihan -- terutama pelatihan komunikasi risiko, yang dianggap paling mendesak dibutuhkan pengelola desa wisata untuk menyampaikan informasi ke wisatawan saat status Merapi meningkat. Sementara pada faktor reinforcing, satu tema yang muncul adalah dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak: pemerintah desa, Kader Siaga Bencana, BPPTKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan dinas pariwisata.
Turgo dan Tetangganya: Beda Jarak, Beda Kewaspadaan

Temuan soal persepsi risiko berdasarkan jarak ini punya bobot lebih kalau dilihat dari riset-riset lain yang dirujuk studi ini. Orang yang punya keyakinan kuat soal efektivitas kesiapsiagaan tercatat memiliki perilaku siaga 7 hingga 30 persen lebih tinggi dibanding yang keyakinannya lemah. Pengalaman bencana sebelumnya juga terbukti membuat orang lebih siap menghadapi bencana berikutnya dibanding yang belum pernah mengalaminya sama sekali.
Menariknya, studi ini juga mengutip riset lain soal radio komunitas di kawasan Merapi yang terbukti efektif mendukung kesiapsiagaan bencana, dengan tingkat efektivitas mencapai 63,6 persen -- bukti bahwa solusi sederhana dan berbasis warga bisa sama pentingnya dengan alat pemantauan resmi yang canggih.
Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berkunjung
Mengunjungi desa wisata di lereng Merapi bukan berarti harus takut -- tapi ada baiknya wisatawan ikut memahami konteks kesiapsiagaan yang dibahas riset ini:
- Cek status Merapi sebelum berangkat. BPPTKG menetapkan status aktivitas Merapi dalam empat tingkat (Normal hingga Awas) dan memperbarui rekomendasi zona bahaya secara berkala lewat kanal resminya. Status ini bisa berubah, jadi jangan mengandalkan informasi lama.
- Zona sekitar 3 kilometer dari puncak biasanya tertutup untuk aktivitas apa pun, dan radius larangan di sektor tertentu (misalnya di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Merapi) bisa lebih luas lagi tergantung kondisi terkini -- ikuti rambu dan arahan petugas maupun pengelola desa wisata setempat.
- Wisata jip lava tour dan desa wisata umumnya tetap buka selama status belum di level tertinggi, karena operator dan pengelola desa wisata sudah terbiasa menyesuaikan rute dengan rekomendasi BPPTKG -- tapi ini juga alasan kenapa riset ini menyoroti pentingnya pengelola desa wisata punya rencana evakuasi yang jelas khusus untuk wisatawan, bukan cuma warga.
- Tidak ada salahnya bertanya langsung ke pengelola desa wisata soal jalur evakuasi dan titik kumpul saat kamu tiba -- riset ini justru menemukan banyak desa wisata belum punya prosedur evakuasi wisatawan yang terdokumentasi rapi, jadi pertanyaan sederhana ini bisa membantu memastikan kamu maupun mereka sama-sama siap.
- Tanda-tanda alam seperti hewan turun ke permukiman memang jadi bagian kearifan lokal warga sekitar Merapi selama beberapa generasi, tapi tetap jadikan informasi resmi BPPTKG sebagai acuan utama, bukan pengganti.
Kesimpulan
Hidup di samping salah satu gunung berapi paling aktif di dunia bukan sekadar nekat -- ini hasil negosiasi panjang antara keyakinan, ingatan kolektif, pengetahuan turun-temurun, dan kerja sama lintas pihak yang terus diperbarui setiap kali Merapi menunjukkan tanda-tanda baru. Riset ini mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bukan cuma urusan warga lereng Merapi sendiri -- wisatawan yang datang pun ikut menjadi bagian dari sistem itu. Menghargai rambu, mendengarkan pengelola desa wisata, dan memahami bahwa gunung ini bisa berubah sewaktu-waktu adalah cara sederhana untuk ikut menjaga keselamatan bersama, sambil tetap menikmati salah satu lanskap paling megah di Jawa.
Sumber: riset dipublikasikan di Jàmbá: Journal of Disaster Risk Studies (PMID: 40937352), berdasarkan diskusi kelompok terarah dengan 32 pengelola desa wisata di sekitar Gunung Merapi oleh peneliti Universitas Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan, dan University of Gloucestershire.
Iklan
Siap merencanakan liburanmu?
Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.
Diskusi (0)
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Artikel Lainnya
Gili Matra: Kawasan Konservasi Laut di Balik Kemakmuran Tiga Gili di Lombok
Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air terkenal karena air lautnya yang jernih -- tapi riset stakeholder terbaru menunjukkan kemakmuran tiga gili ini ditopang sesuatu yang jarang dibahas wisatawan: kawasan konservasi laut, dan tarik-ulur antara pemerintah dan warga dalam menjaganya.
Riset: Ekspektasi Tinggi Sebelum Liburan Ternyata Tidak Menjamin Kamu Puas
Kamu membayangkan liburan sempurna berminggu-minggu, lalu sampai di lokasi rasanya biasa saja. Ada penjelasan ilmiahnya -- dan itu mengubah cara sebaiknya kamu bersiap.
Jakarta atau Bandung? Riset Ilmiah Membedah Gaya Liburan Keduanya, dan Hasilnya Jelas Beda
Kebanyakan orang menjawabnya berdasarkan selera. Ternyata ada cara membedah pertanyaan ini secara lebih objektif -- lewat data pola wisata nyata dari ribuan pengunjung.