Tempat WisataIndonesia

Karimunjawa: Warga Mendukung Wisata, tapi Khawatir pada Laut Mereka Sendiri

Admin TWI 24 Agustus 2026 9 menit baca
Karimunjawa: Warga Mendukung Wisata, tapi Khawatir pada Laut Mereka Sendiri

Karimunjawa dikenal sebagai surga snorkeling di Laut Jawa. Tapi riset terhadap 47 warga lokal menunjukkan cerita yang lebih rumit: mereka menyambut baik lapangan kerja dari wisata, sambil mencemaskan kondisi karang dan air bersih pulau mereka sendiri.

Karimunjawa punya reputasi sebagai surga snorkeling di tengah Laut Jawa: air jernih, terumbu karang berwarna-warni, dan gugusan pulau yang masih terasa sepi dari keramaian. Tapi di balik foto-foto Instagram yang memikat itu, ada pertanyaan yang jarang ditanyakan wisatawan: apa kata warga yang benar-benar tinggal di sana soal gelombang wisata yang terus membesar setiap tahun?

Riset yang dipublikasikan di Journal of Coastal Conservation pada 2022 oleh tim peneliti dari Kobe University dan University of Tokyo mencoba menjawabnya secara langsung: mewawancarai 47 warga Karimunjawa dan memetakan pandangan mereka soal dampak wisata dari tiga sisi sekaligus -- sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan. Hasilnya cukup jelas: warga merasa diuntungkan di dua ranah pertama, tapi justru merasa dirugikan di ranah ketiga.

Penyelam di antara terumbu karang Taman Nasional Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Penyelam di antara terumbu karang Taman Nasional Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

22 Pulau di Tengah Laut Jawa

Karimunjawa adalah bagian dari Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), sebuah gugusan pulau di Laut Jawa yang masuk wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pulau utamanya sendiri ditutupi 1.285,5 hektare ekosistem hutan hujan tropis, dan kawasan ini menyimpan ekosistem pesisir yang beragam, dengan terumbu karang sebagai daya tarik wisata utamanya. Berdasarkan data 2019, kepadatan penduduk Karimunjawa tercatat 4.946 jiwa, dengan 55 persen berusia 20-59 tahun, 33 persen di bawah 20 tahun, dan 11 persen di atas 60 tahun.

Angka kunjungan wisatawan terus naik. Pada 2017, tercatat 6.917 wisatawan mancanegara dan 109.159 wisatawan domestik berkunjung ke Karimunjawa. Pada 2019, jumlah pengunjung TNKJ mencapai 129.679 orang, naik 12,7 persen dari tahun sebelumnya. Pengelolaan kawasan ini merujuk pada Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang antara lain mengatur zonasi-pemanfaatan, konservasi, penegakan hukum, penguatan kelembagaan, dan pendidikan-pelatihan bagi masyarakat pesisir.

Dari Kampung Nelayan ke Destinasi Snorkeling Favorit

Pariwisata membuka mata pencaharian baru bagi warga Karimunjawa. Riset ini mencatat, warga bisa bekerja sebagai pemandu snorkeling dengan penghasilan minimum Rp150.000 per hari, pemandu diving Rp250.000 per hari, atau terjun ke bisnis penginapan dan transportasi wisata. Nilai ekonomi dari aktivitas snorkeling saja diperkirakan mencapai lebih dari 94,5 juta rupiah per tahun -- angka yang secara langsung terkait dengan kualitas dan kondisi terumbu karang di sekitar area snorkeling.

Untung di Sosial dan Ekonomi, Cemas di Lingkungan

Lewat wawancara tatap muka berdurasi 40 hingga 60 menit dengan 47 responden -- mayoritas laki-laki (87%), berusia 41-50 tahun (51%), dan lebih dari separuhnya sudah tinggal di Karimunjawa lebih dari 20 tahun -- peneliti memetakan persepsi warga memakai skala dari -2 (sangat negatif) sampai +2 (sangat positif) untuk tiga kategori dampak wisata.

Untuk dampak sosial-budaya, persepsi warga secara keseluruhan positif (rata-rata 1,07 dari skala 2). Item yang dinilai paling positif adalah kekuatan dan kekompakan komunitas (1,25) serta ragam aktivitas di kampung (1,21). Warga juga menilai interaksi dengan wisatawan secara positif (1,02) -- tidak ada tanda-tanda sikap anti-pendatang; sebaliknya, dari perbincangan di luar kuesioner resmi, peneliti mencatat warga justru antusias berlatih bahasa asing bersama turis mancanegara.

Untuk dampak ekonomi, persepsinya bahkan lebih positif (rata-rata 1,18). Ketersediaan lapangan kerja mendapat skor tertinggi (1,44), dengan 61,7 persen responden menilainya "sangat positif". Satu-satunya item yang dinilai kurang menguntungkan adalah persaingan kerja antara warga lokal dan pendatang (0,78) -- meski tetap di sisi positif skala.

Namun untuk dampak lingkungan, arahnya justru terbalik -- ini satu-satunya kategori yang secara keseluruhan dinilai negatif (rata-rata -0,04). Item dengan skor terburuk adalah kondisi terumbu karang dan ketersediaan air bersih (masing-masing -0,23), disusul ketersediaan stok ikan dan hasil laut (-0,21) serta kondisi sistem pembuangan air limbah (-0,17). Sebanyak 44,68 persen responden menilai kondisi terumbu karang memburuk, dan 40,43 persen mengkhawatirkan ketersediaan air bersih.

Gerbang jalur tracking mangrove di Taman Nasional Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Gerbang jalur tracking mangrove di Taman Nasional Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kenapa Warga yang Lebih Berpendidikan Justru Lebih Cemas

Salah satu temuan paling menarik dari riset ini soal siapa yang paling khawatir. Secara statistik, warga yang bekerja di sektor pariwisata menunjukkan persepsi sosial-budaya yang lebih positif dibanding yang tidak (p<0,01) -- masuk akal, karena merekalah yang paling merasakan manfaatnya secara langsung. Tapi pola ini berbalik total soal lingkungan: warga yang terlibat di sektor pariwisata justru lebih mengkhawatirkan kondisi ekosistem lamun dan mangrove dibanding yang tidak terlibat (p<0,05 untuk keduanya) -- mereka yang paling dekat dengan industri wisata rupanya juga yang paling menyadari perubahan ekologis yang menyertainya.

Yang lebih mengejutkan, tingkat pendidikan warga berkorelasi negatif dengan persepsi terhadap lingkungan (p<0,01) -- semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin negatif pandangannya terhadap dampak wisata pada lingkungan. Temuan ini berkebalikan dengan riset serupa di Spanyol dan Argentina, di mana pendidikan yang lebih tinggi justru berkorelasi dengan pandangan yang lebih positif terhadap wisata. Peneliti menduga, di Karimunjawa, pendidikan tidak membuat warga jadi optimis buta soal wisata -- justru membuat mereka lebih mampu memahami ancaman nyata yang sedang terjadi di depan mata.

Sampah, Air Bersih, dan Karang yang Menanggung Beban

Pengelolaan sampah jadi salah satu isu yang paling sering disuarakan warga di luar kuesioner resmi. Karimunjawa menghasilkan sekitar 5,6 ton sampah domestik dan wisata per hari, dan sebagai pulau kecil, opsi pengelolaannya terbatas -- lahan sempit, daur ulang terbatas, penduduk padat, dan ketergantungan tinggi pada sektor wisata itu sendiri. Pada 2020, fasilitas daur ulang baru mulai beroperasi di Karimunjawa dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan kapasitas menampung 10 ton sampah per hari dan target mengurangi kebocoran sampah plastik ke laut hingga 75 persen.

Tekanan pada terumbu karang juga tercatat nyata: penelitian lain yang dirujuk studi ini menemukan peningkatan wisatawan snorkeling menyebabkan tekanan ekologis di lokasi-lokasi snorkeling, termasuk kerusakan karang dalam bentuk permukaan yang terkikis. Sementara soal air bersih, meski kajian daya dukung lingkungan lain menyebut Karimunjawa masih mampu menyediakan pasokan air bersih secara keseluruhan, warga tetap menyuarakan kekhawatiran soal ketersediaannya -- terutama saat musim kemarau, ketika sebagian harus membeli air dengan harga lebih mahal.

Perahu nelayan bersandar di Pelabuhan Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Perahu nelayan bersandar di Pelabuhan Karimunjawa. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Hormati zonasi kawasan. TNKJ punya zona inti dan zona larang-tangkap yang tidak boleh sembarangan dimasuki, zona tradisional untuk nelayan, serta zona khusus wisata -- snorkeling dan diving sebaiknya hanya di titik-titik yang memang diperuntukkan untuk itu.
  • Perhatikan penggunaan air, terutama saat musim kemarau, karena warga sendiri menyuarakan kekhawatiran soal ketersediaan air bersih di pulau ini.
  • Bawa pulang atau kurangi sampahmu sendiri. Sebagai pulau kecil, kapasitas pengelolaan sampah Karimunjawa terbatas, dan sampah yang dibawa wisatawan ikut menambah beban 5,6 ton sampah harian yang sudah ada.
  • Pilih operator snorkeling/diving yang menjaga jarak aman dari karang, mengingat riset ini dan penelitian lain di Karimunjawa sama-sama mencatat tekanan snorkeling terhadap kondisi terumbu karang.
  • Ingat bahwa dukunganmu terhadap konservasi juga berarti secara langsung -- sejumlah kawasan konservasi laut lain di Indonesia, seperti Gili Trawangan dan Taman Nasional Laut Bunaken, sudah menerapkan skema retribusi atau kontribusi sukarela yang dialokasikan untuk menjaga lingkungan.

Kesimpulan

Cerita Karimunjawa bukan sekadar kisah sukses atau kisah gagal -- ia keduanya sekaligus. Wisata benar-benar membuka lapangan kerja dan mempererat kehidupan sosial warga, di sebuah pulau yang tingkat kemiskinannya masih tercatat 32 persen dan sebagian nelayan serta petani tradisionalnya hidup dalam kondisi yang jauh dari layak. Tapi warga yang sama juga menjadi orang pertama yang menyadari bahwa laut yang membuat Karimunjawa istimewa -- karangnya, ikannya, air bersihnya -- sedang menanggung beban dari popularitas itu sendiri. Riset ini pada akhirnya bukan argumen untuk berhenti berwisata ke Karimunjawa, melainkan pengingat bahwa suara warga yang paling dekat dengan lautnya sendiri layak jadi pertimbangan utama dalam menentukan seberapa jauh dan secepat apa pariwisata di sana boleh tumbuh.

Sumber: riset dipublikasikan di Journal of Coastal Conservation (PMID: 35465221), berdasarkan wawancara 47 warga Karimunjawa oleh peneliti Kobe University dan University of Tokyo, Jepang.

Iklan

Siap merencanakan liburanmu?

Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Artikel Lainnya

Gili Matra: Kawasan Konservasi Laut di Balik Kemakmuran Tiga Gili di Lombok
Riset & Jurnal Ilmiah

Gili Matra: Kawasan Konservasi Laut di Balik Kemakmuran Tiga Gili di Lombok

Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air terkenal karena air lautnya yang jernih -- tapi riset stakeholder terbaru menunjukkan kemakmuran tiga gili ini ditopang sesuatu yang jarang dibahas wisatawan: kawasan konservasi laut, dan tarik-ulur antara pemerintah dan warga dalam menjaganya.

9 menit· 18 Agustus 2026