Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap

Peneliti menyisir Pegunungan Cycloops di Jayapura dan mendata 26 lokasi yang layak disebut geosite. Sembilan dinilai menarik, sembilan lolos ukuran daya tampung, tetapi hanya empat titik yang lolos kedua ujian sekaligus. Ini daftarnya, lengkap dengan alasan kenapa sisanya belum siap.
Di punggung Kota Jayapura berdiri dinding hijau yang menahan awan dari arah Samudra Pasifik. Namanya Pegunungan Cycloops, kerap ditulis Siklop dalam ejaan setempat. Luas kawasannya sekitar 35.000 hektare dan sekitar 80 persen di antaranya masuk wilayah administrasi Kabupaten Jayapura. Sebuah tim peneliti menyisir kawasan ini, lalu mendata 26 lokasi yang memenuhi kriteria sebagai geosite. Dari 26 titik itu, hanya empat yang lolos dua ujian sekaligus.
Penelitiannya terbit di GeoJournal of Tourism and Geosites pada 2022. Yang membuat studi ini berbeda dari daftar wisata biasa: peneliti tidak berhenti pada pertanyaan "mana yang bagus". Mereka mengukur dua hal yang jarang digabungkan, yaitu seberapa menarik sebuah titik dinilai dari geologi, akses, dan infrastrukturnya, lalu seberapa banyak pengunjung yang sanggup ditampung tempat itu tanpa merusak dirinya sendiri. Ketika dua daftar itu ditumpuk, hasilnya jauh lebih sedikit daripada yang diperkirakan.

Batuan Berumur Puluhan Juta Tahun di Belakang Kota
Yang membuat Cycloops menarik secara geologi bukan ketinggiannya, melainkan jenis batuannya. Kawasan ini tersusun dari ofiolit, yaitu potongan kerak samudra yang terangkat ke daratan, bersama gabro, basalt, peridotit, serpentinit, dan batuan vulkanik busur kepulauan. Peneliti mencatat batuan tersebut terbentuk pada kala Oligosen, sekitar 34 sampai 23 juta tahun lalu.
Susunan itu menghasilkan bentang alam yang tidak seragam. Dalam radius pendek dari pusat kota, pengunjung bisa berpindah dari pantai ke perbukitan, lalu ke pegunungan dan danau di dataran tinggi. Bagi Jayapura, ini keunggulan yang jarang dimiliki kota lain: variasi lanskap yang biasanya butuh perjalanan lintas kabupaten, di sini tersedia dalam satu hari.
Iklan
Sembilan Titik Menarik, Sembilan Titik Muat, Empat Titik Lolos Keduanya
Dari 26 geosite yang terdata, sembilan masuk kategori menarik: Pantai Pasir Enam, Kali Klofkamp, Bukit Bhayangkara, Bukit Kodam, Bukit Skyline, Bukit Entrop, Bukit Waena, Rawa Buper, dan Kali Harapan.
Sembilan titik lain lolos ukuran daya tampung: Bukit Angkasa, Pantai Pasir Enam, Bukit Bhayangkara, Bukit Skyline, Bukit Entrop, Bukit Waena, Telaga Buper, Bukit Sentani, dan Pantai Ormu.
Perhatikan bahwa kedua daftar itu tidak identik. Ada titik yang menarik tetapi ruangnya terbatas. Ada titik yang lapang tetapi nilai geologinya biasa saja. Setelah keduanya ditumpuk, tersisa empat geosite unggulan, yaitu Pantai Pasir Enam, Bukit Skyline, Bukit Entrop, dan Bukit Waena.
Masing-masing punya alasan sendiri. Bukit Skyline menyodorkan panorama Teluk Youtefa dan sudah menjadi ikon Kota Jayapura. Bukit Entrop menonjolkan keragaman morfologi perbukitan kapur. Bukit Waena memberi dua lanskap dalam satu titik pandang, yaitu Danau Sentani di satu sisi dan Teluk Youtefa di sisi lain. Pantai Pasir Enam mewakili ekologi khas penyangga Pegunungan Cycloops.

Angka yang Jarang Dipikirkan Wisatawan: 10 Meter Persegi per Orang
Bagian paling menarik dari studi ini justru terletak di asumsi hitungannya. Untuk menentukan daya tampung, peneliti menetapkan ruang gerak wisatawan sebesar 10 meter persegi per orang untuk wisata air dan 15 meter persegi per orang untuk wisata gunung. Bayangkan sebuah pantai kecil sepanjang seratus meter dengan lebar dua puluh meter. Dengan standar itu, angkanya berhenti jauh lebih cepat daripada dugaan kebanyakan orang.
Batasan lain ikut dihitung. Curah hujan maksimum ditetapkan 30 milimeter per hari, kemiringan lereng maksimum 40 derajat, dan jarak minimum sebuah atraksi ke batas cagar alam sejauh 100 meter. Perhitungannya memakai rumus Cifuentes yang dimodifikasi Muhammad pada 2013, dengan tiga lapis: daya dukung fisik, daya dukung riil setelah dikoreksi faktor lingkungan, dan daya dukung efektif setelah memperhitungkan kemampuan pengelola.
Lapis ketiga itu penting dan sering dilupakan. Sebuah tempat bisa saja punya ruang luas, tetapi kalau tidak ada petugas, tidak ada toilet, dan tidak ada pengelolaan sampah, daya tampung efektifnya tetap kecil. Ruang tanpa pengelola bukan kapasitas, melainkan risiko.
Iklan
Infrastruktur Dinilai Setara dengan Geologi
Peneliti memakai sembilan kriteria dengan bobot berbeda. Dua kriteria mendapat bobot tertinggi, masing-masing 25 persen, yaitu nilai geologi dan geomorfologi serta infrastruktur wisata. Berikutnya jarak dari geosite, aksesibilitas, dan keamanan, masing-masing 10 persen. Sisanya iklim, jenis formasi batuan, sejarah geologi, dan topografi atau kemiringan, masing-masing 5 persen.
Skor akhir dibagi ke dalam kategori: kurang menarik di bawah 3,0, cukup menarik pada rentang 3,1 sampai 5,5, menarik pada rentang 5,6 sampai 8,5, dan sangat menarik di atas 8,5. Peneliti menyimpulkan bahwa sejarah geologi, iklim, aksesibilitas, serta topografi menjadi parameter penentu potensi sebuah geosite.
Bobot itu menyampaikan pesan yang lugas. Batuan berumur puluhan juta tahun tidak cukup untuk membuat sebuah tempat layak dikunjungi. Tanpa jalan yang bisa dilalui, tanpa keamanan, dan tanpa fasilitas dasar, nilai geologi yang tinggi tidak berpindah menjadi pengalaman yang baik bagi pengunjung.

Baru Tiga Titik yang Dikelola Warga
Ini temuan yang paling perlu diketahui calon pengunjung. Menurut studi tersebut, hanya Pantai Pasir Enam, Bukit Skyline, dan Kali Harapan yang sudah dikelola warga dengan bimbingan pemerintah daerah. Geosite lainnya beroperasi pada akhir pekan atau hari libur saja, dan belum memiliki fasilitas yang memadai.
Artinya, sebagian besar titik dalam daftar itu masih berupa potensi, bukan destinasi yang siap menerima tamu setiap hari. Datang pada Selasa siang ke sebuah bukit yang hanya dibuka pada Minggu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Peneliti menyarankan agar empat geosite unggulan dikembangkan lebih dahulu, lalu dikelola dalam satu kesatuan kawasan atau geoarea karena letaknya saling berdekatan. Sebagian besar titik berpotensi berada di wilayah Kota Jayapura, yang aksesnya relatif mudah dan cepat dijangkau.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Pastikan hari operasional sebelum berangkat. Di luar tiga titik yang sudah dikelola warga, banyak geosite hanya aktif pada akhir pekan atau hari libur. Menanyakan lebih dahulu ke pengelola atau warga sekitar menghemat setengah hari perjalanan.
- Bawa perbekalan sendiri. Studi ini menyatakan fasilitas di sebagian besar titik belum memadai. Air minum, bekal makan, dan kantong sampah pribadi sebaiknya tidak diandalkan tersedia di lokasi.
- Cycloops berstatus kawasan cagar alam. Perhitungan dalam studi bahkan menetapkan jarak minimum 100 meter dari batas cagar alam untuk atraksi wisata. Ikuti jalur resmi dan jangan membuka jalan sendiri.
- Rencanakan berdasarkan kelompok kecil. Dengan standar ruang 10 sampai 15 meter persegi per orang, titik-titik kecil cepat terasa penuh. Rombongan besar sebaiknya dipecah atau memilih waktu di luar puncak kunjungan.
- Empat titik unggulan bisa dirangkai dalam satu perjalanan. Karena letaknya berdekatan dan sebagian besar di wilayah Kota Jayapura, Pantai Pasir Enam, Bukit Skyline, Bukit Entrop, dan Bukit Waena masuk akal dikunjungi berurutan.
Kesimpulan
Angka 26 terdengar melimpah, angka empat terdengar mengecewakan. Namun justru selisih itu yang membuat studi ini berguna. Sebagian besar promosi wisata bekerja dengan cara menumpuk daftar sepanjang mungkin, lalu membiarkan pengunjung menemukan sendiri bahwa separuh isinya belum bisa didatangi. Penelitian ini melakukan hal sebaliknya, yaitu memangkas daftar sampai tersisa yang benar-benar sanggup menerima tamu hari ini.
Bagi Jayapura, empat titik yang siap bukan kabar buruk. Empat titik yang dikelola dengan benar, dengan batas jumlah pengunjung yang dihormati, jauh lebih berharga daripada 26 titik yang dibuka serentak lalu rusak dalam beberapa musim. Pegunungan Cycloops sudah berdiri di sana sejak puluhan juta tahun lalu. Tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Sumber: Arwam, H.H., Suwardi, Yulianda, F., & Kusmana, C. (2022). Determination of Attractiveness Index and Carrying Capacity of the Geosites for Sustainable Geotourism Development in the Cycloops Mountains of Papua, Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 42(2spl). DOI: 10.30892/gtg.422spl22-893
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya

Teluk Balikpapan: Bekantan, Pesut, dan Kunang-Kunang di Gerbang Air IKN Nusantara
Empat kali survei perahu, 19 titik pengamatan, dan satu malam bermalam di sungai. Riset ini memetakan tujuh daya tarik alam Teluk Balikpapan, dari bekantan sampai kunang-kunang, sekaligus menjawab pertanyaan praktis yang jarang dibahas: mana yang benar-benar mudah ditemui wisatawan.

Makanan Khas Semarang: 18 Tempat Legendaris Rekomendasi Warga Lokal dan Jam Bukanya
Kebanyakan daftar kuliner Semarang di internet saling menyalin. Panduan ini disusun dari rekomendasi warga Semarang sendiri, lalu setiap warungnya diverifikasi ulang alamat dan jam bukanya, dan diurutkan berdasarkan waktu makan supaya kamu tidak datang saat warungnya tutup.

Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya
Ada desa di Toraja yang justru menolak uang tiket masuk dari wisatawan. Ada juga kekhawatiran soal wisatawan berfoto dengan tengkorak di situs pemakaman. Riset ini membongkar sisi manajemen wisata Toraja yang jarang diketahui, langsung dari mulut warga dan pelaku industrinya sendiri.