Ekowisata Banyuwangi: 223 dari 344 Wisatawan Memilih Ijen, Meru Betiri 31

Endo Sadewa 1 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.3390/su15021440
Ekowisata Banyuwangi: 223 dari 344 Wisatawan Memilih Ijen, Meru Betiri 31

Peneliti menyaring 383 wisatawan menjadi 344 responden, lalu bertanya kawasan ekowisata Banyuwangi mana yang mereka pilih. Kawah Ijen dipilih 223 orang, Alas Purwo 90 orang, Meru Betiri hanya 31 orang. Ketimpangan itu punya jalan keluar yang direkomendasikan peneliti sendiri.

Banyuwangi punya tiga kawasan ekowisata besar yang letaknya berdekatan di ujung timur Pulau Jawa. Ketika 344 wisatawan ditanya kawasan mana yang mereka pilih, jawabannya tidak terbagi rata. Kawah Ijen dipilih 223 orang. Alas Purwo dipilih 90 orang. Meru Betiri dipilih 31 orang. Satu kawasan mengambil hampir dua pertiga perhatian, sementara satu kawasan lain nyaris tidak terlihat.

Angka itu datang dari penelitian yang terbit di jurnal Sustainability pada 2023. Peneliti mengumpulkan data dari Oktober 2020 sampai Januari 2021, dengan kuesioner disebar pada Desember 2020 sampai Januari 2021. Dari 383 orang yang mengisi, empat orang berusia di bawah 17 tahun setara 1,04 persen, dan 30 orang belum pernah mengunjungi ekowisata Banyuwangi dalam tiga tahun terakhir setara 7,83 persen. Sisanya, 344 orang atau 89,81 persen, lolos penyaringan.

Kawah Ijen dilihat dari atas dengan danau asam berwarna toska, asap belerang, dan penambang di dasar kawah
Kawah Ijen dilihat dari bibir kawah. Danau asam berwarna toska, asap belerang, dan penambang yang bekerja di dasar kawah. Foto: Oakenchips, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Kenapa Ijen Menang Telak

Peneliti menunjuk satu hal yang tidak dimiliki dua kawasan lain: fenomena blue fire. Dalam naskahnya, mereka menyebut ini sebagai fenomena yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Api biru yang muncul dari pembakaran gas belerang di dasar kawah memang hanya bisa disaksikan pada beberapa titik di dunia.

Namun ada faktor lain yang lebih menarik untuk dipahami calon pengunjung. Penelitian ini menguji rangkaian faktor psikologis yang membentuk niat berwisata ekologis. Enam hubungan terbukti positif dan signifikan, yaitu norma subjektif terhadap niat berperilaku ekowisata, citra destinasi terhadap niat berperilaku ekowisata, identitas diri sebagai pelaku ekowisata terhadap norma subjektif, nilai biosfer terhadap sikap lingkungan, perspektif waktu masa depan terhadap kepedulian lingkungan, dan citra destinasi terhadap kepedulian lingkungan.

Dua di antaranya berpangkal pada hal yang sama, yaitu citra destinasi. Sebuah tempat yang punya citra kuat tidak hanya menarik lebih banyak orang. Menurut temuan ini, citra destinasi juga meningkatkan kepedulian lingkungan pengunjungnya. Artinya, ketimpangan 223 berbanding 31 bukan sekadar soal jumlah tiket. Kawasan yang jarang dipilih juga kehilangan kesempatan menumbuhkan sikap peduli pada pengunjungnya.

Secara statistik, model yang dibangun peneliti menghasilkan rasio chi-kuadrat terhadap derajat bebas sebesar 2,544 dan RMSEA 0,069. Nilai TLI, CFI, dan IFI masing-masing 0,802, 0,816, dan 0,818.

Papan penunjuk Teluk Hijau atau Green Bay di Taman Nasional Meru Betiri dengan pantai berpasir putih dan hutan di belakangnya
Papan penunjuk Teluk Hijau atau Green Bay di Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi. Kawasan ini hanya dipilih 31 dari 344 responden penelitian. Foto: Juleebrarian, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Iklan

Siapa Sebenarnya Wisatawan Ekowisata Banyuwangi

Profil respondennya cukup mengejutkan bagi yang membayangkan ekowisata sebagai kegiatan kelompok mapan. Peneliti mencatat mayoritas wisatawan berada pada rentang usia 17 sampai 21 tahun dan masuk kategori pelajar atau mahasiswa.

Sebagian besar responden juga mengaku sebagai orang yang mencintai alam dan bersedia membuang sampah pada tempatnya. Ini penting karena peneliti memakainya sebagai dasar salah satu rekomendasi mereka, yaitu menyediakan tempat pembuangan sampah yang benar-benar terfasilitasi di setiap lokasi ekowisata. Kesediaan sudah ada, yang kurang adalah wadahnya.

Strategi yang Direkomendasikan: Menggandengkan yang Sepi dengan yang Ramai

Inilah bagian yang paling praktis. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, peneliti merekomendasikan pembuat kebijakan mengeluarkan surat edaran kepada pemangku kepentingan agen perjalanan agar menerapkan strategi bundling, yaitu menggabungkan lokasi ekowisata yang paling diminati dengan yang paling kurang diminati dalam satu paket.

Logikanya sederhana dan bekerja dua arah. Wisatawan yang datang untuk Ijen mendapat kesempatan melihat Alas Purwo atau Meru Betiri tanpa harus merencanakannya sendiri. Kawasan yang sepi mendapat aliran pengunjung tanpa harus membangun daya tarik baru dari nol. Sementara Ijen sendiri mendapat keuntungan lain, yaitu berkurangnya tekanan kunjungan yang menumpuk pada satu titik.

Rekomendasi kedua menyasar segmen. Peneliti menyarankan menjadikan Generasi Z, terutama pelajar dan mahasiswa, sebagai pasar sasaran utama, antara lain melalui promo khusus seperti potongan harga dengan menunjukkan kartu pelajar. Untuk Ijen sendiri, peneliti menyoroti perlunya pembenahan akses perjalanan dan sektor kuliner.

Seekor banteng jantan berdiri di padang savana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi
Banteng jawa di padang savana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Foto: Buyung Sukananda, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Perlu ditegaskan bahwa penelitian ini menanyakan pilihan responden, bukan menghitung jumlah kunjungan sebenarnya di lapangan. Keduanya bisa berbeda. Namun justru karena yang diukur adalah pilihan, temuannya berguna bagi calon pengunjung: angka itu memperlihatkan seberapa besar sebuah nama sudah tertanam di kepala orang sebelum mereka berangkat, dan seberapa besar peluang Anda bertemu keramaian ketika sampai di sana.

Iklan

Satu Catatan tentang Waktu Pengambilan Data

Penelitian ini mengumpulkan data pada Oktober 2020 sampai Januari 2021, tepat pada periode pembatasan akibat pandemi. Peneliti sendiri menyebut situasi itu membuat orang lebih memilih tinggal di rumah daripada mengunjungi destinasi wisata.

Konteks itu perlu diingat saat membaca angkanya. Susunan pilihan wisatawan bisa saja bergeser setelah pembatasan berakhir. Yang kecil kemungkinannya berubah adalah mekanismenya, yaitu bahwa citra destinasi menentukan niat berkunjung, dan bahwa kawasan yang jarang disebut akan terus jarang dipilih selama tidak ada yang menghubungkannya dengan kawasan yang sudah dikenal.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Pertimbangkan menggabungkan Ijen dengan satu kawasan lain. Ini rekomendasi peneliti sendiri. Alas Purwo dan Meru Betiri berada di kabupaten yang sama dan jauh lebih sepi, sehingga pengalamannya berbeda dari Ijen yang padat.
  • Meru Betiri adalah pilihan bagi yang menghindari keramaian. Hanya 31 dari 344 responden yang memilihnya. Kalau tujuan Anda adalah ketenangan, angka itu justru kabar baik.
  • Bawa kartu pelajar kalau masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Peneliti merekomendasikan skema potongan harga berbasis kartu pelajar. Kebijakannya bisa berbeda di tiap lokasi dan bisa berubah, jadi konfirmasi lebih dahulu ke pengelola.
  • Siapkan kantong sampah sendiri. Ketersediaan fasilitas pembuangan sampah termasuk hal yang disorot peneliti sebagai perlu ditingkatkan. Membawa wadah sendiri menutup celah itu.
  • Periksa aturan pendakian Ijen sebelum berangkat. Kawasan kawah aktif memiliki jam buka, batas jumlah pendaki, dan ketentuan keselamatan yang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti aktivitas vulkanik. Sumber resmi pengelola adalah rujukan yang tepat.

Kesimpulan

Angka 223 berbanding 90 berbanding 31 sebenarnya menggambarkan masalah yang lebih besar daripada Banyuwangi. Di banyak daerah, satu destinasi ikonis menyedot hampir seluruh perhatian sementara tetangganya yang sama menariknya nyaris tidak dikenal. Akibatnya berlapis, yaitu tekanan berlebih di satu titik dan kesempatan yang terbuang di titik lain.

Yang membuat penelitian ini berguna adalah jalan keluarnya tidak menuntut pembangunan besar. Menggandengkan yang sepi dengan yang ramai dalam satu paket perjalanan adalah keputusan administratif, bukan proyek konstruksi. Dan bagi wisatawan, keputusan yang sama bisa diambil sendiri tanpa menunggu siapa pun, cukup dengan menambahkan satu nama lagi ke dalam rencana perjalanan.

Sumber: Wardana, I.M.A., Sukaatmadja, I.P.G., Ekawati, N.W., Yasa, N.N.K., Astawa, I.P., & Setini, M. (2023). How Tourists Reacted to Ecotourism during COVID-19: Insights on Its Sustainability from a Multivariate Analysis Based on the Case of Banyuwangi. Sustainability, 15(2), 1440. DOI: 10.3390/su15021440

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya

Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar
Riset & Jurnal Ilmiah

Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar

Karcis masuk Tangkahan hanya Rp3.000. Sepanjang setahun, karcis itu mengumpulkan Rp71,8 juta. Padahal peneliti menghitung nilai ekonomi yang sebenarnya mengalir dari kawasan ini mencapai Rp72,7 miliar per tahun. Selisih seribu kali lipat itu punya penjelasan yang masuk akal.

10 menit· 31 Agustus 2026
Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap
Riset & Jurnal Ilmiah

Pegunungan Cycloops Jayapura: 26 Titik Geowisata, Hanya 4 yang Benar-benar Siap

Peneliti menyisir Pegunungan Cycloops di Jayapura dan mendata 26 lokasi yang layak disebut geosite. Sembilan dinilai menarik, sembilan lolos ukuran daya tampung, tetapi hanya empat titik yang lolos kedua ujian sekaligus. Ini daftarnya, lengkap dengan alasan kenapa sisanya belum siap.

9 menit· 30 Agustus 2026
Teluk Balikpapan: Bekantan, Pesut, dan Kunang-Kunang di Gerbang Air IKN Nusantara
Riset & Jurnal Ilmiah

Teluk Balikpapan: Bekantan, Pesut, dan Kunang-Kunang di Gerbang Air IKN Nusantara

Empat kali survei perahu, 19 titik pengamatan, dan satu malam bermalam di sungai. Riset ini memetakan tujuh daya tarik alam Teluk Balikpapan, dari bekantan sampai kunang-kunang, sekaligus menjawab pertanyaan praktis yang jarang dibahas: mana yang benar-benar mudah ditemui wisatawan.

10 menit· 29 Agustus 2026