Pantai Sukabumi: Nilai Kesesuaian 92 Persen, Nilai Arus 1 dari 3

Endo Sadewa 13 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.29244/medkon.31.1.44
Pantai Sukabumi: Nilai Kesesuaian 92 Persen, Nilai Arus 1 dari 3

Selama tiga bulan pada 2025, empat peneliti mengukur dua belas parameter fisik di Pantai Citepus, Karang Hawu, dan Cikaso. Dua pantai keluar dengan nilai 92 persen. Tetapi satu parameter di tabel yang sama bernilai 1 dari 3, dan parameter itulah yang paling menentukan keselamatan orang di air.

Pantai selatan Kabupaten Sukabumi adalah salah satu tujuan akhir pekan paling sibuk bagi warga Jakarta dan Bandung. Yang jarang ada adalah angkanya. Bukan angka kunjungan, melainkan angka yang menjawab pertanyaan sederhana: pantai ini sebenarnya cocok untuk apa, dan sanggup menampung berapa orang.

Pada Januari 2026, jurnal Media Konservasi terbitan IPB University memuat penelitian yang mengukur persis dua hal itu di Citepus, Karang Hawu, dan Cikaso. Bagian paling menarik dari hasilnya justru bukan nilai tertingginya.

Hamparan panjang Pantai Citepus dengan ombak pecah di garis pantai dan punggungan pegunungan di kejauhan
Pantai Citepus, Palabuhanratu. Naskah mencatat lebar pantai di sini 18 sampai 28 meter, dengan latar pemandangan berupa pantai, pegunungan, hutan, dan sungai sekaligus. Foto: Afrogindahood, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Tiga Pantai, Dua Belas Parameter, Tiga Bulan

Penelitiannya dikerjakan Shafira Bilqis Annida, Faqih Baihaqi, Riyanti Rahmawati, dan Yusfi Sri Wahyuningtias dari Universitas Padjadjaran. Pengambilan datanya berlangsung dari April sampai Juni 2025, rentang yang sengaja dipilih karena mencakup peralihan musim.

Di setiap pantai dipasang empat stasiun pengamatan sebagai ulangan, berjarak 0,7 sampai 1 kilometer. Sebagian parameter diamati langsung, seperti jenis pasir, substrat, vegetasi, dan jarak ke air tawar. Sebagian diukur dengan alat: arus dengan flowmeter, kedalaman dengan papan skala, gelombang dan kemiringan dengan papan skala dan theodolit, kejernihan dengan cakram Secchi.

Dua belas parameter itu lalu dimasukkan ke Indeks Kesesuaian Wisata untuk tiga kegiatan berbeda: rekreasi pantai, berenang, dan berkemah. Tiap kegiatan punya daftar parameter dan bobotnya sendiri.

Iklan

Angka yang Keluar dari Tabelnya

Nilai indeksnya dikelompokkan ke empat kelas: sangat sesuai pada 81 sampai 100 persen, cukup sesuai pada 63 sampai 81 persen, sesuai bersyarat pada 44 sampai 63 persen, dan tidak layak di bawah 44 persen. Hasilnya, dari Tabel 6 naskah:

  • Citepus: rekreasi pantai 92,0 persen, berenang 81,1 persen, berkemah 95,0 persen
  • Karang Hawu: rekreasi pantai 79,7 persen, berenang 64,0 persen, berkemah 61,7 persen
  • Cikaso: rekreasi pantai 92,0 persen, berenang 81,1 persen, berkemah 90,0 persen

Citepus dan Cikaso mendapat angka identik untuk rekreasi dan renang, dan itu bukan kekeliruan penyalinan. Dibaca baris per baris, Tabel 5 memberi kedua pantai kelas nilai yang sama pada seluruh parameter kedua kategori itu: pasir putih halus, lebar di atas 15 meter, substrat pasir, kedalaman di bawah 3 meter, kejernihan di atas 80 persen.

Karang Hawu berbeda. Naskah menyebutkan alasannya secara langsung: substratnya pasir berkarang, kemiringan pantainya lebih curam, rentang kedalamannya lebih besar, dan gelombangnya lebih tinggi.

Pengunjung berdiri di air dangkal Pantai Karang Hawu, dengan ombak pecah di garis pantai dan tanjung berhutan di kejauhan
Pantai Karang Hawu, Palabuhanratu. Di antara tiga pantai yang diteliti, di sinilah gelombang tertinggi tercatat, yaitu 0,7 sampai 1,8 meter, dan kemiringan pantainya 13 sampai 22 derajat, yang oleh naskah dimasukkan ke kategori curam. Foto: Hiroshi sanjuro, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Satu Baris di Abstrak yang Tidak Cocok dengan Tabelnya

Ini perlu disampaikan terbuka, karena pembaca yang membuka naskah aslinya akan menemukannya sendiri. Abstrak penelitian ini menulis bahwa Karang Hawu tergolong very suitable atau sangat sesuai untuk rekreasi pantai. Tabel 6 memberi Karang Hawu nilai 79,7 persen, sementara Tabel 4 di naskah yang sama menaruh batas bawah kelas sangat sesuai pada 81 persen. Dengan 79,7 persen, Karang Hawu jatuh di kelas cukup sesuai, bukan sangat sesuai.

Yang meleset adalah kalimat abstraknya, bukan pengukurannya. Bagian Hasil dan bagian Kesimpulan pada naskah yang sama menuliskannya dengan benar, yaitu suitable, sesuai tabelnya. Karena itu artikel ini memakai angka tabelnya. Selisih satu koma tiga persen tidak mengubah apa pun bagi orang yang berdiri di pantainya, tetapi kelas di abstrak itulah yang biasanya dikutip ulang tanpa membuka tabelnya.

Iklan

Parameter Paling Menentukan Keselamatan, Bobot Paling Ringan

Kecepatan arus yang terukur di lapangan: Citepus 48 sampai 50 sentimeter per detik, Karang Hawu 43 sampai 51, Cikaso 40 sampai 48. Naskah merangkumnya sebagai 40 sampai 51 sentimeter per detik di ketiga pantai.

Sekarang matriks penilaiannya. Pada kategori rekreasi pantai, arus 0 sampai 17 sentimeter per detik bernilai 3, lalu 17 sampai 34 bernilai 2, lalu 34 sampai 51 bernilai 1, dan di atas 51 bernilai 0. Artinya ketiga pantai ini, tanpa kecuali, mendapat nilai 1 dari 3 pada parameter arus. Kelas kedua dari bawah.

Lalu kenapa nilai akhirnya tetap 92 persen? Karena bobotnya. Dalam matriks rekreasi pantai, kecepatan arus diberi bobot 0,080. Sementara itu jenis pasir diberi bobot 0,200 dan lebar pantai juga 0,200. Tipe substrat 0,170. Kedalaman dan kejernihan air masing-masing 0,125.

Jadi warna pasir dan lebar pantai bersama-sama menyumbang 40 persen nilai akhir, sedangkan kecepatan arus menyumbang 8 persen. Sebuah pantai bisa berpasir putih, lebar, jernih, dan landai, lalu keluar dengan predikat sangat sesuai, meskipun arusnya berada satu tingkat di atas kelas terburuk.

Ini bukan kesalahan penulisnya. Mereka memakai instrumen baku yang lazim dipakai di Indonesia, dan melaporkan angka arusnya apa adanya di dalam tabel. Yang perlu disadari pembaca adalah bahwa predikat "sangat sesuai" pada indeks ini bukan pernyataan bahwa airnya aman.

Rip Current dan Permintaan Penjaga Pantai

Penulisnya tampaknya menyadari itu, karena bagian pembahasan memberi ruang khusus untuk keselamatan. Naskah menyebutkan bahwa perairan pantai selatan Jawa, termasuk pesisir Sukabumi, memang dikenal memiliki kecepatan arus rata-rata yang relatif tinggi. Lebih spesifik lagi, naskah mengutip penelitian lain bahwa pantai di pesisir Sukabumi seperti Karang Hawu mengalami fenomena alam yang disebut rip current, yaitu arus yang bergerak menjauhi pantai menuju laut pada titik tertentu tempat dua arus bertemu.

Kalimat penutup bagian itu ditulis lugas: keberadaan penjaga pantai adalah langkah praktis yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan menghindari bahaya yang tidak diinginkan.

Gelombang juga dicatat. Karang Hawu tertinggi di antara ketiganya, 0,7 sampai 1,8 meter, disusul Citepus 0,6 sampai 1,2 meter dan Cikaso 0,4 sampai 1,1 meter. Dugaan penulis, gelombang Karang Hawu lebih tinggi karena kontur dasar pantainya curam dan tidak rata serta adanya batu dan karang.

Satu kabar yang melegakan: ketiga pantai tidak dihuni biota berbahaya seperti bulu babi, pari, ular laut, atau ubur-ubur penyengat.

Hamparan pasir Pantai Palabuhanratu yang lapang dengan barisan pegunungan mengelilingi teluk di kejauhan
Hamparan pasir Palabuhanratu dengan pegunungan mengelilingi teluknya. Naskah menyebut pesisir selatan Sukabumi unik karena berada di antara wilayah pegunungan dan pesisir, sehingga air tawar mudah dijangkau di dekat setiap pantai. Catatan: foto ini diambil di Palabuhanratu secara umum, bukan di salah satu dari tiga pantai yang diukur. Foto: Apri DAV, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Kunjungan Harian Sudah Menempel di Batasnya

Bagian kedua penelitian ini menghitung daya dukung ekologis, yaitu berapa orang per hari yang bisa ditampung tanpa merusak lingkungannya. Asumsinya disebutkan terbuka: satu wisatawan per 25 meter garis pantai untuk rekreasi dan berenang, empat wisatawan per 400 meter persegi untuk berkemah, dengan waktu operasional delapan jam sehari untuk rekreasi dan berenang serta 24 jam untuk berkemah.

Hasilnya, per hari:

  • Citepus, garis pantai 4,72 kilometer: 503 orang untuk rekreasi, 378 untuk berenang, 1.558 untuk berkemah
  • Karang Hawu, garis pantai 3,79 kilometer: 403 orang untuk rekreasi, 302 untuk berenang, 1.171 untuk berkemah
  • Cikaso, garis pantai 2,52 kilometer: 269 orang untuk rekreasi, 201 untuk berenang, 957 untuk berkemah

Sekarang bandingkan dengan kenyataannya. Naskah mengutip catatan Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi bahwa kunjungan harian di Citepus dan Karang Hawu berkisar 300 sampai 400 orang per hari, sementara Cikaso umumnya menerima 100 sampai 250 orang per hari.

Pembanding yang paling tepat adalah kategori rekreasi pantai, kegiatan yang paling umum dilakukan pengunjung harian. Letakkan berdampingan:

  • Citepus: sampai 400 orang, batasnya 503
  • Karang Hawu: sampai 400 orang, batasnya 403
  • Cikaso: sampai 250 orang, batasnya 269

Naskah menyimpulkan kunjungan masih berada di dalam daya dukung lingkungannya. Secara harfiah itu benar. Tetapi pada hari ramai, sisa ruang di Karang Hawu tinggal tiga orang dan di Cikaso sembilan belas, dan itu belum hari libur panjang. Naskahnya sendiri mengingatkan bahwa perhatian pada jumlah pengunjung menjadi penting terutama pada musim puncak liburan, karena periode itulah yang menunjukkan lonjakan.

Cikaso yang paling sepi jumlahnya bukan berarti paling longgar. Garis pantainya juga paling pendek, sehingga batasnya ikut mengecil.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Kalau tujuannya berenang, angka tertingginya pun cuma 81,1 persen. Citepus dan Cikaso ada di ambang bawah kelas sangat sesuai untuk berenang, bukan di tengahnya. Karang Hawu bahkan 64,0 persen. Ini pantai selatan Jawa, bukan perairan teluk yang tenang.

Karang Hawu paling baik dinikmati dari darat. Nilai rekreasi pantainya 79,7 persen, tertinggi di antara tiga kategorinya sendiri, sementara berkemah hanya 61,7 persen. Karang dan batunya adalah daya tariknya, dan itu pula yang membuat dasar lautnya tidak rata serta gelombangnya paling tinggi.

Tanyakan penjaga pantai sebelum masuk air. Ini bukan saran umum. Penelitian ini secara khusus menyebut rip current di pesisir Sukabumi dan secara khusus meminta keberadaan penjaga pantai. Rip current tidak menarik orang ke bawah, melainkan menjauh dari pantai, dan cara keluarnya adalah berenang menyamping sejajar garis pantai, bukan melawannya.

Untuk berkemah, Citepus paling unggul. Nilainya 95,0 persen, tertinggi dari seluruh angka dalam tabel itu, dengan daya dukung 1.558 orang.

Datang di luar puncak liburan. Bukan demi kenyamanan saja, tetapi karena pada hari ramai ketiganya sudah dekat sekali dengan batas yang dihitung penelitiannya sendiri.

Kesimpulan

Yang membuat penelitian ini berharga bukan predikatnya, melainkan tabelnya. Predikat "sangat sesuai" adalah rangkuman berbobot dari dua belas hal, dan pembobotan itu lebih menghargai kenyamanan daripada keselamatan.

Baca tabelnya, dan gambarnya melengkap. Tiga pantai berpasir bagus, lebar, jernih, dengan pegunungan di belakangnya dan tanpa biota berbahaya, tetapi dengan arus 40 sampai 51 sentimeter per detik dan gelombang yang di satu titik mencapai 1,8 meter. Keduanya benar sekaligus.

Pantai-pantai ini layak didatangi, dan angkanya mendukung itu. Yang tidak boleh hilang adalah baris arusnya, karena baris itulah yang paling jarang ikut terbawa ketika sebuah predikat dikutip ulang.

Sumber: Annida, S.B., Baihaqi, F., Rahmawati, R., & Wahyuningtias, Y.S. (2026). Tourism Suitability Index and Ecological Carrying Capacity in the Citepus, Karang Hawu, and Cikaso Beaches, Sukabumi Regency, Indonesia. Media Konservasi, 31(1), 44-54. DOI: 10.29244/medkon.31.1.44

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya