Bromo Tengger Semeru: Kunjungan Naik Dua Kali Lipat, Dikelola Empat Kabupaten
Kunjungan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melonjak dari 137 ribu pada 2021 menjadi 318 ribu pada 2022. Penerimaan negara bukan pajak ikut naik Rp11,65 miliar. Masalahnya, kawasan itu membentang di empat kabupaten dengan otoritas yang berbeda-beda.
Dalam satu tahun, jumlah kunjungan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru naik lebih dari dua kali lipat. Balai Besar taman nasional mencatat 318 ribu kunjungan wisatawan pada 2022, jauh di atas 137 ribu pada tahun sebelumnya. Penerimaan negara bukan pajak dari kawasan itu naik sebesar Rp11,65 miliar.
Angka yang menggembirakan bagi siapa pun yang mengurus pariwisata. Namun bagi sekelompok peneliti dari Universitas Brawijaya, angka itu justru memunculkan pertanyaan yang lebih sulit, yaitu apakah kawasan ini siap menerimanya. Hasil kajian mereka terbit di Journal of Indonesian Tourism and Development Studies pada 2024, dan berpusat pada enam desa di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Satu Kawasan, Empat Kabupaten
Inilah persoalan struktural yang jarang dibahas dalam artikel perjalanan. Peneliti mencatat secara geografis TNBTS membentang di empat kabupaten, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang, sehingga tanggung jawab pengelolaannya berada di bawah beberapa otoritas daerah sekaligus.
Konsekuensinya nyata bagi pengunjung. Aturan, jalur masuk, tarif kendaraan, dan pengelolaan pemandu bisa berbeda tergantung dari sisi mana seseorang mendekat. Wisatawan yang naik dari Pasuruan berhadapan dengan pengaturan yang tidak selalu sama dengan yang naik dari Probolinggo atau Malang. Peneliti memasukkan tantangan koordinasi antarempat kabupaten ini sebagai salah satu persoalan utama yang perlu dijawab.
Ketika kunjungan naik 132 persen dalam setahun, koordinasi yang belum rapi berubah dari kerepotan administratif menjadi risiko nyata terhadap kawasan.
Iklan
Enam Desa yang Diteliti
Kajian ini memusatkan perhatian pada enam desa di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, yaitu Podokoyo, Wonokitri, Ngadiwono, Tosari, Sedaeng, dan Mororejo. Desa-desa inilah yang berada paling dekat dengan kawasan taman nasional di sisi Pasuruan, dan yang penduduknya paling langsung terkena dampak naik turunnya jumlah pengunjung.
Pemilihan ini penting. Sebagian besar pembahasan tentang Bromo berhenti pada kalderanya. Padahal orang yang tinggal, bertani, dan bekerja di sekitar kawasan itu adalah pihak yang menanggung akibat paling lama dari keputusan pengelolaan.
Tiga Hal yang Diukur Peneliti
Untuk menyusun model wisata hijau, peneliti memakai metode campuran dengan analisis SWOT dan melibatkan panel enam ahli. Panel itu terdiri atas pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pengelola TNBTS, dua akademisi yang menekuni pariwisata berkelanjutan, serta satu perwakilan organisasi masyarakat setempat.
Tiga variabel utama yang mereka identifikasi:
- Persepsi wisata hijau, yaitu sejauh mana wisatawan sadar akan praktik ramah lingkungan.
- Kepedulian lingkungan, mencakup sikap terhadap konservasi sumber daya.
- Perilaku wisata bertanggung jawab, yaitu tindakan nyata yang mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Ketiganya berurutan dan itulah intinya. Kesadaran saja tidak cukup, sikap saja juga tidak cukup. Yang menentukan kondisi kaldera pada pagi berikutnya adalah tindakan, misalnya apakah sampah dibawa turun atau ditinggalkan, apakah kendaraan berhenti pada jalur yang ditentukan, dan apakah pengunjung menghormati kegiatan adat masyarakat Tengger yang sedang berlangsung.
Iklan
Kerangka yang Dipakai dan Apa Isinya
Peneliti bersandar pada kerangka wisata hijau yang dikembangkan Dodds dan Joppe, yang memuat empat unsur. Pertama, tanggung jawab lingkungan. Kedua, penguatan ekonomi lokal. Ketiga, penghormatan terhadap keragaman budaya. Keempat, pengayaan pengalaman pengunjung.
Unsur kedua dan ketiga yang paling relevan untuk kasus Tosari. Masyarakat Tengger memiliki tradisi yang masih hidup dan terikat pada kawasan ini. Peneliti mencatat kurangnya komitmen dalam menjaga budaya lokal sebagai salah satu persoalan yang teridentifikasi, bersama dampak wisata massal yang mereka rinci sebagai perubahan iklim, erosi sosial budaya, dan kerusakan ekosistem.
Persoalan lain yang mereka catat lebih membumi, yaitu kurangnya informasi yang tersedia bagi pengunjung, serta belum terukurnya dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar. Dua hal itu saling terkait. Selama tidak ada yang mengukur berapa bagian yang benar-benar sampai ke desa, sulit membuktikan bahwa kenaikan kunjungan menguntungkan siapa pun selain penyelenggara perjalanan.
Konteks Nasional
Peneliti menempatkan temuannya dalam gambaran yang lebih besar. Mereka mengutip data bahwa kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto Indonesia terus naik sepanjang 2013 sampai 2019 dan mencapai 4,8 persen pada 2019. Perlu ditegaskan bahwa angka ini berlaku untuk pariwisata Indonesia secara keseluruhan, bukan untuk Bromo saja.
Konteks itu menjelaskan tekanannya. Ketika sebuah sektor menyumbang porsi sebesar itu, dorongan untuk menaikkan jumlah kunjungan menjadi sangat kuat, dan pertanyaan tentang daya tampung cenderung ditunda.
Yang Direkomendasikan Peneliti
Rekomendasinya menyasar tiga pihak sekaligus. Untuk pelaku usaha, peneliti mengusulkan program insentif bagi praktik usaha yang ramah lingkungan, sehingga pilihan yang benar juga menjadi pilihan yang menguntungkan. Untuk masyarakat, mereka menyarankan pelatihan bagi pemangku kepentingan lokal tentang pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Untuk pemerintah, mereka meminta penguatan regulasi yang melindungi tradisi sosial budaya khas kawasan.
Di atas ketiganya, peneliti menekankan kolaborasi multipihak dan praktik yang dipimpin masyarakat. Frasa terakhir itu bukan basa-basi. Dalam kawasan yang dibagi empat kabupaten, masyarakat desa adalah satu-satunya pihak yang hadir setiap hari di tempat yang sama, terlepas dari batas administrasi mana pun.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Ketahui dari kabupaten mana Anda naik. Kawasan ini dikelola empat kabupaten, dan aturan di tiap pintu masuk bisa berbeda. Memastikan jalur dan ketentuan sisi Pasuruan, Probolinggo, Malang, atau Lumajang sebelum berangkat menghindarkan kejutan di gerbang.
- Bawa turun seluruh sampah Anda. Kerusakan ekosistem akibat wisata massal disebut peneliti sebagai salah satu dampak yang teridentifikasi. Kaldera berpasir tidak menyembunyikan apa pun.
- Perlakukan kegiatan adat sebagai kegiatan, bukan pertunjukan. Erosi sosial budaya termasuk persoalan yang dicatat penelitian ini. Meminta izin sebelum memotret orang adalah standar minimum.
- Belanja dan menginap di desa sekitar. Peneliti mencatat dampak ekonomi positif bagi masyarakat belum terukur. Enam desa yang diteliti, yaitu Podokoyo, Wonokitri, Ngadiwono, Tosari, Sedaeng, dan Mororejo, adalah tempat pengeluaran Anda paling langsung terasa.
- Siapkan informasi sendiri. Kurangnya informasi bagi pengunjung disebut sebagai salah satu kesenjangan. Mengunduh peta, jadwal, dan aturan terbaru dari sumber resmi taman nasional sebelum berangkat adalah langkah yang murah dan menghemat waktu.
- Pertimbangkan datang di luar puncak kunjungan. Dengan kenaikan sebesar itu dalam satu tahun, hari libur panjang di kawasan ini berarti antrean panjang dan lautan awan yang dilihat bersama ribuan orang lain.
Kesimpulan
Kenaikan dari 137 ribu ke 318 ribu kunjungan dalam setahun adalah keberhasilan menurut ukuran mana pun yang biasa dipakai. Yang membuat penelitian ini berguna adalah ia menolak berhenti di situ, dan bertanya apa yang terjadi pada kawasan serta orang-orangnya ketika angka itu naik lagi tahun depan.
Jawaban yang mereka tawarkan tidak spektakuler, yaitu insentif, pelatihan, regulasi budaya, dan koordinasi. Tidak ada satu pun yang bisa difoto. Namun di kawasan yang dibagi empat kabupaten dan dikunjungi ratusan ribu orang setiap tahun, hal-hal yang tidak bisa difoto itulah yang menentukan apakah lautan awan di atas Tengger masih akan terlihat sama sepuluh tahun lagi.
Sumber: Wahyudi, S.T., Badriyah, N., Sari, K., Sofie, R., & Radeetha (2024). Green-Tourism-Based Tourism Development Model In Bromo Tengger Semeru National Park (TNBTS) in Tosari District, Pasuruan Regency, East Java. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 12(1), 22-27. DOI: 10.21776/ub.jitode.2024.012.01.03
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya
Pantai Sukabumi: Nilai Kesesuaian 92 Persen, Nilai Arus 1 dari 3
Selama tiga bulan pada 2025, empat peneliti mengukur dua belas parameter fisik di Pantai Citepus, Karang Hawu, dan Cikaso. Dua pantai keluar dengan nilai 92 persen. Tetapi satu parameter di tabel yang sama bernilai 1 dari 3, dan parameter itulah yang paling menentukan keselamatan orang di air.
Desa Batik Kliwonan Sragen: Kainnya Beredar dengan Merek Kota Lain
Klaster batik terbesar di luar Solo dan Yogyakarta ada di Sragen, dan produksinya nomor dua di Jawa Tengah setelah Pekalongan. Masalahnya, selama bertahun-tahun kain itu beredar dengan merek kota lain. Sekarang mereka mencoba menjual pengalamannya sendiri.
Sulawesi Utara Punya Bunaken, Kenapa Wisatawan Asingnya Hanya 152.340
Pada 2023, Sulawesi Utara menerima 152.340 wisatawan mancanegara. Bali menerima 4,2 juta. Peneliti Universitas Negeri Manado menelusuri sebabnya dan menemukan persoalannya bukan pada terumbu karang, melainkan pada enam penerbangan seminggu dan situs web yang berhenti diperbarui.
