Desa Batik Kliwonan Sragen: Kainnya Beredar dengan Merek Kota Lain

Endo Sadewa 11 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.29244/jp2wd.2018.2.1.74-89
Desa Batik Kliwonan Sragen: Kainnya Beredar dengan Merek Kota Lain

Klaster batik terbesar di luar Solo dan Yogyakarta ada di Sragen, dan produksinya nomor dua di Jawa Tengah setelah Pekalongan. Masalahnya, selama bertahun-tahun kain itu beredar dengan merek kota lain. Sekarang mereka mencoba menjual pengalamannya sendiri.

Kalau Anda pernah membeli batik bermerek terkenal dari Solo atau Yogyakarta, ada kemungkinan kain itu ditenun dan dibatik di Sragen. Ini bukan dugaan. Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Regional and Rural Development Planning pada 2018 mencatatnya secara terbuka.

Mayoritas pengrajin batik di Kabupaten Sragen dahulunya hanya membuat bahan batik dalam bentuk lembaran kain. Setelah kain itu menjadi pakaian siap pakai dan beredar di pasaran, batiknya sudah menyandang berbagai merek batik ternama dari kota lain. Karena itulah, meski Sragen adalah salah satu daerah penghasil batik di Jawa Tengah, namanya kalah terdengar dibanding Surakarta, Yogyakarta, dan Pekalongan.

Seorang perajin perempuan menorehkan malam panas dengan canting pada kain batik di sebuah bengkel kerja
Perajin menorehkan malam panas dengan canting pada proses batik tulis. Catatan: foto ini diambil di Trusmi, Cirebon, bukan di Sragen, dan ditampilkan untuk menggambarkan proses yang dibahas. Foto: Ahaetulla, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Angka yang Jarang Diketahui Orang

Skala industrinya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan namanya. Klaster Batik Sragen, yang juga dikenal sebagai Klaster Batik Kliwonan, tercatat sebagai klaster batik terbesar di luar Klaster Batik Solo dan Yogyakarta. Kuantitas produksinya menempati urutan kedua terbanyak di Jawa Tengah setelah Pekalongan.

Data yang dikutip peneliti dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sragen tahun 2016 mencatat industri batik di klaster ini mencapai 82 unit dengan kapasitas produksi Rp12,7 miliar per tahun dan menyerap 1.447 tenaga kerja.

Produk yang dihasilkan mencakup batik cap, batik tulis, batik cetak atau printing, serta cabut batik yang merupakan kombinasi batik tulis dan printing. Desa Kliwonan sendiri disebut sebagai pelopor berdirinya industri batik di Kabupaten Sragen, sehingga namanya kemudian menjadi penanda bagi batik produksi kabupaten ini.

Iklan

Membaca Tabel Skornya sampai Muncul Polanya

Peneliti menilai kesiapan Desa Kliwonan sebagai desa wisata batik dengan sistem skoring berskala 1 sampai 4 pada enam elemen. Hasilnya, kalau diurutkan, memperlihatkan pola yang sangat jelas:

  • Promosi: 3,1. Cukup mendukung.
  • Daya tarik wisata: 2,75. Cukup mendukung. Rinciannya lanskap 2,6 dan atraksi atau aktivitas wisata 2,9.
  • Kelembagaan: 2,4. Kurang mendukung. Rinciannya organisasi pengelola 1,8 dan keramahan 3.
  • Amenity: 2,1. Kurang mendukung.
  • Aksesibilitas: 1,75. Sangat tidak mendukung. Rinciannya jaringan jalan 2,5 dan moda transportasi umum 1.
  • Informasi: 1. Sangat tidak mendukung, dengan pusat informasi wisata bernilai 1.

Yang paling menjelaskan justru rincian di dalam elemen amenity. Di sana, tempat belanja mendapat 3,5 dan papan penunjuk arah 3,5. Sementara akomodasi mendapat 1, rumah makan 1,1, dan tempat parkir 1,5.

Polanya terbaca sendiri. Semua yang sudah ada karena memang dibutuhkan sebuah usaha dagang, yaitu tempat belanja, papan penunjuk, dan keramahan orang, bernilai tinggi. Semua yang hanya dibutuhkan kalau ada tamu yang menginap, yaitu penginapan, rumah makan, transportasi umum, dan pusat informasi, berada di nilai paling bawah.

Dua alat cap batik dari tembaga dengan motif berbeda diletakkan di atas meja kayu
Alat cap tembaga untuk membuat batik cap, salah satu jenis produk yang juga dihasilkan Klaster Batik Sragen. Catatan: foto ini diambil di Yogyakarta, bukan di Sragen. Foto: 22Kartika, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Delapan Kilometer dari Pintu Tol, tetapi Tanpa Angkutan Umum

Bagian aksesibilitas layak dicermati karena tampak bertentangan dengan letaknya. Desa Kliwonan berada di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dan hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari pintu keluar tol Solo hingga Kertosono. Secara geografis, ini letak yang sangat menguntungkan.

Namun jaringan jalan hanya mendapat skor 2,5 dan moda transportasi umum mendapat skor 1, nilai terendah pada skala tersebut. Artinya, tempat ini mudah dicapai oleh orang yang membawa kendaraan sendiri, dan hampir mustahil dicapai oleh yang tidak.

Bagi pengunjung yang datang naik kereta ke Solo lalu berharap melanjutkan dengan angkutan umum, ini informasi yang menentukan seluruh rencana perjalanan.

Iklan

Sebagian Besar Calon Pengunjung Belum Pernah Mendengar Namanya

Penelitian ini melibatkan 130 responden, terdiri atas 30 wisatawan aktual yang benar-benar sudah berkunjung dan 100 wisatawan potensial, ditambah 10 informan untuk menilai aspek sediaan.

Dari kelompok wisatawan potensial, mayoritas atau 77 persen berasal dari Kabupaten Sragen sendiri. Dan di antara mereka, banyak yang menyatakan tidak mengetahui Desa Kliwonan.

Ini temuan yang cukup keras. Sebuah klaster batik terbesar kedua di provinsinya belum dikenal secara luas bahkan di kabupatennya sendiri. Skor promosi 3,1 yang tampak paling bagus di antara enam elemen ternyata mengukur kemudahan mendapatkan informasi bagi orang yang sudah tahu harus mencari apa, bukan seberapa banyak orang yang tahu tempat itu ada.

Tangan memegang canting berisi malam cair sambil menorehkan motif pada kain putih
Canting, alat utama batik tulis, menorehkan malam cair pada lembaran kain putih. Inilah bentuk produk yang selama bertahun-tahun keluar dari Sragen sebelum dijahit dan diberi merek di tempat lain. Catatan: lokasi pemotretan tidak disebutkan pengunggahnya dan bukan dipastikan Sragen. Foto: Ivuvisual, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Showroom yang Menjadi Embrio

Peneliti menutup dengan pengamatan yang justru optimistis. Desa Kliwonan disebut sedang berada dalam masa peralihan, dari desa yang memproduksi batik menuju desa wisata batik.

Yang menjadi penanda peralihan itu adalah showroom batik milik para perajin. Ruang itu tidak lagi berfungsi sebagai toko semata, melainkan juga sebagai bengkel kerja dan tempat pelatihan atau edukasi membatik bagi wisatawan umum maupun pelajar. Peneliti menyebut aktivitas inilah yang menjadi embrio pengembangan Desa Kliwonan menjadi desa wisata batik.

Perbedaannya halus tetapi menentukan. Sebuah toko menjual kain. Sebuah bengkel kerja menjual satu jam hidup Anda di depan canting, dan itulah yang membuat orang bercerita setelah pulang.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Bawa kendaraan sendiri atau sewa. Skor moda transportasi umum adalah 1, terendah pada skala penilaian. Letaknya sekitar 8 kilometer dari pintu keluar tol, jadi berkendara sendiri adalah cara yang masuk akal.
  • Datang untuk membatik, bukan hanya membeli. Showroom di sana berfungsi sekaligus sebagai bengkel kerja dan tempat pelatihan membatik. Menanyakan kelas membatik sebelum datang mengubah kunjungan belanja menjadi kunjungan yang layak diingat.
  • Rencanakan sebagai kunjungan setengah hari, bukan menginap. Skor akomodasi 1 dan rumah makan 1,1 menegaskan bahwa fasilitas menginap dan makan di desa ini sangat terbatas. Solo dan sekitarnya menyediakan keduanya.
  • Bawa bekal atau makan sebelum berangkat. Ini konsekuensi langsung dari skor rumah makan yang tercatat 1,1.
  • Hubungi perajin lebih dahulu. Tidak ada pusat informasi wisata di desa ini, nilainya 1 dalam penilaian. Kontak langsung ke perajin atau kelompok usaha adalah jalur yang tersedia.
  • Tanyakan jenis batiknya. Klaster ini memproduksi batik cap, batik tulis, batik printing, dan cabut batik. Mengetahui bedanya membuat harga yang Anda bayar jauh lebih masuk akal.

Kesimpulan

Ada satu hal yang menarik dari cara Sragen selama ini bekerja. Sebuah daerah yang memproduksi kain untuk merek orang lain sudah menguasai bagian tersulit dari pekerjaan itu, yaitu keterampilannya. Yang tidak dimilikinya adalah namanya sendiri.

Membangun nama justru lebih murah daripada membangun keterampilan. Tabel skor dalam penelitian ini menunjukkan apa saja yang masih kurang, dan hampir semuanya berupa hal yang bisa dibangun, yaitu penginapan, rumah makan, angkutan, dan pusat informasi. Tidak satu pun menyangkut kemampuan membatik, karena bagian itu memang tidak pernah menjadi masalah di sana selama puluhan tahun.

Sumber: Tyas, N.W., & Damayanti, M. (2018). Potensi Pengembangan Desa Kliwonan sebagai Desa Wisata Batik di Kabupaten Sragen. Journal of Regional and Rural Development Planning, 2(1), 74-89. DOI: 10.29244/jp2wd.2018.2.1.74-89

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya