Desa Batik Kliwonan Sragen: Kainnya Beredar dengan Merek Kota Lain
Klaster batik terbesar di luar Solo dan Yogyakarta ada di Sragen, dan produksinya nomor dua di Jawa Tengah setelah Pekalongan. Masalahnya, selama bertahun-tahun kain itu beredar dengan merek kota lain. Sekarang mereka mencoba menjual pengalamannya sendiri.
Kalau Anda pernah membeli batik bermerek terkenal dari Solo atau Yogyakarta, ada kemungkinan kain itu ditenun dan dibatik di Sragen. Ini bukan dugaan. Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Regional and Rural Development Planning pada 2018 mencatatnya secara terbuka.
Mayoritas pengrajin batik di Kabupaten Sragen dahulunya hanya membuat bahan batik dalam bentuk lembaran kain. Setelah kain itu menjadi pakaian siap pakai dan beredar di pasaran, batiknya sudah menyandang berbagai merek batik ternama dari kota lain. Karena itulah, meski Sragen adalah salah satu daerah penghasil batik di Jawa Tengah, namanya kalah terdengar dibanding Surakarta, Yogyakarta, dan Pekalongan.
Angka yang Jarang Diketahui Orang
Skala industrinya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan namanya. Klaster Batik Sragen, yang juga dikenal sebagai Klaster Batik Kliwonan, tercatat sebagai klaster batik terbesar di luar Klaster Batik Solo dan Yogyakarta. Kuantitas produksinya menempati urutan kedua terbanyak di Jawa Tengah setelah Pekalongan.
Data yang dikutip peneliti dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sragen tahun 2016 mencatat industri batik di klaster ini mencapai 82 unit dengan kapasitas produksi Rp12,7 miliar per tahun dan menyerap 1.447 tenaga kerja.
Produk yang dihasilkan mencakup batik cap, batik tulis, batik cetak atau printing, serta cabut batik yang merupakan kombinasi batik tulis dan printing. Desa Kliwonan sendiri disebut sebagai pelopor berdirinya industri batik di Kabupaten Sragen, sehingga namanya kemudian menjadi penanda bagi batik produksi kabupaten ini.
Iklan
Membaca Tabel Skornya sampai Muncul Polanya
Peneliti menilai kesiapan Desa Kliwonan sebagai desa wisata batik dengan sistem skoring berskala 1 sampai 4 pada enam elemen. Hasilnya, kalau diurutkan, memperlihatkan pola yang sangat jelas:
- Promosi: 3,1. Cukup mendukung.
- Daya tarik wisata: 2,75. Cukup mendukung. Rinciannya lanskap 2,6 dan atraksi atau aktivitas wisata 2,9.
- Kelembagaan: 2,4. Kurang mendukung. Rinciannya organisasi pengelola 1,8 dan keramahan 3.
- Amenity: 2,1. Kurang mendukung.
- Aksesibilitas: 1,75. Sangat tidak mendukung. Rinciannya jaringan jalan 2,5 dan moda transportasi umum 1.
- Informasi: 1. Sangat tidak mendukung, dengan pusat informasi wisata bernilai 1.
Yang paling menjelaskan justru rincian di dalam elemen amenity. Di sana, tempat belanja mendapat 3,5 dan papan penunjuk arah 3,5. Sementara akomodasi mendapat 1, rumah makan 1,1, dan tempat parkir 1,5.
Polanya terbaca sendiri. Semua yang sudah ada karena memang dibutuhkan sebuah usaha dagang, yaitu tempat belanja, papan penunjuk, dan keramahan orang, bernilai tinggi. Semua yang hanya dibutuhkan kalau ada tamu yang menginap, yaitu penginapan, rumah makan, transportasi umum, dan pusat informasi, berada di nilai paling bawah.
Delapan Kilometer dari Pintu Tol, tetapi Tanpa Angkutan Umum
Bagian aksesibilitas layak dicermati karena tampak bertentangan dengan letaknya. Desa Kliwonan berada di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dan hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari pintu keluar tol Solo hingga Kertosono. Secara geografis, ini letak yang sangat menguntungkan.
Namun jaringan jalan hanya mendapat skor 2,5 dan moda transportasi umum mendapat skor 1, nilai terendah pada skala tersebut. Artinya, tempat ini mudah dicapai oleh orang yang membawa kendaraan sendiri, dan hampir mustahil dicapai oleh yang tidak.
Bagi pengunjung yang datang naik kereta ke Solo lalu berharap melanjutkan dengan angkutan umum, ini informasi yang menentukan seluruh rencana perjalanan.
Iklan
Sebagian Besar Calon Pengunjung Belum Pernah Mendengar Namanya
Penelitian ini melibatkan 130 responden, terdiri atas 30 wisatawan aktual yang benar-benar sudah berkunjung dan 100 wisatawan potensial, ditambah 10 informan untuk menilai aspek sediaan.
Dari kelompok wisatawan potensial, mayoritas atau 77 persen berasal dari Kabupaten Sragen sendiri. Dan di antara mereka, banyak yang menyatakan tidak mengetahui Desa Kliwonan.
Ini temuan yang cukup keras. Sebuah klaster batik terbesar kedua di provinsinya belum dikenal secara luas bahkan di kabupatennya sendiri. Skor promosi 3,1 yang tampak paling bagus di antara enam elemen ternyata mengukur kemudahan mendapatkan informasi bagi orang yang sudah tahu harus mencari apa, bukan seberapa banyak orang yang tahu tempat itu ada.
Showroom yang Menjadi Embrio
Peneliti menutup dengan pengamatan yang justru optimistis. Desa Kliwonan disebut sedang berada dalam masa peralihan, dari desa yang memproduksi batik menuju desa wisata batik.
Yang menjadi penanda peralihan itu adalah showroom batik milik para perajin. Ruang itu tidak lagi berfungsi sebagai toko semata, melainkan juga sebagai bengkel kerja dan tempat pelatihan atau edukasi membatik bagi wisatawan umum maupun pelajar. Peneliti menyebut aktivitas inilah yang menjadi embrio pengembangan Desa Kliwonan menjadi desa wisata batik.
Perbedaannya halus tetapi menentukan. Sebuah toko menjual kain. Sebuah bengkel kerja menjual satu jam hidup Anda di depan canting, dan itulah yang membuat orang bercerita setelah pulang.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Bawa kendaraan sendiri atau sewa. Skor moda transportasi umum adalah 1, terendah pada skala penilaian. Letaknya sekitar 8 kilometer dari pintu keluar tol, jadi berkendara sendiri adalah cara yang masuk akal.
- Datang untuk membatik, bukan hanya membeli. Showroom di sana berfungsi sekaligus sebagai bengkel kerja dan tempat pelatihan membatik. Menanyakan kelas membatik sebelum datang mengubah kunjungan belanja menjadi kunjungan yang layak diingat.
- Rencanakan sebagai kunjungan setengah hari, bukan menginap. Skor akomodasi 1 dan rumah makan 1,1 menegaskan bahwa fasilitas menginap dan makan di desa ini sangat terbatas. Solo dan sekitarnya menyediakan keduanya.
- Bawa bekal atau makan sebelum berangkat. Ini konsekuensi langsung dari skor rumah makan yang tercatat 1,1.
- Hubungi perajin lebih dahulu. Tidak ada pusat informasi wisata di desa ini, nilainya 1 dalam penilaian. Kontak langsung ke perajin atau kelompok usaha adalah jalur yang tersedia.
- Tanyakan jenis batiknya. Klaster ini memproduksi batik cap, batik tulis, batik printing, dan cabut batik. Mengetahui bedanya membuat harga yang Anda bayar jauh lebih masuk akal.
Kesimpulan
Ada satu hal yang menarik dari cara Sragen selama ini bekerja. Sebuah daerah yang memproduksi kain untuk merek orang lain sudah menguasai bagian tersulit dari pekerjaan itu, yaitu keterampilannya. Yang tidak dimilikinya adalah namanya sendiri.
Membangun nama justru lebih murah daripada membangun keterampilan. Tabel skor dalam penelitian ini menunjukkan apa saja yang masih kurang, dan hampir semuanya berupa hal yang bisa dibangun, yaitu penginapan, rumah makan, angkutan, dan pusat informasi. Tidak satu pun menyangkut kemampuan membatik, karena bagian itu memang tidak pernah menjadi masalah di sana selama puluhan tahun.
Sumber: Tyas, N.W., & Damayanti, M. (2018). Potensi Pengembangan Desa Kliwonan sebagai Desa Wisata Batik di Kabupaten Sragen. Journal of Regional and Rural Development Planning, 2(1), 74-89. DOI: 10.29244/jp2wd.2018.2.1.74-89
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya
Sulawesi Utara Punya Bunaken, Kenapa Wisatawan Asingnya Hanya 152.340
Pada 2023, Sulawesi Utara menerima 152.340 wisatawan mancanegara. Bali menerima 4,2 juta. Peneliti Universitas Negeri Manado menelusuri sebabnya dan menemukan persoalannya bukan pada terumbu karang, melainkan pada enam penerbangan seminggu dan situs web yang berhenti diperbarui.
Pulau Derawan Ada di Uang Rp20.000, dan Terkikis Sejak PON 2008
Pulau seluas 44,60 hektare ini dipilih menjadi gambar pada uang kertas Rp20.000. Sebuah penelitian menelusuri dua persoalan yang jarang masuk brosur, yaitu abrasi yang bermula dari pembangunan menjelang PON 2008, dan sampah yang akhirnya dibakar memakai insinerator limbah medis.
Wakatobi Itu Empat Pulau: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko
Wakatobi terdiri atas empat pulau dengan karakter berbeda. Panduan per pulau: ikon, 750 spesies karang, Tari Lariangi, festival, akses, dan fasilitasnya.
