Bintan Dimasuki Lewat Singapura, tetapi Mangrovenya 16.998 Hektare

Endo Sadewa 14 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.36868/ijcs.2023.03.23
Bintan Dimasuki Lewat Singapura, tetapi Mangrovenya 16.998 Hektare

Pada 2019, ada 241.921 orang Singapura yang masuk ke Bintan lewat negaranya sendiri. Di pulau yang sama, tercatat 16.998 hektare mangrove yang di dalamnya pernah tercatat dugong. Kedua angka itu ada di penelitian yang sama, dan hampir tidak pernah dibicarakan bersamaan.

Bintan adalah wilayah Indonesia. Tetapi bagi sebagian besar wisatawan asing yang mendatanginya, perjalanan itu dimulai di bandara negara lain.

Sebuah penelitian yang terbit di International Journal of Conservation Science pada 2023 menyusun angka-angkanya berdampingan, dan hasilnya memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan: pulau ini punya pintu masuk yang bukan miliknya, dan punya aset yang hampir tidak dilewati siapa pun.

Dinding akar tunjang mangrove menjulur turun ke air alur pasang berwarna kehijauan di Pulau Bintan
Akar tunjang mangrove di tepi alur pasang, Pulau Bintan. Ekosistem seperti ini menutup 16.998 hektare pulau tersebut menurut data yang dikutip penelitian ini. Foto: Kento Ikeda, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 2.0.

Pulau Indonesia dengan Pintu Masuk Negara Lain

Kabupaten Bintan di Provinsi Kepulauan Riau punya luas total sekitar 74.200,94 kilometer persegi, dan 96,74 persen di antaranya adalah laut, yaitu 71.782 kilometer persegi. Wilayahnya terdiri atas 272 pulau. Hanya 39 di antaranya berpenghuni, dengan pertanian sebagai kegiatan utamanya.

Letaknya di Selat Malaka, dekat Singapura. Penelitian ini menyebut alasannya dengan blak-blakan: ketiadaan sumber daya alam di Singapura membuat orang Singapura bepergian ke pulau-pulau Indonesia, termasuk Bintan sebagai pulau berbasis alam terdekat. Dan Singapura adalah titik masuk penting bagi wisatawan global untuk mencapai Bintan.

Tabelnya, berjudul kedatangan internasional ke Bintan pada 2019 lewat Singapura, memperlihatkan skalanya:

  • Singapura: 241.921 orang
  • Malaysia: 27.894
  • Filipina: 16.893
  • Thailand: 2.074, Vietnam: 1.857, ASEAN lainnya: 5.549
  • Total ASEAN: 296.188 orang

Dari kawasan Asia lainnya, juga lewat Singapura: Tiongkok 146.968 orang, India 64.233, Jepang 18.478, Korea Selatan 9.305, Taiwan 6.379, Hong Kong 3.992, dan negara Asia lainnya 3.670. Totalnya 253.025 orang.

Perlu ditegaskan, seluruh angka di atas adalah kedatangan melalui Singapura, bukan total kunjungan ke Bintan. Itu justru inti persoalannya.

Sebagai pembanding skalanya, naskah mencatat Bandara Changi melayani sekitar 68.300.000 penumpang pada 2019, naik dari 65.630.000 pada 2018. Pandemi menurunkannya menjadi 11.800.000 pada 2020 dan 2.240.000 pada November 2021. Bintan menempel pada arus sebesar itu.

Fasilitasnya menyesuaikan. Pada 2017 tercatat 34 hotel dengan total 2.292 kamar dan 19 vila dengan total 439 kamar di Bintan.

Iklan

16.998 Hektare yang Tidak Ada di Brosur

Bagian kedua penelitian ini bicara soal yang lain sama sekali. Mangrove di Pulau Bintan menutup area sekitar 16.998 hektare, tersebar di enam belas lokasi, dan terkonsentrasi di bagian timur serta utara pulau.

Di bagian utara: Ekang Anculai 2.520 hektare, Tanjung Uban 1.845, Teluk Sumpat 1.218, Busung 1.020, dan Tanjung Siambang 936.

Di bagian timur: Kijang 1.888 hektare, Sungai Gesek 1.780, Sungai Dompak 1.140, Air Palong di Pulau Mantang 927, Tanjung Tangkap 760, Pulau Kelong 720, Pulau Koyan 683, Tanjung Paku 598, Pulau Dompak 520, Pulau Buton 300, dan Pulau Angkut 143.

Enam belas angka itu saya jumlahkan sendiri: 7.539 hektare di utara, 9.459 hektare di timur, totalnya tepat 16.998 hektare. Persis sama dengan angka yang disebut di badan naskah. Begitu pula kedua total pada tabel kedatangan tadi, keduanya cocok sampai satuan terakhir ketika barisnya dijumlahkan.

Senja di pantai utara Pulau Bintan, langit jingga terpantul di pasir basah dengan tanjung berhutan di kejauhan
Pesisir utara Pulau Bintan. Bersama sisi timur, inilah bagian pulau tempat mangrove mendominasi menurut naskah, dan tempat sebagian besar dari enam belas lokasi mangrove itu berada. Foto: Seader, Wikimedia Commons, lisensi CC0.

Dugong, dan 32 Jenis Burung yang Dihitung Akhir 2021

Isi mangrove itulah yang membuat angkanya berarti.

Di kawasan mangrove Ekang Anculai, yang di naskah juga ditulis "Ekan", tercatat tiga mamalia liar: Macaca fascicularis, Presbytis natunae, dan Dugong dugong.

Nama terakhir itu layak dibaca dua kali. Dugong adalah mamalia laut pemakan lamun, dan penelitian ini mencatatnya di kawasan mangrove Bintan. Catatan semacam itu jarang muncul dalam daftar daya tarik sebuah tujuan resor.

Untuk burung, sebuah survei yang dilakukan pada akhir 2021 menemukan 32 jenis burung dari delapan ordo dan 20 famili di kawasan mangrove Ekang. Kedelapan ordonya, sebagaimana dijabarkan naskah: elang dan kerabatnya, walet, merpati dan kerabatnya, raja udang dan kerabatnya, kukuk dan kerabatnya, mandar dan kerabatnya, burung bertengger, serta burung pemakan ikan.

Dua di antaranya bukan jenis biasa. Cyornis turcosus berstatus hampir terancam menurut IUCN, dan Acridotheres javanicus berstatus rentan. Sisanya berstatus berisiko rendah, dan hampir seluruhnya burung menetap, bukan pendatang musiman. Artinya mereka tinggal di sana sepanjang tahun.

Naskah menyebut pengamatan burung sebagai salah satu program ekowisata favorit yang popularitasnya masih tumbuh, dan mencatat bahwa dengan pengelolaan yang tepat, kegiatan itu memberi dampak ekonomi berarti bagi masyarakat setempat di kawasan berkeanekaragaman burung tinggi.

Iklan

Yang Diusulkan Penelitinya

Kesimpulan naskah tidak panjang, dan justru karena itu jelas. Bintan disebut punya potensi mengembangkan ekowisata di kawasan mangrove untuk memanfaatkan sumber daya mangrove secara lestari bagi industri pariwisata.

Empat hal disebut sebagai isu penting menuju pariwisata berkelanjutan di kawasan bermangrove melimpah: mendorong konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan ecolodge, penguatan produk dan program wisata berbasis alam, serta dukungan bagi penerapan pariwisata berbasis masyarakat.

Kalimat penutupnya paling tegas: keterlibatan masyarakat setempat bersifat penting dan seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam penerapan ekowisata.

Bandingkan kalimat itu dengan gambaran di paruh pertama artikel ini. Wisatawan yang masuk lewat Singapura menuju kawasan resor bertaraf internasional, sementara aset ekologis pulaunya berada di sisi timur dan utara, tempat 39 pulau berpenghuni itu hidup dari pertanian.

Pohon kelapa membingkai laut hijau kebiruan di Pantai Trikora, Kabupaten Bintan
Pantai Trikora di sisi timur Pulau Bintan. Sisi timur dan utara inilah yang menurut naskah menjadi tempat mangrove mendominasi. Foto: Andrian Vernandes, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Sisi timur dan utara adalah sisi ekologisnya. Enam belas lokasi mangrove yang didaftar penelitian ini seluruhnya berada di dua sisi itu. Kalau kunjungan Anda hanya menyentuh kawasan resor, Anda melewatkan bagian pulau yang justru dibahas para penelitinya.

Ekang Anculai adalah yang terbesar. Dengan 2.520 hektare, kawasan ini yang paling luas dari enam belas lokasi, dan kawasan inilah yang menjadi lokasi survei burung akhir 2021 serta pencatatan tiga mamalia tadi.

Burungnya menetap, jadi tidak ada musim khusus. Hampir seluruh jenis pada daftar itu berstatus menetap. Ini berbeda dari lokasi pengamatan burung yang hanya ramai saat migrasi.

Tanyakan siapa pemandu lokalnya. Rekomendasi penelitian ini menempatkan pariwisata berbasis masyarakat sebagai salah satu dari empat prioritas. Memilih pemandu dan jasa setempat adalah cara paling langsung ikut menjalankannya.

Kesimpulan

Angka yang paling sering dikutip tentang Bintan adalah angka kunjungan, dan angka itu memang besar. Hampir 300 ribu orang dari ASEAN dan seperempat juta lagi dari Asia lainnya masuk lewat Singapura pada satu tahun saja.

Angka yang jarang dikutip adalah 16.998 hektare, 16 lokasi, 32 jenis burung, dan tiga mamalia yang salah satunya dugong. Angka kedua ini tidak menghasilkan pendapatan sebesar yang pertama. Tetapi angka kedua inilah yang tidak bisa dibangun ulang kalau hilang, dan yang membuat Bintan berbeda dari sekadar pulau terdekat dari sebuah bandara besar.

Sumber: Hakim, L., Deoranto, P., Ayu, T., Pangestuti, E., & Natalia, D.C. (2023). Mangrove Biodiversity and Conservations: Foundation Toward Ecotourism Implementation in Bintan Island, Indonesia. International Journal of Conservation Science, 14(3), 1139-1150. DOI: 10.36868/ijcs.2023.03.23

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Diskusi

Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.

Komentar ditinjau admin sebelum tampil.

Iklan

Artikel Lainnya