Wisatawan Asing di Lombok Tinggal 2,11 Hari, Rata-rata Nasional 7,79 Hari
Peneliti meminta 127 wisatawan asing mengurutkan 25 daya tarik etnobudaya Lombok. Arak-arakan pengantin menang di atas desa adat yang selama ini menjadi andalan promosi. Dan ada satu keluhan yang jarang terdengar: wisatawan justru tidak ingin disambut dalam bahasa Inggris.
Ada satu angka yang menjelaskan persoalan pariwisata Lombok lebih baik daripada seluruh materi promosinya. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Nusa Tenggara Barat tercatat 2,11 hari, sementara rata-rata nasional 7,79 hari. Wisatawan datang, lalu pergi sebelum sempat mengenal apa pun.
Sekelompok peneliti mencoba menjawab kenapa. Alih-alih menanyakan apa yang kurang, mereka meminta 127 wisatawan asing mengurutkan 25 daya tarik etnobudaya Lombok dari yang paling ingin dilihat sampai yang paling tidak. Hasilnya terbit di jurnal Sustainability pada 2022, dan urutannya tidak sesuai dugaan.

Yang Menang Bukan Desa Adat
Peringkat teratas justru diduduki dua upacara pernikahan Sasak, yaitu Nyongkolan dengan skor 2.853 dan Sorong Serah dengan skor 2.845. Nyongkolan adalah arak-arakan pengantin, sementara Sorong Serah menyangkut penyerahan mas kawin.
Baru setelah itu muncul Bau Nyale, festival menangkap cacing laut, dengan skor 2.760. Desa Sade, yang selama ini menjadi wajah promosi Lombok, berada di peringkat empat dengan 2.681. Desa Bayan menyusul dengan 2.719, lalu tenun tangan 2.529, Desa Beleq Sembalun 2.313, kelas memasak makanan tradisional 2.188, Desa Ende 2.104, dan Desa Segenter 1.986.
Peneliti menjelaskan alasannya. Upacara dan desa adat yang menang adalah yang menawarkan modal budaya sekaligus interaksi langsung dengan cara hidup, bahasa, dan pengalaman otentik masyarakat Sasak. Bukan tontonan, melainkan kesempatan berada di dalamnya.
Di ujung bawah daftar, tiga kegiatan mendapat skor jauh lebih rendah, yaitu sabung ayam 269, festival permainan tradisional Begasingan 360, dan pacuan kuda 373. Peneliti mencatat kegiatan yang melibatkan hewan dan kegiatan yang kurang interaktif hanya menarik sedikit minat wisatawan asing.
Iklan
Keluhan yang Jarang Terdengar: Terlalu Banyak Bahasa Inggris
Inilah temuan yang paling tidak terduga. Wisatawan mengkritik pemakaian bahasa Inggris di desa-desa adat. Mereka justru mengharapkan bahasa Sasak dan ritual yang berjalan sebagaimana adanya, karena itulah yang mereka anggap otentik.
Peneliti menerjemahkannya menjadi rekomendasi yang konkret, yaitu menyisipkan bahasa Sasak dalam sambutan, misalnya nyanyian penyambutan oleh perempuan atau anak-anak, serta dalam penjelasan budaya, alih-alih menyeragamkan semuanya ke bahasa Inggris.
Logikanya masuk akal. Seseorang yang terbang belasan jam untuk melihat kebudayaan Sasak tidak datang untuk mendengar penjelasan dalam bahasa yang sudah ia gunakan setiap hari. Penerjemahan tetap dibutuhkan, tetapi bukan penggantian.
Siapa 127 Orang Itu
Responden penelitian ini terdiri atas 63 laki-laki dan 64 perempuan. Kelompok usia terbesar adalah 30 sampai 39 tahun sebanyak 32 orang, disusul 40 sampai 49 tahun sebanyak 30 orang, dan 20 sampai 29 tahun sebanyak 28 orang.
Asal negara terbanyak adalah Singapura dengan 28 orang, Malaysia 23 orang, Australia 14 orang, Tiongkok 13 orang, dan Jepang 9 orang. Selebihnya tersebar dari Korea, Taiwan, Timor Leste, Amerika Serikat, Inggris, India, Jerman, Prancis, Afrika Selatan, Italia, sampai Argentina.
Tujuan perjalanan mereka terbagi menjadi rekreasi dan istirahat sebanyak 53 orang, alam 39 orang, keingintahuan budaya 24 orang, serta urusan resmi atau bisnis 11 orang. Untuk pengeluaran, 41 orang membelanjakan di bawah 250 dolar Amerika Serikat dan 40 orang pada rentang 250 sampai 750 dolar, sementara hanya 5 orang membelanjakan lebih dari 750 dolar.
Data dikumpulkan lewat kuesioner bergambar yang disebar selama lebih dari enam bulan, ditambah pengamatan langsung, perekaman video acara etnobudaya, wawancara dengan informan kunci, serta enam diskusi kelompok terarah yang melibatkan tokoh budaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelaku wisata, akademisi, pengusaha, dan pejabat pemerintah.

Satu hal yang layak dicatat dari komposisi ini: mayoritas responden datang dari negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Timur, bukan dari Eropa atau Amerika. Peneliti juga mengutip data pra-pandemi yang menunjukkan asal wisatawan Lombok pada 2017 justru didominasi Eropa sebesar 34 persen, disusul Amerika dan Australia masing-masing 21 persen, lalu Asia 18 persen. Dua gambaran yang berbeda ini menegaskan bahwa peringkat daya tarik dalam penelitian ini mencerminkan selera kelompok yang disurvei, bukan seluruh pasar.
Data pra-pandemi lain yang dikutip peneliti memperlihatkan skalanya. Kunjungan ke Nusa Tenggara Barat tercatat 2 juta pada 2015, lalu naik pada 2017 dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 25 persen. Sebanyak 88 persen di antaranya datang untuk berlibur, dengan kelompok usia 25 sampai 44 tahun mencapai 50 persen dan usia 15 sampai 24 tahun sebesar 44 persen. Angka-angka itu berasal dari periode sebelum pandemi dan sebelum gempa 2018, sehingga perlu dibaca sebagai gambaran struktur pasar, bukan kondisi terkini.
Iklan
Makanan dan Minuman Ikut Diurutkan
Peneliti juga meminta responden mengurutkan 18 jenis makanan dan minuman. Untuk makanan, nasi goreng dan mi goreng menempati posisi teratas sebagai favorit berskala nasional, sementara dari sisi lokal yang paling disukai adalah ayam Taliwang, berbagai jenis sate, dan bebalung yang merupakan sup tulang sapi.
Untuk minuman, kopi Sasak dari Prabe, Sajang, dan Sembalun menempati urutan pertama, disusul teh jahe, minuman air nira manis, es sarang burung, dan es ketan hitam. Satu catatan praktis dari penelitian ini: wisatawan cenderung menyukai tingkat kepedasan yang rendah.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
- Sesuaikan tanggal dengan upacara, bukan sebaliknya. Dua peringkat teratas adalah upacara pernikahan yang tidak berlangsung setiap hari. Menanyakan jadwal Nyongkolan atau Sorong Serah ke pengelola desa wisata jauh lebih berharga daripada mendatangi desa adat pada hari biasa.
- Bau Nyale punya waktunya sendiri. Festival menangkap cacing laut ini berpatokan pada penanggalan adat, biasanya sekitar Februari atau Maret. Peringkatnya nomor tiga, dan waktunya tidak bisa diubah.
- Pilih kegiatan yang bisa Anda ikuti, bukan hanya ditonton. Temuan penelitian ini jelas, yaitu kegiatan interaktif menang telak. Kelas memasak dan menenun masuk sepuluh besar justru karena bisa dikerjakan sendiri.
- Rencanakan lebih dari dua hari. Angka 2,11 hari adalah rata-rata, bukan anjuran. Daftar peringkat dalam penelitian ini saja sudah memuat sepuluh kegiatan yang tersebar di beberapa kabupaten.
- Minta penjelasan dalam bahasa setempat dengan penerjemahan. Ini keluhan wisatawan dalam penelitian ini sendiri. Bertanya nama Sasak dari sebuah motif tenun sering membuka penjelasan yang jauh lebih dalam daripada versi bahasa Inggrisnya.
- Sebutkan tingkat kepedasan saat memesan. Peneliti mencatat wisatawan asing cenderung memilih pedas yang ringan. Ayam Taliwang dalam versi aslinya tidak ringan.
Kesimpulan
Selisih antara 2,11 hari dan 7,79 hari biasanya dijelaskan dengan kekurangan penerbangan atau hotel. Penelitian ini menawarkan penjelasan yang berbeda dan lebih mudah diperbaiki, yaitu tidak cukup banyak hal yang bisa dikerjakan wisatawan setelah selesai memotret.
Peringkat teratas daftar ini semuanya berupa kegiatan yang sedang berlangsung, yaitu arak-arakan, upacara, festival, menenun, memasak. Peringkat terbawah semuanya berupa hal yang hanya bisa ditonton. Kesimpulan yang bisa ditarik cukup sederhana. Sebuah desa adat yang dibuka sebagai pemandangan menahan orang selama satu jam. Desa adat yang sama, dibuka sebagai kegiatan, bisa menahan mereka satu hari penuh. Dan hari-hari itulah yang selama ini hilang dari angka 2,11.
Sumber: Suteja, I.W., Wahyuningsih, S., Nurjaya, I.W., Sujana, I.G., & Yudiastina, I.M.O. (2022). Identifying Tourism Potentials of Ethno-Cultural Attractions in Lombok. Sustainability, 14(23), 16075. DOI: 10.3390/su142316075
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Diskusi
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Iklan
Artikel Lainnya
Tahura Sultan Syarif Hasyim Riau: Jadwal Primata 25 Km dari Pekanbaru
Peneliti IPB mencatat jam mencari makan tiap jenis primata di Tahura Sultan Syarif Hasyim. Lutung pukul 09.30, monyet ekor panjang pukul 15.00, beruk pukul 16.00. Hutan ini berjarak 25 kilometer dari pusat Pekanbaru dan bisa ditempuh 37 menit.
Ekowisata Banyuwangi: 223 dari 344 Wisatawan Memilih Ijen, Meru Betiri 31
Peneliti menyaring 383 wisatawan menjadi 344 responden, lalu bertanya kawasan ekowisata Banyuwangi mana yang mereka pilih. Kawah Ijen dipilih 223 orang, Alas Purwo 90 orang, Meru Betiri hanya 31 orang. Ketimpangan itu punya jalan keluar yang direkomendasikan peneliti sendiri.
Tangkahan Gunung Leuser: Tiket Rp3.000, Nilai Ekonominya Rp72,7 Miliar
Karcis masuk Tangkahan hanya Rp3.000. Sepanjang setahun, karcis itu mengumpulkan Rp71,8 juta. Padahal peneliti menghitung nilai ekonomi yang sebenarnya mengalir dari kawasan ini mencapai Rp72,7 miliar per tahun. Selisih seribu kali lipat itu punya penjelasan yang masuk akal.