Kepulauan Banda: Empat Abad Berlalu, Penduduknya Naik 25 Persen

Endo Sadewa 16 September 2026 11 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.25120/etropic.21.1.2022.3864
Kepulauan Banda: Empat Abad Berlalu, Penduduknya Naik 25 Persen

Pulau Run di Maluku pernah ditukar dengan pulau yang kini bernama Manhattan. Itu bagian yang sering diceritakan. Yang jarang diceritakan ada di penelitian yang sama: setelah empat abad, penduduk Kepulauan Banda hanya 25 persen lebih banyak daripada sebelum kapal-kapal itu datang.

Ada satu kalimat di sebuah penelitian tentang Kepulauan Banda yang lebih menjelaskan tempat itu daripada seluruh brosur wisata yang pernah dibuat tentangnya.

Kalimatnya begini: jumlah penduduk Banda hari ini hanya 25 persen lebih banyak daripada empat abad lalu. Penulisnya menyebut fakta itu sangat berarti, dan memang begitu. Hampir tidak ada tempat berpenghuni di dunia yang penduduknya nyaris tidak bertambah selama empat ratus tahun.

Penelitian itu ditulis Frank Dhont dari National Cheng Kung University dan terbit di eTropic, jurnal terbitan James Cook University, pada 2022. Isinya bukan sejarah kolonial biasa. Isinya penjelasan tentang bagaimana satu jenis pohon membentuk sebuah peradaban, lalu nyaris menghapusnya.

Kota Banda Neira dilihat dari ketinggian Gunung Api, dengan landasan pacu memanjang di tepi kota, selat sempit, dan punggungan Pulau Banda Besar di seberangnya
Kota Banda Neira dilihat dari Gunung Api, dengan Pulau Banda Besar atau Lonthoir di seberang selat. Menurut naskah, Neira dan Gunung Api terbentuk belakangan sebagai kerucut letusan baru dari gunung purba yang tepinya kini menjadi Lonthoir. Foto: Anton Leddin, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Sebelas Pulau, 172 Kilometer Persegi

Skalanya perlu dipahami dulu, karena skala itulah yang membuat sisa ceritanya masuk akal.

Banda hari ini berukuran 172 kilometer persegi, dengan enam pulau berpenghuni, yaitu Neira, Banda Besar atau Lonthoir, Rhun atau Run, Ai, Hatta, dan Syahrir, ditambah lima pulau tidak berpenghuni, yaitu Gunung Api, Karaka, Manukang, Nailaka, dan Batu Kapal. Angka itu dikutip naskah dari data Badan Pusat Statistik 2018.

Dua nama di daftar itu bukan nama lama. Pulau Hatta yang sebelumnya bernama Rosingain, dan Pulau Syahrir, dinamai menurut pahlawan nasional Indonesia yang dibuang ke sana pada masa akhir pemerintahan kolonial Belanda.

Dalam berkas usulan ke UNESCO, seluruh gugusannya disebut berjumlah tidak lebih dari sebelas pulau dan mencakup tidak lebih dari 8.150 hektare tanah vulkanik. Di lahan sesempit itulah selama berabad-abad seluruh pasokan pala dunia dihasilkan.

Iklan

Satu Pohon yang Hanya Tumbuh di Sini

Pala dan bunga pala berasal dari satu tanaman yang sama, Myristica fragrans. Naskah menjelaskan pembagiannya dengan ringkas: pala dibuat dari biji tanaman yang dikeringkan, sedangkan bunga pala dibuat dari selaput yang menyelubungi biji di dalam buahnya.

Rempah itu sudah dikenal berabad-abad di luar Nusantara, dipakai untuk keperluan pengobatan oleh orang India, Arab, Eropa, dan Tiongkok. Yang tidak diketahui siapa pun adalah di mana pohonnya tumbuh. Baru pada awal abad ke-16 letak Kepulauan Rempah itu terungkap.

Catatan tertua yang dikutip naskah berasal dari Tomé Pires, yang menulis perjalanannya antara 1512 dan 1515. Ia mencatat ucapan para pedagang Melayu: Tuhan menciptakan Timor untuk cendana, Banda untuk bunga pala, dan Maluku untuk cengkih.

Kenapa hanya di sini? Naskah mengutip laporan Belanda: pohonnya tumbuh paling baik di tanah gembur dan subur lereng vulkanik yang saluran airnya bagus, tidak tahan perubahan suhu yang tajam, butuh hujan teratur, dan lebih suka gunung yang tidak terlalu tinggi. Banda memenuhi semuanya sekaligus.

Seberapa besar hasilnya? Sebuah catatan tahun 1631 dalam Calendar of State Papers Colonial, arsip urusan jajahan Kerajaan Inggris, menyebut Banda terdiri atas enam pulau dan seluruh pala serta bunga pala di dunia berasal dari empat pulau pertama, menghasilkan 100 ton bunga pala dan 400 ton pala setiap tahun.

Masyarakat yang Sudah Ada Sebelum Rempahnya Terkenal

Bagian ini sering hilang ketika Banda diceritakan dari sudut Eropa.

Bahasa yang dituturkan di kepulauan ini berkerabat dengan bahasa Papua, dan menurut naskah itu menandakan sudah ada orang yang tinggal di sana sebelum orang Austronesia masuk ke kawasan tersebut. Masyarakatnya tersusun dalam sistem Siwa-Lima, dengan kelompok Lima lebih berorientasi laut dan kelompok Siwa lebih berorientasi darat.

Ekonominya berprinsip perdagangan bebas, siapa pun boleh datang membeli atau berdagang, tetapi orang Banda memegang monopoli atas pala dan bunga palanya sendiri. Mereka begitu terfokus menanam pala sampai mengabaikan tanaman lain, sehingga bergantung pada pedagang untuk memperoleh bahan makanan.

Letak pelabuhannya menjelaskan kenapa Neira dan Lonthoir menjadi pusatnya: ada empat pelabuhan di Lonthoir dan satu di Neira, dan tidak ada satu pun di pulau-pulau lainnya.

Iklan

Empat Benteng Batu untuk Menjaga Satu Rempah

Jumlah bentengnya adalah ukuran paling jujur seberapa berharga tempat ini dulu.

Naskah mencatat empat benteng batu besar dibangun di wilayah sesempit itu: Benteng Nassau dan Benteng Belgica di Banda Neira, Benteng Revenge di Ai, dan Benteng Hollandia di Lonthoir, ditambah sejumlah bangunan pertahanan yang lebih kecil.

Urutannya panjang. Belanda datang dengan armada tiga belas kapal dan lebih dari 1.900 orang, dan hanya nyaris berhasil mendirikan bangunan yang kemudian menjadi Benteng Nassau, di atas reruntuhan benteng Portugis yang lebih tua. Benteng Belgica mulai dibangun pada 1611.

Pada 1615 orang Inggris berhasil membeli pala dari penduduk Pulau Ai. Belanda kembali pada 1616 dan merebut Ai, lalu mendirikan Benteng Revenge di sana.

Pengelolaannya pun ketat. Akses pedagang ke Banda sengaja dibatasi untuk mencegah penyelundupan. Dua kapal berlayar setiap tahun dari Batavia untuk mengambil rempah dan membawa masuk beras, berangkat pada Desember atau Januari dan kembali pada Juni. Menyelundupkan pala diancam hukuman mati.

1621, dan Angka-angka Sesudahnya

Tahun 1621 adalah titik baliknya. Belanda datang dengan armada besar dan merebut seluruh pulau yang tersisa kecuali Rhun. Naskah menyebut Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen sebagai orang yang memimpin apa yang disebutnya secara langsung sebagai genosida terhadap orang Banda. Benteng Hollandia didirikan di Lonthoir sebagai benteng besar terakhir.

Yang terjadi sesudahnya terbaca dari angka-angka administratif, dan justru itu yang membuatnya sulit dilupakan.

  • Kepulauannya dibagi menjadi 31 perkebunan di Ai, 39 di Lonthoir, dan 3 di Neira
  • Tanah dibagi dalam petak seukuran sekitar 25 "jiwa" atau "kepala", satu jiwa berarti luas yang sanggup dikerjakan satu orang budak
  • Pada 1621, 307 perempuan dan anak-anak Banda dikirim kembali ke Lonthoir untuk dijual sebagai budak di sana
  • Pada 1637 pemerintah Belanda mengizinkan orang Banda yang tersisa kembali. Pada 1638 diperkirakan sekitar 560 penduduk asli telah pulang, kurang dari separuhnya berstatus orang merdeka
  • Di Rhun, seluruh pohon pala ditebang habis pada 1638 untuk mencegah penyelundupan
Tiga pekerja memetik buah pala memakai galah panjang di bawah tajuk pohon di sebuah kebun di Kepulauan Banda
Pemetikan pala dengan galah di Kepulauan Banda. Ini foto arsip Tropenmuseum dari masa Hindia Belanda, yaitu masa ketika kebun-kebun itu dikerjakan pekerja kontrak dan, sebelumnya, orang-orang yang diperbudak. Foto ini ditampilkan sebagai dokumen dari periode yang sedang dibahas, bukan sebagai gambaran keadaan hari ini. Foto: pemotret tidak dicantumkan, koleksi Tropenmuseum lewat Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Perbudakan baru dihapuskan pada 1860. Catatan abad ke-19 menyebut nenek moyang dari 9.000 orang yang tinggal di sana pada 1889 sebagian besar adalah keturunan budak dari pulau lain, atau keturunan pekerja kontrak yang datang dari Jawa, Madura, dan Buton.

Biji pala berwarna cokelat dan selaput bunga pala berwarna merah yang menyelubunginya
Pala dan bunga pala. Naskah menjelaskan keduanya berasal dari satu tanaman yang sama: pala dari biji yang dikeringkan, bunga pala dari selaput yang menyelubungi biji itu di dalam buahnya. Foto: David Stanley from Nanaimo, Canada, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 2.0.

Pulau Run, Manhattan, dan Perjanjian 1667

Rhun atau Run adalah satu-satunya pulau yang tidak jatuh pada 1621. Ia baru jatuh ke tangan Belanda setelah perjanjian Inggris-Belanda tahun 1667, perjanjian yang juga menyangkut New Amsterdam, yang kemudian menjadi New York.

Cerita itu sudah sering dikutip, biasanya sebagai anekdot lucu tentang tukar-menukar pulau. Tetapi kalau dibaca berdampingan dengan angka-angka di bagian sebelumnya, nadanya berubah. Pulau seluas beberapa kilometer persegi itu dianggap sepadan dengan Manhattan justru karena pohon yang tumbuh di atasnya, dan pohon itu pula yang membuat penduduknya kehilangan hampir segalanya.

Kenapa Jumlah Penduduknya Tidak Pernah Pulih

Sekarang kembali ke kalimat pembuka artikel ini.

Naskah menyebut sebelum penaklukan Eropa kepulauan ini dihuni 15.000 orang Banda, dan merupakan pelabuhan perdagangan bebas. Naskah juga menyebut penduduk Banda hari ini hanya 25 persen lebih banyak daripada empat abad lalu. Kalau kedua angka itu dikalikan, hasilnya sekitar 18.750 orang. Perkalian itu perhitungan saya, bukan angka yang disebut penulisnya, tetapi urutan besarannya jelas.

Penyebabnya, menurut naskah, bukan satu peristiwa melainkan rangkaian. Monopoli selama dua abad mengubah lanskap pulau sekaligus pasar dunia. Ketika pala akhirnya berhasil ditanam di tempat lain, dari Mauritius dan Afrika sampai Amerika Selatan dan Hindia Barat, Banda kehilangan kedudukannya sebagai satu-satunya pemasok pala dunia. Penanaman pala kembali dilakukan, tetapi naskah menyebutnya tinggal bayang-bayang dari yang dulu. Pusat perdagangan bebasnya tidak pernah bisa dibangun ulang.

Namun bagian penutup naskah ini bukan tentang kehilangan.

Orang Banda tetap memandang diri mereka sebagai orang Banda, dan budaya itu bertahan bahkan dalam pengasingan. Naskah mengutip pendapat sejumlah peneliti bahwa mereka memenangkan perang rempah itu hanya dengan cara bertahan hidup lebih lama daripada penjajahnya. Identitas Banda hari ini disebut bersifat terbuka dan lentur: mereka yang bertahan atau kembali bersatu dengan keturunan orang-orang yang dulu dibawa Belanda sebagai budak atau pekerja, dan bersama-sama membentuk satu masyarakat Banda.

Benteng-benteng yang dibangun untuk menguasai Banda kini menjadi aset bagi Indonesia dan masyarakat Banda sendiri. Setelah kemerdekaan, Benteng Belgica dipugar pemerintah Indonesia. Pada 30 Januari 2015, Indonesia mengusulkan kepulauan ini didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dengan nama The Historic and Marine Landscape of the Banda Islands.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Bentengnya bukan latar foto, melainkan isi ceritanya. Empat benteng batu di wilayah seluas 172 kilometer persegi adalah ukuran seberapa mahal rempah ini dulu. Benteng Belgica dan Nassau ada di Neira, Revenge di Ai, Hollandia di Lonthoir.

Pulau Run layak didatangi justru karena kosong. Seluruh pohon palanya ditebang pada 1638. Yang Anda lihat di sana adalah akibat langsung dari satu keputusan dagang abad ke-17.

Tanyakan soal pala, bukan hanya foto pantainya. Perbedaan pala dan bunga pala, cara memetik dengan galah, dan proses pengeringannya masih bisa dilihat langsung di kebun-kebun Lonthoir dan Ai.

Perlakukan nama-namanya dengan hati-hati. Pulau Hatta dan Pulau Syahrir dinamai menurut dua tokoh yang dibuang ke sana. Lonthoir adalah nama lama Banda Besar. Menyebut nama yang benar adalah bentuk penghormatan paling murah yang bisa dilakukan pengunjung.

Naskahnya bisa Anda baca sendiri. Jurnalnya akses terbuka dengan lisensi CC BY 4.0, dan seluruh angka di artikel ini berasal dari sana.

Kesimpulan

Kepulauan Banda biasanya dijual sebagai tujuan menyelam yang jauh dan mahal dicapai. Itu tidak salah, tetapi itu bagian yang paling kecil.

Yang membuat tempat ini tidak ada duanya adalah bahwa seluruh sejarahnya bisa dibaca dari satu pohon. Pohon itu membuat sebelas pulau kecil menjadi pusat perdagangan dunia, mendatangkan empat benteng batu, memicu perjanjian yang melibatkan Manhattan, dan pada akhirnya membuat penduduknya nyaris habis.

Empat abad kemudian, jumlah orang di sana baru 25 persen lebih banyak. Tetapi mereka masih menyebut diri orang Banda, dan itulah bagian dari cerita ini yang paling pantas dibawa pulang.

Sumber: Dhont, F. (2022). Of Nutmeg and Forts: Indonesian Pride in the Banda Islands' Unique Natural and Cultural Landscape. eTropic: electronic journal of studies in the Tropics, 21(1), 83-98. DOI: 10.25120/etropic.21.1.2022.3864

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya