Jambi Punya Empat Taman Nasional, Jarang Masuk Daftar Perjalanan

Endo Sadewa 15 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.22202/mamangan.v12i2.6649
Jambi Punya Empat Taman Nasional, Jarang Masuk Daftar Perjalanan

Sebutkan satu taman nasional di Jambi. Kebanyakan orang tidak bisa, padahal ada empat, salah satunya membentang di empat provinsi sekaligus. Kajian 2023 mengumpulkan isinya, lalu menutup dengan satu desa pesisir yang oleh penelitinya sendiri disebut masih belum dikenal umum.

Coba sebutkan satu taman nasional di Provinsi Jambi. Kalau tidak ada yang muncul di kepala, itu wajar, dan justru itulah persoalannya.

Jambi punya empat. Salah satunya taman nasional terbesar di Sumatra. Salah satunya rumah bagi masyarakat adat yang hidup di dalam hutannya. Salah satunya kawasan mangrove yang dijadikan tempat penelitian. Semuanya berada di satu provinsi yang hampir tidak pernah muncul di daftar rencana perjalanan siapa pun.

Sebuah kajian yang terbit di Jurnal Ilmu Sosial Mamangan pada 2023 mengumpulkan potensi keempatnya. Perlu disampaikan sejak awal supaya jelas: ini kajian pustaka, bukan penelitian lapangan. Angka-angka di dalamnya adalah rangkuman dari sumber lain, dan artikel ini menuliskannya sebagai rangkuman, bukan sebagai pengukuran baru.

Permukaan Danau Gunung Tujuh yang beriak dengan punggungan bukit berhutan dan awan rendah di kejauhan
Danau Gunung Tujuh di Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Kajian ini menyebut danau sebagai salah satu bentuk bentang alam TNKS, di samping lembah, pegunungan, hutan, dan air terjun. Foto: Nani Ernawati 03, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Empat Taman Nasional dalam Satu Provinsi

Keempatnya, menurut kajian ini:

  • Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), membentang di empat provinsi
  • Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), dengan sekitar 193 jenis burung dan 9 jenis primata
  • Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), hutan yang penting bagi Orang Rimba
  • Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), kawasan mangrove untuk pendidikan dan penelitian

Sebagai gambaran wilayahnya, kajian ini mencatat luas daratan Provinsi Jambi 53.435,72 kilometer persegi, luas lautnya 44.496 kilometer persegi, dan panjang garis pantainya sekitar 210 kilometer. Jadi ini provinsi yang punya pegunungan sekaligus pesisir, dan keempat taman nasional itu tersebar di antara keduanya.

Iklan

Kerinci Seblat: 1,4 Juta Hektare, Empat Provinsi

TNKS membentang di empat provinsi sekaligus, yaitu Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Sumatra Barat, dengan luas hampir 1,4 juta hektare daratan.

Riwayat perlindungannya panjang dan berlapis. Seluruh hutan lindung di kawasan TNKS terdaftar resmi antara 1921 dan 1926. Cagar alam dan suaka margasatwanya ditetapkan antara 1978 dan 1981. Gabungan semuanya menghasilkan 17 kelompok hutan.

Iklimnya, menurut kajian ini, sebagian besar masuk zona tipe A menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, yaitu basah. Curah hujan rata-rata tahunan 2.991 milimeter dengan kurang dari dua bulan kering. Rentang suhunya 16 sampai 28 derajat Celsius, dan kelembapannya antara 77 sampai 92 persen.

Angka suhu itu penting untuk diperhatikan calon pengunjung. Enam belas derajat bukan suhu yang biasa dihadapi orang yang datang dari kota di dataran rendah, dan kelembapan 92 persen membuat pakaian basah lambat sekali kering.

Bentang alamnya sendiri, oleh kajian ini disebut "Maha Taman", mencakup lembah, pegunungan, hutan, danau, dan air terjun.

Bukit Tigapuluh: 193 Burung, 59 Mamalia, 9 Primata

TNBT dicatat memiliki kekayaan hayati tinggi, dengan perkiraan 193 jenis burung, 59 jenis mamalia, 9 jenis primata, dan 1.500 jenis flora, ditambah beberapa tipe ekosistem yang khas.

Sembilan jenis primata dalam satu kawasan adalah angka yang layak diperhatikan. Untuk perbandingan sederhana, sebagian besar kawasan konservasi di Indonesia mencatat jauh lebih sedikit. Kajian ini juga menyebut kawasan itu menampung masyarakat tradisional yang berbeda secara budaya.

Sebatang pohon berdiameter besar difoto dari bawah, menjulang menembus kanopi hutan Taman Nasional Bukit Duabelas
Di Taman Nasional Bukit Duabelas terdapat banyak pohon berbatang besar dan tinggi seperti ini. Foto: Abusalwasalmanshakila, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Iklan

Bukit Duabelas: Hutan yang Penting bagi Orang Rimba

Kalimat kajian ini soal TNBD perlu dibaca dengan arah yang benar. Yang ditulis adalah bahwa Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan sumber daya vital bagi Orang Rimba setempat. Arahnya jelas: hutan itu penting untuk mereka, bukan mereka yang menjadi tontonan untuk orang lain.

Kajian ini menyebut hutan alam perbukitan dan sungai, satwa liar terutama jenis yang dilindungi, flora bernilai tinggi sebagai plasma nutfah, jenis langka dan dilindungi, biota obat hutan tropis, serta pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat hutan sebagai hal-hal yang berpotensi dikembangkan.

Perlu ditegaskan di sini, dan ini bukan bagian dari kajiannya melainkan sikap redaksi: kawasan ini adalah tempat tinggal, bukan atraksi. Kalau Anda berkunjung ke Bukit Duabelas, datanglah untuk hutannya, lewat jalur resmi, bersama pengelola taman nasionalnya.

Berbak Sembilang dan Desa yang Belum Dikenal

TNBS disebut sebagai salah satu kawasan hutan mangrove yang dikelola Balai TNBS untuk keperluan pendidikan dan penelitian, termasuk kawasan percontohan arboretum mangrove.

Bagian paling menarik dari seluruh kajian ini justru muncul di sini, dan bukan tentang taman nasionalnya, melainkan tentang sebuah desa di sebelahnya.

Desa Air Hitam Laut di Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, adalah satu dari tujuh desa di kecamatan itu, dengan luas 2.066 hektare. Desa ini adalah desa penyangga TNBS.

Kalimat kajiannya lugas: menurut survei lapangan pendahuluan, ada banyak potensi ekowisata yang belum digarap di Desa Air Hitam Laut, tetapi desa itu masih relatif tidak dikenal masyarakat umum.

Yang disebut sebagai daya tarik besarnya: wisata budaya, ritual Mandi Safar, dan wisata bahari. Di luar itu masih ada keragaman satwa liar dan flora hutan pantai, wisata bertema seperti jelajah malam, tradisi khas masyarakatnya seperti parek cerak dan perayaan hari jadi desa, sejarah cagar budaya, kesenian Bugis terutama alat musik petik dan seni rebana, kerajinan tangan masyarakat, serta cara hidup masyarakat nelayannya.

Alur sungai berair gelap di Taman Nasional Berbak dengan rumpun palem rawa rapat yang terpantul di permukaannya
Alur air di Taman Nasional Berbak, Sumatra. Kawasan mangrove ini dikelola antara lain untuk keperluan pendidikan dan penelitian, termasuk kawasan percontohan arboretum. Foto: Photo by James Maiden www.cifor.org Center for International Forestry, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 2.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Jambi bukan satu tujuan, melainkan empat kawasan yang berjauhan. TNKS ada di sisi barat berbatasan dengan Sumatra Barat dan Bengkulu, sementara TNBS ada di pesisir timur. Merencanakan keduanya dalam satu perjalanan pendek tidak masuk akal secara jarak.

Siapkan pakaian dingin untuk Kerinci. Rentang 16 sampai 28 derajat dengan kelembapan sampai 92 persen berarti dingin sekaligus lembap. Ini kombinasi yang paling sering membuat pendatang salah bawa perlengkapan.

Untuk pengamatan satwa, Bukit Tigapuluh yang paling menjanjikan di atas kertas. Angka 193 jenis burung dan 9 jenis primata adalah alasannya.

Air Hitam Laut butuh persiapan sendiri. Kajian ini menyebutnya masih relatif tidak dikenal umum. Artinya jangan berharap infrastruktur wisata yang sudah jadi. Hubungi pemerintah desa atau Balai TNBS lebih dulu, dan sesuaikan waktu kunjungan kalau ingin melihat Mandi Safar, karena ritual itu terikat pada penanggalan tertentu.

Perlakukan kawasan adat sebagai tempat tinggal. Ini berlaku terutama di Bukit Duabelas.

Kesimpulan

Ada provinsi yang punya satu daya tarik besar dan mengelolanya dengan baik. Jambi kebalikannya: punya empat kawasan lindung sekaligus, termasuk satu yang membentang di empat provinsi, tetapi hampir tidak pernah disebut orang ketika berbicara soal tujuan perjalanan di Sumatra.

Kajian ini tidak menawarkan pemecahan, dan sebagai kajian pustaka memang bukan itu tugasnya. Yang ia lakukan adalah menaruh keempatnya di satu halaman, lalu menutupnya dengan satu kalimat tentang sebuah desa pesisir yang masih relatif tidak dikenal masyarakat umum.

Kalimat itu berlaku untuk hampir seluruh isi tulisan ini.

Sumber: Gita, C.S., & Pangestu, M.Y. (2023). Potential For Ecotourism Development In Jambi Province. Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, 12(2), 293-301. DOI: 10.22202/mamangan.v12i2.6649

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya