Jaran Kepang Banyuwangi: Kudanya 100 Sentimeter, Sesajinya 20 Unsur

Endo Sadewa 20 September 2026 11 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.64753/jcasc.v10i2.2245
Jaran Kepang Banyuwangi: Kudanya 100 Sentimeter, Sesajinya 20 Unsur

Kuda anyaman bambunya panjang sekitar 100 sentimeter, tinggi 60, dari bilah setebal 1 sampai 2 milimeter. Warnanya tidak dipilih sembarangan. Dan sebelum pertunjukan dimulai, ada sesaji berisi setidaknya 20 unsur yang masing-masing punya arti sendiri.

Kebanyakan tulisan tentang jaran kepang berhenti di kata "mistis". Penelitian yang terbit di Journal of Cultural Analysis and Social Change pada November 2025 melakukan hal yang berbeda: ia mendaftar bendanya satu per satu, lalu menanyakan artinya kepada orang-orang yang memakainya.

Hasilnya adalah sesuatu yang selama ini sulit ditemukan di mana pun, yaitu ukuran, warna, dan daftar sesaji jaranan Banyuwangi yang ditulis lengkap.

Perlu disampaikan sejak awal: respondennya lima orang, seluruhnya seniman atau pemimpin sanggar dengan pengalaman minimal sepuluh tahun, dipilih dengan metode snowball. Jadi ini pemetaan makna menurut para pelakunya, bukan survei. Justru karena itu isinya rinci.

Penari kuda lumping menunggangi kuda anyaman bambu di halaman terbuka
Penari kuda lumping dengan kuda anyaman bambu. Catatan: foto ini diambil di Candi Plaosan, Jawa Tengah, bukan di Banyuwangi, dan ditampilkan untuk menggambarkan bentuk kuda kepang yang dibahas naskah. Foto: Rudiyanto2001, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Kenapa Banyuwangi Punya Versinya Sendiri

Jaranan, yang juga disebut kuda lumping atau jaran kepang, berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Yang membedakan Banyuwangi adalah apa yang terjadi setelah kesenian itu sampai ke sana.

Di Banyuwangi, kesenian ini mengalami akulturasi dengan budaya Osing setempat. Masuknya diperkirakan terjadi pada abad ke-18 sampai ke-19, lewat interaksi antara masyarakat Jawa Mataraman, Blambangan, dan Madura. Naskah menyebut Banyuwangi sebagai daerah perbatasan budaya, dan itulah yang membuatnya subur bagi kesenian semacam ini.

Riwayat modernnya juga dicatat. Pada masa kolonial Belanda jaranan kerap dipentaskan di acara desa. Pada dekade 1970-an dan 1980-an popularitasnya naik dan banyak sanggar jaranan berdiri di desa-desa. Sejak 2000-an sampai sekarang, jaranan Banyuwangi tampil di festival, karnaval budaya, dan acara pariwisata, termasuk Banyuwangi Kuwung Festival.

Fungsinya menurut naskah ada empat: ritual tolak bala, bersih desa untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang aman, media spiritual, dan hiburan rakyat pada hajatan, sunatan, serta perayaan desa.

Iklan

Ukuran Kudanya, dan Kenapa Jumlah Penarinya Genap

Bagian ini yang paling jarang ditulis orang.

Kuda kepangnya dibuat dari bambu yang dibelah tipis setebal 1 sampai 2 milimeter, dianyam menjadi lembaran yang kuat, lalu dibentuk menyerupai kuda dan diperkuat dengan bilah bambu yang lebih tebal di sekelilingnya. Ukurannya panjang sekitar 100 sentimeter dan tinggi sekitar 60 sentimeter. Rambut dan ekornya memakai ijuk atau benang, dan warnanya dicat sesuai warna kuda yang dikehendaki.

Jumlah kudanya juga bukan angka bebas. Umumnya 4, 6, atau 8 kuda kepang, menyesuaikan jumlah penari utama. Angka genap dianggap melambangkan keseimbangan kosmis: kanan dan kiri, laki-laki dan perempuan, dunia nyata dan dunia gaib. Dalam konteks ritual, jumlah kudanya juga dibaca sebagai lambang prajurit leluhur yang menjaga desa. Penarinya laki-laki dan perempuan.

Warna Kudanya Adalah Kalimat, Bukan Hiasan

Naskah menyebut kuda kepang Banyuwangi punya variasi warna yang khas, umumnya lebih terang daripada daerah lain. Dan tiap warna punya arti:

  • Hitam: kekuatan, keberanian, perlindungan. Dipercaya menolak bala dan mengusir roh jahat
  • Putih: kesucian, ketulusan, spiritualitas. Melambangkan dunia atas dan hubungan dengan leluhur, biasanya dipakai penari dengan peran yang lebih tenang
  • Merah: gairah, keberanian, dan darah kehidupan. Penari berkuda merah biasanya lebih agresif dan gesit
  • Kuning atau emas: kemakmuran, kekayaan, cahaya. Kerap dipakai di pusat formasi atau oleh pemimpin kelompok
  • Hijau: kesuburan, alam, kehidupan baru. Menghubungkan manusia dengan dunia pertanian

Kalau warna-warna itu digabung dalam satu formasi, menurut naskah, yang tergambar adalah seluruh siklus kehidupan: hitam dan putih untuk keseimbangan kosmos, merah dan kuning untuk energi hidup dan kemuliaan, hijau untuk kesuburan tanah dan doa panen.

Kostumnya mengikuti logika yang sama. Udeng melambangkan kewaspadaan dan kejernihan pikiran. Hitam dan putih menandai keseimbangan baik dan buruk serta pengendalian diri saat kesurupan. Sulaman emas bermotif sulur melambangkan keluhuran dan hubungan dengan dunia spiritual. Selendang kuning di pinggang, dalam konteks ritual, menjadi batas antara dunia nyata dan dunia gaib. Gelang kaki berkerincing dibaca sebagai panggilan magis kepada roh penjaga sekaligus penegas irama kaki penari.

Topeng Singo Barong bertaring dengan rambut panjang dan mahkota berbentuk kipas lebar berhias wajah-wajah bercat biru dan merah, dibawakan penari di ruang terbuka
Topeng Singo Barong dalam kesenian jaran kepang. Naskah menyebut Barongan sebagai puncak kekuatan gaib dalam pertunjukan, sekaligus roh penjaga sekaligus pengganggu. Foto: Ivuvisual, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Iklan

Barongan, Cambuk, dan Gamelan

Tiga benda lain punya peran struktural, bukan sekadar pelengkap.

Barongan disebut naskah sebagai puncak kekuatan gaib, kerap dianggap penjelmaan binatang buas berupa harimau atau singa. Secara simbolis ia sekaligus roh penjaga dan pengganggu, dan ia mengambil pusat panggung saat kesurupan berlangsung.

Cambuk berfungsi sebagai alat mengendalikan kuda sekaligus pemicu keadaan trans penari. Secara lambang ia mewakili pengendalian diri dan batas antara manusia dan roh. Bunyinya dipercaya memanggil energi gaib ke arena.

Gamelan Jawa-nya terdiri atas kendang, angklung, gong, kenong, saron, dan lainnya. Pembagian maknanya jelas: gong mewakili semesta yang menutup dan membuka siklus, kendang melambangkan detak jantung yang menggerakkan tarian, dan dinamika iramanya melambangkan interaksi dunia fisik dengan dunia gaib.

Peras Jaranan: Dua Puluh Unsur Sebelum Pertunjukan

Sebelum pertunjukan dimulai ada prosesi bernama Peras Jaranan, yaitu penyajian sesaji menurut aturan tertentu. Inventarisasi lapangan berdasarkan dokumentasi foto menemukan sesaji Peras Jaranan Banyuwangi memuat setidaknya 20 unsur utama, masing-masing dengan maknanya sendiri.

Sebagian di antaranya:

  • Pisang raja hijau setandan: kesuburan, kelangsungan hidup, rezeki yang tidak putus
  • Pisang klutuk: kesahajaan, kesetiaan, keselarasan
  • Kelapa tua dikupas: keutuhan hidup, airnya sumber kehidupan
  • Kelapa gading: unsur kesucian, dan kehadirannya dianggap wajib sebagai penolak bala
  • Beras putih mentah: makanan pokok dan dasar kelangsungan hidup manusia
  • Nasi kuning: kesakralan, keberuntungan, doa keselamatan
  • Nasi pancawarna lima warna, yaitu putih, merah, kuning, hijau, dan hitam: mencerminkan lima unsur alam dan lima arah mata angin dalam kosmologi Jawa
  • Jajan pasar berbungkus daun pisang: kesederhanaan masyarakat agraris
  • Rangkaian bunga mawar, kenanga, melati: doa agar hidup selalu dikenang dengan kebaikan
  • Daun sirih dengan kapur dan rokok: penyatuan dan penyucian
  • Kembang mayang dari janur berhias bunga: kesuburan dan keselarasan energi
  • Janur berbentuk wadah kecil: janur dimaknai sebagai cahaya sejati
  • Air dalam gelas atau botol: kemurnian, dan kehadirannya wajib
  • Kopi dalam cangkir kecil: energi dan semangat
  • Tebu yang dipotong beberapa bagian: manisnya hidup dan keteguhan
  • Wadah dari tanah liat untuk nasi pancawarna dan bunga: kembalinya manusia ke asalnya, yaitu bumi
  • Dupa: asapnya dipercaya menjadi media komunikasi, membuka ruang spiritual
  • Kepala Barong yang diletakkan di sisi utama: pusat energi, lambang perlindungan dan penjaga keseimbangan

Perhatikan pola yang muncul kalau daftar itu dibaca berurutan. Hampir seluruhnya hasil bumi: pisang, kelapa, beras, tebu, bunga, sirih, tanah liat. Sesaji ini disusun oleh masyarakat agraris, dan isinya adalah apa yang mereka tanam.

Seorang pawang berbaju hitam duduk bersila di atas tikar menghadap deretan topeng barongan dan wadah-wadah sesaji di sebuah lapangan desa
Pawang jaranan di Banyuwangi menyiapkan sesaji di hadapan topeng-topeng barongan, sebelum pertunjukan dimulai. Prosesi seperti inilah yang oleh naskah disebut Peras Jaranan, dan kepala Barong memang ditempatkan di sisi utama sebagai pusat energi. Foto: Mohd Zaenuri, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Datanglah sebelum pertunjukannya mulai. Peras Jaranan berlangsung sebelum tarian dimulai, dan justru di situ letak isi keseniannya. Kalau Anda datang saat gamelan sudah berbunyi, bagian yang paling bermakna sudah lewat.

Hitung kudanya. Empat, enam, atau delapan. Angka genapnya disengaja, dan warna kudanya memberi tahu peran tiap penari sebelum mereka bergerak.

Banyuwangi Kuwung Festival adalah pintu paling mudah. Naskah menyebutnya sebagai salah satu acara tempat jaranan Banyuwangi tampil. Untuk pertunjukan di desa, tanyakan pada sanggar setempat, karena jadwalnya mengikuti hajatan dan bersih desa, bukan kalender wisata.

Perlakukan sesajinya sebagai benda, bukan properti foto. Dua puluh unsur itu disusun dengan aturan. Bertanya lebih dulu sebelum memotret dari dekat adalah kebiasaan yang murah dan pantas.

Bagian kesurupannya bukan atraksi yang bisa diminta. Naskah menempatkannya sebagai bagian ritual, bukan pertunjukan tambahan.

Kesimpulan

Yang membuat penelitian ini berguna bukan tafsir spiritualnya, melainkan inventarisnya. Ada ukuran, ada ketebalan bambu, ada daftar warna, dan ada dua puluh unsur sesaji yang ditulis satu per satu.

Kesenian rakyat biasanya hilang bukan karena dilarang, melainkan karena tidak pernah dicatat cukup rinci untuk bisa diulang. Yang dilakukan lima narasumber di Banyuwangi itu, lewat penelitian ini, adalah memastikan bahwa kalaupun suatu saat sanggarnya berhenti, orang masih tahu kudanya seberapa besar dan kenapa selendangnya kuning.

Sumber: Mursidi, A., Rubiono, G., & Soetopo, D. (2025). The Jaran Kepang Traditional Dance Art in Banyuwangi Regency, East Java Province, Indonesia. Journal of Cultural Analysis and Social Change, 10(2), 4232-4241. DOI: 10.64753/jcasc.v10i2.2245

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya