Filosofi Pencak Silat: Tangannya Terbuka, dan Itu Bukan Kebetulan

Endo Sadewa 19 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.20961/ijsascs.v6i1.69953
Filosofi Pencak Silat: Tangannya Terbuka, dan Itu Bukan Kebetulan

Kalau Anda perhatikan kuda-kuda pencak silat, tangannya jarang mengepal. Hampir selalu terbuka. Sebuah kajian dari Universitas Sebelas Maret menjelaskan kenapa, lalu mencatat sesuatu yang jarang dibicarakan: silat pernah dilarang, dua kali, oleh dua pemerintahan yang berbeda.

Ada satu detail pada pencak silat yang mudah dilewatkan karena terlalu sederhana: tangannya jarang mengepal.

Kajian yang terbit di International Journal of Science and Applied Science pada 2022, ditulis Suryo Ediyono dan rekan-rekannya dari Universitas Sebelas Maret, menjadikan detail itu titik masuk. Menurut mereka, pada kuda-kuda pencak silat tangan jarang berada dalam kepalan, melainkan hampir selalu terbuka. Dan itu punya arti: pencak silat bukan bentuk bela diri untuk menyakiti orang, melainkan untuk mempertahankan diri dari serangan orang lain.

Perlu disampaikan sejak awal bahwa ini makalah konferensi dengan pendekatan historis-hermeneutik dan kualitatif, disertai wawancara dengan para ahli silat. Jadi yang Anda baca di bawah adalah pemetaan filosofi, bukan angka survei.

Dua pesilat berbaju hitam dan merah bergerak di sawah berlumpur berair dengan pegunungan di kejauhan dan dua orang lain berdiri mengamati
Silek Lanyah di Kubu Gadang, Minangkabau, yaitu silat yang dimainkan di sawah berlumpur. Naskah mencatat gerakan pencak silat banyak meniru gerak binatang di alam sekitarnya. Foto: Surya Selfika, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Tangga Sikap: Menghindar, Mengelak, Bertahan, Mengunci

Bagian paling berguna dari kajian ini adalah urutannya. Naskah menjabarkan model sikap pencak silat sebagai tangga yang naik setahap demi setahap, dan tiap anak tangga baru dipakai kalau anak tangga sebelumnya gagal.

  • Kalau seseorang mengajak berkelahi, pesilat cenderung menghindarinya
  • Kalau lawan terus menyerang, sikap yang dipakai biasanya elakan
  • Kalau lawan masih menyerang, barulah dipakai pertahanan
  • Setelah ditangkis dan lawan ternyata masih menyerang, serangan itu ditangkap lalu dilumpuhkan dengan kuncian

Kesimpulan naskah atas urutan itu satu kalimat: seorang pesilat tidak akan pernah mencari musuh.

Perhatikan bahwa tidak ada satu pun anak tangga yang dimulai dengan menyerang. Serangan lawanlah yang menaikkan tangga itu, bukan keputusan pesilatnya. Kuncian berada di ujung, bukan di awal, dan hanya dicapai setelah tiga tahap sebelumnya habis.

Ini juga menjelaskan tangan yang terbuka tadi. Tangan terkepal adalah sikap orang yang berniat memukul. Tangan terbuka adalah sikap orang yang bersiap menangkap.

Iklan

Gerakan yang Meniru Binatang

Naskah mencatat banyak gerakan pencak silat meniru gerak binatang di lingkungan alam sekitarnya. Untuk menangkis, yang ditiru adalah gerak binatang seperti harimau, monyet, ular, bahkan elang, guna mempertahankan diri dari segala ancaman.

Empat binatang itu bukan pilihan sembarangan kalau dilihat dari cara masing-masing menghadapi bahaya. Harimau dengan kekuatan, monyet dengan kelincahan, ular dengan lenturan, elang dengan jangkauan. Yang ditiru bukan cara mereka berburu, melainkan cara mereka bertahan.

Dua pesilat bertanding di atas gelanggang bertanda lingkaran, dengan wasit dan penonton di sekelilingnya
Pertandingan pencak silat antarnegara. Bentuk gelanggang seperti ini adalah wajah olahraga modern dari kesenian yang aturannya jauh lebih tua. Foto: Gunawan Kartapranata, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Perguruan Silat Sebagai Lembaga Pendidikan

Kajian ini menempatkan perguruan silat pada posisi yang mungkin mengejutkan sebagian pembaca.

Menurut naskah, perguruan pencak silat merupakan salah satu bentuk pendidikan humaniora dalam masyarakat Jawa tradisional, di samping keraton dan pesantren. Jadi ia disejajarkan dengan dua lembaga yang selama ini dianggap pusat pembentukan watak.

Naskah juga membaca munculnya perguruan-perguruan baru dengan cara yang tidak biasa. Kemunculan perguruan pencak silat baru, tulisnya, bukan reaksi menolak modernisasi, melainkan usaha aktif mencari identitas unggul bagi budaya bangsa. Perguruan-perguruan itu bahkan menawarkan hal-hal yang dicari masyarakat modern, seperti kesehatan, pengobatan, bela diri, sampai pengobatan dalam.

Iklan

Dua Kali Dilarang

Ini bagian yang paling jarang muncul dalam tulisan populer tentang pencak silat, dan naskah menyampaikannya berdampingan.

Pertama, pada masa Hindia Belanda, silat dilarang karena dianggap ancaman bagi kolonialisme.

Kedua, dan ini yang membuat naskah menyebutnya paradoks, beberapa waktu lalu pemerintah Timor Leste secara resmi melarang pencak silat, sementara seni bela diri lain tidak dilarang.

Dua pelarangan itu terpisah lebih dari satu abad dan datang dari pemerintahan yang sama sekali berbeda. Yang menarik adalah keduanya menunjukkan hal yang sama: pencak silat tidak pernah dibaca semata-mata sebagai olahraga. Ia selalu dianggap membawa sesuatu yang lain, entah kekuatan sosial atau kesetiaan kelompok, sampai-sampai pernah dipandang perlu untuk dilarang.

Naskah ini sendiri ditulis dengan latar penetapan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO, yaitu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Status itulah yang membuat paradoksnya makin terasa: pada tahun-tahun yang berdekatan, kesenian yang sama diakui dunia sekaligus dilarang di satu negara tetangga.

Sekarang letakkan fakta itu di sebelah tangga sikap di bagian awal artikel ini. Sebuah kesenian yang filosofinya secara tegas menyuruh menghindari perkelahian, dan yang tangannya sengaja tidak mengepal, dua kali dianggap cukup berbahaya untuk dilarang.

Gelanggang pencak silat bermatras hijau bertepi merah di tengah gedung yang penuh penonton, dengan spanduk SEA Games dan bendera negara peserta
Gelanggang utama Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, saat dipakai untuk pertandingan SEA Games. Gelanggang seperti ini menandai perpindahan silat dari halaman perguruan ke arena olahraga resmi. Foto: Gunawan Kartapranata, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 3.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Perhatikan tangannya, bukan tendangannya. Kalau Anda menonton pertunjukan silat, telapak tangan yang terbuka adalah tanda paling cepat bahwa yang Anda tonton benar-benar silat tradisi, bukan koreografi laga.

Cari Silek Lanyah kalau ke Sumatra Barat. Silat yang dimainkan di sawah berlumpur ini adalah salah satu bentuk yang paling khas secara visual, dan berlangsung di ruang terbuka.

Padepokan Pencak Silat di Taman Mini adalah titik masuk yang mudah. Gelanggangnya dipakai untuk pertandingan dan pertunjukan, dan letaknya di Jakarta.

Tanyakan alirannya, bukan cuma namanya. Naskah menyebut tiap perguruan punya watak unggul yang menjadi cirinya. Pertanyaan "ini aliran apa" akan membuka percakapan yang jauh lebih menarik daripada "ini silat ya".

Kesimpulan

Pencak silat biasanya dijual sebagai warisan yang membanggakan, dan itu benar. Tetapi kebanggaan bukan bagian yang paling menarik dari kajian ini.

Bagian yang paling menarik adalah bahwa filosofinya bisa diringkas dalam empat langkah yang seluruhnya menunda perkelahian, dan bahwa ringkasan itu tertulis dalam bentuk yang bisa diuji siapa pun yang menonton: lihat tangannya. Kalau terbuka, seluruh filosofi itu sedang ditunjukkan di depan Anda, tanpa perlu satu kata pun.

Sumber: Ediyono, S., Nugraha, R.S., & Ahmad, A.A.H. (2022). Indonesian Pencak Silat Tradition Models as The Intangible Cultural Heritage of Humanity. International Journal of Science and Applied Science: Conference Series, 6(1), 166-173. DOI: 10.20961/ijsascs.v6i1.69953

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya