Geosite Sipinsur: Balkon Danau Toba dengan Skor Kelayakan 73,98 Persen

Endo Sadewa 4 September 2026 Diperbarui 18 September 2026 9 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.30892/gtg.49323-1107
Geosite Sipinsur: Balkon Danau Toba dengan Skor Kelayakan 73,98 Persen

Peneliti menilai Geosite Sipinsur di Humbang Hasundutan memakai enam kriteria berbobot. Hasil akhirnya 73,98 persen dan dinyatakan layak dikembangkan. Namun satu kriteria berhenti di 41,67 persen, dan angka itu menjelaskan kenapa hampir sepertiga pengunjung pulang setelah kurang dari empat jam.

Ada tempat di tepi kaldera Danau Toba yang hanya seluas dua hektare, tetapi menyodorkan pemandangan yang biasanya butuh drone untuk didapat. Namanya Geosite Sipinsur, berada di Desa Pearung, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada ketinggian 1.213 meter di atas permukaan laut. Dari bawah tegakan pinus, mata langsung jatuh ke permukaan danau dan Pulau Sibandang di kejauhan.

Sekelompok peneliti dari Universitas Sumatera Utara menilai tempat ini dengan cara yang jarang dipakai penulis perjalanan, yaitu sistem skoring berbobot untuk kelayakan objek wisata alam. Hasilnya terbit di GeoJournal of Tourism and Geosites pada 2023. Angka akhirnya 73,98 persen, cukup untuk menyatakan Sipinsur layak dikembangkan. Yang lebih menarik justru rinciannya, karena di sana ada satu kriteria yang jatuh sendirian.

Panorama Danau Toba dilihat dari Geosite Sipinsur dengan tegakan pinus di sisi kanan
Panorama Danau Toba dari Geosite Sipinsur, Kabupaten Humbang Hasundutan. Foto: Eunike25, Wikimedia Commons, lisensi CC BY 4.0.

Enam Kriteria, Satu Angka yang Jatuh Sendirian

Penilaian dilakukan pada enam kriteria, masing-masing dengan bobot berbeda sesuai kepentingannya. Inilah hasilnya, diurutkan dari yang tertinggi:

  • Kondisi sosial ekonomi: 95,83 persen. Ini kriteria dengan nilai tertinggi. Artinya dukungan masyarakat sekitar dan kondisi ekonomi kawasan sangat mendukung pengembangan.
  • Ketersediaan air bersih: 93,33 persen. Bobotnya paling besar bersama daya tarik, dan Sipinsur nyaris sempurna di sini.
  • Daya tarik: 72,22 persen. Nilai pemandangan, iklim mikro, dan keunikan lokasi.
  • Aksesibilitas: 70,83 persen. Jalan menuju lokasi sudah memadai meski belum ideal.
  • Sarana dan prasarana: 70,00 persen.
  • Akomodasi: 41,67 persen. Satu-satunya kriteria yang berhenti di bawah separuh.

Selisih antara 95,83 persen dan 41,67 persen itu besar sekali. Sipinsur punya air bersih melimpah, warga yang mendukung, pemandangan yang menjual, dan jalan yang bisa dilalui. Yang tidak dimilikinya adalah tempat menginap. Peneliti mencatat kawasan ini tidak memiliki penginapan, hanya area berkemah.

Perlu dicatat bahwa bobot tiap kriteria tidak sama. Daya tarik dan ketersediaan air bersih diberi bobot paling besar, sementara akomodasi serta sarana prasarana diberi bobot paling kecil. Artinya nilai akhir 73,98 persen itu sebenarnya sudah menahan dampak buruk dari kriteria akomodasi. Kalau bobotnya disamakan, angkanya akan turun lebih jauh lagi.

Iklan

Angka yang Menghubungkan Semuanya: Mayoritas Pulang Sebelum Sore

Peneliti mewawancarai 99 pengunjung. Dari jawaban mereka muncul pola durasi kunjungan yang sangat khas: 34,34 persen tinggal antara dua sampai empat jam, dan 28 persen tinggal antara empat sampai enam jam. Sipinsur adalah tempat singgah, bukan tempat menginap.

Kalau dua temuan itu disandingkan, gambarannya jadi utuh. Bukan karena pengunjung tidak betah. Justru sebaliknya, 65 persen responden menyatakan sudah datang lebih dari sekali, dan 44 persen bahkan sudah lima kali atau lebih. Orang senang kembali ke Sipinsur. Mereka hanya tidak punya tempat untuk tidur di sana, sehingga kunjungan selalu berakhir dengan perjalanan pulang di sore hari.

Angka lain yang menarik: sebanyak 80,1 persen pengunjung mengetahui tempat ini dari teman atau kerabat, bukan dari iklan. Lalu 96 persen datang berkelompok, dengan rincian 56,56 persen bersama teman atau rekan kerja dan 42,42 persen bersama keluarga. Sebanyak 78,78 persen menjadikan Sipinsur sebagai tujuan utama, bukan persinggahan sambil lalu.

Gerbang bertuliskan Geosite Sipinsur dengan gazebo, bangku, dan tegakan pinus di Paranginan, Humbang Hasundutan
Gerbang Geosite Sipinsur di Paranginan, Humbang Hasundutan, dengan gazebo dan bangku di bawah tegakan pinus. Foto: Halak Huta, Wikimedia Commons, lisensi CC0.

Apa yang Sebenarnya Tumbuh di Sana

Vegetasi Sipinsur didominasi pinus sumatera atau Pinus merkusii, jenis pinus asli yang tumbuh alami di dataran tinggi Sumatera. Peneliti juga mencatat pucuk merah atau Syzygium oleana, berbagai jenis palem, dan tanaman berbunga.

Untuk satwa, catatannya lebih pendek: kucing hutan dan elang. Peneliti menambahkan satu kalimat jujur yang jarang muncul di jurnal pariwisata, bahwa fauna di kawasan ini tergolong kurang mendapat perhatian pengunjung. Orang datang ke Sipinsur untuk pemandangan, bukan untuk mengamati satwa.

Aktivitas yang tercatat mencakup menikmati panorama danau, berkemah, kegiatan kepramukaan, pendidikan, penelitian, olahraga, berfoto, mengamati flora, serta pertunjukan tari etnik. Fasilitas yang sudah tersedia meliputi papan informasi, toilet, tempat sampah, jalur jalan wisata, taman bermain di bawah tegakan pinus, rumah makan, toko suvenir, jaringan listrik, dan pusat kesehatan.

Iklan

Yang Dinilai Kurang oleh Pengunjungnya Sendiri

Bagian ini yang paling berguna dibaca sebelum berangkat. Beberapa hal mendapat penilaian di bawah harapan dari pengunjung sendiri.

Toko suvenir dinilai biasa saja, dengan alasan barangnya kurang menarik dan tidak mengikuti tren. Area berkemah mendapat nilai di bawah tingkat kepuasan dan bukan pusat kegiatan bagi kebanyakan orang. Pilihan kuliner dinilai biasa karena terbatas dan harganya relatif mahal. Jumlah bangku di dekat titik pandang terbatas. Jaringan internet untuk operator belum tersedia, begitu juga wahana permainan anak dan penunjuk arah yang memadai.

Sisi baiknya, kualitas pelayanan dinilai baik, sarana dinilai memadai, dan mayoritas pengunjung menolak perilaku yang merusak lingkungan serta menyatakan bersedia ikut bertanggung jawab menjaga kawasan. Modal sosialnya ada. Yang belum ada adalah rangkaian fasilitas yang membuat orang bertahan lebih lama.

Lembah Bakkara di dataran tinggi Toba dengan sawah, perbukitan, dan Danau Toba di kejauhan
Lembah Bakkara di dataran tinggi Toba, masih di Kabupaten Humbang Hasundutan. Catatan: foto ini bukan Sipinsur, melainkan kawasan lain di kabupaten yang sama, ditampilkan untuk memberi gambaran bentang alam sekitarnya. Foto: Gerry Wowiling, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

  • Rencanakan Sipinsur sebagai kunjungan setengah hari. Data penelitian menunjukkan mayoritas pengunjung tinggal dua sampai enam jam. Jadwal yang realistis membuat perjalanan terasa cukup, bukan terburu-buru.
  • Cari penginapan di luar kawasan. Peneliti mencatat tidak ada penginapan di lokasi, hanya area berkemah. Kalau ingin menginap dekat, pesan lebih dahulu di kota terdekat di Humbang Hasundutan atau sekitar Danau Toba.
  • Bawa bekal atau siapkan anggaran lebih untuk makan. Pilihan kuliner dinilai terbatas dan relatif mahal oleh responden penelitian.
  • Datang lebih awal kalau ingin duduk di titik pandang terbaik. Jumlah bangku di dekat titik panorama disebut terbatas, sementara 96 persen pengunjung datang berkelompok.
  • Suhu di 1.213 meter tidak seperti di pesisir. Sipinsur berada di dataran tinggi dengan iklim mikro yang sejuk. Jaket tipis membuat perbedaan besar, terutama menjelang sore.
  • Bawa turun sampah sendiri. Tempat sampah tersedia, tetapi kawasan ini bagian dari geopark. Mayoritas pengunjung dalam penelitian menyatakan bersedia ikut menjaga, dan itu kebiasaan yang layak dilanjutkan.

Kesimpulan

Skor 73,98 persen membuat Sipinsur terdengar seperti tempat yang setengah jadi. Membaca rinciannya justru sebaliknya. Lima dari enam kriteria berada di angka 70 persen ke atas, dua di antaranya di atas 93 persen. Yang menahan Sipinsur bukan pemandangannya, bukan warganya, bukan pula airnya. Yang menahan adalah tidak adanya tempat untuk tinggal semalam.

Itu sebenarnya kabar bagus. Kekurangan yang jelas jauh lebih mudah diperbaiki daripada kekurangan yang tersebar. Sebuah tempat dengan 65 persen pengunjung berulang dan 80 persen informasi datang dari mulut ke mulut sudah memenangkan bagian yang paling sulit. Sisanya soal menyediakan alasan untuk bertahan sampai matahari terbit lagi di atas Danau Toba.

Sumber: Purwoko, A., Patana, P., Rahmawaty, Alfath, D.N., & Hidayat, T. (2023). Assessing the Development Potential, Feasibility and Visitor Assessment in the Sipinsur Geosite Natural Tourism Area, Toba Caldera Global Geopark, Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 49(3). DOI: 10.30892/gtg.49323-1107

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya