Wayang Bertahan Bukan karena UNESCO, tapi karena Masih Ditanggap
UNESCO menetapkan wayang sebagai mahakarya warisan lisan dan takbenda umat manusia pada 2003. Tetapi kajian ini menunjuk hal lain sebagai penentu: sebuah sanggar di Pemalang yang dalangnya masih mementaskan wayang golek sejak 1989, dengan ritual tahunan yang tidak pernah ia lewatkan.
Setiap kali wayang dibicarakan, satu tahun hampir selalu disebut: 2003, ketika UNESCO menetapkannya sebagai Mahakarya Warisan Lisan dan Takbenda Umat Manusia.
Penetapan itu penting. Tetapi kajian yang terbit di International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences pada 2025 menempatkannya pada posisi yang lebih jujur: pengakuan itu menegaskan nilai wayang sekaligus menuntut adanya usaha pelestarian aktif oleh masyarakat dan pemerintah. Sertifikat tidak melestarikan apa pun dengan sendirinya.
Yang melestarikan, menurut naskah ini, adalah hal-hal yang jauh lebih kecil dan jauh lebih sulit.
Ukuran Keberhasilan yang Dipakai Naskah Ini
Alih-alih menghitung penghargaan, naskah ini memakai ukuran yang berbeda: apakah wayang masih dipentaskan dalam kehidupan orang, dan siapa yang menanggapnya.
Jawabannya, menurut naskah, wayang tetap menjadi medium komunikasi budaya yang disukai dan berakar dalam tradisi setempat, baik pada hajatan keluarga, festival desa, maupun acara yang disponsori pemerintah. Masyarakat disebut tidak hanya menghargainya secara estetis, tetapi memadukannya ke dalam kehidupan sehari-hari yang bermakna.
Perbedaan ini penting. Sebuah kesenian yang hanya tampil di panggung festival adalah kesenian yang sedang dirawat. Sebuah kesenian yang ditanggap orang untuk hajatan sendiri adalah kesenian yang masih hidup.
Iklan
Satu Sanggar, Satu Dalang, Sejak 1989
Contoh yang diangkat naskah ini bukan nama besar, dan justru itu kekuatannya.
Sanggar Kridha Utama di Pemalang, Jawa Tengah, dipimpin dalang bernama Winarno sejak 1989. Sanggar ini mempertahankan tradisi wayang golek lewat pementasan di dalam maupun di luar daerahnya, termasuk acara berskala nasional di Jakarta dan Bali.
Yang dicatat naskah bukan sekadar daftar pentasnya, melainkan apa yang dilakukan dalangnya di luar panggung. Winarno menjalankan ritual pembersihan tahunan, memakai dupa dan doa yang disebut tawasulan, dan hal itu disebut naskah sebagai penegasan sisi sakral keseniannya. Ia juga menghubungkan wayang golek yang dibawakannya dengan tokoh seperti Pangeran Diponegoro dan Sunan Kalijaga.
Jadi pelestarian yang sesungguhnya, dalam contoh ini, berbentuk seorang lelaki yang sudah lebih dari tiga dekade menjaga satu sanggar, dan yang setiap tahun mengerjakan ritual yang tidak dilihat penonton mana pun.
Wayang Golek: Kepalanya Bisa Dilepas
Naskah memberi perhatian khusus pada wayang golek, yang disebutnya seni pertunjukan tradisional asli Jawa Barat dan telah lama menempati kedudukan penting dalam masyarakat Sunda.
Penjelasan tekniknya rinci dan berguna. Bonekanya dipahat dari kayu dengan kepala, badan, dan lengan yang dapat dilepas, digerakkan lewat sebuah batang pusat yang disebut tuding. Susunan itulah yang memungkinkan dalang bercerita secara dinamis.
Bandingkan dengan wayang kulit, yang bermain di ruang dua dimensi lewat bayangan pada kelir. Wayang golek bermain di ruang tiga dimensi, dan kepala yang bisa dilepas itu berarti satu badan bisa menjadi banyak tokoh. Itu bukan kekurangan, melainkan pilihan rancangan.
Fungsinya, menurut naskah, melampaui hiburan: wayang golek menjadi media penyampai ajaran moral, nilai keagamaan, dan pelajaran hidup, diiringi gamelan.
Ringkasnya, dua bentuk itu berbeda pada hal-hal berikut:
- Bahan: wayang kulit dari lembaran kulit yang ditatah, wayang golek dari kayu yang dipahat
- Ruang: wayang kulit dimainkan lewat bayangan pada kelir, wayang golek tampil utuh sebagai boneka tiga dimensi
- Penggerak: wayang golek memakai batang pusat bernama tuding, dengan kepala, badan, dan lengan yang dapat dilepas
- Asal: naskah menyebut wayang golek sebagai seni pertunjukan asli Jawa Barat dan lama berakar dalam masyarakat Sunda
Iklan
YouTube dan Instagram Masuk ke Dalam Ceritanya
Bagian ini yang membuat kajian ini terasa berumur 2025, bukan 1995.
Naskah mencatat platform seperti YouTube, Instagram, dan berbagai layanan streaming telah menjadi ruang penting bagi para dalang untuk membagikan pertunjukan, cerita, dan bahan pendidikan kepada khalayak yang lebih luas.
Ini pergeseran besar yang jarang disadari. Pertunjukan wayang secara tradisional terikat tempat dan waktu, yaitu satu desa, satu malam. Rekaman melepaskan ikatan itu. Seorang dalang di Pemalang kini bisa ditonton orang yang tidak pernah bisa hadir di halaman rumah yang menanggapnya.
Naskah tidak menyebutnya sebagai pengganti pertunjukan langsung, dan memang bukan. Yang dicatat adalah bahwa jalur penyebarannya bertambah, bukan berpindah.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Cari pertunjukan yang ditanggap, bukan yang dijadwalkan. Wayang pada hajatan atau bersih desa berlangsung dengan alasan yang berbeda dari wayang di panggung festival, dan suasananya pun berbeda. Tanyakan pada sanggar setempat.
Duduklah sesekali di sisi bayangan. Kelir punya dua sisi. Sisi dalang memperlihatkan wayangnya, sisi seberang memperlihatkan bayangannya. Keduanya sengaja dirancang untuk ditonton.
Untuk wayang golek, perhatikan tudingnya. Batang pusat itulah yang menggerakkan seluruh boneka. Sekali Anda melihatnya, cara kerja pertunjukan itu terbuka.
Perajinnya sama pentingnya dengan dalangnya. Menatah kulit dan memahat kayu adalah keterampilan tersendiri dengan pewarisannya sendiri. Bengkel kerajinan wayang biasanya menerima kunjungan.
Jangan menilai dari durasinya. Pertunjukan yang panjang bukan tanda kualitas, dan yang pendek bukan tanda ia sudah tidak asli.
Kesimpulan
Kajian ini menutup dengan gagasan bahwa keberlangsungan wayang mencerminkan keberhasilan masyarakat Jawa, dan Indonesia secara lebih luas, dalam menjaga warisan budayanya bukan hanya sebagai kebanggaan sejarah, melainkan juga sebagai alat komunikasi lintas generasi yang adaptif dan bermakna.
Kalimat itu terdengar besar. Tetapi kalau ditarik kembali ke isi naskahnya, wujud nyatanya kecil sekali: sebuah sanggar di Pemalang, seorang dalang yang bertahan sejak 1989, ritual tahunan yang dikerjakan tanpa penonton, dan orang-orang yang masih memilih menanggap wayang ketika punya hajat.
Penetapan UNESCO pada 2003 mengakui semua itu. Ia tidak menciptakannya.
Sumber: Hidayat, A., Supendi, U., Wahyuni, S.S., & Maulana, R.F. (2025). The Wayang as a Cultural Performance: Preserving Javanese Heritage in the Modern Era. International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences, 3(5), 357-370. DOI: 10.59890/ijarss.v3i5.32
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya
Jaran Kepang Banyuwangi: Kudanya 100 Sentimeter, Sesajinya 20 Unsur
Kuda anyaman bambunya panjang sekitar 100 sentimeter, tinggi 60, dari bilah setebal 1 sampai 2 milimeter. Warnanya tidak dipilih sembarangan. Dan sebelum pertunjukan dimulai, ada sesaji berisi setidaknya 20 unsur yang masing-masing punya arti sendiri.
Filosofi Pencak Silat: Tangannya Terbuka, dan Itu Bukan Kebetulan
Kalau Anda perhatikan kuda-kuda pencak silat, tangannya jarang mengepal. Hampir selalu terbuka. Sebuah kajian dari Universitas Sebelas Maret menjelaskan kenapa, lalu mencatat sesuatu yang jarang dibicarakan: silat pernah dilarang, dua kali, oleh dua pemerintahan yang berbeda.
Borobudur: Candi Buddha yang Dijadikan Milik Seluruh Bangsa Indonesia
Hanya sebagian kecil orang Indonesia punya ikatan keagamaan dengan Borobudur, dan lebih sedikit lagi keturunan Sailendra yang membangunnya. Tetapi candi itu menjadi monumen nasional. Sebuah kajian dari ANU menelusuri bagaimana hal itu terjadi, dan apa yang dikorbankan.
