15 Tempat Wisata di Makassar yang Wajib Dikunjungi, dari Pantai sampai Sejarah

Mau liburan ke Kota Daeng? Ini panduan lengkap tempat wisata di Makassar, mulai dari Pantai Losari, Fort Rotterdam, masjid ikonik, sampai pulau-pulau cantiknya, lengkap dengan kelebihan, kekurangan, dan lokasi Google Maps tiap tempat.
Makassar itu kota yang susah dilupakan. Begitu turun dari pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin, kamu langsung disambut udara hangat khas pesisir, logat Daeng yang ramah tapi tegas, dan aroma coto yang entah datang dari mana. Sebagai kota terbesar di Indonesia Timur sekaligus gerbang menuju Toraja, Bira, sampai Wakatobi, Makassar sering cuma dianggap tempat transit. Padahal, kalau kamu mau meluangkan dua atau tiga hari, kota ini punya cukup banyak cerita untuk membuatmu betah.
Saya coba rangkum tempat-tempat wisata di Makassar yang menurut saya paling layak masuk daftar, dari yang ikonik sampai yang sering terlewat. Tidak cuma menyebut nama, tapi juga cerita singkat, plus kelebihan dan kekurangannya, biar kamu bisa mengatur ekspektasi sebelum berangkat. Yuk, kita mulai dari yang paling legendaris.
Pantai Losari
Kalau Makassar punya satu ikon yang tak terbantahkan, itu adalah Pantai Losari. Tapi jangan bayangkan pantai dengan pasir putih dan ombak, ya. Losari adalah anjungan beton memanjang di tepi laut, tempat warga kota tumpah ruah setiap sore untuk satu ritual sederhana: menunggu matahari terbenam. Dan percaya deh, senja di Losari itu memang juara, langit berubah jingga keemasan di atas garis laut, sementara siluet perahu nelayan lewat perlahan.
Yang bikin Losari hidup bukan cuma pemandangannya, tapi suasananya. Ada tiga anjungan dengan tulisan besar nama-nama suku, deretan penjual pisang epe (pisang bakar yang dipipihkan lalu disiram saus gula merah), dan keluarga yang piknik dadakan. Datang menjelang pukul lima sore, cari tempat duduk, pesan pisang epe hangat, dan nikmati saja.
Kelebihan:
- Gratis masuk dan sangat mudah dijangkau dari mana saja di pusat kota.
- Spot matahari terbenam terbaik di Makassar, ditemani kuliner kaki lima yang murah meriah.
- Ramah keluarga, cocok untuk jalan santai sore hari.
Kekurangan:
- Sangat ramai dan padat saat akhir pekan, mencari tempat duduk bisa jadi perjuangan.
- Bukan pantai untuk berenang; ini esplanade, jadi jangan harap main air atau pasir.
- Area parkir dan pedagang kadang semrawut, dan siang hari terasa sangat panas.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Masjid Amirul Mukminin (Masjid Terapung Losari)
Masih di kawasan Losari, berdiri sebuah masjid yang seolah mengapung di atas laut. Inilah Masjid Amirul Mukminin, yang lebih akrab disebut Masjid Terapung. Dengan dua menara dan kubah yang memantul di air saat air pasang, masjid ini jadi salah satu objek foto paling dicari di Makassar, apalagi kalau berlatar langit senja.
Selain jadi tempat ibadah, masjid ini juga ruang publik yang nyaman. Banyak pengunjung yang sekadar duduk di sekitarnya menikmati angin laut. Karena lokasinya menyatu dengan Losari, kamu bisa langsung mampir sebelum atau sesudah berburu sunset.
Kelebihan:
- Arsitektur unik di atas laut, sangat fotogenik terutama saat sore.
- Gratis, dan lokasinya bersebelahan dengan Pantai Losari.
- Tetap berfungsi sebagai masjid, jadi terasa tenang dan terawat.
Kekurangan:
- Ramai pengunjung yang berfoto, terutama menjelang magrib.
- Wajib menjaga adab dan berpakaian sopan karena ini rumah ibadah.
- Area terbuka tanpa banyak peneduh, panas di siang hari.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Fort Rotterdam (Benteng Ujung Pandang)
Untuk kamu yang suka sejarah, Fort Rotterdam adalah wajib hukumnya. Benteng peninggalan abad ke-17 ini awalnya milik Kerajaan Gowa dengan nama Benteng Ujung Pandang, sebelum direbut dan dibangun ulang oleh Belanda. Bentuknya konon menyerupai penyu yang hendak merangkak ke laut, simbol kejayaan maritim Gowa.
Begitu masuk, kamu akan menemukan kompleks bangunan tua bergaya Eropa yang terawat rapi, halaman luas berumput, dan Museum La Galigo yang menyimpan koleksi budaya Sulawesi Selatan. Tembok-tembok tebalnya menyimpan banyak cerita, termasuk sel tempat Pangeran Diponegoro pernah ditahan. Jalan-jalan santai di sini terasa seperti mundur ke masa lalu.
Kelebihan:
- Salah satu benteng peninggalan kolonial paling terawat di Indonesia.
- Masuk gratis atau hanya seikhlasnya, sangat ramah kantong.
- Ada museum, arsitektur klasik, dan banyak sudut instagramable.
Kekurangan:
- Cuaca di dalam kompleks cukup panas dan minim peneduh di siang hari.
- Informasi di dalam museum terasa kurang interaktif bagi sebagian pengunjung.
- Beberapa bagian bangunan sudah menua dan butuh perawatan lebih.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Masjid 99 Kubah (Asmaul Husna)
Inilah ikon baru Makassar yang langsung mencuri perhatian. Masjid 99 Kubah, atau Masjid Kubah 99 Asmaul Husna, dirancang dengan konsep yang sangat berbeda dari masjid pada umumnya. Sesuai namanya, masjid ini punya 99 kubah dengan gradasi warna merah, jingga, dan kuning yang berani, berdiri megah di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) tepat menghadap laut.
Karena warnanya yang mencolok dan posisinya di tepi pantai, masjid ini cepat sekali viral dan jadi destinasi wajib. Sore hari, kombinasi warna kubah dengan langit senja menciptakan pemandangan yang benar-benar memanjakan mata. Cocok banget buat kamu yang berburu foto estetik sekaligus tempat ibadah yang adem.
Kelebihan:
- Desain ikonik dan berwarna-warni, salah satu yang paling fotogenik di kota.
- Lokasi tepi laut dengan panorama senja yang memukau.
- Gratis dan jadi kebanggaan baru warga Makassar.
Kekurangan:
- Sangat ramai saat akhir pekan dan jam menjelang magrib.
- Area sekitar masih terus berkembang, jadi sebagian fasilitas belum lengkap.
- Panas terik di siang hari karena berada di area terbuka tepi laut.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Pulau Samalona
Siapa sangka, hanya sekitar setengah jam naik perahu dari pusat kota, kamu sudah bisa menginjak pulau kecil berpasir putih dengan air laut yang jernih. Pulau Samalona adalah pelarian favorit warga Makassar yang ingin merasakan suasana tropis tanpa harus pergi jauh. Pulaunya mungil, bisa dikelilingi dengan berjalan kaki, tapi pesonanya tak kalah dari pulau-pulau terkenal lainnya.
Di sini kamu bisa berenang, snorkeling melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil, atau sekadar bermalas-malasan di tepi pantai sambil menikmati kelapa muda. Ada beberapa penginapan dan warung sederhana milik warga. Untuk ke sana, kamu menyewa perahu dari Dermaga Kayu Bangkoa.
Kelebihan:
- Pulau tropis dengan pasir putih dan air jernih, sangat dekat dari kota.
- Cocok untuk snorkeling, berenang, dan bersantai seharian.
- Suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk Makassar.
Kekurangan:
- Biaya sewa perahu terasa mahal kalau pergi dalam rombongan kecil.
- Fasilitas masih terbatas dan sederhana.
- Kebersihan pantai kadang terganggu sampah kiriman, terutama di musim tertentu.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Trans Studio Makassar
Kalau liburan bareng anak-anak atau cuaca sedang tidak bersahabat, Trans Studio Makassar adalah jawaban yang aman. Ini salah satu taman hiburan dalam ruangan terbesar di Indonesia, jadi kamu bisa main seharian tanpa takut kepanasan atau kehujanan. Wahananya beragam, dari yang memacu adrenalin sampai yang ramah untuk balita.
Selain wahana, ada area pertunjukan, spot foto, dan banyak pilihan tempat makan. Tempat ini memang lebih komersial dan kekinian dibanding wisata alam atau sejarah, tapi sangat cocok untuk hiburan keluarga yang praktis.
Kelebihan:
- Taman hiburan indoor, nyaman dan tidak terpengaruh cuaca.
- Wahana lengkap untuk segala usia, ideal untuk keluarga.
- Berada dalam satu kawasan dengan mal dan hotel.
Kekurangan:
- Harga tiket relatif mahal dibanding wisata lain di Makassar.
- Antrean wahana bisa panjang saat musim liburan.
- Kurang cocok untuk yang mencari pengalaman budaya atau alam.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Pelabuhan Paotere
Ini destinasi yang sering terlewat, padahal punya jiwa Makassar yang paling otentik. Pelabuhan Paotere adalah pelabuhan tua yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Gowa, tempat kapal-kapal kayu phinisi dan pinisi bersandar berjajar. Datang ke sini rasanya seperti menyaksikan denyut nadi maritim Sulawesi yang sesungguhnya.
Buat pencinta fotografi, Paotere adalah surga. Deretan tiang kapal, aktivitas bongkar muat, dan wajah para pelaut menjadi objek yang penuh karakter, terutama di pagi hari. Memang bukan tempat wisata yang dikemas rapi, tapi justru di situlah daya tariknya.
Kelebihan:
- Pengalaman otentik melihat pelabuhan kapal kayu tradisional.
- Gratis dan sangat kaya untuk objek fotografi.
- Menyimpan nilai sejarah maritim Makassar yang kuat.
Kekurangan:
- Bukan kawasan wisata resmi, jadi fasilitas pengunjung minim.
- Suasananya sibuk dan padat sebagai pelabuhan aktif.
- Kebersihan area pelabuhan kurang terjaga di beberapa titik.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Pantai Akkarena
Sebagai alternatif Losari yang lebih tenang, Pantai Akkarena layak dilirik. Berada di kawasan Tanjung Bunga, pantai ini menawarkan dermaga kayu menjorok ke laut yang jadi spot favorit menikmati senja. Suasananya lebih santai dan tertata, cocok untuk yang ingin menghindari keramaian.
Kamu bisa duduk di kafe tepi pantai, bermain di area terbuka, atau berjalan menyusuri dermaganya sambil memotret langit sore. Berbeda dengan Losari yang sepenuhnya gratis, di sini ada tiket masuk yang ringan, tapi sebanding dengan kenyamanan yang ditawarkan.
Kelebihan:
- Lebih tenang dan tertata dibanding Losari.
- Dermaga kayu yang ikonik untuk menikmati matahari terbenam.
- Ada kafe dan area bermain, nyaman untuk keluarga.
Kekurangan:
- Ada tiket masuk, meski tergolong murah.
- Tetap ramai saat akhir pekan sore hari.
- Air laut di tepiannya kurang jernih untuk berenang.
Lihat lokasi dan foto pengunjung di Google Maps
Selain sembilan tempat di atas, Makassar masih menyimpan banyak kejutan lain seperti Benteng Somba Opu, Bugis Waterpark, sampai wisata pulau seperti Kodingareng Keke dan Lae-Lae. Belum lagi wisata kulinernya, dari coto Makassar, konro bakar, pallubasa, sampai es pisang ijo yang legendaris. Jadi, jangan buru-buru menganggap Makassar cuma kota transit.
Mau lanjut menjelajah Sulawesi Selatan? Putar Roda Wisata di Tempat Wisata Indonesia untuk ide destinasi, atau baca panduan dan tips perjalanan lainnya sebelum berangkat.
Tips Berkunjung ke Makassar
Untuk berkeliling Makassar, transportasi daring seperti ojek dan taksi online sangat membantu karena tarifnya jelas dan mudah didapat di mana saja. Objek-objek di dalam kota relatif berdekatan, jadi kamu bisa menyusun rute yang efisien: mulai dari wisata sejarah dan masjid pada pagi hingga siang hari, lalu akhiri dengan senja di Pantai Losari atau kawasan Center Point of Indonesia. Sebaiknya hindari bepergian saat jam pulang kerja karena lalu lintas di beberapa ruas jalan bisa cukup padat.
Waktu terbaik mengunjungi Makassar adalah musim kemarau sekitar pertengahan tahun, ketika cuaca cerah dan laut tenang untuk trip ke pulau. Bawalah pelindung dari panas seperti topi, kacamata hitam, dan tabir surya, karena udara kota terasa cukup terik di siang hari. Siapkan juga uang tunai secukupnya untuk parkir, jajan kaki lima, dan tiket masuk objek tertentu. Dan tentu saja, datanglah dengan perut yang siap, karena kuliner Makassar seperti coto, konro, dan pallubasa terlalu sayang untuk dilewatkan selama berada di Kota Daeng.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa tempat wisata paling terkenal di Makassar?
Pantai Losari adalah ikon wisata Makassar yang paling terkenal, diikuti Fort Rotterdam, Masjid Terapung, Masjid 99 Kubah, dan Pulau Samalona. Kelimanya hampir selalu masuk dalam itinerary wisatawan.
Berapa hari ideal untuk berwisata di Makassar?
Dua sampai tiga hari sudah cukup untuk menikmati objek-objek utama di dalam kota plus satu trip ke pulau. Jika ingin lanjut ke Malino, Maros, atau Toraja, tambahkan beberapa hari lagi.
Kapan waktu terbaik mengunjungi Makassar?
Musim kemarau, sekitar pertengahan tahun, paling ideal karena cuaca cerah dan laut tenang untuk trip ke pulau. Untuk menikmati Losari, datanglah pada sore hari menjelang matahari terbenam.
Pada akhirnya, Makassar adalah kota yang menawarkan perpaduan menarik antara laut, sejarah, dan kehangatan orang-orangnya. Ia mungkin tidak secantik kartu pos seperti Bali, tapi punya karakter yang jujur dan kuliner yang bikin kangen. Jadi, lain kali jangan cuma transit, beri Kota Daeng kesempatan untuk memikatmu.
Iklan
Siap merencanakan liburanmu?
Susun itinerary dan hitung estimasi budget hanya dalam beberapa klik.
Diskusi (0)
Belum ada komentar. Bagikan pendapatmu di bawah.
Artikel Lainnya

Toraja: Hal yang Jarang Diketahui Wisatawan Sebelum Berkunjung ke Desa Warisannya
Ada desa di Toraja yang justru menolak uang tiket masuk dari wisatawan. Ada juga kekhawatiran soal wisatawan berfoto dengan tengkorak di situs pemakaman. Riset ini membongkar sisi manajemen wisata Toraja yang jarang diketahui, langsung dari mulut warga dan pelaku industrinya sendiri.

Tri Hita Karana: Satu Filosofi, Dua Kubu yang Saling Berlawanan di Teluk Benoa
Di Teluk Benoa, Bali, dua kubu yang saling bertentangan soal proyek reklamasi sama-sama mengklaim berpegang pada filosofi yang sama, Tri Hita Karana. Riset ini membongkar bagaimana satu nilai budaya bisa ditafsirkan untuk mendukung sekaligus menolak hal yang sama.

Tiwah: Ritual Suku Dayak Ngaju Mengantar Arwah Leluhur ke Lewu Tatau
Bagi warga Dayak Ngaju penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah, kematian bukan akhir perjalanan. Riset ini mengupas Tiwah, ritual sakral mengantar arwah leluhur menuju Lewu Tatau, lengkap dengan makna gotong royong dan toleransi lintas agama yang jarang diketahui orang luar.