Riset Makanan Tradisional Indonesia Ditulis Sendiri, Jarang Dibaca
Selama sepuluh tahun, ada 102 tulisan ilmiah tentang makanan tradisional Indonesia. Sembilan puluh dua di antaranya ditulis dari Indonesia, dan negara lain paling banyak menulis tiga. Tetapi ada satu angka lagi yang membuat gambarnya jadi tidak enak dibaca.
Sepanjang sepuluh tahun terakhir cuma ada 102 tulisan ilmiah tentang makanan tradisional Indonesia. Sembilan puluh dua di antaranya ditulis dari Indonesia. Negara lain paling banyak menulis tiga.
Terdengar seperti kabar baik, sampai angka berikutnya muncul.
Datanya dari kajian bibliometrik di Canrea Journal terbitan Universitas Hasanuddin, Desember 2022, yang menghitung terbitan periode 2013 sampai 2022 dan mengumpulkan datanya pada 31 Oktober 2022.
Seratus Dua Tulisan dalam Sepuluh Tahun
Seluruhnya terkumpul dari 66 sumber berbeda:
- 57 artikel jurnal
- 36 makalah konferensi
- 4 tinjauan pustaka
- 4 bab buku
- 1 makalah data
Kira-kira sepuluh tulisan setahun, untuk seluruh khazanah makanan sebuah negara berpenduduk ratusan juta jiwa.
Iklan
Angka yang Membalik Gambarnya
Publikasi soal makanan tradisional Indonesia datang dari 20 negara. Indonesia menghasilkan 92, sisanya tiga atau kurang per negara. Wajar, karena topik ini memang paling terjangkau oleh peneliti Indonesia sendiri. Pada peta jejaringnya, Indonesia berada di tengah dan terhubung ke semua negara lain, yang menandakan sebagian besar terbitan asing itu hasil kolaborasi dengan peneliti Indonesia.
Indonesia juga memegang sitasi terbanyak, 315, setidaknya empat kali lipat negara mana pun.
Tetapi pada rata-rata sitasi per dokumen, Indonesia berada di urutan paling buncit: 5,08.
Terjemahannya begini. Indonesia menulis paling banyak, jadi total kutipannya juga paling banyak. Dihitung per tulisan, karya dari Indonesia justru yang paling jarang dirujuk di antara dua puluh negara itu. Banyak di antaranya belum dikutip sama sekali.
Jadi masalahnya bukan kurang menulis. Tulisannya berhenti di dalam negeri.
Yang Paling Banyak Diteliti Ternyata Tempe
Kata kunci yang paling sering muncul di seluruh kumpulan itu adalah tempe, sebanyak 13 kali. Bukan rendang, bukan nasi goreng, bukan sate.
Masuk akal kalau dipikir. Tempe punya proses fermentasi yang bisa diteliti di laboratorium, kandungan gizi yang bisa diukur, dan pembanding di seluruh dunia berupa produk kedelai lain. Rendang adalah masakan, dan masakan jauh lebih sulit dijadikan objek ilmu pangan.
Penulis paling produktif di bidang ini Surya R dengan empat dokumen. Sitasi terbanyak dipegang Nuraida L dengan 111.
Iklan
Kaitannya dengan Wisata Kuliner
Wisata gastronomi jalan ketika orang di luar negeri sudah mendengar tentang makanannya sebelum berangkat. Yang membentuk pengetahuan itu bukan hanya media sosial, tetapi juga tulisan yang dirujuk orang lain: buku, artikel, riset, kutipan yang beranak-pinak.
Angka 5,08 memberi tahu bahwa rantai itu belum terbentuk. Tulisannya ada, tapi belum jadi rujukan siapa-siapa.
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Tempe pantas diperlakukan sebagai daya tarik. Ia makanan Indonesia yang paling banyak diteliti, dan banyak sentra tempe di Jawa menerima kunjungan.
Cari makanan yang proses masaknya bisa ditonton. Rendang di kuali besar, lemang di ruas bambu, tumpeng yang disusun. Prosesnya bagian dari ceritanya, dan itu yang tidak bisa dipindahkan ke restoran di kota lain.
Tanyakan nama daerahnya. Rendang punya banyak jenis, lemang punya banyak versi. Nama yang spesifik selalu membuka penjelasan lebih panjang dari penjualnya.
Tulis namanya dengan benar waktu memotret. Terdengar sepele, tapi persoalan yang ditunjuk kajian ini justru itu: makanan Indonesia kurang tercatat dalam bahasa yang bisa dirujuk orang lain.
Kesimpulan
Kajian ini tidak memuat satu pun resep dan tidak memuji satu pun masakan. Isinya hitungan tentang tulisan. Tetapi hasilnya menjelaskan keluhan yang sering muncul tanpa orang tahu sebabnya: kenapa makanan Indonesia terasa kurang dikenal dibanding tetangganya, padahal ragamnya jauh lebih banyak.
Seratus dua tulisan dalam sepuluh tahun, 92 dari dalam negeri, rata-rata 5,08 kutipan per tulisan. Makanannya tidak kurang. Yang kurang orang lain yang ikut membicarakannya.
Sumber: Djalal, M., Wangdi, J.T., Dirpan, A., Bastian, F., Latief, R., Ainani, A.F., & Yolanda, D.S. (2022). Traditional Indonesian food: A bibliometric review from 2013-2022. Canrea Journal: Food Technology, Nutritions, and Culinary, 5(2), 172-182. DOI: 10.20956/canrea.v5i2.736
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya
Sepuluh Kasus Klaim Budaya, dan Kenapa Justru Mempercepat UNESCO
Wayang 2003, keris 2005, batik 2009, angklung 2010. Kalau tahun-tahun pengakuan itu dijajarkan dengan tahun sengketa budayanya, satu pola terlihat jelas: yang paling mendorong Indonesia mendaftarkan warisannya sendiri ternyata bukan perencanaan, melainkan perselisihan.
Sepuluh Kasus Klaim Budaya, dan Kenapa Justru Mempercepat UNESCO
Wayang 2003, keris 2005, batik 2009, angklung 2010. Kalau tahun-tahun pengakuan itu dijajarkan dengan tahun sengketa budayanya, satu pola terlihat jelas: yang paling mendorong Indonesia mendaftarkan warisannya sendiri ternyata bukan perencanaan, melainkan perselisihan.
Batik Indonesia Rp4,89 Triliun Setahun, 87 Persen Ada di Jawa
Kalau ditanya di mana pusat batik Indonesia, kebanyakan orang menjawab Solo atau Yogyakarta. Menurut survei UGM yang dikutip kajian ini, jawabannya justru Jawa Barat, dengan 38,42 persen industri batik nasional, dan kawasan Cirebon yang mendominasinya.
