Batik Indonesia Rp4,89 Triliun Setahun, 87 Persen Ada di Jawa

Endo Sadewa 22 September 2026 10 menit baca
Berdasarkan riset terpublikasidoi.org/10.20961/ijsascs.v6i2.73912
Batik Indonesia Rp4,89 Triliun Setahun, 87 Persen Ada di Jawa

Kalau ditanya di mana pusat batik Indonesia, kebanyakan orang menjawab Solo atau Yogyakarta. Menurut survei UGM yang dikutip kajian ini, jawabannya justru Jawa Barat, dengan 38,42 persen industri batik nasional, dan kawasan Cirebon yang mendominasinya.

Tanyakan kepada siapa pun di mana pusat batik Indonesia. Jawabannya hampir selalu Solo atau Yogyakarta.

Angka yang dikutip sebuah kajian di International Journal of Science and Applied Science pada 2022 mengatakan hal lain. Datanya berasal dari penelitian Tim Peneliti Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tahun 2019, yang dilakukan di 27 dari 34 provinsi di Indonesia dan diterbitkan dalam Majalah Ilmiah Dinamika Kerajinan dan Batik Volume 37 tahun 2020.

Kain batik bermotif mega mendung Cirebon dengan susunan awan berlapis berwarna biru bergradasi
Motif mega mendung, motif batik yang paling dikenali dari Cirebon. Menurut data yang dikutip kajian ini, Jawa Barat adalah provinsi dengan industri batik terbanyak, dan Cirebon yang mendominasinya. Foto: Gunarta, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Di Mana Batik Sebenarnya Dibuat

Industri batik Indonesia terpusat di Jawa, yaitu 87,1 persen. Sebarannya per provinsi menurut naskah:

  • Jawa Barat: 38,42 persen, peringkat teratas, didominasi kawasan Cirebon. Sebagian bahkan punya cabang di Jakarta dan Yogyakarta sehingga jangkauan pasarnya lebih luas, dan banyak pula pesanan yang datang dari Sumatra Selatan
  • Jawa Tengah: 26,22 persen
  • Daerah Istimewa Yogyakarta: 19,52 persen
  • Jawa Timur: 2,66 persen
  • Banten: 0,23 persen
  • DKI Jakarta: 0,05 persen

Ada satu hal yang perlu disampaikan terbuka di sini, karena pembaca yang teliti akan menemukannya sendiri.

Naskah menulis bahwa sisanya, yaitu 23,9 persen, tersebar di 21 provinsi di luar Jawa. Angka itu tidak mungkin benar, karena 87,1 ditambah 23,9 menghasilkan 111 persen.

Saya jumlahkan sendiri keenam angka provinsi Jawa di atas, dan hasilnya 87,10 persen persis. Jadi yang keliru bukan angka Jawanya, melainkan angka sisanya. Yang benar seharusnya 12,9 persen, dan angka 23,9 hampir pasti salah ketik. Artikel ini memakai 12,9 persen.

Dan di luar Jawa itu, provinsi dengan perkembangan industri batik paling besar menurut naskah adalah Jambi, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi tahun 2017. Naskah mengaitkannya dengan sejarah kerajaan di wilayah itu, ketika pemakaian batik pada mulanya terbatas pada keluarga kerajaan, kerabat, dan kalangan bangsawan.

Seorang perajin perempuan mewarnai kain batik yang terbentang di atas meja kerja
Perajin mewarnai kain batik di kawasan Trusmi, Cirebon. Naskah mencatat pewarnaan sebagai salah satu tahap yang membuat batik tulis menyerap banyak tenaga kerja. Foto: Fpangestuphotographer, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Iklan

Berapa Lama Membuatnya, dan Kenapa Itu Menentukan Harganya

Bagian ini menjelaskan hampir semua hal yang selama ini membingungkan pembeli batik.

Naskah mengutip beberapa penelitian tentang waktu pengerjaan:

  • Batik tulis: satu lot berisi 110 helai memerlukan 6.594 menit
  • Batik cap: dari awal pemotongan kain sampai proses pengeringan sekitar 912 menit
  • Batik bermotif cetak lewat sablon: sekitar 5 menit untuk membuatnya

Naskah tidak menyatakan apakah 912 menit itu untuk satu helai atau satu lot, jadi ketiganya sengaja tidak saya bagi atau bandingkan langsung. Tetapi bahkan tanpa perhitungan apa pun, jarak antara ribuan menit dan lima menit sudah menjelaskan sendiri kenapa harganya berbeda jauh.

Naskah menghubungkannya dengan tenaga kerja: pada batik tulis dan batik cap, kebutuhan tenaga kerjanya relatif tinggi karena setiap tahap dikerjakan dengan tangan. Sementara batik bermotif cetak memakai mesin sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

Artinya, ketika Anda memilih batik tulis, yang Anda bayar bukan hanya kainnya. Anda sedang membeli jam kerja orang.

Nilai Industrinya, dan Kenapa Angkanya Kemungkinan Terlalu Kecil

Nilai produksi industri batik Indonesia menurut naskah mencapai Rp407,5 miliar per bulan, atau setara Rp4,89 triliun per tahun, ditopang tenaga kerja sebanyak 37.093 orang.

Angka bulanan dan tahunan itu saya periksa silang: 407,5 miliar dikali dua belas menghasilkan 4.890 miliar, yaitu 4,89 triliun. Cocok persis. Konsistensi kecil seperti ini yang membuat angka sebuah naskah layak dipercaya.

Naskah sendiri menambahkan catatan penting: jumlah yang tercatat itu diperkirakan masih di bawah nilai sebenarnya, karena beberapa provinsi tidak memiliki industri cetak batik. Perlu diingat juga bahwa surveinya hanya mencakup 27 dari 34 provinsi.

Jadi Rp4,89 triliun adalah lantai, bukan langit-langit.

Tumpukan kain batik dan tas berbahan batik yang sudah jadi, tertata siap dijual di sebuah gerai
Kain dan tas batik yang sudah jadi dan siap dijual di Trusmi, Cirebon. Nilai produksi industri batik nasional menurut naskah mencapai Rp4,89 triliun setahun. Foto: Fpangestuphotographer, Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Iklan

Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan

Cirebon layak masuk rencana perjalanan batik Anda. Kawasan ini mendominasi provinsi dengan industri batik terbanyak, dan letaknya di jalur pantura yang mudah dicapai dari Jakarta maupun Semarang.

Jambi adalah kejutan di luar Jawa. Kalau Anda ingin melihat batik di luar rute umum, naskah menunjuk Jambi sebagai yang paling berkembang di antara 21 provinsi luar Jawa.

Tanyakan jenisnya sebelum menawar. Tulis, cap, atau cetak. Selisih waktu pengerjaannya sangat besar, dan pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada menawar harga.

Perhatikan sisi belakang kainnya. Pada batik tulis dan cap, malam menembus kain sehingga motifnya terlihat di kedua sisi. Ini cara memeriksa paling cepat yang bisa dilakukan siapa saja.

Beli di sentra produksinya, bukan hanya di toko oleh-oleh. Di Trusmi, Pekalongan, atau Kliwonan, Anda bisa melihat prosesnya sekaligus membeli dari yang mengerjakannya.

Kesimpulan

Batik biasanya dibicarakan sebagai warisan. Kajian ini membicarakannya sebagai industri, dan justru itu yang membuat gambarnya utuh.

Tiga puluh tujuh ribu orang bekerja di dalamnya. Nilainya hampir lima triliun rupiah setahun, dan itu pun kemungkinan tercatat terlalu kecil. Pusatnya bukan di tempat yang biasa disebut orang, melainkan di Jawa Barat, dengan Cirebon di depan.

Dan satu helai batik tulis, dari hitungan yang dikutip naskah ini, adalah hasil dari ribuan menit kerja tangan. Angka itu yang sebaiknya terbayang ketika Anda memegang kainnya di sebuah gerai, sebelum bertanya berapa harganya.

Sumber: Nuriyanto, L.K. (2022). Preservation of the Batik Industry in Indonesia as Part of the National Identity. International Journal of Science and Applied Science: Conference Series, 6(2). DOI: 10.20961/ijsascs.v6i2.73912

Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.

Siap merencanakan liburanmu?

Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.

Iklan

Artikel Lainnya