Coolcation 2026: Tren Liburan ke Dataran Tinggi yang Sejuk dan Menenangkan
Coolcation, liburan ke tempat sejuk, sedang naik daun. Pahami tren coolcation 2026 dan kenapa dataran tinggi Indonesia jadi pilihan tepat untuk healing dari panasnya kota.
Coolcation adalah salah satu tren wisata paling cepat berkembang di 2026. Istilah ini menggabungkan kata cool (sejuk) dan vacation (liburan), merujuk pada perjalanan ke destinasi berhawa dingin alih-alih tujuan yang panas dan terik. Minat terhadap tren ini melonjak pesat; volume pencarian topik coolcation tercatat naik sekitar 164% di 2026 seiring cuaca yang makin panas membuat orang mencari pelarian yang lebih sejuk.
Kenapa Coolcation Jadi Favorit?
Selain memberi kenyamanan dari hawa panas, destinasi sejuk biasanya identik dengan pemandangan alam yang menyegarkan, udara bersih, dan suasana tenang yang cocok untuk relaksasi. Tren ini juga sejalan dengan meningkatnya minat wisatawan Indonesia pada wisata alam dan ketenangan yang menjauh dari keramaian kota.
Iklan
Pilihan Coolcation di Indonesia
Kabar baiknya, Indonesia kaya akan dataran tinggi yang sejuk. Berikut jenis-jenis destinasi yang cocok untuk coolcation.
1. Kawasan pegunungan dan kaki gunung
Daerah di ketinggian menawarkan udara dingin sepanjang hari, pemandangan perbukitan, dan sering kali kabut tipis yang menambah suasana magis.
2. Danau dan telaga dataran tinggi
Danau di pegunungan menyuguhkan ketenangan dan panorama yang indah, cocok untuk bersantai sambil menikmati udara segar.
3. Kebun teh dan agrowisata pegunungan
Hamparan hijau kebun teh dengan hawa sejuk adalah latar sempurna untuk melepas penat sekaligus berfoto.
4. Desa-desa di lereng gunung
Banyak desa dataran tinggi yang menawarkan penginapan dengan pemandangan gunung dan suasana pedesaan yang menenangkan.
Tips Menikmati Coolcation
Karena suhunya dingin, bawa jaket dan pakaian hangat, terutama untuk pagi dan malam hari. Datang saat cuaca cerah agar pemandangan lebih maksimal, kenakan alas kaki yang nyaman untuk medan menanjak, dan jangan lupa pelembap serta minum cukup air karena udara dingin bisa membuat kulit kering. Bagi yang membawa anak atau orang tua, pastikan mereka tetap hangat sepanjang perjalanan.
Ingin menemukan destinasi sejuk terdekat? Jelajahi pilihan dataran tinggi di Tempat Wisata Indonesia, atau baca panduan wisata lainnya untuk merencanakan coolcation impianmu.
Iklan
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu coolcation?
Coolcation adalah liburan ke destinasi berhawa sejuk atau dingin, sebagai alternatif dari tujuan yang panas, demi kenyamanan dan ketenangan.
Kapan waktu terbaik untuk coolcation di Indonesia?
Musim kemarau umumnya ideal karena pemandangan pegunungan lebih jernih. Apa pun musimnya, siapkan pakaian hangat karena dataran tinggi tetap dingin.
Penutup
Coolcation menawarkan cara liburan yang menyegarkan badan sekaligus menenangkan pikiran. Dengan kekayaan dataran tinggi yang dimiliki Indonesia, kamu tidak perlu jauh-jauh untuk merasakan sejuknya pelarian dari hiruk pikuk kota. Siapkan jaketmu dan nikmati udara segarnya!
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya
Jaran Kepang Banyuwangi: Kudanya 100 Sentimeter, Sesajinya 20 Unsur
Kuda anyaman bambunya panjang sekitar 100 sentimeter, tinggi 60, dari bilah setebal 1 sampai 2 milimeter. Warnanya tidak dipilih sembarangan. Dan sebelum pertunjukan dimulai, ada sesaji berisi setidaknya 20 unsur yang masing-masing punya arti sendiri.
Filosofi Pencak Silat: Tangannya Terbuka, dan Itu Bukan Kebetulan
Kalau Anda perhatikan kuda-kuda pencak silat, tangannya jarang mengepal. Hampir selalu terbuka. Sebuah kajian dari Universitas Sebelas Maret menjelaskan kenapa, lalu mencatat sesuatu yang jarang dibicarakan: silat pernah dilarang, dua kali, oleh dua pemerintahan yang berbeda.
Borobudur: Candi Buddha yang Dijadikan Milik Seluruh Bangsa Indonesia
Hanya sebagian kecil orang Indonesia punya ikatan keagamaan dengan Borobudur, dan lebih sedikit lagi keturunan Sailendra yang membangunnya. Tetapi candi itu menjadi monumen nasional. Sebuah kajian dari ANU menelusuri bagaimana hal itu terjadi, dan apa yang dikorbankan.
