Batik Indonesia Rp4,89 Triliun Setahun, 87 Persen Ada di Jawa
Kalau ditanya di mana pusat batik Indonesia, kebanyakan orang menjawab Solo atau Yogyakarta. Menurut survei UGM yang dikutip kajian ini, jawabannya justru Jawa Barat, dengan 38,42 persen industri batik nasional, dan kawasan Cirebon yang mendominasinya.
Solo dan Yogyakarta hampir selalu disebut lebih dulu kalau orang bicara batik. Padahal provinsi dengan industri batik terbanyak di Indonesia adalah Jawa Barat, dan pusatnya di Cirebon.
Angkanya berasal dari survei Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tahun 2019 di 27 dari 34 provinsi, yang dikutip sebuah kajian di International Journal of Science and Applied Science pada 2022. Hasil surveinya terbit di Majalah Ilmiah Dinamika Kerajinan dan Batik Volume 37 tahun 2020.
Sebaran Industrinya
Delapan puluh tujuh koma satu persen industri batik Indonesia ada di Jawa. Rinciannya per provinsi:
- Jawa Barat 38,42 persen. Terbanyak, dan dikuasai kawasan Cirebon. Sebagian punya cabang di Jakarta dan Yogyakarta, dan banyak pesanan datang dari Sumatra Selatan
- Jawa Tengah 26,22 persen
- Daerah Istimewa Yogyakarta 19,52 persen
- Jawa Timur 2,66 persen
- Banten 0,23 persen
- DKI Jakarta 0,05 persen
Satu angka di sumbernya keliru, dan lebih baik saya sebut di depan. Sisa di luar Jawa ditulis 23,9 persen, padahal 87,1 ditambah 23,9 sudah 111 persen. Keenam angka provinsi Jawa di atas kalau dijumlahkan pas 87,10, jadi yang salah ketik angka sisanya. Yang benar 12,9 persen, dan itu yang saya pakai di sini.
Di luar Jawa, industri batik paling berkembang ada di Jambi, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi 2017. Akarnya dari zaman kerajaan, ketika batik masih terbatas dipakai keluarga raja, kerabat, dan bangsawan.
Iklan
Berapa Lama Membuat Sehelai
Ini yang menjelaskan selisih harga di gerai:
- Batik tulis: satu lot berisi 110 helai butuh 6.594 menit
- Batik cap: dari pemotongan kain sampai pengeringan sekitar 912 menit
- Batik sablon: sekitar 5 menit
Sumbernya tidak menyebut apakah 912 menit itu untuk sehelai atau satu lot, jadi angka-angka ini sengaja tidak saya bandingkan langsung. Tetapi jarak antara ribuan menit dan lima menit sudah cukup jelas tanpa perhitungan apa pun.
Batik tulis dan batik cap butuh banyak tangan karena tiap tahap dikerjakan manual. Batik sablon pakai mesin, jadi tenaga kerjanya sedikit. Waktu itulah yang Anda bayar ketika memilih batik tulis.
Nilainya
Produksi batik nasional bernilai Rp407,5 miliar sebulan, atau Rp4,89 triliun setahun, dengan 37.093 pekerja di dalamnya.
Saya periksa silang angka bulanan dan tahunannya: 407,5 miliar dikali dua belas hasilnya tepat 4.890 miliar. Cocok.
Sumbernya sendiri memberi catatan bahwa jumlah tercatat itu kemungkinan lebih kecil daripada nilai sebenarnya, karena beberapa provinsi tidak punya industri cetak batik. Ditambah surveinya cuma mencakup 27 dari 34 provinsi, Rp4,89 triliun sebaiknya dibaca sebagai batas bawah.
Iklan
Hal yang Bisa Diperhatikan Wisatawan
Cirebon pantas masuk rencana perjalanan batik. Kawasan ini menguasai provinsi dengan industri batik terbanyak, dan letaknya di jalur pantura, mudah dicapai dari Jakarta maupun Semarang.
Jambi kalau ingin keluar dari rute umum. Di antara 21 provinsi luar Jawa, Jambi yang paling berkembang.
Tanyakan jenisnya sebelum menawar. Tulis, cap, atau sablon. Selisih waktu kerjanya jauh, dan pertanyaan ini lebih berguna daripada tawar-menawar harga.
Lihat sisi belakang kainnya. Pada batik tulis dan cap, malam menembus kain sehingga motifnya muncul di kedua sisi. Cara periksa paling cepat yang bisa dilakukan siapa saja.
Beli di sentranya. Di Trusmi, Pekalongan, atau Kliwonan, Anda bisa melihat prosesnya sekaligus membeli dari yang mengerjakannya.
Kesimpulan
Tiga puluh tujuh ribu orang hidup dari industri ini. Nilainya hampir lima triliun rupiah setahun, dan itu pun kemungkinan tercatat terlalu kecil. Pusatnya di Jawa Barat, bukan di dua kota yang biasa disebut orang.
Dan sehelai batik tulis adalah hasil ribuan menit kerja tangan. Itu yang sebaiknya terbayang sebelum Anda menanyakan harganya.
Sumber: Nuriyanto, L.K. (2022). Preservation of the Batik Industry in Indonesia as Part of the National Identity. International Journal of Science and Applied Science: Conference Series, 6(2). DOI: 10.20961/ijsascs.v6i2.73912
Menemukan kekeliruan data pada artikel ini? Laporkan kepada kami dan baca kebijakan koreksi kami.
Siap merencanakan liburanmu?
Baca catatan lapangan destinasi lain, atau telusuri artikel riset kami.
Iklan
Artikel Lainnya

Rendang Minangkabau: Mengapa Masakan Ini Lebih dari Sekadar Daging Berbumbu
Rendang adalah salah satu identitas kuliner Minangkabau yang dikenal luas di Indonesia dan dunia. Artikel ini membedah rendang dari teknik memasak, santan dan rempah, perbedaan kalio-rendang, variasi bahan, konteks budaya, hingga cara menikmati rendang secara lebih bermakna di Sumatera Barat.

Papeda Papua: Rasa, Tekstur, dan Cerita dari Tanah Sagu
Papeda bukan sekadar bubur sagu. Di Papua, hidangan ini mempertemukan pangan lokal, ikan kuah kuning, kebiasaan makan bersama, dan pengetahuan tentang sagu. Panduan panjang ini membahas rasa, cara makan, bahan, konteks budaya, pilihan lauk, hingga tips wisata kuliner di Jayapura.
Tiang Rumah Gadang Berdiri Miring 1 sampai 4 Derajat di Atas Batu
Rumah gadang tidak punya pondasi yang ditanam ke tanah. Setiap tiangnya berdiri di atas satu lempengan batu dengan kemiringan satu sampai empat derajat, dan seluruh sambungannya memakai pasak tanpa satu pun paku.
