arsip-situs › Petak Sembilan

Petak Sembilan

Petak Sembilan
Kelenteng Petak Sembilan dikelilingi tembok. Pintu utamanya berada di selatan yang berupa gapura naga merah. Sebelah kiri gerbang ada tiga bangunan kelenteng yang berderet. Di halaman kedua terdapat kelenteng utama menghadap ke selatan berikut dua singa (Bao Gu Shi) yang konon berasal dari Provinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan.

Gedung utama Petak Sembilan didominasi warna merah. Atap bangunannya melengkung ke atas, berhias sepasang naga. Di dalam ruangannya terdapat puluhan film berukuran besar, setinggi badan orang dewasa dan ratusan lilin-lilin kecil yang menyala. Bau asap dupa bertebaran menebarkan aroma khas hingga ke luar ruangan. Di bagian samping kiri gedung utama terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Sedangkan di pojok kanan halaman belakang terdapat sebuah lonceng buatan tahun 1825 yang merapakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Petak Sembilan


Kedatangan orang Cina, pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul “Tina Layang Parahyangan” (Catalan Dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang, di muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pengusiran orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, VOC mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang, disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir), Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan yang menjadi pusat perdagangan terletak disebelah timur Sungai Cisadane, daerah Pasir Lama sekarang. Para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong royong mendirikan sebuah kelenteng pada tahun 1684 yang diberi nama Boen Tek Bio dan berdirilah kelenteng-kelenteng lainnya seperti Boen San Bio pada tahun 1689 yang merupakan tempat beribadat Umat Budha dan Konghucu. Kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua di Wilayah Banten dan terkenal dengan tradisi pecunnya.

Menjelang perayaan Imlek, biasanya para petugas di kelenteng ini sibuk membersikan dan mengecat ulang pagar besi dengan cat berwarna merah. Kelenteng ini tak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Banyak pula para peziarah dan wisatawan yang datang sambil melihat aktivitas ritual pengunjungnya. Keindahan dan kekhasan kelenteng ini, juga kerap dijadikan obyek pemotretan para penggemar fotograpi dan juga lokasi syuting video musik.

Selain kelenteng, kemeriahan menjelang imlek sangat terasa kalau kita berada di Pasar Petak Sembilan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Terlebih 10 hari menjelang Imlek Banyak warga keturunan Tionghoa dari berbagai pelosok Jakarta datang ke pasar ini untuk membeli perlengkapan khas dalam merayakan datangnya Tahun Baru Cina.

Menjelang Imlek, sejumlah penganan dan pernak-pernik khas imlek laku keras. Kue keranjang berupa dodol khas China yang dibungkus daun atau plastik, banyak diburu pembeli. Apalagi penjualnya mengemas kue keranjang dengan kardus-kardsus cantik berwarna merah. Kue keranjang banyak diburu pembeli karena selain untuk dimakan sendiri dan diantar ke sanak keluarga juga untuk sembahyang.

Aneka manisan kering seperti kana, buah plum dan kulit jeruk yang dimaniskan juga banyak dijual di pasar ini. Ada yang belum dikemas ada juga yang sudah dalam kemasan kardus yang disekat. Makanan yang berasa manis seperti manisan dan permen memang juga dicari pembeli. Masyarakat Tionghoa menganggapnya sebagai perlambang hidup yang manis. Oleh karena itu kedua camilan ringan itu kerap disuguhkan saat merayakan Imlek agar tahun baru membawa kemanisan.

Buah-buahan khas imlek juga menjadi incaran pembeli, seperti jeruk, leci dan buah plum. Aneka jeruk terutama jeruk mandarin, Io dan juga jeruk Bali banyak diborong pembeli. Jeruk dianggap warga Tionghoa sebagai buah yang melambangkan persaudaraan dan kerukunan.

Berada di Pasar Petak Sembilan terlebih menjelang imlek, di antara kerumunan penjual dan pembeli, jelas memberikan nuansa tersendiri. Pasar ini menghadirkan atmosfir yang berbeda dibanding pasar tradisional lain. Deretan lampion dan pernak-pernik khas imlek lain yang berwarna merah yang dijajakan pedagang di sisi kiri kanan jalan, seakan membawa kita berada di salah satu sudut keramaian di negeri China.

Categories: arsip-situs

Link http://tempatwisataindonesia.com/arsip-situs/petak-sembilan.html

Bantu Meyebarkan Artikel Petak Sembilan